"Selamat pagi, Honey."
Mata yang berusaha terbuka menyesuaikan cahaya lampu terbelalak sempurna Ketika mendapatkan kecupan di pipi pun dengan eratnya dekapan seseorang.
"He-he, capek, ya?" tanya laki-laki itu yang kini menindih tubuhnya dengan tiba-tiba dan cepat. Seakan tidak memberikan waktu untuk Hailey bernapas.
Pertempuran ranjang semalam dimenangkan oleh Asher sampai-sampai membuat Hailey nyaris pingsan, mungkin jika Hailey tidak memohon laki-laki itu takkan melepasnya hingga fajar tiba.
"Mau satu ronde lagi untuk menyambut pagi pertama kita, Honey?"
"MENYINGKIRLAH DARI ATAS TUBUHKU, PAK!" teriak Hailey saking cemasnya sampai tak sadar meninggalkan kesan formal. Hailey benar-benar takut akan ada sesi pagi yang membuatnya ... nyaris mati.
Asher tertawa lirih dengan bibir yang menjelajahi leher jenjangnya. "Gunakan bibirmu untuk mendesahkan namaku, Honey. Kamu milikku. Kabari jika dia tumbuh di rahim busukmu."
Deg!
Selepas itu tubuh Asher bangkit dari atas badannya begitu saja seakan tidak merasa bersalah akan ucapan jahatnya barusan. Normalnya Hailey menangis karena perlakukan dan perkataan suaminya. Namun, dia Hailey Madeline Luxe yang bahkan tak diberi kesempatan untuk memilih takdir hidupnya. Menangis hanya akan membuat harga dirinya semakin rendah dan terinjak-injak.
Sekuat tenaga Hailey berusaha bangkit dengan tubuhnya yang remuk redam tak berdaya. Sakit. Seluruh tubuhnya sangat sakit dan Hailey ingin sekali menangis saat ini. Dengan kepala menunduk serta rambut panjang yang sudah seperti singa—tangannya mengepal penuh kilat amarah yang tak tersampaikan.
"b******n itu ...." Monolognya dengan suara lirih.
Faktanya sepagi ini Hailey tak diberi kesempatan untuk merenung. Dia dibeli sebagai pajangan maka status dan tugasnya dimulai di pagi pertama. Pagi pertama yang menguntungkan Hailey karena di depan anggota keluarga Oetama sikapnya tanpa repot berpura-pura bermain drama.
"Selamat pagi, Menantu," sapa sosok perempuan paruh baya dengan gaya mewah dan elegannya serta bibir terpoles merah yang menebarkan senyum mahal. "Tidurnya nyenyak, 'kan, Asher?"
Kini pandangan nyonya besar jatuh pada sosok sang putra yang terlihat bugar atau bahkan bisa dibilang sangat bugar.
“Mami masih perlu jawabanku?” tanya balik Asher terdengar sarkas di telinga Hailey. Nampaknya Hailey tidak percaya dengan respon acuh tak acuh suami barunya kepada orang tua pria itu.
“Hah! Menyebalkan sekali. Jangan buat Mami badmood, Asher. Ayahmu baru saja flight tadi pagi, dia menitip salam untuk menantunya.” Magdalena Oetama mengulas senyum terbaik.
Hailey juga tahu, dia bukan orang penting di keluarga ini. Dia hanyalah orang asing yang sangat dibutuhkan untuk kepentingan mereka, tapi yang tidak Hailey ketahui motif dari salam ayah mertuanya itu apa? Mereka tidak sedekat itu dan seharusnya Jacob Oetama tidak perlu repot-repot karena mereka sedang melakukan transaksional.
“Ayah meminta Mami untuk memastikan kalau Hailey diperlakukan dengan baik olehmu, Asher. Jadi, beritahu Kami kalau bocah ini membuatmu kewalahan, Sayang.”
Hailey mengulas senyum dan mengangguk. “Beliau tidak menyusahkan saya, Nyonya.”
“Mami.” Peringatan tegas Magdalena atas panggilan menantu barunya. “Aku adalah ibu mertuamu, panggil dengan sebutan yang sama seperti suamimu, Sayang.”
“Hah, menyebalkan sekali,” batin Hailey menepis lengan Asher yang merambat ke belakang tubuhnya. Tingkahnya tidak terlihat oleh Magdalena karena perempuan paruh baya itu duduk di depannya.
“Di mana Chiara, Mi? Anakku tidak membuat ulah lagi, ‘kan?”
“Dia seperti ibunya, selalu membuat kepala Mami pusing. Sialnya Mami sangat mencintai anak badung itu.” Kini netranya menatap Hailey dengan sorot penuh maksa. "Kalian pernah berteman dekat, 'kan? Mami percayakan Chiara sama kamu, Sayang."
Apa maksudnya?!
"Dan itu tidaklah gratis." Magdalena melanjutkan dengan senyum manisnya.
"Oh transaksional lagi, ya?"
***
“Sudah berapa lama bekerja pada keluarga Oetama, Ahmed?” tanya Hailey sesaat diantarkan masuk ke dalam mobil oleh Asher. Laki-laki itu tidak ke kampus hari ini jadi segala aktivitas sang istri dilaporkan dari Ahmed. Kembar seiras Ahmad yang menjadi supir juga penjaga Chiara.
“Cukup lama, Bu. Sebelumnya saya bekerja untuk nyonya besar.”
Hailey mengangguk cukup puas.
“Sepertinya umurmu lebih tua dari saya,” selorohnya mengamati Ahmed dari kursi belakang. “Berapa umur kamu?”
“Dua puluh lima tahun, Bu. Saya diambil bapak waktu berumur sembilan belas tahun bersama Ahmad. Beliau menyelamatkan saya dari anak jalanan.”
Hailey terkejut mendengarnya. Dia turut mendengarkan karena dirasa pria itu masih ingin menjelaskan sesuatu.
“Tapi cukup panggil nama saja, Bu.”
“Oh ….” Hailey berkata panjang. “Saya merasa kurang sopan, tapi karena sudah mendapat izin dari kamu jadi tidak masalah, ya, Med?”
“Tidak masalah, Bu,” jawab Ahmed kelewat sopan.
Setelahnya tidak ada lagi pembahasan berarti. Hailey sibuk membaca percakapan di grup keluarga yang berisi tiket liburan ke luar negeri tanpa dirinya.
Hailey menghela napasnya perlahan. Memangnya apa yang diharapkan oleh Hailey saat ini. Transaksional sepertinya sudah dilakukan di hari pernikahannya itu. Seakan tidak memberikan jeda waktu untuk kesedihan Hailey karena keluarganya merayakan itu dengan berlibur untuk melepas penat. Melepas kemiskinan yang tidak terjadi karena bantuan darinya melalui jeratan pernikahan.
“Sudah sampai, Bu,” ujar Ahmed membantu membuka pintu penumpang. Hailey tersentak tak sadar mobil sudah berhenti di kampusnya.
Buru-buru memasukkan ponsel ke dalam tas sebelum menurunkan salah satu kakinya.
"Kamu pulang, 'kan?"
"Saya akan menunggu sampai kelasnya selesai, Bu. Bapak meminta saya untuk berjaga-jaga siapa tahu Ibu butuh sesuatu,"jawab Ahmed dengan kepala menunduk. Aturan terbaru bahwa laki-laki itu dilarang keras menatap wajah majikannya.
"Ya sudah, deh, terserah kamu saja. Tapi tolong kalau ngomong ditatap lawan bicaranya. Kamu tidak sopan, Ahmed."
"Maaf, Bu. Perintah Bapak yang satu ini tidak bisa saya langgar. Silakan Ibu masuk sebelum kelas berlangsung."
Hailey menggerutu di sepanjang jalan. Mau berusaha sedewasa apa pun faktanya dia anak muda yang umurnya bahkan masih terlalu kecil untuk ukuran pernikahan.
"Banyak aturan," komentar Hailey hendak membuka kelas.
Namun, tanpa Hailey duga sebelumnya sebuah air jatuh di atas pintu ketika dia membukanya serta tawa meledak teman-teman sekelasnya. Seluruh badannya basah kuyup.
"Sudah mandi, Ley?"
Suara anak tirinya yang sangat ingin Hailey hajar saat ini juga. Namun, kendati demikian ingin menangis dia lebih ingin memaki atau meraung. Kepalanya mendongak, tepat membidik manik mata Chiara yang berdiri bersandar di depan papan tulis.
"Waduh mukanya merah banget, Ley. Pakai blush on berapa centi?"
Awalnya hanya saling lempar ejekan, tidak sampai dengan tindakan murahan seperti ini pada kasus perselisihan pertemuannya dengan Chiara. Namun, setelah dia menikah dengan ayah perempuan itu kebencian Chiara semakin naik level. Dan Hailey dapati itu dari sorot kebencian musuh bebuyutannya.
"Sebenci itu lo sama gue sampai melakukan tindakan murahan seperti ini, Chia?"
"Lo udah tahu alasannya, untuk apa kembali bertanya?"
"DAN LO JUGA TAHU ALASANNYA KENAPA GUE BERADA DI POSISI INI SIALAN!"
"LO BISA NOLAK! CEWEK MATRE! MURAHAN!"
Hailey ngamuk, tapi Chiara lebih ngamuk. Keduanya pada akhirnya berakhir saling jambak di depan teman-teman sekelasnya sampai seseorang masuk lantas menariknya dari Hailey dan memeluk Chiara yang terus memberontak. Melihat akan hal itu tatapan nanar Hailey menyambangi lalu pergi begitu saja tanpa peduli dengan dosen yang berdiri di belakang pintu seraya memperhatikan dalam keheningan.