Bab 15. Pertanyaan Jebakan

1018 Words
“Apa yang kamu rasakan saat ini, Hailey?” “Kapan dibolehin pulang, sih? Saya sudah bosan di sini, Mas. Nggak ada HP, nggak ada novel, saya mau kuliah saja,” rengek Hailey membuat Asher terkekeh mencubit hidung mungil sang istri. “Kalau kamu manja begini saya nggak janji bisa menahan diri, loh.” “Apaan, sih? Nggak waras, ya?” “HEH! Nggak boleh ngatain suami, ya,” tegur laki-laki itu dengan ketegasannya. “Saya selain suami kamu juga dosen kamu. Mau nilai kamu saya tahan, hem?” Hailey memutar kedua bola matanya dengan jengah. “Dosen mainnya ngancem.” Dia sudah kembali berani, sudah di-infus makanya tenaganya berangsur pulih. Anggap saja yang kemarin-kemarin loyo karena banyaknya tekanan batin dan sekarang Hailey kembali ke versi aslinya. “Mami sama Chiara mau ke sini.” “Oh.” Respon alami Hailey, tak begitu terkejut. “Tadi kenapa nggak sekalian diangkut saja, Mas? Lumayan hemat waktu.” “Mami harus menjinakkan Chiara dulu,” jawabnya simpel, begitu santai membawa Chiara masuk dalam topik bahasan mereka berdua. Asher sengaja menyembunyikan permasalahan Chiara yang habis mabuk-mabukan dan berakhir hampir membongkar rahasia pernikahan. “Pertanyaan saya belum dijawab, Honey,” kata Ashar dengan panggilan kesayangan yang sukses membuat Hailey bergidik ngeri. Perempuan suka dengan panggilan kesayangan dari laki-lakinya, tetapi jika konteks pernikahan mereka karena kontrak dan akan diakhiri dengan sad ending pantaskah? Apalagi Asher seolah sengaja memuliakannya. Seakan-akan kelak mereka akan menua bersama. “Banyak pertanyaan dan saya nggak sanggup menjawabnya.” Cuek Hailey menggigit buah apel dengan santai. Presensi seseorang yang membuka pintu diikuti dua orang lainnya membuat Hailey tersedak. Hal itu langsung ditanggapi dramatis oleh Asher. “Pelan-pelan makannya. Kenapa sampai tersedak begini, sih? Mami sama Chia cuma berkunjung bukan mau ngusir kamu dengan cek ratusan juta, Honey.” “Sejak kapan dosen killer berubah menjadi lawakan?” Hailey membatin. "Asher menjagamu dengan baik semalam, 'kan? Kalau dia menyakiti kamu kasih tahu Mami, Sayang." "Najis." "Kenapa lagi, Chiara?" Pertanyaan bernada datar dari sang ayah membuat Chiara membuang muka. Kedua tangannya bersedekap d**a. Konfrontasi ngambeknya lumayan gede. "Nggak sopan begitu sama Papa. Kamu tidak ke kampus?" "Mobilnya disita, nggak dikasih uang jajan, ngapain aku ke kampus? Ngemis." Karena perdebatan antara ayah dan anak itulah membuat Hailey memusatkan sepenuhnya kepada mereka berdua pun demikian dengan Magdalena. "Mereka sedang perang dingin. Chia ketahuan ke club." Beritahu Magdalena tanpa tahu kebenaran yang sesungguhnya. Sebatas mengetahui cucunya diringkus karena kabur ke club dengan kekasihnya. "Dia pergi sama pacarnya. Jadi, setelah tahu efek buruk hubungan mereka apa tindakan kamu sebagai ibunya?" "Aku, Mi?" Jari telunjuk Hailey menunjuk dadanya sendiri. "Penawaran itu masih berlaku, Sayang. Mami serius." Hailey meneguk salivanya dengan susah payah. "K-kenapa harus aku, Mi?" "Setelah kamu sembuh mari bahas ini. Ingatkan Mami, ya." "Chia, kita pulang!" ujarnya mendekati anak dan cucunya yang masih saling sindir. Meninggalkan Hailey yang pusing dengan permintaan ekslusif sang mertua. "Kenapa Oma suka sekali gangguin aku, sih? Aku mau di sini saja karena tidak ke kampus." "Mana boleh begitu, Sayang!" "NGGAK DIKASIH DUIT SAMA PAPA, OMA!" jerit perempuan itu menatap tajam kepada ayahnya. "Pelit!" "Asher, Mami pulang duluan kalau begitu. Jaga istrimu, jangan dulu kerja. Kalau penting-penting banget bawa saja ke sini asalkan Hailey tidak ditinggal sendiri. Mami takut dia kabur." Kabur dalam konteks yang tidak dipahami oleh Hailey. Dia tersenyum miris mendengar kegelisahan mertuanya, walau sudah di depan pintu suaranya masih kedengeran walau lirih. "Lo bisa lihat sendiri bagaimana sikap Oma ke lo yang baiknya minta ampun semata-mata karena takut lo kabur sebelum melunasi utang ke kita." Celetukan Chiara padahal sebelumnya diam-diam saja. "Utang?" Monolog Hailey berpikir keras. "Pewaris untuk Oetama lalu lo pergi dari hadapan kita." Miris sekali. Sahabat dekat yang sudah seperti saudara langsung berubah total menjadi musuh bebuyutan karena laki-laki dan kini terpaksa dengan status baru. "Lo tenang saja, Chiara. Gue sudah atur sedemikian baiknya." "Bagus kalau begitu. Lo cukup sadar diri rupanya dan gue juga baru sadar lo amat susah sampai menjual diri ke bokap gue." Deg! Deg! Deg! Sakit sekali rasanya. Namun, memaksakan untuk mengulas senyum. "Gue emang jual diri, jual diri ke suami sendiri diperbolehkan, 'kan? Jadi, apa masalahnya?" ujar Hailey menyerang secara telak. Jangan biarkan jatuh pada kecaman orang lain. Dia harus kuat untuk dirinya sendiri. Mendapat jawaban super percaya diri dari ibu tirinya yang ditutup dengan gendikan bahu secara acuh. Perempuan itu itu bangkit menggapai Magdalena. "Chia berubah pikiran Oma. Mau ikutan pulang aja, ngantuk." Asher tentu membiarkan karena sejatinya itu yang dia inginkan. Hailey dan Chiara jika ditempatkan di ruangan yang sama membuatnya khawatir terjadi hal yang tidak-tidak, bahkan saat berbincang singkat di depan pintu dengan sang ibu kepala Asher berulang kali menoleh ke belakang. “Mau bulan madu ke mana, Honey?” “APA, SIH, MAS?” tanya Hailey tidak santai. “Kayaknya kamu sudah sembuh, deh. Udah bisa main, ya?” Hailey jantungan. "Kemarin kabur ke mana? Pertanyaan paling mudah dijawab dari pertanyaan-pertanyaan yang lain, Honey. Jangan mangkir lagi, ya! Saya nggak suka diuji kesabarannya." "Ke rumah singgah." "Apa?" tandas laki-laki itu spontan. "Jawab yang benar!" "Memang benar. Emang bagian mana yang salah?" "Okay, skip! Kenapa bisa pulang sama kekasih anak tirimu? Saya menghubungi kamu ratusan kali tidak pernah direspon, tapi sama laki-laki itu kamu nempel banget." Ini salah paham dan Hailey tidak berencana untuk meluruskannya. “Minggat pun saya akan kembali ke rumahmu karena utang saya masih ada,” ucap Hailey teringat dengan perkataan Chiara perihal utang. Kenapa semua orang selalu melibatkan dirinya dalam transaksional. Inilah yang ditolak mentah-mentah oleh Hailey atas permohonan pernikahan normal karena dia sangat yakin, meskipun mereka disebut sebagai suami-istri tetap saja anggapan buruk selalu menyertai jalannya. “Pembahasan ini berpotensi membuat keretakan dalam rumah tangga.” Hailey tertawa sopan saat Asher melipir tidak lagi menjadikan dirinya objek tatapan. "Itu tahu kenapa mancing-mancing. Sejak dulu memang kamu mancing-mancing terus, Mas." "Bersedia menjalani pernikahan normal dengan saya?" "Berapa lama?" "Sampai finansial Venosha kembali seperti semula?" "Yang benar saja. Venosha sudah jauh lebih baik." "Kemarin nyaris bangkrut." Hailey tahu. Namun, enggan menjelaskan. "Jadi, bagaimana?" Hailey bergeming. Setelah berpikir luas kepalanya mendongak, menyambut jabat tangan sang suami. "Lindungi Venosha, Mas. Saya tahu papa mati-matian mendirikan Venosha."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD