Bab 16. Gosip Soal Hailey

1030 Words
Agaknya Hailey memang gila dengan memberikan persetujuan kepada Asher setelah ini dia harus siap memposisikan diri sebagai istri seorang dosen killer. Sejauh ini Hailey cukup melayani suami, tidak momong anak suaminya. Namun, permasalahan besar dialami Hailey karena dia terjebak dengan putri suaminya yang mirip setan. Hari-hari dirasakan Hailey seperti pengurangan sisa umur di dunia. Kian hari Chiara makin berani mengusiknya sampai-sampai di tahap waras Hailey dia memilih diam. Mendiamkan apa pun yang dilakukan oleh mantan temannya. Namun, kali ini tindakan Chiara sudah kelewat batas. Pagi yang seharusnya cerah seperti awan di atas sana justru mendung di kilatan mata Hailey begitu melihat mobil pemberian Asher dilempari lumpur jajakan sapi. Iya, jajakan sapi. Entah dapat dari mana Hailey pun tidak tahu. Di depan Hailey yang berdiri bersedekap d**a harap-harap cemas karena takut telat sampai ke kampus. “Bu, kita bisa pakai mobil yang lain saja. Membersihkan satu mobil dengan bau menyengat membutuhkan waktu yang lama,” ujar Ahmed menghadap Hailey. Ahmed tidak ikutan mencuci mobil karena larangan Hailey. “Mobil lain memang ada, Ahmed. Anak tiri saya terlalu cerdik karena semua kunci mobil di garasi dibawa. Dia sudah memperhitungkan semuanya. Atau kembali ke saran pertama saya, pergi ke kampus naik taksi.” “Jangan, Bu,” sela laki-laki dengan pakaian formal. “Sekitar lima menit lagi masuk pengeringan, kita langsung ke kampus. Saya pastikan tidak akan terlambat, Bu.” “Opsi pertama lebih baik, Ahmed. Saya naik taksi bukan ojek. Memangnya apa yang perlu dikhawatirkan?” “Bu, mobil anak buah saya juga dilempari kotoran. Mereka tidak bisa mengawal kita.” “Alasan itu lagi, terserah sajalah!” Hailey mati bosan. Dia duduk di kursi taman sembari menunggu. Suaminya sudah tidak aktif ketika dia telepon, sepertinya sedang mempersiapkan kelas paginya. Kelas pagi Hailey juga diisi oleh laki-laki itu. “Hah!” Hailey mendesah. “Berapa lama lagi, Ahmed? Saya sudah telat.” “Mari, Bu,” katanya membuka pintu penumpang. Mobilnya wangi, tapi kurang nyaman karena masih tersisa basahnya. Perjalanan ditempuh kurang dari setengah jam karena Ahmed membawa mobilnya dengan kecepatan tinggi. Laki-laki yang kini dengan lihainya memutar kemudi menatap ke spion tengah yang menggantung—memastikan sang majikan dalam keadaan aman. “Kenapa, Ahmed? Muka kamu yang bonyok sudah baik-baik saja? Bonyok kenapa?” tanya Hailey tanpa melepaskan tatapannya pada layar ponsel. Dia sedang bermain game daripada bosan. “Maaf, Bu?” “Walau sudah samar saya sempat melihat wajahmu bonyok loh. Waktu di rumah sakit itu kamu, ‘kan? Bukan saudaramu si Ahmad. Walaupun kalian seiras saya bisa membedakan dari matamu.” “Ya?” Hailey melempar halus ponselnya ke kursi. Tangannya bersedekap d**a menatap lurus ke depan. “Kamu lebih lembut, tapi kikuk. Beda banget sama kembaranmu yang kayak rentenir. Kamu … lebih manusiawi.” Hening menyapa. Mobil sampai di halaman luas kampus. Hailey turun tanpa menunggu pintu dibuka oleh Ahmed. “Maaf, Bu.” Ahmed menunduk dalam. “Saya bisa sendiri. Tidak perlu berlebihan, semua tindakan kamu berpotensi menjadi pusat perhatian dan saya merasa kurang nyaman.” Kepala Ahmed kian menunduk memohon maaf. “Makan siangnya dikirim sama mami, ‘kan? Saya request ingin jus alpukat, ya. Tolong bawakan.” “Baik, Bu.” Tiga hari selang menginap di rumah sakit Hailey sudah sembuh total. Termasuk kesembuhan mentalnya, pun sudah dia terima dengan lapang. Saat ini dia menikmati peran baru sebagai istri dan ibu tiri. Membuang uang suami menjadi hobinya akhir-akhir ini. Hailey bahkan sudah tidak peduli dengan mama, papa, dan kakaknya. Entah bagaimana kabarnya. Orangtuanya pun tidak pernah menanyakan keadaan pasca menikah dengan Asher maka dia pun melakukan hal yang sama. "Jadi dia yang deketin pak Asher. Gila banget dandanannya seksi abis pantas doi tergiur." "Dadanya gede kayak implan." "Tapi rela buka paha demi nilai dan kekayaan. Perasaan dia nggak bodoh, kenapa sampai merayu dosen, ya." "Sekarang sudah zamannya yang pinter mendadak bodoh kalau soal kemewahan dan jaminan masa depan." Hailey masih tenang kendati dadanya sakit sekali mendengar argumentasi orang-orang tanpa tahu kebenaran seperti apa. Kelas paginya dimulai beberapa menit lagi dan beruntungnya Hailey tidak telat sesuai janji Ahmed. Namun, di kelas pagi ini Hailey menyesal datang. Kalau bisa dia untuk bolos saja. Duduk di kursinya yang terletak di pojok belakang memang sengaja dipilih Hailey karena niatnya mau tidur. Dia nggak peduli siapa yang datang menggeret kursi di sebelahnya. Matanya sudah berat sekali. "Ley," panggilnya tanpa menyentuh Hailey. Laki-laki yang kini menyodorkan donat cokelat menunggu Hailey mengangkat kepala. "Henry, nggak usah ke sini! Lo bikin gue makin jatuh ke masalah," kata Hailey berbisik lirih. Kepalanya menghadap ke dinding enggan bersitatap dengan Henry. "Kenapa ke sini, sih? Cewek lo ke mana?" "Donatnya, gue tahu lo belum sarapan, 'kan?" Henry salah. Dia rutin sarapan dengan makanan bergizi atas perintah mertuanya. "Gue kemarin ke rumah lo. Kata tante Ellis lo nggak tinggal di sana. Tadi pagi gue ke apartemen lo dan penghuninya berbeda. Lo tinggal di mana, Ley?" "Selamat pagi!" Sapaan tegas yang disambut antusias seluruh mahasiswa membuat Hailey langsung mengangkat kepalanya. Begitu matanya tidak sengaja bertatapan dengan Asher sontak perempuan itu langsung menendang kursi Henry membuat laki-laki itu tersentak. "Apa, sih, Ley?" Hailey diam saja, mengambil sepotong donat tanpa peduli dengan Henry. Ketika pada gigitan pertama perempuan itu sengaja membuat gerakan membawa donat ke atas bermaksud memberi tanda kepada sang suami. "Lapar." Begitulah gerakan bibir Hailey. "Saya beri waktu sepuluh menit bagi yang mau ke kamar mandi atau menyelesaikan sarapannya." Hailey tersenyum sumringah semakin mengunyah donat tanpa sadar sosok laki-laki di sebelahnya terus saja memperhatikannya. Henry tidak bodoh dengan interaksi Hailey dan Asher. Namun, Henry menolak paham. Dia berusaha keras menepis karena itu semua tidak penting. "Thank you, Ry. Gue udah sarapan, lo nggak perlu khawatir gue sarapan atau tidak. Omong-omong Chiara ke mana?" Henry juga tidak tahu! "Gue cuma minta satu hal saja ke lo. Jangan deket-deket entah ada Chiara atau tidaknya, gue nggak mau cari ribut." Henry bergeming tak menjawab. "Lo dengar, 'kan?" "Yang di belakang sudah siap belajar? Kalau mau berbincang silakan tinggalkan kelas saya!" "Henry saja yang diusir, Pak. Saya cuma makan nggak ngerumpi." "Segera selesaikan Hailey!" Hailey mengangguk tanpa perlu menyahut lagi. Dia tidak peduli dengan tatapan semua orang yang sibuk mencemooh dengan raut jijik. Hailey ingin bodo amat dengan gosip yang sedang beredar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD