"Keributan apa yang kamu lakukan di kampus, Honey?"
Sapaan pertama saat panggilan diangkat oleh Hailey. Perempuan yang saat ini mengurung diri di dalam toilet mendengus secara terang-terangan membuat seseorang di seberang sana terbahak.
"Kamu marah karena—"
"Anakmu yang memulai duluan. Jangan menyalahkan saya!" bentak Hailey muak. "Jika tujuan Bapak menghubungi saya karena mau menyalahkan lebih baik ditunda. Mood saya sedang buruk."
"Keluarlah, Ahmed di depan toilet, dia tidak bisa masuk ke dalam. Pergi dan belanja sesuka kamu," ucap Asher mengalihkan topik bahasan sebelum Hailey mencak-mencak, dia yakin di seberang sana sang istri sedang menggerutu karena ulah Clara.
Ucapan bernada lembut Asher membuat kening Hailey mengernyit dalam. "Atas dasar apa?"
"Kerugian karena ulah Chiara."
Tut!
"Sialan! Laki-laki sialan! Dia pikir semua mudah dimaafkan dengan uang?" maki Hailey meletakkan ponsel seharga selangit dengan emosi menggunung. Tubuhnya masih terasa sakitnya dan kini bajunya basah kuyup membuat Hailey bersin beberapa kali. Dia merasa suhunya panas. "CK. Lemah, lemah, lemah."
Diamnya Hailey menyeka sudut mata yang terasa basah. Air matanya turun bebas begitu saja tanpa memberi kesiapan padanya. Dalam sekali kedip meluncur makin deras. Untuk sesaat Hailey meratapi penampilannya di depan cermin. Sangat miris.
"Kejahatan lo bikin gue membenci dan semakin ingin menunjukkan status di depan lo, Chiara. Gue bahkan lebih dari bisa membuat lo didepak oleh bapak lo."
"Tapi gue nggak sejahat itu, Chiara. Gue sebaik itu sebagai teman lo." Ada gurat sedih di wajahnya. "Perkara cowok bikin hubungan kita hancur begini, Ra. Bahkan gue merelakan sahabat dekat gue demi lo."
Sedihnya karena tidak ada yang menjadi pembela, bahkan sosok sahabat karib yang dulu selalu ada untuknya pun tidak membelanya. Dia adalah Henry yang kini sudah dikuasai oleh Chiara.
Tersadar betapa menyedihkannya saat ini dia memilih merias ulang wajahnya. Jangan sampai terlihat oleh si penindas Chiara bagaimana buruknya perlakuannya.
Ketika keluar dari toilet presensi Ahmed yang berdiri tegap menyandar dinding membuat Hailey kaget. Supirnya itu sungguh memastikan dirinya baik-baik saja?
"Kok kamu tahu saya di sini, Ahmed? Pak Asher juga tahu saya berkelahi dengan anaknya."
Ahmed hanya tersenyum tanpa memberikan jawaban pasti. Mempersilakan majikannya untuk jalan lebih dulu. "Silakan, Bu. Bapak memberi mandat untuk mengantar Ibu ke mall. Mari."
Hailey memutar kedua bola matanya malas. Dia ini anak muda yang tidak nyaman dibuntuti ke mana-mana. Kenapa Asher terlihat pilih kasih sekali padanya. Chiara dibebaskan dari Ahmad, diawasi dari jauh sangat berbeda kepadanya yang terang-terangan dibuntuti sampai ke toilet.
"Sial. Gue kesel banget," gumam perempuan' itu, tapi tidak bisa menolak karena Asher akan mengetahuinya. Hailey benci keadaan seperti ini. Dia lebih pantas disebut tawanan daripada seorang istri.
Langkah kakinya berhenti begitu saja membuat refleks Ahmed bekerja dengan sangat baik. Laki-laki yang menjadi pengawal serta supir menunduk setengah badan. Menanti perintah majikannya.
“Pak Asher nggak di rumah, dia kerja apa selain sebagai dosen?” tanya Hailey dengan tiba-tiba, memicingkan kedua matanya penuh curiga. Jika dilihat Asher jarang kelihatan di kampus, lalu Hailey merasa sosok suaminya sangat misterius seperti orang yang sibuk. Wajar jika sebagai istri dia penasaran. Walaupun pernikahan ini kontrak kerja sama bagi Hailey perannya benar-benar nyata.
“Maaf, Bu. Nyonya besar sudah reservasi untuk lunch nanti siang. Ada bapak juga di sana.”
Pemberitahuan yang tidak diinginkan oleh Hailey. Dia penasaran, tapi seakan semua orang sengaja menyembunyikannya dari dia. Mau tidak mau Hailey mengangguk saja walau dengan misuh-misuh. Menolak tak akan mungkin karena tugas dia hanyalah patuh.
Yang tidak diketahui oleh Hailey dalam diamnya dia ada sosok Ahmed yang diam-diam menghela napas lega. Hailey mudah dialihkan pembicaraan saat ini entah kalau nanti.
“Mami ngajak gue makan siang ck! Bahkan gue masih ingat kiriman makan siang waktu di apartemen. Dan sekarang dipastikan secara langsung sama mami. Sial-sial gue tersiksa banget." Hailey menggerutu di sepanjang jalan penuh makian.
"Kita ke supermarket di sebelah perempatan, ya, Med. Saya mau beli es krim saja daripada ke mall. Setelah itu kita pulang," putus Hailey tanpa konfirmasi persetujuan. Dia menentukan semaunya sendiri dengan dasar suasana hati yang kurang mendukung. Dalam sekejap saja perubahan dirinya yang suka berkeliaran mendadak diatur. Kapan harus makan, kapan harus tidur, dan kapan harus pulang. Sial!
Hailey bahkan tidak peduli dengan kelasnya. Pergi tanpa menitipkan izin bahkan di depan dosennya sendiri. Hailey tidak peduli.
"Baik, Bu. Saya tunggu di mobil."
"Kenapa nunggu di mobil? Ikut makan dong temenin saya."
"Maaf, Bu?"
"Kamu nggak tuli, 'kan?"
Ahmed diam, tapi mengikuti Hailey yang masuk lebih dulu ke supermarket. Mengumpat lirih saat tidak tanggap membukakan pintu untuk sang majikan saking kagetnya dengan ajakan santai Hailey. Selama bekerja di keluarga Oetama baru kali ini diperlakukan sebegitu baik.
"Bu Hailey sangat berbeda dengan non Chiara. Kasihan sekali karena beliau terjebak di keluarga problematik ini," batin Ahmed menerima es krim contong dari wanita itu.
Mereka ke luar dan memilih duduk di depak supermarket. Ada dua kursi berhadapan yang dijeda dengan meja persegi. Mereka makan es krim dalam keadaan hening, apalagi Ahmed yang merasa tidak nyaman. Dia sadar diri dan posisi tidak seharusnya satu meja dengan majikannya.
"Bu, maaf saya berdiri saja," ucap Ahmed hendak bangkit, tetapi sudah lebih dulu dihentikan oleh Hailey dengan gerakan mata mengancam patuh.
"Kenapa, sih, setidaknyaman itu duduk satu meja sama saya, ya?"
"Bukan begitu, Bu."
"Ya sudah. Jangan dipersulit, deh. Kepala saya pusing banget jangan bikin makin pusing dengan banyak ngomong nggak penting," katanya tegas.
Ahmed meringis. Dia lupa bahwa Hailey juga berasal dari keluarga kaya yang mana diktator sudah biasa diberlakukan, hanya saja versi baiknya ada di Hailey yang masih memanusiakan manusia.
"Saya penasaran," kata wanita itu menatap ke depan pada Ahmed yang menunduk. "Chiara itu ... ibunya ada di mana? Kamu pasti tahu, 'kan?"
"Saya tidak memiliki kewenangan untuk menjawab pertanyaan itu, Bu. Mohon maaf."
"Ah sudah saya duga." Hailey berdecak. "Kamu profesional sekali, ya, sampai nggak mau ngasih tahu ke orang luar. Walaupun saya sudah diperistri tetap saja statusnya hanya istri sewaan. Masa sewanya habis saya bakalan didepak. Bagus, pertahankan kesetiaan kamu, Ahmed."
Ahmed bergeming.
"Pulang, yuk! Saya ngantuk. Kasih tahu pak Asher istrinya nggak belanja karena sakit. Kalau dia peduli dan merasa punya istri pasti bakalan pulang sekedar mengecek suhu badannya."
"Perlu saya antar ke rumah sakit, Bu?"
"Nggak usah, Ahmed. Pulang saja."
Ahmed kikuk. Bingung dirasakannya. Dia melihat kelinci tidak berdaya di depannya dengan kaki pincang dan tak ada niatan darinya untuk menolong kelinci malang itu.
Mobil dalam keadaan hening. Hailey yang menyandarkan badannya sepenuhnya memejamkan mata. Baju basahnya bahkan sampai kering dengan sendirinya karena penolakan Hailey untuk mampir ke butik. Ahmed tidak kuasa membelokan mobilnya tanpa persetujuan sang majikan. Kendati khawatirnya sangat besar. Sepertinya benar kata Hailey kalau dia sakit karena wajahnya sangat pucat.
"Mami bilang mau lunch di mana, Med? Terus sekarang mami ada di mana? Saya pulang ke rumah dengan keadaan kacau kira-kira diusir, nggak? Mana ada menantu orang kaya mirip gembel begini."