Kehancuran Sang Pemilik
bab 2
Peluit pabrik berbunyi jam 7 pagi. Sama seperti dulu.
Gemuruh mesin, teriakan pekerja, suara forklift _beep-beep_. Di luar parkiran penuh mobil baru. Di dalam ada papan baru: "QUALITY FIRST", "TARGET 10.000 UNIT".
Orang luar akan bilang, "Wah, pabrik ini sudah maju sekali."
Tapi orang yang kerja di dalam tahu. Ada beberapa hal yang tidak pernah berubah.
Di ujung lorong, tempat dulu ada pintu, sekarang ada tembok bata tebal. Tebalnya 3 kaki. Dicat putih. Dan di tengahnya tertulis merah: "GUDANG - DILARANG MASUK".
Lima tahun. Selama lima tahun tembok itu ada di sana. Dan selama lima tahun juga, Uzair tidak pernah bisa tidur nyenyak.
Uzair sekarang sudah 34 tahun. Ada uban di rambutnya. Lingkaran hitam di bawah matanya.
Dia masih jadi supervisor lini. Gajinya sudah naik. Rumahnya juga lebih bagus. Punya istri, 2 anak.
Tapi ketenangan? Itu hilang sejak malam itu.
Setiap malam tepat jam 3:17. Seperti alarm. Matanya langsung terbuka.
Pertama hening. Lalu dari kejauhan... _meong_.
Lalu dari sisi lain... _meong_.
Lalu dari langit-langit, dari balik tembok, dari bawah tempat tidur... suara ratusan kucing menggaruk.
Dia akan bangun dengan tubuh basah keringat. Membaca Ayat Kursi. Minum air.
Istrinya bertanya, "Mimpi itu lagi?"
Dia jawab, "Iya, cuma stres kerja aja."
Anak-anaknya sudah besar sekarang. Anak laki-laki 9 tahun, anak perempuan 6 tahun. Keduanya sangat sayang ayahnya.
Tapi Uzair tidak pernah membawa mereka ke pabrik. Tidak pernah.
"Ada apa di sana, Ayah?" tanya anak perempuannya.
"Tidak ada apa-apa nak. Cuma barang lama." Lalu dia mengalihkan pembicaraan.
Dia masih ingat kata-kata Ulama: "Setelah kunci pertama, kunci kedua adalah yang paling berbahaya. Jangan dibuka. Kalau tidak, yang terkunci di dalamnya akan keluar."
Itulah kenapa saat tembok itu dibangun, Uzair menghela napas lega. Dia pikir ceritanya sudah selesai.
---
*Lalu hari itu tiba.*
Pagi itu ada kegaduhan di pabrik. Selain suara mesin.
"Pemiliknya meninggal."
Serangan jantung. Di kursi kantornya. Jam 2 pagi. Sendirian.
Pabrik tutup selama 3 hari. Seluruh kota datang ke pemakamannya. Pemilik lama itu keras, tapi adil. 200 keluarga bergantung pada pabriknya.
Hari keempat jam 9 pagi, datang mobil baru. Hitam. Kaca gelap.
Danial keluar dari mobil itu.
Usia 28 tahun. Tinggi 180cm. Kemeja putih, celana jeans biru, jam Rolex di tangannya. Rambut mengkilap karena gel. Matanya penuh kesombongan, seolah bisa menaklukkan dunia.
Dia langsung ke kantor. 2 jam kemudian dia keluar dan mengumumkan.
"Nama saya Danial. Mulai hari ini, saya pemilik pabrik ini.
Aturan pertama: Tidak ada takhayul, tidak ada omong kosong.
Aturan kedua: Keuntungan. Hanya Keuntungan."
Para pekerja bertepuk tangan. Gaji pasti naik.
Dalam 6 bulan, Danial mengubah segalanya.
Dia mengganti mesin lama dengan mesin Jerman yang baru.
Jam kerja 8 jam diubah jadi 12 jam. Lembur dibayar double.
Mendapat kontrak ekspor. Amerika, Dubai.
Produksi pabrik naik 40%. Fotonya masuk koran. "CEO Muda Sukses Bangkitkan Pabrik Bangkrut."
Semua orang memujinya di rapat direksi.
Hanya satu orang yang diam. Uzair.
Uzair sudah memperhatikan. Danial sering pergi sendirian ke ujung lorong dan berdiri di sana. Menatap tembok itu. Tangan di saku. Ada senyum aneh di wajahnya.
Suatu hari HRD bilang ke Uzair, "Bos tidak suka kamu. Katanya pemikiranmu terlalu kuno."
Uzair menunduk. "Saya hanya ingin bekerja."
---
*Dan lalu hari Selasa itu tiba.*
Tanggal: 14 Maret. Jam: 3:30 sore.
Danial sedang keliling pabrik bersama 3 supervisor dan 1 sekretaris. Membuat video untuk LinkedIn.
"Ini lini pengepakan baru kita..." katanya lalu berhenti.
Di depannya ada tembok itu.
Danial mematikan kamera. "Cut. Ada apa dengan tembok ini?"
Pak Rahmat, yang sudah 20 tahun jadi supervisor, maju ke depan. Umurnya 55. Jenggotnya sudah putih.
"Pak... ini sudah disegel. Sudah 5 tahun."
"Kenapa?" tanya Danial.
Pak Rahmat melihat sekeliling. Para pekerja berdiri jauh. Dia mulai bercerita dengan suara pelan.
"Pak, dulu di sini ada ruang bawah tanah. Di dalamnya ada lemari tua. Di dalam lemari itu ada kotak kayu. Kotak isi 8 laci..."
Seiring ceritanya berjalan, wajah Danial berubah. Pertama tertarik. Lalu terkejut. Lalu... tertawa.
Tawanya sangat keras sampai menggema di seluruh lorong.
"Kucing?" Danial tertawa sampai bungkuk. "Kucing di langit-langit? Cermin? Kotak iblis?"
Dia menatap sekretarisnya. "Rekam ini. Aku akan pakai untuk podcastku berikutnya."
Lalu dia jadi serius. "Dengar ya pak," dia menepuk bahu Pak Rahmat. "Saya orang berpendidikan. Saya percaya sains. Hantu, jin, kutukan... itu semua cerita orang lemah."
Dia menendang tembok itu dua kali. "Ada 5000 sq ft ruangan terbuang di sini. Aku akan jadikan gudang. Tembok ini harus runtuh hari Jumat. Itu perintah."
Wajah Pak Rahmat pucat. "Pak... saya mohon. Temui Uzair dulu. Dia saksinya."
Danial mengedipkan mata. "Baik. Panggil dia. Akan saya jelaskan juga ke dia."
---
15 menit kemudian, Uzair ada di kantor pemilik.
Ruangannya besar. Dinding kaca. Pemandangan kota di belakang. Di meja: MacBook, 2 HP, dan pemberat kertas kristal.
Danial memutar kursinya membelakangi Uzair.
"Duduk," katanya tanpa menoleh.
Uzair duduk. Keringat bercucuran dari tangannya.
Danial berbalik. Tersenyum. "Jadi kamu Tuan Uzair. Sang legenda."
"Pak..."
"Sst," Danial meletakkan jari di bibirnya. "Aku sudah dengar ceritanya. Sangat menarik. Bisa jadi film Hollywood."
Dia bangun dan mendekati Uzair. Bersandar di meja.
"Dengar ya Uzair," katanya dengan nada ramah. "Aku paham. Pemilik lama pasti menakutimu. Bilang tempat ini harus disegel. Kalau tidak perusahaan akan bangkrut. Benar kan?"
Uzair mengangguk.
"Masalahnya," suara Danial jadi keras. "Zaman itu sudah lewat. Sekarang zamannya AI. Data. Dan di balik tembok ini, kita bisa simpan barang senilai 2 miliar setiap tahun."
Dia membungkuk. Bertatapan.
"Jadi aku hanya akan bilang sekali. Kalau kamu menakuti pekerja lagi, kamu dipecat. Mengerti?"
Uzair menelan ludah. Tenggorokannya kering.
"Pak... demi Tuhan. Jangan suruh buka kotak itu. Kunci kedua..."
"Cukup!" Danial berteriak. "Keluar!"
Uzair bangun dan keluar. Kakinya gemetar.
Malam itu dia tidak pulang. Dia langsung ke masjid. Sujud sampai Subuh.
Jam 9 pagi dia mengirim email pengunduran diri ke HRD.
Subjek: "Alasan Pribadi".
Isinya hanya satu kalimat: "Saya minta maaf."
Dia mengosongkan lemarinya. Melepas seragamnya. Keluar dari gerbang.
Di gerbang satpam bertanya, "Pak Uzair mau kemana?"
Uzair hanya menjawab, "Allah Hafiz."
Dan dia pergi. Tanpa menoleh ke belakang.
---
*Jumat. Jam 8 pagi.*
3 pekerja berdiri dengan palu dan bor.
Sekitar 20 pekerja berdiri seperti penonton.
Pak Rahmat berdiri di samping, membaca doa. "Hasbunallah wa ni'mal wakil."
"Mulai," kata Danial. Dia juga di sana. Tangan disilangkan. Senyum menantang di wajahnya.
Pukulan pertama. _Dhaam_. Sebongkah semen jatuh.
Pukulan kedua. _Dhaam_. Retakannya melebar.
Pukulan ketiga. _Kraak_. Seluruh bagian runtuh.
Awan debu mengepul.
Semua orang menutup hidung dan mulut.
Saat debu menghilang, di depan ada kegelapan. Embusan udara dingin datang. Baunya karat, tanah, dan sesuatu yang lama membusuk.
"Nyalakan lampu," perintah Danial.
Seseorang menyalakan genset. Cahaya kuning menyebar ke ruang bawah tanah.
Semuanya sama. Sama seperti 5 tahun lalu.
Kursi patah. Karung sobek. Kertas terbakar.
Dan di sudut... lemari besi itu juga. Tinggi 2 meter. Penuh karat.
Dan di atas lemari... kotak kayu itu. Benar-benar bersih. Tidak ada debu, tidak ada sarang laba-laba.
Danial maju. Dia menyentuh kotaknya. Dingin. Sangat dingin.
"Angkat ini," katanya ke 2 pekerja. "Bawa ke kantorku."
Para pekerja mengangkatnya. Berat sekali. Seperti ada batu di dalamnya.
Saat mereka membawanya keluar, seorang pekerja berkata, "Pak... ada suara dari dalam."
"Suara apa?" tanya Danial.
"Krak... krak... seperti ada yang menggaruk."
Danial tertawa. "Pasti tikus. Ayo."
Kotak itu dibawa ke lantai 1, ke kantor pemilik. Ditaruh di atas meja kaca besar.
Hari itu kerja berjalan seperti biasa. Tidak ada yang melihat kotak itu. Kecuali Danial.
Jam 11:30 malam. Pabrik kosong. Hanya satpam di gerbang.
Danial sendirian di kantornya. Lengan kemeja digulung. Kotak itu di depannya.
Dia menuang segelas wiski. Meneguknya.
"Baiklah kita lihat," gumamnya. "Harta apa yang ada di dalamnya."
Dia melihat laci nomor 2. Laci pertama sudah rusak 5 tahun lalu.
Dia mengambil obeng. Menusukkan ujungnya ke kunci laci.
_Klik._
Suaranya sangat pelan, tapi menggema di seluruh kantor.
Tiba-tiba AC mati. Suhu ruangan turun. Bulu kuduk Danial berdiri.
Es mulai terbentuk di gelas.
Suara datang dari dalam kotak. Sangat pelan. Seperti seseorang berbicara dari kejauhan.
"Danial..."
Danial menoleh. "Siapa?"
"Danial... kamu juga membuka kunci kedua..."
Suaranya seperti laki-laki. Dan seperti perempuan juga. Seperti anak kecil dan orang tua juga.
Danial mulai tertawa. Tawa gugup. "Sistem suara di kotak ini bagus sekali."
Lalu suaranya semakin keras. "Terima kasih... karena sudah membebaskan kami..."
_Meong._
Suara satu kucing. Lalu 10. Lalu 100. Lalu seribu.
Dari langit-langit. Dari dinding. Dari bawah lantai.
Lampu berkedip dan padam.
Gelap total.
Dalam kegelapan, suara langkah kaki. _Tap... tap... tap..._ Kaki telanjang di lantai.
Danial bangun dan lari. Memutar gagang pintu. Terkunci.
"Buka!" teriaknya. "Ada orang? Satpam!"
Bisikan tepat di sebelah telinganya.
"Kamu terlambat, Danial..."
Napas dingin di tengkuknya.
Setelah itu... jeritan panjang dan mengerikan. Yang menggema di seluruh pabrik.
Satpam di gerbang mendengarnya. Dia lari. Naik ke atas. Mendorong pintunya.
Kantor itu kosong. Jendela tertutup.
Kotak itu ada di atas meja. Terbuka. Laci kedua terbuka.
Di lantai... ditulis dengan sesuatu yang basah... 3 kata:
*"TIGA LAGI"*
Jenazah Danial... tidak ditemukan.
---
Keesokan paginya, polisi datang. Tim forensik datang. Media datang.
Pabrik disegel.
Di TV, berita mendadak: "CEO Muda Hilang dari Kantornya Sendiri. Terakhir terlihat bertengkar soal ruang bawah tanah angker."
Koran menulis: "Takhayul atau Pembunuhan?"
Pak Rahmat dan pekerja lain berdiri di luar. Polisi menginterogasi mereka.
"Ada musuh?"
"Tidak pak."
"Kenapa tembok ini dibangun?"
Pak Rahmat hanya menatap langit. "Karena beberapa hal harus tetap tersegel."
Malam itu setelah semua orang pulang, penjaga malam melihat.
Dari balik tembok yang baru diruntuhkan di ruang bawah tanah... ada suara menggaruk.
_Krak... krak..._
Kunci ketiga mulai bergerak.
Dan dalam kegelapan seseorang berbisik:
"Cepat... kita harus keluar..."