Gara-Gara Ibu

1920 Words
Ibu? "Malah bengong ditanya. Kesambet Yan?" Mata Ibu melotot menanyaiku yang masih tergagap dan bingung harus menjawab apa. "Itu Bu. Cari udara segar," jawabku sekenanya. Hanya kata itu yang terlintas di benakku. Kening Ibu mengernyit. "Jangan bohong. Pasti lagi telponan kan sama Sandra? Jangan kibuli ibumu yang sudah tua ini. Dosa Yan. Ibu sudah dengar kamu tadi ngobrol. Tuh, yang di bawah bantal yang sedang kamu tutupi itu hapemu kan?" tunjuk Ibu ke arah bantal yang berada dalam pangkuanku. Mata Ibu sungguh jeli. Hal seperti ini saja bisa ditebaknya dengan benar. Aku tersenyum cengengesan sambil menggaruk kepala yang tak gatal. Terlanjur ketahuan ya sudah, jujur saja. Bantal kusingkirkan dari pangkuan dan menunjukkan ponsel yang tersembunyi di sana. Lagian alasanku barusan tidak masuk akal dengan menjawab sedang mencari udara segar. Tentu saja Ibu tidak percaya. "Kangen Bu. Cuma telepon sebentar, mau tahu kabarnya." Jujur perasaanku tidak enak semenjak melakukan kebohongan terbesar dalam hidupku. Ada rasa bersalah pada Casandra karena tidak bisa berterus terang padanya. Ibu merapat duduk mendekatiku. "Heran ada istri baru masih ingat sama istri yang lama. Biasanya lelaki itu suka lupa kalau ada mainan baru yang lebih fresh, segar gitu. Jangan-jangan benar feeling Ibu kalau kamu sama Aisyah belum ngapa-ngapain?" Nah kan, ke sana lagi pembahasannya. Harus jawab apa lagi. Ibu paling mudah menebakku. "Yan, tolong perlakukan Aisyah sama seperti Casandra. Kasihan dia, sudah keberadaannya dirahasiakan, masa masih dianggurin juga, gimana mau hamil. Ibu nggak tahu sampai kapan Ibu bisa hidup. Kapan Ibu bisa gendong cucu sendiri, bukan cucu orang lain. Istrimu kan nggak mau punya anak." Ibu berkata dengan wajah sendu. Kalau sudah begini aku selalu dilema, serba salah tidak tahu harus berpijak dimana. Di pihak Ibu atau istri? Bahkan karena merasa terdesak oleh permintaan Ibu, aku sering bertengkar dengan Casandra karena membahas soal anak yang belum diinginkannya hadir diantara kami. *** "Beib, aku capek membahas anak terus. Bukankah sudah kita bahas dari kemarin lalu kalau aku belum siap punya anak. Karirku lagi menanjak. Lagi bagus-bagusnya. Kalau aku hamil semua kontrak yang sudah ditandatangani bakal lepas. Paling parah kena denda dan ganti rugi. Bukan untung, yang ada justru merugi dan aku dicap tak profesional dalam bekerja dan karirku bakal hancur." Casandra meradang saat kuungkit lagi soal keinginan program hamil untuk memiliki anak. Aku memintanya memikirkan kembali agar mau hamil di tahun ini. Dia benar kalau masalah ini sudah kami bahas dulu dan sudah disepakati bersama akan menundanya sampai 3 tahun kedepan karena Casandra sudah menekan beberapa kontrak tanpa bertanya dulu padaku. Aku mengerti itu haknya dia, Namun di satu sisi aku berhak memberikannya izin atau tidak karena sekarang dia adalah istriku. Paling tidak, dibicarakan lebih dulu karena sekarang ada kewajiban yang harus didahulukannya setelah berumah tangga, yaitu aku–suaminya. Apalagi setelah menimbang keras kupikir tiga tahun itu waktu yang lama. Aku keliru mengiyakan permintaannya tanpa pikir panjang karena didesak rasa cintaku yang begitu besar. "Aku ngerti, tapi Ibu minta." "Ibu terus, Ibu terus. Capek Yan. Suruh saja ibumu cari cucu di panti asuhan, adopsi atau kalau perlu kamu bayar orang buat hamil biar bisa kasih cucu buat Ibu. Gampang kan?!" "Sandra!" teriakku berang tidak suka. Idenya sungguh konyol dan tidak masuk akal. Apalagi menyudutkan Ibu. Mataku melotot dengan napas memburu siap dengan tangan terangkat. Refleks saja tanpa kusadari. "Apa Yan? Marah? Mau nampar. Ayo tampar saja. Biar jadi berita heboh dan naikin pamorku karena kena KDRT oleh suami sendiri! Suami yang dipuja-puji banyak orang dengan track record yang bagus melakukan tindakan kekerasan pada istrinya. Yang ada malah aku untung dan kamu yang rugi," tantangnya meraih tanganku dan mendekatkannya ke pipinya. "Gila kamu!" Tersadar, aku menepis tangannya dan bergegas pergi meninggalkan Casandra begitu saja guna menghindari kejadian yang tidak diinginkan. Emosiku lagi tinggi dan aku tidak ingin lepas kontrol. Perkataan konyolnya yang memintaku menghamili wanita lain demi anak sering terngiang di kepala. Ditambah desakan Ibu yang tiada hentinya setiap bertemu selalu memaksaku agar menyetujui keinginannya untuk menikah lagi. Akhirnya kata iya terucap dan mengaminkan permintaannya. Puzzle memori pertengkaranku bersama Casandra terlintas kembali saat mendengar permintaan Ibu. Aku menarik napas dalam sebelum menjawab pertanyaannya. "Belum saatnya Bu, kasih waktu Ryan untuk dekat dengan Aisyah. Ryan tidak mau langsung mengajaknya begitu seolah hanya menginginkan anak saja darinya. Butuh proses Bu. Tolong pahami Ryan. Bukankah Ibu ingin Ryan bersikap baik dan memperlakukannya sama seperti Casandra?" Ibu mengangguk lemah. Aku mencoba menjawab bijak permintaan Ibu yang selalu mendesakku agar cepat menjamah Aisyah. Padahal jawaban barusan hanyalah pengelakan agar tidak ditanya terus. "Iya, tapi jangan kelamaan. Keburu Ibu mati baru nyesal kamu." Sambil. Menepuk bahuku pelan, Ibu berlalu pergi keluar kamar. Aku hanya mampu menghela napas berat seolah bebanku semakin menumpuk tak berkesudahan. Tidak ingin Ibu nanti mempertanyakan lagi dan curiga kenapa masih di dalam kamar kecil ini, aku pun memutuskan kembali ke kamarku. Kulihat Aisyah sudah tertidur pulas di kamar. Wajahnya tenang. Melihat wajah polosnya saat tidur seperti ini membuatku merasa bersalah. Ini yang membuatku lemah. Mempunyai rasa tidak tegaan, apa lagi sama kaum hawa. Tidak Ibu, Casandra, dan sekarang Aisyah. 'Seharusnya kamu tidak berada di sini, Syah.' *** "Ini Ibu sendiri yang masak?" Terkejut karena di meja makan sudah tersaji berbagai jenis makanan berbeda dan semuanya terlihat enak. Setelah mandi, aku langsung menuju dapur karena tercium aroma menggoda dari arah sana, dan lantas mengambil duduk di kursi bagian tengah. Melirik ke jam dinding yang terpasang di area dapur, waktu sedang menunjukkan pukul 17.50. Keningku sedikit mengkerut. Tumben jam segini Ibu sudah menyiapkan makan malam. Biasanya di atas jam 7 malam rutinitas makan malam kami terjadi. "Menurutmu?" Ibu malah bertanya balik. Kulihat Aisyah menghampiri dan menuangkan air putih ke gelas kosong yang berada di depanku. Ternyata istri keduaku ini sudah berada di dapur. Pantas dari bangun tidur dan selesai mandi, Aisyah sudah tak terlihat di kamar. "Yang ini kesukaanmu, Aisyah yang masak. Sedang yang ini sama itu, Ibu yang masak. Lebihannya Ibu pesan," tunjuk Ibu ke beberapa menu masakan yang tersedia di meja makan. Hah, Aisyah yang masak? Pasti Ibu berbohong. Mana mungkin dia tahu kesukaanku dan memasakkannya begitu saja. Pasti Ibu yang masak tapi bilangnya Aisyah yang masak untuk menarik perhatianku. Trik lama. Bahkan sering terjadi di dalam drama sinetron yang kubintangi. Casandra pun pernah menggunakan trik ini untuk membuat Ibu terkesan, sayangnya gagal karena Casandra lupa membuang kertas struk pembelian yang tersimpan di dalam bungkusan plastik kue yang diakuinya sebagai olahan tangannya sendiri. "Ini masakanmu? Yakin masak sendiri?" Aku baru ingat kalau Aisyah sedang puasa, pasti dia tidak akan berbohong. Mungkin ini yang mendasari makan malam sudah tersaji lebih awal. "Yan …." Ibu melirikku tajam. "Ini memang Aisyah yang buat Bang, dibantu Ibu." Aisyah sudah menempati kursi di sebelahku. Aku tersenyum miring mendengarnya. Artinya bukan murni masakannya. "Sudah, Yan, apaan sih bahas yang nggak penting. Sekarang kita siap-siap makan, eh tapi nunggu adzan dulu biar Aisyah membuka puasanya. Baru kita makan juga," sela Ibu menyudahi pembahasan siapa yang memasak makanan ini. Kerlingan matanya mengarah kepadaku. "Syah, kalau Ibu ngasih saran boleh kan?" Gerakan tanganku terhenti saat ingin mengambil potongan buah semangka yang berada di hadapanku. Ucapan Ibu membuatku penasaran. "Iya, Bu." Kedua mertua dan mantu itu saling tatap dengan raut serius. "Kamu kan masih pengantin baru. Kalau bisa jangan puasa dulu. Nikmati saja masa berdua kalian sebagai pasangan pengantin. Bukan maksud Ibu melarangmu puasa, tapi takutnya kamu jatuh sakit atau." Ucapan Ibu terhenti. Sepertinya sengaja menggantung ingin tahu dulu responnya Aisyah. Wanita dengan wajah polos tanpa make up itu hanya menyunggingkan senyum tipis. "Iya, Bu. Aisyah paham kok. Terima kasih atas perhatiannya. Maaf Aisyah puasa karena sudah terbiasa dan terbawa begitu saja ke sini." "Eh tapi Ibu nggak melarang kok. Kalau kamu mau tetap puasa juga boleh. Takutnya malah Ibu berdosa karena memintamu tidak puasa." "Nggak papa Bu, kemarin Aisyah juga salah belum dapat izin Bang Ryan, malah tetap puasa." "Ya Allah, mantu Ibu baik bener. Pake izin segala. Nggak izin pun Ryan pasti izinkan kok. Masa untuk hal baik ditolak. Cuma waktunya saja yang tidak pas. Ibu takut kamu kelelahan kalau harus puasa juga, sedang malamnya kerja keras." Aku memutar kedua bola mataku, jengah mendengar kalimat terakhir Ibu. 'Kerja keras? Heh, bisa saja Ibu dapat kalimat itu.' Untungnya adzan maghrib berkumandang sehingga kami seketika diam sambil menikmati makan malam disertai buka puasa Aisyah. Denting jam di dinding sudah menunjukkan waktu sembilan malam. Aku yang sengaja berlama-lama di luar dengan alasan mengecek kerjaan baru masuk ke dalam kamar. Kulihat Aisyah dalam posisi duduk bersender pada bahu ranjang seraya memegang buku. Sepertinya dia hobi membaca. Hampir setiap melihatnya, selalu ada buku di tangannya. "Ini tanda tangan ulang, yang mentahannya biar aku yang simpan." Kusodorkan lembaran surat kerja sama kami yang sudah kami sepakati bersama. "Kalau mau dibaca lagi juga boleh. Siapa tahu kamu ragu dan mempertimbangkan tawaranku kemarin." Aisyah mendongak menatapku lekat. Alisku naik satu isyarat bertanya. "Pulpennya Bang?" tangannya menadah padaku. Dengan malas kuserahkan benda panjang dengan ujung bertinta hitam itu ke arahnya. Tidak menunggu lama Aisyah segera menandatangani surat perjanjian tersebut. "Kamu pegang yang ini. Yang satunya buatku. Masing-masing punya pegangan." Surat perjanjian tersebut kubuat jadi dua sesuai kesepakatan kemarin setiap orang mempunyai lembaran aslinya. "Tidurlah, aku tidur di sana." Mataku mengarah ke sofa dekat tempat tidur. Kuambil satu bantal dari tempat tidurku untuk membawanya ke sofa yang akan kutempati. "Bang, kalau surat perjanjian itu sudah ditandatangani apa artinya perjanjian itu sudah dimulai?" Pertanyaan Aisyah membuatku spontan berpikir. "Iya. Dimulai dari sekarang. Tidak ada bedanya dimulai hari ini atau besok, toh kamu tidak berubah pikiran," jawabku dengan tegas. "Kalau begitu sesuai poin nomor delapan, harusnya abang tidur di sini." Tangan Aisyah menepuk pelan atas kasur tempat tidur yang sedang didudukinya. "Kita satu tempat tidur, bukan terpisah," imbuhnya lagi membuatku merasa tercekat. "Kamu yakin? Bagaimana kalau aku macam-macam ke kamu?" "Ingat poin nomor delapan Bang. Abang tahu jawabannya apa." Poin delapan? Astaga. Apa ini yang namanya senjata makan tuan? Maksud membuat perjanjian untuk kenyamananku, bukan untuk menyulitkan diri sendiri. "Ya sudah. Ayo tidur, aku lelah." Terpaksa mengalah dan memaksanya menggeser badan ke posisi lebih dalam karena aku mau tidur di bagian depan. Aisyah beralih posisi. Ia hanya menatapku dalam diam. Selimut kutarik dan menutupi seluruh badan. Kurasa dengan memunggunginya serta menutup seluruh tubuh seperti ini Aisyah tidak akan macam-macam denganku karena ini kode tidak ingin diganggu, dan aku pun berusaha tidak akan menyentuhnya. Setelah berupaya memejamkan mata ini untuk tidur, akhirnya bisa tidur juga. Sebenarnya jam sembilan itu terlalu awal untuk dibawa ke dunia mimpi. Namun kalau tidak tidur dan berada di kamar ini berduaan dengan Aisyah, aku takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Aku belum berani memulai hubungan baru dengan wanita manapun, termasuk wanita seperti Aisyah. Entah jam berapa mata ini bisa terpejam karena setiap aku membuka mata, Aisyah selalu menegur seolah bertindak seperti satpam dalam kamar. "Kenapa Bang? Apa butuh sesuatu, biar Aisyah ambilkan." "Abang belum tidur? Perlu sesuatu?" "Bang?" Lalu aku hanya menjawab dengan gelengan kepala. Ingin pindah keluar kamar, takut ada satpam yang lebih galak lagi dari wanita di dalam kamarku ini. Ibu. Pagi ini saat membuka mata tak kutemukan Aisyah di sampingku. Kupikir ia mandi, lalu kulanjut tidur kembali, tapi setelah terbangun kedua kalinya dan ingin perlu buang air kecil, masih tak tampak juga wanita berjilbab lebar tersebut di dalam kamarku. Kupikir mungkin dia keluar. Namun ditunggu lama tak muncul juga ke dalam kamar. Kutajamkan pendengaran tidak terdengar aktivitas apapun di luar kamar dan waktu sudah menunjukkan pukul sembilan pagi. Tumben aku tidak dibangunkannya. Biasanya terdengar suara berisiknya mengaji atau membereskan rumah ini. Daripada penasaran kucoba keluar dan memastikan apa yang sedang dia lakukan. Sepi. Keadaan luar sepi seolah hanya aku penghuninya. Kemana perginya Aisyah?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD