Bab 08. Iri Seorang Sahabat

1076 Words
Apa katanya tadi? Mempercepat kehadiran bayi. Tanpa dipercepat kalau memang sudah diizinkan mengandung pun tak perlu pergi dengan dalil itu. Tentunya usulan dari Asher sangat ditolak mentah-mentah oleh Hailey. Dirinya tengah sibuk-sibuknya sebagai mahasiswa baru serta beradaptasi. Dalam benak Hailey pun sempat tercetus saat pria itu benar-benar menginginkan kehamilannya dengan segera padahal dirinya baru berusia dua puluh tahun. Baru menjadi mahasiswa. Waktu yang seharusnya bisa dia buang untuk main dengan teman sebaya faktanya harus dialokasikan sebagai seorang istri dan calon ibu. Walaupun Hailey tidak memiliki teman bukan berarti dia akan meratap. Dia bisa mencari teman ke mana saja atau bahkan pergi sendiri berjalan-jalan seperti orang pengangguran. "CK!" Hailey berdecak kembali mengingat ajakan sang suami. "Laki-laki itu benar-benar ...." Bagusnya setelah mendapat penolakan dari Hailey pria itu tak memaksa. Pergi tanpa pamit meninggalkannya sampai malam tidak masuk ke kamar. Kalau Hailey memang lebih nyaman berada di dalam kamar. Rumah ini sangat luas, dia tak suka berkeliaran. Kamar milik Asher sebagai tempat nyamannya. Namun, tidak dengan sekarang. Dia memutuskan ke luar dari kamar sekedar duduk di ruang keluarga tidak masalah, 'kan? Hailey merasa jenuh. Dia tidak memiliki prioritas di ponselnya selain mengenai grup kelas dan tugas kuliah, apalagi Hailey sengaja mematikan ponselnya supaya tidak mendapatkan telepon pamer dari Eloise yang tengah berlibur. Foto-foto yang masuk grup keluarga pun sengaja tidak dia unduh secara otomatis. Hailey sakit hati, tetapi memilih diam seakan tidak peduli padahal hatinya remuk redam. "Jam segini baru pulang, Chiara. Dari pagi ke mana saja?" Padahal keinginan Hailey duduk tenang bukan melihat perpecahan ayah dan anak. Hailey tidak berniat untuk ikut serta maka dari itu, dia membelokkan arahnya ke dapur. Namun, lagi-lagi nasib sial menyambanginya. Panggilan dari mertuanya yang sedang duduk bersebelahan dengan sang suami mau tak mau berbalik badan mengulas senyum tipis. "Mau ambil minum, Mi," jawabnya saat ditanya tujuan ke dapur. "Saya sudah menyediakan air minum di kamar, Hailey," sambar suara Asher menolehkan kepalanya ke belakang. "Mau ambil minum apa lagi?" "Saya mau teh," jawab Hailey tidak kehabisan ide. "Mau tidur lagi." Langsung saja Hailey mengatakan rencana dadakannya. Padahal dia sudah terlalu lama tidur. Mabuk tidur sampai rasanya mau melek semalaman. "Ke sini, Sayang. Biar Bibi yang buatkan teh. Isma, buatkan teh untuk Hailey." Sial. Hailey pasrah saat perintah telak tak terbantahkan sang mertua membuatnya melangkah turut gabung. Perempuan itu berdiri tanpa berniat menatap Chiara yang sudah misuh-misuh lebih dulu menunjukkan tatapan permusuhan. "Kamu duduk di sini, Mami mau ke kamar saja," ujar Magdalena langsung menarik pergelangan tangan Hailey sebelum perempuan itu sempat duduk di single sofa. "Mi, biar—" "Asher, didik anakmu dengan benar," ujar Magdalena memotong perkataan Hailey yang tidak usai. "Oma, kok begitu, sih?" rengeknya menghentakkan kaki seperti anak kecil. "Itu urusanmu dengan Papa. Oma tidak ikut campur, Nak. Oma capek mau istirahat saja." Sosok Magdalena pergi Chiara semakin berani menunjukkan taringnya. Gadis itu bersilang kaki tanpa peduli dengan sopan santun di depan ayahnya. "Selain menyita kartu kredit dan mobil apa lagi yang mau Papa ambil? Nyawaku?" Hailey tersentak dengan perkataan Chiara yang bisa dibilang sangat santai apalagi sampai membawa-bawa nyawa. "Aku sampai sesak berada satu mobil dengan Ahmad." "Hanya kamu yang rewel, Chia. Kurang baik apa lagi Papa sama kamu. Bahkan Papa bebasin kamu bawa mobil ke kampus, bukan ke club." "Dibebasin, tapi tetap dibuntuti sama Ahmad. Sama saja, Pah! Chia begini karena dikekang sama Papa. Kapan Papa percaya sama Chia kalau kayak gini terus." "Apalagi sekarang hidup Papa makin sempurna karena menikah dengan mantan temanku. Papa bodoh apa bagaimana, sih? Papa tidak menikahi mamaku, tapi Papa menikah dengan gadis yang seusia anaknya. Papa waras?" "CHIARA!" bentak Hailey langsung membungkam dua orang di sana. Chiara dengan keterkejutan lalu Ashar dengan rasa senang karena inilah yang dia inginkan. Hailey turut serta mengurus Chiara. "Berani-beraninya lo membentak gue di rumah gue sendiri." "Ini rumah suami gue kalau lo lupa, Chiara. Gue berhak melakukan apa pun di sini tanpa persetujuan lo," balas Hailey dengan percaya diri. *** Malam ini berakhir dengan suasana mencekam, penuh permusuhan, kebencian mantan sahabat. Semua dirasakan dalam satu waktu oleh Hailey. Perempuan yang saat ini sedang menyisir rambut di depan meja rias seusai mengaplikasikan skincare malam dibuat tersentak saat seseorang memeluk lehernya dari belakang. Harum khas yang menusuk hidungnya akhir-akhir ini membuat wanita itu menahan napas, apalagi kepalanya ndusel-ndusel di leher Hailey membuat si empunya merasa tidak nyaman. "Jangan digigit, nanti berbekas." "Kalau lebih ke bawah boleh, Honey?" Suara seraknya itu sukses membuat Hailey menegang. Bukan tegangan kala gairah yang memuncak, melainkan rasa takut akan trauma malam pertama yang dilakukan dengan sangat kasar. "Saya masih sakit, Mas. Boleh kalau besok saja? Malam ini saya ingin istirahat dengan tenang karena besok masih harus ke kampus," balasnya dengan keberanian padahal aslinya ketar-ketir. Hailey bertekad tidak akan menunjukkan sisi rapuhnya di depan orang lain. "Okay, malam ini saya mau peluk kamu saja. Yang ini tidak boleh menolak, Honey. Saya sudah terlalu bermurah hati." "Karena kamu berani mengambil sikap malam ini kamu bebas." "Ayo tidur!" "T-tidur?" tanyanya terbata-bata. "Sudah tengah malam. Semua orang sudah masuk ke alam mimpi, Hailey. Kecuali kalau kamu berencana terjaga sampai pagi." Hailey buru-buru melepaskan pelukan Asher di lehernya. Beranjak ke ranjang dan langsung menguburkan diri di balik selimut tebalnya. "Kamu takut sama saya, Hailey? Saya menyakiti kamu?" Hailey bergeming, apalagi dengan posisi membelakanginya. "Tidak mau menjawab pertanyaan saya, hem?" *** Hailey bersama singa kelaparan yang tak kunjung kenyang maka, berbeda dengan kamar lain yang terselimuti dengan hawa keheningan. Aura mencekam begitu terasa bagi siapa saja yang memasuki ruang pribadi Chiara; kamar. Gadis itu duduk di sudut ruangan dengan puntung rokok yang tercecer di atas lantai. Chiara hampir mengalihkan perasaan sesak di d**a dengan rokok. Sudah dari dua tahun yang lalu saat dia mendapati fakta tidak sengaja mengenai ibu kandung yang diisukan meninggal faktanya masih hidup dan gila. Iya, gila. Chiara tidak mendapatkan akses untuk menjenguk ibu kandung sendiri karena memang dia tidak tahu ada di mana posisi ibunya saat ini. Belum reda rasa sakit hati karena ayahnya yang sengaja memisahkannya dari sang ibu kini dengan begitu mudah sang ayah menikahi orang yang sangat dibenci. Sosok perempuan yang dia beri julukan musuh bebuyutan. Chiara iri kepada Hailey karena keutuhan keadaan rumahnya. Ada ayah, ibu, dan kakak. Benar dulu mereka sangat akrab sampai Chiara lebih nyaman di rumah Hailey daripada di rumahnya sendiri. Namun, keirian Chiara salah sasaran karena dia tidak tahu bagaimana kondisi asli rumah Hailey. Chiara beranggapan bahwa Hailey merebut Asher—sang ayah darinya. Dengan pernikahan ini semakin membuat Chiara membenci Hailey. Kebenciannya cukup berdasar, 'kan?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD