Meja makan dengan formasi lengkap pagi ini membuat helaan napas Hailey tertahan. Dia merasa tidak akan adanya kedamaian di sini. Benar, tidak mungkin mereka tinggal seatap, tapi tidak saling bersinggungan. Itu sangat mustahil.
Hailey yang berusaha melupakan kejadian kemarin malam dan kejadian di kampus karena memang dia merasa tidak perlu lagi dibahas. Semua sudah terjadi dan Hailey tidak butuh maaf dari anak tirinya.
"Ahmed tidak bekerja hari ini jadi kalian berdua berangkat bersama satu mobil. Hailey akan ikut di mobilmu, Chia. Papa sudah memberitahu Ahmad."
Brak!
"KENAPA PAPA SELALU SEMENA-MENA SAMA AKU, SIH, SEMENJAK MENIKAHI DIA!" teriak Chiara menuding Hailey dengan jari telunjuk tanpa sopan.
"Turunkan jarimu, Chiara. Papa tidak menerima bantahan."
"Saya bisa bawa mobil sendiri, Mas."
"Kamu pikir saya akan memberi izin?" sambar Asher tajam.
"Dih?!" Chiara berdecih mendengar panggilan Hailey kepada sang ayah. "Najis."
"Oma tidak berselera makan. Silakan dilanjutkan," katanya dengan wajah datar.
Hailey lagi dan lagi menghela napas. Dia penyebab meja makan tidak kondusif.
Sret!
Bunyi dorongan kursi yang cukup kencang menyudahi aksi melamun Hailey. Dipandangi Chiara yang mencantolkan tasnya tanpa pamit pada Asher selaku ayahnya.
Dalam diam memperhatikan Chiara sungguh Hailey mendapati satu fakta pahit. Sosok Chiara yang arogan dan beringas nyatanya bermata sembab. Kendati demikian dengan polesan make-up tak menyamarkan sepenuhnya.
“Saya pamit juga kalau begitu,” ujarnya menata buku tebal di kursi sebelahnya yang kosong. Wanita itu sibuk bersiap-siap padahal baru menghabiskan s**u saja. Tidak menyentuh nasi sama sekali dan Asher pun tidak repot-repot menegurnya. Mungkin jika Magdalena masih di situ Hailey tidak akan semudah itu untuk kabur.
Hailey sudah dewasa, kalau lapar pasti makan. Begitulah pikir Asher.
“Berangkat sama Ahmad dulu. Kita tidak bisa berangkat ke kampus bareng karena rawan. Besok kita diskusikan taktik ini. Kemungkinan Chiara pergi bersama pacarnya itu.”
“Henry?” Monolog Hailey pada dirinya sendiri.
“Tentu saja kamu mengenal dia, Honey,” katanya dengan seringai tipis yang tidak diperhatikan oleh Hailey.
Wanita itu mengangguk menjawab sang suami. “Kita bertiga berteman.”
Hanya itu saja yang diberitahu Hailey. Wanita itu tak akan menjual perihal masalah pertemanannya dengan Chiara walaupun kepada ayah gadis itu.
Begitu Hailey dan Asher ke garasi mobil yang sedang dipanaskan memang tak ada sosok Chiara. Laporan dari supir pribadi perempuan itu bahwa Chiara pergi dengan kekasihnya; Henry.
Ahmad yang bertahan di sini karena sudah diperintahkan oleh Asher bahkan memberitahukan kemungkinan yang terjadi yaitu perginya Chiara dengan Henry sebab enggan satu mobil dengan Hailey.
"Kenapa hanya Ahmad saja, saudaranya ke mana? Supir saya Ahmed bukan Ahmad walaupun wajah mereka memang seiras."
Ahmad tidak berani menjawab. Dia tertunduk sopan. Dia jelas tahu alasan saudaranya izin untuk beberapa hari yang lalu. Izin atas perintah Asher sendiri.
"Pastikan istri saya baik-baik saja sampai kampus, Ahmad. Saya di belakang kalian."
"Aneh," gumam Hailey ketika sudah duduk di bangku penumpang belakang. "Anehnya gue nurut gitu saja. Bisnis sialan yang bikin gue terjebak di keluarga ini."
Saking rendahnya karena memandang pernikahannya sebagai ajang bisnis membuat Hailey menurut. Tidak ada bantahan apa pun selagi yang diminta Asher masuk akal. Benar dia merasa lepas dari keluarganya kendati demikian sama saja menyiksa Hailey entah di rumah orang tua atau di rumah mertua.
Watak keras Hailey seketika terkubur saking capeknya dengan takdir yang terus mempermainkan. Hailey memilih menjalani semua ini dengan enjoy. Keuntungan yang didapatkan ketika menikah dengan Asher salah satunya adalah finansial.
Hailey selalu dibedakan oleh kedua orangtuanya. Kendati sama-sama dibelikan mobil, tapi milik Eloise lebih mahal. Ellis sebagai seorang ibu bertanggung jawab menjadikan visual Hailey sebagai putri pengusaha, tapi Ellis tak memberikan kedudukan penting pada silsilah keluarga.
Dan kini subsidi finansial dari Gideon sudah diputuskan tanpa memberitahu sama sekali. Mungkin jika kemarin dia tidak melakukan transaksi pembelian sepatu yang ditolak sampai sekarang Hailey tidak akan tahu mengenai bagaimana jahatnya sosok ayah. Menjadikan anak sebagai umpan setelah dapat didepak.
Selama perjalanan menuju kampus sesekali Hailey menoleh ke belakang. Mobil putih milik laki-laki itu masih setia mengikuti di belakang. Herannya Hailey tidak tahu motif pria itu yang mengawalnya padahal jika memang mau yang simpel mereka bisa berangkat bersama lalu berpisah di halte bis.
"Apa bapak juga begini ke Chiara? Mengawal dia sampai kampus atau bahkan ke tempat yang dikunjungi."
"Pak Asher menyerahkan non Chiara kepada saya, begitu juga Ahmed yang bertanggung jawab penuh pada keselamatan Ibu."
"Kenapa malah kamu yang bertanggung jawab? Memangnya supir saya izin kenapa?"
"Izin atas perintah Bapak, Bu." Ahmad memberi jawaban aman.
“Turunkan saya di depan gerbang masuk, Ahmad.”
“Maaf sekali, Bu. Saya tidak bisa. Di belakang kita bapak sedang mengawasi.”
Hailey juga anak orang kaya, tapi tidak seperti saat ini yang apa-apa harus persetujuan bos besar. Dia terbiasa hidup bebas mau ke mana saja tanpa izin dan tanpa dicari bahkan waktu Hailey ke Labuan Bajo seorang diri selama berminggu-minggu tidak ada yang menelepon meminta pulang, tapi grup keluarga selalu ramai dengan celotehan pemotretan Eloise.
Seketika Hailey ingat sudah mengarsipkan grup keluarga yang berisikan empat anggota sehingga pesannya tidak timbul tenggelam.
Tring!
“Kamu dalam pengawasan saya, Honey.” Hailey membaca pesan singkat dari Asher di dalam hati. Mobil laki-laki itu melintas di depannya. Ketika memastikan Hailey sudah membaca pesan.
Tring!
[Eloise mengirim foto ....]
Hailey nyaris mengumpat saking kagetnya dengan pesan dari sang kakak yang sedang berlibur bersama Gideon dan Ellis tanpa dirinya.
Foto bertiga yang saling merangkul dengan background awan biru. Yang bisa dilakukan Hailey hanyalah menatap datar pemandangan di layar ponsel. Remasan pada ponsel bahkan hampir meremukkan andai yang dipegang secarik kertas. Faktanya mau emosional apa pun sosok Hailey adalah orang yang tenang. Maka, begitu pintu mobil dibukakan dan dipersilakan masuk Hailey hanya diam.
Tak ada bantahan, bahkan saat dibuntuti Ahmad sampai ke kelasnya.
Sepinya kelas tak membuat Hailey ragu untuk masuk. Lebih baik kelas sepi daripada kelas sudah ramai dan dirinya terintimidasi lagi.
Sungguh Hailey tak masalah dengan perlakuan teman sekelasnya, dia juga sadar mereka semua lebih condong membela Chiara tanpa peduli bagaimana salahnya gadis itu. Hailey memilih diam sebab dia tahu jika Chiara dilawan perempuan itu akan semakin kejam.
Chiara hanya butuh samsak untuk melampiaskan emosinya karena rasa benci terhadap Hailey dan sang ayah.
Perlawanan Chiara hanyalah sebatas ini. Apalagi Hailey semakin merasa bersalah setelah melihat bagaimana rupa asli Chiara ketika di rumahnya ... tertekan.