Suasana rumah mendadak hening. Tak ada kicauan dari Citra ataupun suara lembut Zayn yang menghiasi rumah mewah itu. Ferry sudah duluan berangkat ke kantor untuk menyelesaikan pekerjaannya sebelum mengambil cuti, sedangkan Ratih naik turun tangga mengecek kamar pengantin yang masih tertutup rapat. "Ke mana sih anak ini? Kenapa juga jam segini belum bangun?" gumam Ratih ingin mengetuk pintu tapi ada rasa sungkan pada Zayn yang notabene-nya sempat pernah menjadi guru pengajiannya. Kembali menuruni tangga, Ratih memilih menunggu di sofa depan TV. Mengambil remote kemudian memilih siaran secara acak. “Duh, mereka mau berapa lama lagi di kamar?” Ratih sudah ketar-ketir. Makeup sudah lentur saking lamanya menunggu anak dan mantunya turun. Semalam sudah janji akan membawa mereka ke butik untuk

