Bab 07. Permata Oetama

1104 Words
Entah berapa lama Hailey tertidur karena ketika bangun mendapati kamarnya ramai. Pandangannya menyapu ke sekeliling, di ujung ranjang sosok Magdalena berdiri dengan tegak lalu di sebelah mertuanya ada sosok sang suami yang menatapnya dengan sorot datar lalu lengannya ditarik, mengecek nadinya. "Kenapa?" tanya Hailey kebingungan yang dibalas senyuman maklum oleh sang dokter wanita. "Anda demam, Bu. Kenapa membiarkan badan Anda kedinginan dalam jangka waktu yang lama?" Hailey mengernyit dan memilih tidak menjawab pertanyaan sang dokter. Dia diam saja saat diperiksa, lehernya diraba juga detak jantungnya dicek dengan begitu teliti. Diamya Hailey dengan kepala terpejam membuat Asher langsung mendekat. "Hei, ada apa dengan istri saya, Dok?!" Dokter yang semula sedang mengecek detak jantungnya tiba-tiba mengubah haluan memperhatikan sang pasien. "Istri Anda demam, Pak." "Mengagetkan saja," gumam Magdalena ikutan panik. "Resepnya akan saya tuliskan, minumlah obatnya supaya lekas membaik, Bu. Saya permisi." Ketika sang dokter berpamitan diikuti oleh Magdalena tersisa hanya mereka berdua saja yang saling diam. Asher yang tadinya berdiri kini memilih duduk di tepi ranjang. Melihat presensi sang suami membuat tubuhnya beringsut menjauhi kaki itu dengan gerakan perlahan tak bertenaga. Melihat bagaimana usaha istrinya yang menghindarinya membuat mata Asher terpejam menahan kilatan emosi. Entah bentuk emosi yang seperti apa. Dia tak suka ketika mendapati Hailey lemah diserang Chiara. "Kamu bisa melawan kalau mau, Hailey. Kenapa diam saja dengan perlakuan keji Chiara?" "Saya melawan lalu setelahnya Chiara semakin membenci. Keberadaan saya di sini sangat dikutuk oleh anak Bapak. Jangan perintahkan saya untuk melawan sesuatu yang tidak saya inginkan." Bohong. Sejatinya Hailey ingin membalas serangannya, tapi tidak dengan kekuatan fisik. "Saya minta maaf atas nama Chiara." Lagi dan lagi Hailey mendesah jengkel karena laki-laki yang terlihat tak dapat dibantah lemah karena anaknya. Di mana sikap arogan dan pemaksaannya itu? "Sudahlah, saya benar-benar sedang lelah, Pak. Bisa tinggalkan saya sendiri saja di sini? Saya butuh pulih untuk melayani Anda, 'kan?" Asher lantas bangkit dengan kilat emosi yang tidak dapat dilihat oleh Hailey karena mata wanita itu terpejam erat. Tangan yang berada di sisi pinggang terkepal erat menahan diri untuk tidak menonjok dinding. Brak! Mata Hailey semakin terpejam alih-alih melotot karena kaget. Dia mengulas senyum tipis. Selalu dengan benturan keras. Meninggalkan Hailey yang benar-benar tidur sesuai ucapannya maka di lantai dasar sosok Asher menghajar Ahmed secara membabi buta karena dirasa lalai menjaga istrinya. Untuk ukuran pernikahan kontrak di mata Magdalena respon Asher terbilang sangat berlebihan, bukan? Wanita paruh baya itu diam menonton dengan secangkir teh tawar, di sebelahnya sosok pelayan pribadi yang membuang muka tidak tega melihat majikannya ngamuk. "Isma, menurut kamu apakah putra saya sudah jatuh cinta dengan istri kontraknya?" "Eh? Nyonya?" Tanggapan Isma gelagapan karena disodorkan pertanyaan dadakan yang juga membuatnya berpikir hal demikian. "Sepertinya pak Asher marah karena bu Hailey adalah wanita yang akan mengandung calon pewaris Oetama, Nyonya." "Hem ... begitu, ya? Mau taruhan?" Isma memekik tertahan. Taruhan apa? Dia hanya punya nyawa. "Saya bercanda, Isma. Tapi saya serius untuk taruhan ini jika Asher memang jatuh cinta pada istri kontraknya kamu akan saya kasih bonus." "S-serius, Nyonya?" Gelagapannya Isma membuat Magdalena terkekeh. "Siapkan makan siang untuk menantu saya, Isma. Bawahan ke kamarnya setelah itu. Pastikan dia juga meminum obatnya." Setelah Isma pergi Magdalena pun turut beranjak mendekati sang putra yang masih menggebu-gebu di halaman luas belakang rumahnya. "Stop, Asher. Dia bisa mati," katanya menarik kerah kemeja sang putra. "Daripada menghajar Ahmed akan lebih baik hukum putrimu. Ingat bahwa Hailey permata di rumah ini untuk calon pewaris keluarga kita." "Ah, Mami! Kenapa aku harus punya anak sebadung dia, sih?! Bahkan sekarang Ahmad melaporkan anak itu kabur dengan kekasihnya. Aku bisa gila mengurus anak itu, Mi." "Itu urusanmu. Kalau tahu anaknya akan menurun gen ibunya yang sinting kenapa kamu hamili, Asher? Jangan mengeluh ke Mami karena itu semua kesalahanmu." Sosok Magdalena melirik Ahmed yang tertunduk di tanah. "Obati lukamu, Ahmed!" "Terima kasih, Nyonya." "Sialan kamu! Jika hal ini sampai terjadi lagi jangan harap nyawa kamu selamat, Ahmed!" Ahmed terbatuk-batuk sampai mengeluarkan darah. Rekannya yang merupakan seorang supir baru Magdalena mendekat, memapahnya serta membantunya mengobati luka basahnya. "Beruntunglah kamu mengawal nyonya." "Aku berterima kasih kepadamu, Ahmed." *** Beda dengan Hailey yang jengkel bukan main karena merasa terintimidasi oleh seorang pelayan. Pelayan yang membangunkan dirinya dengan begitu lembut, tapi tatapannya sangat menuntut untuk menurut. Salah satunya menjadikan Hailey seperti buronan. "Keluar saja. Saya bisa makan sendiri." "Nyonya meminta saya memastikan Anda menghabiskan makanannya dan minum obat, Bu. Tolong kerjasamanya." Hailey mendesah kesal. Makanan sialan ini lagi yang disiapkan atas perintah Magdalena. Hailey semakin yakin bahwa Magdalena memang ngebet punya cucu darinya. Bahkan disaat sekarat seperti ini pun sosok iblis berstatus suaminya masih bisa memperlihatkan tampang mesumnya. "Tinggalkan kami berdua!" "Baik, Pak. Saya permisi." "Nggak jadi lunch, Pak?" Alis Asher terangkat naik. "Kamu lagi lunch, 'kan? Masih kurang?" Hailey bergidik. Takkan mau makan dengan porsi dan menu yang sama. "Mami membatalkan karena kamu sakit." Hailey mengangguk-angguk paham. "Kenapa saya disuruh makan seperti ini, Pak? Saya lebih suka makan ayam geprek daripada empat sehat lima sempurna. Kurang cocok buat orang seusia saya. Ini termasuk penghinaan loh padahal badan saya nggak ceking-ceking banget, kok." Mata Asher terbelalak mendengar penuturan sang istri. Apalagi wajah pucat wanita itu memang mengisyaratkan ketidaksetujuannya. Asher tentu paham karena anak zaman sekarang makan apa saja yang penting kenyang. "Walaupun badanmu memang tidak kerempeng berat badanmu tidak normal. Kamu makannya kurang bergizi untuk bobot segitu, Hailey. Mami memperhatikan sampai sedetail itu sebelum kita menikah karena tujuan pernikahan ini untuk menghasilkan keturunan." Oh kalau masalah itu sih jangan diingatkan karena Hailey juga paham, sangat paham. Dia sadar diri bentuk perhatian yang diberikan oleh Magdalena karena memang meminta imbalan. Perempuan paruh baya itu mana mau bersusah payah kalau tidak mendapatkan keuntungannya. "Hailey," panggil pria itu setelah memastikan sang istri sudah mengosongkan piring dan meminum obatnya. "Kenapa, Pak?" "Tolong ubah cara memanggilmu pada saya. Kita ini suami-istri bukan dosen dan mahasiswa," ujar laki-laki itu. Hailey masih mendengarkan dengan seksama sampai menemukan titik akhir dia pun mengangguk. "Mau diganti dengan panggilan apa?" "Mas?" Hailey terdiam sejenak lantas mengangguk. "Ada lagi?" Asher diam memperhatikan pahatan cantik perempuannya membuat Hailey salah tingkah. Dia baru menyadari bahwa mahasiswinya memang cantik. Apalagi tanpa make-up membuat Hailey terlihat asli rupanya. Hailey juga baru menyadari bahwa sejak tadi sikap Asher terasa lebih baik daripada di awal mereka bertemu dan di malam pertama penikahannya. Hailey dijadikan barang yang harus patuh diperlakukan seburuk mungkin dan saat ini tampang Asher terlihat begitu khawatir padanya. Namun, semua itu tidak Hailey pikirkan terlalu dalam. Mungkin karena bentuk khawatir laki-laki itu karena sikap bengis putri kesayangannya. "Ada destinasi yang mau kunjungi, Hailey?" Deg! "Untuk apa?" "Saya tahu keluargamu merayakan pernikahan kita dengan berlibur. Saya rasa kita juga bisa melakukannya untuk mempercepat kehadiran bayi, 'kan?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD