"LO?!" teriak Chiara menuding Hailey tepat di depan wajahnya, bukan hanya Hailey saja yang kaget dengan presensi Chiara karena Gideon serta Eliss pun sama kagetnya, mungkin hanya Eloise yang terlihat santai.
"Kenapa lo ada di sini hah?!" bentak Chiara hendak meninju Hailey akan tetapi, sudah ditahan dengan gesit oleh anak buah Asher; ayahnya.
Hailey masih santai tak memberikan ekspresi apa pun selain bergeming dengan wajah datar. Wajahnya flat, walau dia kaget setengah mati. Namun, masih bisa mengendalikan diri.
"Nak Chiara ...?" Pertanyaan Ellis tak berujung ketika sosok lain membuka suara.
"Dia calon ibumu, Chia. Berikan salam sopanmu!" perintah tegas Asher membungkam bibir Ellis seketika.
"SIALAN! AKU TIDAK SUDI!" bentak Chiara dengan napas menggebu-gebu bahkan dengan kekuatan tidak relanya mampu menepis cekalan anak buah ayahnya.
Hal yang tidak diduga oleh semua orang setelah penolakan Chiara adalah pekikan kesakitan dari bibir Hailey karena serangan dadakan dari Chiara. Perempuan bar-bar yang menyandang status musuh bebuyutannya.
"Lo nggak boleh nikah sama bokap gue sialan!"
"Tapi gue tetap menikahi bokap lo tanpa peduli dengan persetujuan lo tentunya," balas Hailey turut menjambak rambut Chiara. Dua perempuan itu sama-sama tidak mau kalah.
"LERAI MEREKA!" bentak Asher hilang kesabaran karena anak buahnya diam saja sebelum dirinya memberi perintah.
***
Apa yang diharapkan oleh Gideon dan Eliss di pertemuan ini tidaklah terwujud dengan nyata. Kacau. Kini di depan Hailey wajah kepala keluarganya sudah terlihat jelas bentuk kemarahannya. Hailey tahu dia salah, tapi dia memilih tidak meminta maaf karena pertikaian ini dipicu oleh Chiara.
“HAILEY MADELINE LUXE!" Teriakan menggelegar itu semakin membuat kepala Hailey berdenyut pusing. Jambakan Chiara masih menyisakan rasa sakit dan kini makin diperparah dengan teriakan Gideon.
“Aku tidak salah. Dia yang memulai duluan,” bela Hailey tidak mau disalahkan begitu saja.
“Jangan membela, Hailey!” Kini sentakan didapatkan dari sang ibu yang juga sama emosinya. Bedanya sosok ratu bermarga Luke terlihat lebih menguasai diri.
“Chiara itu teman lo, ‘kan? Dia yang dulu sering nginep di sini karena kabur dari sekapan bokapnya yang strict parents. Gue benar, ‘kan?” tanya Eloise membungkam kemarahan kedua orangtuanya.
Kini atensi Gideon menatapnya dengan wajah keingintahuan. “Benar?”
Bola mata Hailey memutar dengan jengah tanpa peduli siapa yang sedang dihadapi saat ini. "Aku menikahi papanya setelah dia merebut sahabatku," jawabnya dengan lesu. Masih mengingat jelas pertengkarannya dengan Chiara yang membuat keduanya menjadi musuh bebuyutan. Bila ada kesempatan bertemu selalu bersilat lidah.
"Nasib lo sungguh buruk, Ley. Mungkin kalau jadi lo lebih baik mati bunuh diri saja."
"ELOISE, TUTUP MULUTMU!" bentak Gideon.
Mendengar bentakan ayahnya membuat decakan lirihnya terdengar dan langsung berlalu meninggalkan ruang tamu. Mereka masih berdiri di ruang tamu setelah pulang dari pertemuan gagal dengan calon suami Hailey.
“Pah, pernikahannya batal?” tanya Ellis murung. Namun, belum sempat Gideon menjawab pertanyaannya tiba-tiba saja telepon Hailey berdering nyaring. Ellis melihat keengganan sang anak yang tidak kunjung menjawab teleponnya.
"Angkat!" perintah Gideon dengan tegas yang dituruti oleh Hailey, walau di dalam hati misuh-misuh.
“Hallo?” sapa Hailey pertama kali. Tidak ada suara membuat perempuan itu berdecak. Berniat mematikan, tapi tiba-tiba Gideon memberikan kode melalui gerakan bibir yang dipahami oleh Hailey. Mereka bertiga sama-sama menunggu balasan dari seseorang di seberang sana yang masih tetap diam dalam beberapa menit.
“Kalau cuma iseng gue matiin—”
“Datang ke ruangan saya besok sebelum kelas berlangsung!”
Sambungan langsung dimatikan secara sepihak membuat Hailey berdecak keras. "Dosen killer gila," umpat perempuan itu. Mendengar nada perintah yang tak mau dibantah itu membuat Hailey menggeram, lain halnya dengan perempuan itu maka berbeda pada Gideon yang menyeringai. Rencananya tidak akan kandas begitu saja. Walau mereka diusir dari dinner malam ini akan tetapi, kekalahan belum mereka terima.
“Ck. Siapa yang memberi nomorku ke pak Asher, sih?!” tanya Hailey dengan kesal. “Aku memang setuju, tapi jangan seenaknya begini!”
Gideon tidak peduli. Dia berlalu masuk ke kamarnya meninggalkan istri dan anaknya begitu saja yang membuat Hailey semakin ingin mengamuk.
“Keterlaluan. Kalian berniat menjual aku ke pak Asher, Ma?”
“Jangan berlebihan. Kamu hanya dikontrak, setelah itu bebas melakukan apa pun,” balas sang ibu santai.
“Bagaimana ketika aku melahirkan nanti mati, Ma? Apa masih terhitung kontrak juga?” Wajah Hailey masam, dia tidak benar-benar berdoa demikian. Ini sekedar ancaman belaka demi melihat respon Ellis yang seolah tidak memedulikan dirinya.
"Bersiaplah untuk tidur jangan sampai besok terlambat datang menemui calon suamimu. Jangan siakan kesempatan ini, Hailey," ujar Eliss mengalihkan topik pembicaraan. Ibunya itu seperti tidak memiliki hati nurani.
Hailey kembali ditinggalkan. Sepeninggalnya kedua orangtuanya tubuh perempuan itu jatuh terduduk di atas sofa. Jambakan serta cakaran di lehernya baru kerasa membuat decakannya makin membara. Rasanya lelah yang tidak bisa didefinisikan. Bolehkah Hailey membenci mama dan papanya setelah ini?
Keluarganya memang memiliki formasi lengkap, tapi siapa sangka keretakan di dalamnya yang hanya diketahui oleh mereka saja. Gideon dan Eliss sangat apik membuat citra baik di depan publik, bahkan dengan sangat apiknya membuat rencana seakan dirinya dijodohkan dengan Asher bukan dinikahkan paksa.
"Jika pak Asher seorang duda apa itu berarti sudah pernah menikah? Lalu di mana istrinya, berita ini tidak ditemukan di situs mana pun. Beliau berstatus lajang, tapi memiliki seorang anak." Monolog Hailey mengurut keningnya pusing.
"Minum," ujar Eloise menyodorkan minuman bersoda di depan wajahnya. Tubuhnya menjulang di depan Hailey membuat kepala perempuan itu mendongak.
"Ambil! Minuman ini aman untuk rahim lo. Nggak usah khawatir gue racunin karena peran lo cukup penting untuk kejayaan keluarga kita," ungkap Eloise seraya menggoyangkan botol minuman dengan santai.
"Iblis ini," batin Hailey.
"Kenapa lo harus pulang, sih, El? Kehadiran lo sama sekali nggak penting. Kalau niat lo mau memperburuk suasana hati gue lebih baik minggat aja sana! Nggak usah sok peduli."
"Gue kakak lo kalau lo lupa. Sopan sedikit sebelum gue adukan ke papa." Eloise membalas. "Gue peduli sama lo."
Kesialan seumur hidup Hailey karena memiliki saudara satu-satunya yang nyaris gila. Dia dan Eloise kerap kali dibedakan. Mendengar perkataan terakhir kakaknya membuat bola mata Hailey mengerling jengah.
"Gue peduli sama lo, tapi gue nggak bisa bantuin lo karena gue juga perlu lo untuk kejayaan ini. Untuk penawaran pertolongan kemarin gue serius, Ley."
***
Pembahasan aneh dan tidak berujung bersama Eloise membuat Hailey terus kepikiran sampai pagi. Dia bangun lebih awal bukan bersiap-siap untuk menemui Asher, tetapi membayangkan perihal masa depannya yang akan segera digadaikan.
Hailey tidak bisa tidur semalaman. Banyak sekali yang dia pikirkan dan tidak tahu harus dibagi kepada siapa. Hailey tidak memiliki teman setelah dijadikan musuh bebuyutan oleh Chiara karena musuhnya itu dengan sengaja mengancam siapa saja yang mendekatinya. Ancaman Chiara memang selalu terbukti sehingga sampai dua tahun ini Hailey tidak memiliki teman. Dia tidak mendapatkan bully, palingan hanya makian dan cemoohan dengan label perebut pacar orang.
Alasan keengganannya pagi ini juga senam mental yang akan dihadapi ketika sampai di kampus. Feeling Hailey selalu jelek dan tepat sasaran. Dia sangat yakin Chiara tidak akan tinggal diam tanpa mengusiknya, apalagi pertemuan malam tadi sukses memancing kemarahan Chiara.
"Astaga neraka apa lagi, Tuhan." Ratapan Hailey seraya menyibak selimut yang membungkus tubuhnya. Dia masuk ke kamar mandi, bersiap-siap dalam waktu beberapa menit saja.
Hailey tidak mandi, dia malas jadi hanya cuci muka dan berdandan sedikit supaya tidak kucel.
Ketika menuruni tangga yang didapati di lantai dasar adalah visualisasi keluarga bahagia. Hailey tersenyum kecut ketika mendapati perhatian Ellis untuk Eloise yang terlihat berlebihan.
Seumur-umur Hailey belum pernah diambilkan nasi untuk sarapan. Karena perbedaan pola asuh inilah membuat Hailey memberontak dan memilih tinggal di apartemen pemberian Gideon di umurnya yang ke-17 tahun.
"Aku berangkat," ujarnya meneguk s**u yang disiapkan oleh seorang asisten rumah tangga.
"Jangan kembali membuat masalah, Hailey. Papa menunggu kabar baik dari kamu." Peringatan tegas dari Gideon yang lagi-lagi membuat Hailey muak. Pergerakannya benar-benar diatur oleh sang ayah.
"Ya." Hailey berdecih membuang muka.
"Setelah kuliah kembali ke rumah. Apartemen kamu sudah Papa jual."