Bab 03. Kontrak Perjanjian Pernikahan

1279 Words
Basah dirasakan oleh Hailey. Perempuan itu merentangkan kedua tangannya membuat tetesan air di lengannya berjatuhan ke lantai. Kepala yang menunduk menghindari air kini sejajar dengan si pelaku utama yang bersedekap d**a dengan wajah bengisnya. “Minimal mandi kalau nggak mau dimandiin. Gue baik, ‘kan?” caci Chiara yang datang-datang langsung menyerang Hailey. Perempuan itu merasa puas diri karena berhasil melumpuhkan lawannya. Hailey menggeram menahan emosi. Situasinya salah jika dia mencak-mencak saat ini di koridor cuma untuk meladeni Chiara yang bisa dibilang kurang waras. Maka, dengan perasaan malu gadis itu melenggang melewati Chiara yang sontak membuat Chiara murka. Dia merasa diabaikan, seharusnya Hailey marah dan tidak terima. Rambutnya yang dikuncir kuda ditarik dengan kencang membuat badan Hailey terhuyung ke belakang nyaris jatuh sebelum seseorang menarik pergelangan tangannya. Keningnya menabrak sesuatu yang terasa keras kontan membuatnya melenguh kesakitan. Dia mendongak dan mendapati rahang tegas dari bawah yang terlihat mengeras. “Tindakanmu bagus, Chiara? Bisa dipertanggungjawabkan, ‘kan?” tanya Asher dengan nada yang terdengar sarkas. Chiara pucat pasi? Tentu saja tidak! Dagunya semakin terangkat tinggi dengan kepala yang mulai terbakar emosi. “Yang kamu lakukan bisa saja membahayakan orang lain, Chiara. Bagaimana jika yang lain tidak melihat genangan air lalu terpeleset. Mau bertanggung jawab?” “Mereka hanya butuh uang, lalu selesai.” Balasan Chiara dengan wajah kelewat santai membuat Asher menghela napasnya lantaran pening. “Tidak semua orang mau uangmu. Minta maaf sekarang!” perintah Asher tegas. “Nggak mau!” tolak Chiara. Mereka tidak peduli menjadi pusat perhatian. Apalagi Chiara memang terkenal arogan dan tidak takut pada siapa pun, termasuk kepada Asher yang tergolong dosen killer. Baru pertama kali berinteraksi dan sukses membuat seantero kampus tercengang akan keberaniannya. “SAYA BILANG MINTA MAAF SEKARANG JUGA, CHIARA!” bentak Asher tanpa sadar mencengkeram lengan Hailey sampai-sampai perempuan itu tersentak, meringis menahan sakit. Chiara yang dibentak, tetapi Hailey yang gemetaran karena posisinya setengah dipeluk oleh Asher. Gadis itu tidak sadar atau saking nyamannya. Bisa-bisa karena perkara ini membuat rumor negatif mengenai dirinya beredar, apalagi Chiara akan semakin meledak-ledak dalam mengusiknya. "Baik, sepertinya kamu lebih suka hukuman daripada meminta maaf. Dan untuk kalian semua yang menjadikan tontonan, bubar!" teriak Asher langsung menyeret Hailey dan Chiara secara bersamaan. "Aku nggak mau ikut, Papa! Lepasin," ucap Chiara berbisik lirih sepanjang koridor menuju ke ruangan Asher. Berbeda dengan Chiara yang terus memberontak maka lain dengan Hailey yang memilih pasrah digiring. Begitu masuk ke ruangan Asher untuk pertama kalinya yang dilakukan oleh Hailey meneliti keseluruhan sudut ruangan. Matanya terbelalak saat Asher keluar dari salah satu ruangan di sebelah rak buku dan menyerahkan kemeja navy super besar. "Ganti bajunya! Menerawang." Hailey mendelik. Menyilangkan kedua tangannya di depan d**a. "Cih! Murahan." "Chiara, kasar sekali," tegur Asher sudah duduk di balik meja kerjanya. Hailey masih di situ karena belum dipersilakan mau berganti baju di mana. Juga dia penasaran hukuman apa yang akan diberikan oleh Asher kepada anak kesayangannya. "Letakkan kunci mobilnya di meja Papa! Kartu kreditmu Papa non-aktifkan." "PAPA!" "Cepat! Atau kamu berubah pikiran mau minta maaf?" "Tidak akan pernah. Chia nggak sudi minta maaf sama dia!" bantah Chiara menuding Hailey. "Ayo taruh! Seminggu kamu pergi diantar Ahmad. Belanjamu hanya atas persetujuan dari Papa. Jangan coba-coba mengiba kepada oma!" "ISH!" Chiara mencak-mencak, tapi tetap saja patuh dengan perintah sang ayah. Walau begitu tatapannya kepada Hailey penuh kobaran api permusuhan. "Jangan senang dulu. Gue tetap nggak sudi lo nikah sama Papa." "Keluar, Chiara! Papa perlu bicara dengan Hailey." Hailey yang namanya disebutkan mendadak pias. Dia nggak tahu apa yang akan dibicarakan oleh Asher. *** Ini gila, sangat gila! Hailey masih membaca baris demi baris walau sesekali melotot menghadap Asher yang nampak tenang. Mereka duduk berhadapan dengan meja kerja laki-laki itu sebagai pembatasnya. “Tidak ada yang menguntungkan untuk saya, Pak,” protes Hailey tidak terima. “Menguntungkan orang tua kamu yang mata duitan.” Balasan tenang Asher yang terdengar seolah merendahkan Hailey membuat perempuan itu tersenyum miris. Senyum yang sangat tipis dengan kepala yang menunduk menatap kertas yang sudah lepek karena remasannya. Bagian ini Hailey setuju dan tidak marah. Dia mengakui bahkan ayah dan ibunya memang mata duitan sampai tega menjual anaknya dalam status pernikahan. “Lalu saya dapat apa selain kerjasama pokok ini, Pak?” tanya Hailey seusai meredakan gejolak amarah di dadanya. “Kamu minta apa?” tanya Asher dengan entengnya. “Saham?” “Berikan saya bayi laki-laki kalau begitu.” “Kalau bayinya perempuan bagaimana, Pak?” “Saya tetap minta bayi laki-laki.” “Terus gimana konsepnya, Pak Asher? Bayi yang perempuan mau diapakan?” tanya Hailey geregetan. Rasanya bicara dengan Asher tidak ada gunanya. “Saya tidak setuju untuk berapa lama waktu kontrak ini berlangsung. Dari catatan ini kontrak tidak dibatasi, apa maksudnya, Pak?” tanya Hailey padahal pertanyaan sebelumnya pun belum dapat jawaban. Untuk jenis kelaminnya Hailey belum terlalu memikirkan. Yang dia pikirkan adalah nasib kedepannya selama pernikahan. "Hanya saya yang berhak memutuskan," sahutnya. "Apaan, sih?" Hailey menggaruk kepalanya kasar. Otaknya seakan sedang lari ke mana-mana. Pembahasan ini makin jauh dan tidak tentu arah. "Diperjelas sekarang saja, deh, Pak. Saya nggak mau rugi. Tugas saya mengandung, melahirkan, lalu selesai. Imbalan untuk perjanjian ini kejayaan keluarga saya. Selain suntikan dana untuk Venosha saya minta bayaran badan bengkak." "Ada lagi yang kamu inginkan?" Hailey makin tercengang. Sebenarnya masalah apa yang sedang dihadapi oleh dosennya ini? Sampai-sampai mendadak cari istri dengan begitu santainya. "Saya perlu tahu status pernikahan Bapak sebelumnya dengan istri pertama—" "Saya belum pernah menikah, Hailey," potong Asher. "Terus gimana ada Chiara kalau Bapak belum menikah?!" tanya Hailey agak ngegas. Napasnya memburu naik-turun. Sepertinya mengahadapi Chiara lebih baik daripada menghadapi bapaknya yang kaku-kaku santai begini. "Punya anak nggak harus menikah dulu, 'kan? Kalau denganmu saya butuh status pernikahan ini supaya masa depan Chiara terlindungi." "Apa ini ada hubungannya kenapa Chiara tidak dikenalkan sebagai keturunan Oetama, Pak?" "Kamu tidak perlu tahu soal itu. Tanda tangan dan keluar dari ruangan saya." *** Kepala Hailey benar-benar nyaris pecah. Dia membolos kelas hari ini. Hanya ada satu kelas dan dia memilih membolos karena malu terlihat memakai kemeja kedodoran milik Asher. Walau sudah diakali supaya tidak terlihat seperti orang-orangan sawah tetap saja Hailey kurang nyaman. Pakaian dalamnya juga basah, jadi setelah duduk lama di kantin menikmati sarapan bubur ayam dia memilih bangkit. Kesialan berikutnya yang terjadi datangnya sosok laki-laki yang membuat bibir Hailey berdecak sebal. “Jangan deket-deket gue, Henry. Gue nggak mau punya masalah lagi.” “Lo nggak pa-pa, ‘kan?” Tangan Henry hendak menyentuh bahu Hailey, tetapi perempuan itu sudah menghindar terlebih dahulu. “Sorry. Gue cuma mau memastikan lo nggak demam karena disiram air es sama Chiara. Gue minta maaf atas nama Chiara, ya?” “Nggak usah repot-repot. Minggir!” usir Hailey menabrakkan bahunya dengan wajah dinginnya. Henry tergeser karena dorongan kuat Hailey. Benar. Sepertinya dugaan Henry benar kalau saat ini dia demam. Hailey mulai merasakan hidungnya gatal, kepalanya juga terasa pening. Mungkin efek jambakan dari Chiara juga masih ada. "Sial, gue punya anak spek setan belum lagi bapaknya juga nggak kalah setannya. Bisa-bisa gue mati muda. Kayaknya papa memang sengaja mau bikin gue mati muda berhadapan dengan orang-orang Oetama." Larangan adalah perintah maka ketika Gideon melarangnya kembali pulang ke apartemen perempuan itu tetap ke sana. Dia sedang pusing, nyaris demam kalau sampai pulang ke rumah yang ada beneran sakit karena keadaan rumah yang tidak pernah kondusif. Hailey belum siap dengan tekanan-tekanan yang diberikan oleh kedua orang tuanya. Untuk sesaat Hailey ingin mengistirahatkan pikirannya sejenak. Baru saja duduk di sofa apartemen tiba-tiba bel berbunyi membuat Hailey berdecak kesal. Terpaksa dia membuka pintu dan mendapati satpam yang membawakan paper bag. "Paket makanan, Mba Hailey." "Dari siapa?" tanyanya dengan suara serak. Tenggorokannya mulai kering. "Tidak ada alamat pengirimnya, tapi ada suratnya, Mba."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD