Subuh menyapa, Zayn membuka perlahan kedua matanya merasakan tangan sang istri melingkar di perutnya. Perlahan Zayn meraih jam di atas nakas dan terlihat sudah menuju angka 4. Menoleh pada wanita berkulit putih dengan rambut berwarna chestnut brown. Citra memang sering mewarnai rambutnya sesuai dengan tren dan Zayn juga tidak pernah melarangnya, ia hanya mengatakan agar Citra tidak mewarnai dengan warna hitam, selain itu terserah. Toh nantinya, bila tiba saatnya Citra juga akan berubah menjadi wanita shaleha. Wanita itu diibaratkan tulang rusuk yang bengkok, jika terlalu dipaksakan untuk lurus maka akan patah. “Humaira, bangun!” Zayn membangunkan Citra dengan cara membelai pipinya dengan lembut. “Uhmmm …” lenguh Citra semakin memeluk erat tubuh Zayn, menggesekkan kepala di d**a Zayn dan

