Pilihan kabur sudah ada di dalam daftar ancang-ancang Hailey, hanya saja sekedar rencana karena sejak semalam dirinya diawasi oleh Eloise secara langsung.
"Lo ada di pihak siapa, sih? Gue atau mereka, El?"
"Jalan lurus saja, deh. Gue pusing kalau dikasih pilihan," jawabnya mengembuskan asap di dalam mulut. "Kalau setelah ini langsung proses bayi bisa dihitung nggak sampai sepuluh bulan lo bakalan bebas, Ley."
Hailey bergeming, apalagi ketika kepala kakaknya langsung menoleh dengan wajah datarnya. Rokok di sela jari-jarinya seakan sudah menjadi satu kesatuan yang utuh, tidak akan bisa dipisahkan. "Lo kabur ke gue setelah itu, Ley."
Bola mata Hailey memutar dengan jengah. Dia pikir kakaknya akan berubah pikiran dan mengajaknya kabur sebelum pernikahan dilakukan. Sikap Eloise ini sungguh membuat Hailey semakin sakit kepala.
Dalam keheningan dan kesibukan masing-masing suara ketukan di kamar hotelnya terdengar. Hailey menoleh kepada Eloise yang beranjak tanpa kata dan membukakan pintu.
Sosok dalam balutan gaun berwarna hitam menyambutnya dengan mata tajam bak elang. Dia adalah Chiara, disaat yang lain mengenakan pakaian berwarna biru sesuai temanya dia memilih hitam dengan begitu percaya diri.
“Gue kasih perlindungan kalau lo mau membatalkan pernikahan ini dan kabur,” katanya dengan tiba-tiba membuat Hailey tersentak.
Lain hal dengan Hailey maka tawa cekikikan bak orang gila menyita perhatian mereka. Eloise berkata, “Bocah! Lo punya power apa?”
Chiara mengabaikan Eloise, tatapannya menusuk pada perempuan yang masih sibuk dengan asap rokoknya. Kini tatapan lebih lembut yang dulu selalu diberikan untuk Hailey membuat perempuan yang saat ini statusnya berubah menjadi seorang istri mendadak berkaca-kaca. Tatapan yang dirindukan bagi keduanya. Tatapan yang diberikan Chiara adalah tanda permohonan supaya Hailey membatalkan pernikahan.
Hailey membuang muka demi menghindari tatapan itu. Dia membalasnya dengan perkataan yang telak membuat Chiara terdiam.
“Gue akan pergi tanpa lo usir setelah perjanjian ini selesai, Chia. Lo nggak perlu khawatir karena posisi lo nggak akan tergeser dengan kehadiran gue.”
***
Kebencian Hailey semakin mendarah daging saat dia dipajang di depan tamu undangan private Asher dan kedua orangtuanya sama sekali tidak mengatakan apa pun. Mereka hanya berjarak satu meter, tapi dari keduanya tidak ada yang berinisiatif menghampirinya.
Memangnya Hailey ingin apa dari mereka? Ucapan selamat karena sudah menikah dengan prosedur yang benar?
Keluarganya bahagia atas penderitaan Hailey yang sudah mengorbankan masa mudanya.
“Bisa kita mulai bikin bayinya nanti malam, Pak?”
“Apa?” Asher bertanya dengan bibir terangkat naik.
“Saya mau hamil secepatnya lalu pergi dari kalian semua.”
Bukan suasana haru di atas pelaminan, tapi negosiasi sepasang suami dan istri baru.
Asher mengangguk-anggukkan kepalanya, mendekati daun telinga istri mudanya. “Kamu siap di bawah saya, hem?” tanya pria itu dengan berbisik seraya mengecup daun telinga Hailey.
Tubuh Hailey menegang, tapi setelahnya berusaha rileks karena inilah rencana mereka. Mengalihkan isu dengan memperlihatkan kemesraan di depan publik.
Tidak ada wartawan di sini, tapi Hailey yakin ada seseorang yang bertugas sebagai lambe publik untuk memublikasikan pernikahannya. Tentunya tanpa memperlihatkan wajah Hailey.
Kesepakatan paling menguntungkan karena selama menjadi nyonya Oetama identitas Hailey dilindungi, bahkan di kampusnya. Itu lebih baik daripada dia mendapatkan kecaman. Dunia kampus baru dimulai jangan sampai kenyamanan tidak didapatkan.
“Saya ragu kamu siap dalam proses pembuatannya.”
Perkataan itu sukses membuat kepalan tangan Hailey di atas pangkuan makin erat. Perempuan itu membawa tatapannya ke depan dengan mengulas senyum terbaiknya. Tidak ada sahutan apa pun darinya karena fokus Hailey membawa citra baik di depan publik.
Di antara orang-orang yang datang tidak ada satu pun menaiki pelaminan sekedar mengucapkan selamat atas pernikahannya. Hailey tidak masalah, tapi melihat hilir mudik orang-orang yang asik bercengkerama dia merasa sangsi pernikahan tertutup ini memang sudah dengan perencanaan yang matang.
Memangnya siapa juga yang bisa mengatur pernikahan dalam kurun waktu 24 jam jika bukan power Oetama. Hailey yakin bahwa sebelum dia tahu akan dijual oleh ayah dan ibunya mereka sudah memastikan pernikahan terjadi.
Nasib sial selalu mendatangi Hailey dengan sukarela.
“Pastikan benefit yang saya dapatkan sepadan, Pak. Masa muda saya tergadai dan saya tidak mau menanggung rugi terlalu banyak.”
“Kamu tidak akan rugi, Hailey. Saya justru membawamu ke zona aman bahkan dari orang tua kamu yang tamak itu.”
Deg!
“Bro!”
Sapaan dengan suara melengking membuat tatapan Hailey berpusat pada asal suara. Sosok laki-laki jangkung dengan setelan jas formal. Wajahnya begitu tampan, terlihat lebih muda dari Asher. Hailey tidak tahu siapa, bahkan pria itu dengan berani mengambil tangannya dan membubuhkan kecupan di sana.
“Jangan keterlaluan, Hengky! Lepaskan!” sentak Asher menepis tangan laki-laki yang dipanggil Hengky.
Laki-laki itu terkekeh, tidak takut sama sekali. “Pelit sekali, sih! Tega-teganya kamu nikah nggak kasih kabar ke aku. Untung saja aunty bilang. Aku datang nggak bawa baju sialan.”
“Kamu lebih suka tanpa busana, ‘kan?”
“Dan melihat gadis-gadis cantik menari di depanku,” balas Hengky dengan mata mengerling menggoda pengantin wanitanya.
“Jangan macam-macam pada istriku!”
Peringatan keras itu tidak dihiraukan. Hengky semakin menelanjangi Hailey dengan tatapannya sampai-sampai gadis itu bergeming dengan wajah datar. Setelah tidak sopan menyentuhnya kini laki-laki asing itu memberikan tatapan nakal yang sangat ingin dicongkel matanya.
“Dia masih muda. Seleramu perempuan muda, ya? Tapi sepertinya dia lebih waras daripada Alusia.”
“Pergi!” bentak Asher dengan wajah memerah menahan emosi. Nama yang pantang disebut, apalagi dibandingkan dengan orang lain. “Turun sebelum aku menendang aset berhargamu, Hengky.”
Usai perdebatan sengit penuh rahasia antara Asher dengan Hengky membuat Hailey terkurung di dalam kamar hotel mewahnya. Hailey tidak tahu perihal nama asing yang pantang disebutkan. Namun, satu yang jelas orang itu berjenis kelamin perempuan dan memiliki masa lalu dengan suaminya.
Sialan. Kenapa Hailey harus terjebak tanpa tahu latar belakang Oetama.
Hailey mengerang frustasi di dalam kamar mandi. Dia sudah mandi, berpakaian ala kadarnya karena tidak ada satu pun pakaian yang dia kehendaki. Pakaian dengan model jaring-jaring berwarna merah menyala entah siapa yang meletakkan di atas ranjangnya membuat perempuan itu memilih memakai kimono handuknya.
Dingin memang dirasakan, tapi lebih baik begini daripada harus memakai pakaian sialan itu.
Jangan harap Hailey akan kesusahan menarik resleting gaun pengantinnya karena perempuan itu tidak kehilangan akal. Setelah diantarkan ke kamar hotel oleh Asher dia masuk mengunci pintu dan mencari gunting yang untungnya berada di laci nakas.
Hailey tak peduli dengan harga gaun selangitnya karena gunting itulah yang menyelamatkan dia.
"Hailey," panggil suara di depan pintu kamar mandi disertai dengan ketukan keras. "Kamu sudah terlalu lama di dalam. Keluarlah!"
"Hah? Dia tahu?" Monolog Hailey.
Matanya berkilat tajam. "Dosen sialan itu memasang kamera CCTV? Bodoh! p*****l gila," umpat Hailey mengeratkan kimono di badannya. Mendadak dia merinding mengingat malam ini adalah pertama kali berada di ruangan yang sama dengan seorang laki-laki asing. "Dia bahkan semudah itu masuk ke kamar."
"Hailey, mau saya diobrak pintunya?"
Hailey makin menggigit bibir dengan gelisah. "Gimana, dong! Masa gue ke luar pakai begini sama aja menyerahkan diri."
"Okay, saya dobrak."