"Kira-kira kamu salah paham apa tidak dengan kehadiran bu Ruly." Hailey baru saja masuk, belum menutup pintu—mengendap-endap memastikan hanya ada Asher saja—akan tetapi, sudah diberondong pertanyaan mematikan. "Apa, sih?" Asher mengendikkan bahunya acuh. Menyodorkan map berwarna cokelat ke hadapan istrinya yang bengong. "Punya kamu. Hak milik kamu, Honey." "Kita lagi bahas apa, sih, Mas? Maksudnya punyaku gimana?" tanya perempuan itu kesal. Dia tidak mau menerima begitu saja sebelum mendapat penjelasan. "Kehadiran bu Ruly atas perintah saya. Dia menjual aset peninggalan suaminya karena sedang butuh dana darurat untuk operasi anaknya. Saya memberikan penawaran tinggi. Gedung itu awalnya galeri musik punya suaminya." "Terus?" tuntut Hailey masih belum paham, padahal sudah dijelaskan ol

