Pergi Bersama Ibu

1843 Words
Kucari setiap area ruangan juga tidak ada Aisyah. Kuputuskan ke kamar Ibu, siapa tahu dia di sana. Kupanggil namanya dengan mengetuk pintu kamar di sebelahku dengan keras. "Ibu, Aisyah, bangun! Ini sudah pagi," teriakku memanggil mereka berdua meski hati meragu tak yakin ada Aisyah di dalam. Setahuku Ibu juga tidak pernah kesiangan bangun pagi, dan kemungkinan kecil Aisyah tidur di kamar Ibu karena dia sendiri yang meminta kami tidur sekamar malam itu. Tiga kali ketukan dan panggilan tidak mendapatkan respon dari dalam, kuberanikan membuka pintu kamarnya. Kosong. Tidak ada Aisyah maupun Ibu. Kamarnya pun sudah terlihat rapi. Kalau tidak di sini kemana perginya mereka berdua? Dengan langkah cepat aku berlari masuk ke kamarku mengambil ponsel untuk menghubungi Ibu, guna mencari tahu keberadaannya. "Assalamu'alaikum, Yan. Ada apa?" sahut suara di ujung telepon lebih dulu. Ibu. "Waalaikumsalam. Ibu pergi kemana? Kenapa nggak kasih kabar Ryan dan apa Aisyah bersama Ibu?" "Pelan-pelan ngomongnya Yan, jangan ngegas gitu. Ini Ibu ada di luar, ada yang mau dibeli. Aisyah? Kok tanya istrimu ke Ibu? Kamu kan suaminya." Bukan ini jawaban yang kuinginkan. "Jadi Aisyah tidak sama Ibu? Lalu kemana dia? Di rumah juga tidak ada. Nggak mungkin kan kabur," balasku asal. Namun saat barusan bicara, terdengar kekehan suara Ibu di seberang sana. Aku mengernyit curiga. "Ibu bohong. Aisyah sama Ibu kan?" selidikku menahan kesal. Pasti benar aisyah bersama Ibu. Beliau sekarang lagi mengerjaiku. "Sok tahu, kata siapa? Ciee, yang nyariin istrinya segitunya. Takut ya kehilangan? Ibu pikir kamu nggak peduli kalau Aisyah nggak ada." "Astaga Ibu, bukan masalah peduli atau tidak tapi." "Maaf, Bang, Aisyah pergi nggak izin soalnya–" Aisyah menyela. Ponsel Ibu sudah berpindah ke tangan Aisyah. "Apa? Katanya istri solehah, nurut, kenapa nggak bilang kalau pergi, dosa tahu!" Karena kesal kuluapkan saja saat mendengar suaranya. Meski minim ilmu agama, tapi sedikitnya aku tahu kalau istri itu tidak boleh pergi keluar rumah tanpa izin suami dan kebetulan aku dapat ilmu itu saat membintangi sinetron religi. "Eh, kenapa marahi Aisyah?! Ibu yang minta dia nggak bilang sama kamu, sengaja mau tahu kamu panik apa nggak. Eh, ternyata panik juga." Sekarang Ibu yang menyahut. Baru juga hitungan hari jadi mantu, Aisyah sudah dibela setengah mati seperti itu oleh Ibu. "Bukan gitu, Bu. Ryan panik bukan apa, cuma takut dia hilang atau diculik orang gimana, Ibu mau tanggung jawab sama bibinya?" "Salah kamu sendiri, kamu tidurnya terlalu nyenyak. Kayak kebo. Sudah dibangunin Aisyah, tetap nggak bergerak. Ya sudah, Ibu bawa kabur Aisyahnya." "Masa? Nggak mungkin." "Loh, kok nggak percaya? Ibu nggak bohong. Aisyah tadi sempat nolak Ibu ajak pergi katanya belum minta izin sama kamu, tapi Ibu ancam aja kalau Ibu bakalan pulang dan nggak nginap lagi kalau dia nggak nurut, akhirnya mau deh. Jadi jangan salahin Aisyah. Ibu yang maksa." Ibu mencoba memberikan penjelasan. Masuk akal juga, Aisyah tentu menurut, tapi sayangnya kenapa Aisyah mau. Kalau ditolak, Ibu bakal pergi dari apartemen ini dan kami tidak perlu tidur satu kamar lagi. "Ibu dimana?" Tidak ingin mendebat lagi kualihkan dengan bertanya yang lain. "Di butik, lagi cari baju." "Di butik sepagi ini, ngapain?" "Sarapan pagi." "Ryan nanya serius Bu." Ibu benar-benar membuat tensiku naik di pagi hari. "Ngapain ditanya lagi, ya cari baju. Di awal sudah jelas Ibu bilang nyari baju. Memangnya di butik jualan makanan." "Iya, Ryan tahu itu, tapi kenapa sepagi ini? Bahkan Ryan saja belum dikasih sarapan, sudah ditinggal pergi. Entah Ibu ingat apa nggak, ada anak lain di apartemen ini selain Aisyah." Aku berpura merajuk ingin tahu reaksi Ibu yang lebih mengutamakan menantu barunya ketimbang anak sendiri. "Segitunya cemburu. Tuh, sana ke dapur periksa meja makan. Buka tudung saji, sudah disiapkan sarapan pagi kamu. Aisyah yang bikin." "Oh." Tak dapat berkata lagi bingung harus menjawab apa karena semua yang kupertanyakan bisa dibalas Ibu dengan baik. "Sudah ya Yan, ini Ibu mau lihat Aisyah dulu. Dia sedang fitting baju. Pasti cantik." "Hm," balasku hanya dengan deheman. Sambungan telepon terputus. 'Fitting baju? Memangnya Ibu mau ajak Aisyah ke mana? Apa Ibu merencanakan sesuatu tanpa sepengetahuanku lagi?' Sudahlah, memikirkannya membuatku pusing. Lebih baik ke dapur dan lihat apa yang Aisyah masak untuk sarapanku pagi ini. Nasi goreng. Sepiring nasi goreng tersaji di dalam tudung saji beserta telur sebagai pelengkapnya. Sayang sudah dingin, tapi berhubung lapar dan hanya ini yang tersaji, ya terpaksa aku makan. Enak. Harus kuakui masakan Aisyah itu enak. Aku yakin ini masakannya karena rasa nasi goreng buatan Ibu sama dengan yang sekarang kumakan itu beda, rasanya cuma beda tipis tapi bumbunya di sini pas. Cocok dengan seleraku. Bahkan makanan favoritku yang dimasaknya kemarin itu juga enak. 'Coba Casandra sepintar Aisyah dalam hal memasak. Pasti dia jadi istri paket komplit untukku. Bisa jadi ini poin plus untuknya dan Ibu bakal suka.' *** Terdengar suara pintu depan dibuka. Itu pasti mereka–Ibu dan Aisyah. Kutengok dari jendela kaca di dalam kamar, matahari sudah memancarkan dengan terang cahayanya dan mereka baru balik ke apartemen. Terlalu lama. Ini kebiasaan kaum hawa kalau belanja suka lupa waktu. Aku yang sudah wangi baru saja mandi pagi bergegas keluar kamar menemui mereka. Ibu tampak tertawa bahagia bersama Aisyah saat kuhampiri. Mereka terlihat akrab layaknya mertua dan menantu. "Lama sekali belanjanya. Memangnya beli apa saja? Semua isi butik dibeli ya, Bu?" sindirku melihat banyaknya tumpukkan paper bag dengan berbagai merk tertangkap mata olehku di atas sofa. Sepertinya Ibu tidak hanya mengajak Aisyah ke satu tempat saja karena ada merk ternama yang terbaca olehku. "Iya, pengennya sih gitu, tapi sayang takut uangmu habis jadi ya segini saja." Dengan santainya Ibu membalas ucapanku dan mengulurkan sebuah kartu debit. Kaget karena sepertinya kartu itu punyaku. "Ini …, Ibu ambil punyaku?" tanyaku memastikan saat kartu itu sudah kupegang erat. "Iya, kan Ibu belanjain istri kamu ya pasti pake uangmu. Tenang saja nggak habis kok limitnya masih banyak itu. Aisyah selalu menolak setiap barang yang Ibu tawarkan padanya. Jadinya belinya dikit saja. Coba kalau itu Casandra pasti." Aku melotot ke arah Ibu hingga membuatnya menghentikan bicaranya menyinggung istri pertamaku itu. Selalu saja ingin membandingkan Casandra dengan Aisyah. "Nih, Yan. Aisyah ini dari pertama datang nggak punya baju yang bagus makanya Ibu belikan. Ada baju gamisnya model terbaru, tas, aksesoris, make up, semuanya Ibu pilihkan. Lihat! Bagus kan?" Ibu memperlihatkan berbagai macam jenis barang dari dalam paper bagnya. "Nggak punya baju? Uang yang Ibu kasih ke bibimu itu kemana Syah? Bukankah itu banyak?" Aku menatap lekat Aisyah. Wanita berhijab marun itu hanya menunduk saat kutanya ketus. Dia seolah tak berani menatapku. "Huust! Itu buat biaya pernikahanmu kemarin. Sudahlah jangan dibahas. Kamu nggak ikhlas ya kalau make uangmu? Ya sudah. Sini Ibu ganti. Gitu aja marah. Syah, coba lihat dan totalkan semua belanjaan ini biar ntar Ibu transfer ke suami pelitmu ini." Ibu mengeluarkan beberapa struk belanjaannya dari dalam tas dan memberikannya ke Aisyah. Nah, kan salah lagi. Apapun yang kukatakan selalu salah di mata Ibu. Sedikit-sedikit pasti merajuk. Ujung-ujungnya aku terpaksa mengalah. "Nggak usah Syah. Simpan saja. Ryan cuma tanya Bu. Coba keluarkan apa aja yang kalian beli?" Sengaja mengalihkan pembahasan dan bicara lebih lembut lagi agar Ibu berhenti merajuk. Ibu selalu saja mengancamku dengan cara begini dan aku tak berkutik dibuatnya. Aku tak melawan bukan karena aku anak mami seperti yang sering disindir Casandra. Hanya saja itu sebagai bentuk baktiku padanya. Ibu adalah satu-satunya orangtua yang kupunya, dan hubungan kami sejak dulu memang dekat. Apalagi saat pernah susah, Ibu banting tulang kerja apapun demi bisa memberikan kehidupan yang layak untukku dan itu tidaklah mudah dilakukan seorang diri sejak ditinggal ayah pergi. Bahkan dialah yang menyupportku saat lagi meniti karir di dunia hiburan. Rela menggadaikan cincin emasnya hanya untuk biaya ongkosku pulang pergi naik angkot ikut audisi yang belum pasti bakal keterima. Jadi sebisa mungkin aku ingin membahagiakannya meskipun harus mengorbankan kebahagiaanku sendiri. "Coba lihat bagus kan. Ini semua sudah dicoba Aisyah pas di butik. Cantik banget Yan. Nggak beda jauhlah sama Casandra. Bedanya cuma di warna kulit dan mata." Ibu menunjukkan beberapa pakaian Muslimah padaku. Aku hanya mengerucutkan bibir dan menahan senyum karena tetap saja bagiku tidak ada bedanya kalau dikenakan Aisyah, karena model pakaiannya tertutup semua. Sama seperti yang sedang dikenakannya sekarang. Yang beda paling harga dan kualitas bahannya saja. Tetap Casandra yang lebih cantik. Namun hal itu hanya mampu kunyatakan dalam hati. Bicara langsung ke Ibu sama saja cari mati. "Ini juga tasnya. Bagus kan, limited edition. Siapa tahu kalau kamu ntar ajak pergi Aisyah, nggak malu-maluin, berkelas lah kayak istrimu itu." Tiga tas branded Ibu tunjukkan kepadaku. Aku hanya tersenyum tipis. Apa Ibu lupa kalau hal tersebut tidak mungkin terjadi. Aku tak mungkin mengajak Aisyah pergi karena dia adalah istri yang dirahasiakan. Biarlah, lebih baik diam dan jangan mendebat. Mungkin ini bisa dikenakannya nanti saat kami berpisah. Anggap saja hadiah dariku sebagai kenang-kenangan. "Ini Syah, kamu bawa masuk kamar dan kamu tata dengan baik di sana. Pokoknya nanti kamu pakai biar tambah cantik dan Ryan betah di rumah." Ibu melirik dengan mengerlingkan mata ke arahku. Hanya kubalas dengan senyuman kecut. Apa maksud Ibu. Mau dandan secantik apapun Aisyah biasa saja di mataku. 'Ada-ada saja, Ibu.' "Eh, tunggu. Yang itu belum ditunjukkan apa isinya," tunjukku pada satu paper bag berwarna hitam. Aisyah terdiam dan melirik ke arah Ibu. Mereka saling pandang dengan tatapan yang entah. Seperti ada sesuatu yang disembunyikan. "Ini rahasia. Nanti kamu juga tahu," jawab Ibu membuatku semakin penasaran. "Ngapain nanti. Sekarang juga nggak papa. Memang apa isinya? Perhiasan? Emas, berlian atau apa Ryan nggak akan marah." Mencoba membujuk meski hati mulai bertanya-tanya berapa digit nominal total belanjaan mereka. Dilihat dari jumlah barang dan merk ternamanya yang terlihat, tentu sudah tembus ratusan juta lebih bisa jadi masuk miliaran. "Rahasia Yan. Pokoknya ini spesial khusus buat kamu." Hah? Ucapan Ibu membuat lipatan di keningku meningkat. "Maksudnya itu hadiah untuk Ryan?" Kembali Ibu dan Aisyah saling lirik tapi kali ini Aisyah terlihat aneh. Dia seperti malu dan menundukkan pandangannya ke bawah. "Iya sih, tapi ehm gimana ya," ucap Ibu tampak ragu. "Ya sudah, sini. Tumben Ibu beli juga buat Ryan. Kirain buat Aisyah aja." Aku ingin meraih paper bag di tangan Aisyah tapi malah ditepis Ibu. "Udah, nggak usah. Nanti aja. Ini kejutan buatmu, tapi nggak sekarang, Yan. Sabar." "Syah, yang itu taruh di kamar Ibu aja. Selebihnya bawa ke kamarmu," titah Ibu menyorot ke arah paper bag yang kami perdebatkan. Aisyah mengangguk dan pergi masuk ke arah kamar Ibu. "Bu, katanya buat Ryan tapi kok." "Kan kejutan, jadi masih rahasia. Kamu udah makan? Enak kan nasi goreng buatan Aisyah?" Kejutan apanya? Sudah dikasih tahu di awal, tapi tidak boleh dilihat. Bikin penasaran, dan sekarang Ibu sengaja bertanya hal lain mengubah topik pembahasan kami. "Biasa saja, kayak nasi goreng lainnya." "Tapi enak kan?" Lagi Ibu bertanya memastikan jawabanku. "Bu, Bang. Aisyah ke kamar dulu, baju itu Aisyah taruh di atas–" Ucapan Aisyah terhenti karena kode dari Ibu yang meletakkan telunjuknya di atas bibir isyarat menyuruhnya diam. "Misi Bu, Bang," imbuh Aisyah kemudian dengan langkah cepat menuju kamar sebelah. "Baju? Kejutannya baju, Bu? Baju apa? Ngapain pake rahasia segala." Ibu menggelengkan kepala seraya memijit keningnya. "Jaga istrimu dengan baik, Yan. Dia terlalu polos." Setelah mengatakan hal tersebut, Ibu malah beranjak pergi menjauh. "Bu!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD