Bab 10. Perihal Tugas dan Transaksi

1055 Words
"Tidak ada laporan pengeluaran dalam jumlah besar atas nama kamu." Hailey baru masuk ke ruangan suaminya, tapi sudah ingin berbalik badan dan membanting pintu. "Ahmed bilang kamu hanya minta ditemenin makan es krim. Kenapa tidak minta ke saya saja?" Kedua bola mata Hailey memutar dengan jengah. "Sopanlah pada suamimu!" "Apa, sih? Perlu banget, ya, sampai di-interview begini?" tanyanya dengan wajah sinis. "Duduk!" Perintah tegas Asher dituruti dengan ogah-ogahan oleh Hailey. Wanita itu duduk di sofa alih-alih di depan suaminya yang masih memeriksa tugas mahasiswa dengan kacamata membingkai tampan. "CK! Nyuruh-nyuruhnya nggak cuma di rumah, tapi di kampus juga." "Saya dengar, Hailey." "Bodo amat, emang saya sengaja, kok, Pak." "Honey ...." Kedua kali di satu waktu mata Hailey mengerling jengah. Sikap laki-laki itu sungguh membuat Hailey tidak suka. Bahkan untuk tiba di ruangan suaminya dia harus menepi dari satu tempat ke tempat yang lain supaya tidak ada yang memergoki. Lalu ketika sudah sampai cuma disuruh duduk nungguin orang kerja? Sudah gila kali, ya?! "Di atas meja makan siang dari mami. Makanlah selagi menunggu saya selesai mengoreksi." Hailey juga melihat adanya kotak makan di atas meja, hanya saja dia tak menduga kalau itu untuknya dan melalui Asher. Tindakan Magdalena sangat niat dengan memastikan calon ibu dari cucu pewarisnya terjaga. "Saya heran waktu itu Mas pergi juga padahal tidak ada jadwal mengajar, ya? Selain menjadi dosen Mas kerja apaan? Saya bukan mau ikut campur, cuma penasaran saja. Seorang dosen, tapi lebih mirip buronan utang sampai dijaga ketat. Jujur saya nggak suka diikuti sama Ahmad ataupun Ahmed. Saya biasa ke mana-mana dengan bebas tanpa dilarang ini-itu. Apalagi mami benar-benar membatasi makanan apa yang boleh dan tidak boleh dimakan sama saya." "Makan dulu." "Nggak mau dijawab, Mas?" "Ini bukan ranahmu, Hailey. Saya bekerja untuk keluarga dan jangan lupakan juga keluarga kamu mata duitan. Saya harus memastikan Venosha kembali berdiri teguh." Deg! "Masih mau bertanya?" "Ibu kandung Chiara—" "Jangan bahas itu. Bukan ranahmu." "Saya ingin ketemu sekali dan meminta maaf karena merebut posisinya tanpa izin." "Tidak ada kursi milik siapa dan untuk siapa, Hailey. Tapi kalau kamu berniat menduduki kursi itu dengan senang hati akan saya persilakan, tapi tidak untuk memilikinya." Apa maksudnya? Hailey terdiam cukup lama mencerna perkataan suaminya yang tidak menatapnya sama sekali. Otak Hailey adalah otak anak muda yang baru terjun ke dunia kampus. Masalah berat seperti ini dia masih meraba-raba, tetapi dari nada suara Asher yang terdengar dingin dia yakin suaminya tidak dalam suasana hati yang bagus. "Sama sekali tidak berminat, Mas. Tugas saya hanyalah hamil dan melahirkan setelah itu transaksi kita selesai." Brak! "Sudahi omong kosongmu, Hailey!" Hailey duduk dengan tubuh tegap menahan gemetar karena bentakan Asher yang membuatnya keder. Hailey ini perempuan muda yang jiwanya bergejolak bisa marah, sedih, dan tawa secara bersamaan. Maka, dengan sisa keberanian. Kaki yang sudah selemas jelly perempuan itu berdiri. Meremas ujung bajunya lalu pergi dari ruangan dosennya. Tidak dicegah sama sekali, tetapi Hailey merasakan punggungnya terhunus panas karena tatapan membunuh suaminya. Sampai di koridor yang sepi tubuh Hailey jatuh meluruh ke lantai, bersandar di dinding dengan kedua kaki menekuk. Kenapa semua orang sangat suka memulai dan mengakhiri dalam bentakan? *** Hailey tidak pulang ke rumah mertuanya, dia memilih berjalan di trotoar seorang diri padahal hari sudah mulai sore. Tujuannya saat ini adalah ke sebuah rumah singgah yang kerap dijadikan tempat pelarian dari Gideon dan Ellis. Rumah minimalis yang muat menampung beberapa anak terlihat di depan matanya. Gerbangnya yang rapuh dan berkarat didorong oleh Hailey sampai menimbulkan bunyi gesekan memekakan telinga. "Nak Hailey? Ya ampun sudah lama tidak ke sini. Masuk, Nak. Di luar mau hujan kayaknya," ujar seorang pengurus rumah singgah. Bukan panti asuhan, hanya rumah singgah yang terdiri dari sepuluh penghuni. Tiga di antaranya adalah pengurus dan sisanya anak-anak kurang beruntung. Pendiri rumah singgah ini adalah tiga bersaudara kembar. Sedangkan rumah ini adalah peninggalan kedua orang tua mereka dan dijadikan tempat persinggahan ternyaman anak-anak. "Maaf baru datang, Bu. Aku sibuk akhir-akhir ini karena sudah masuk perkuliahan." Sosok ibu yang dipanggil oleh Hailey juga berperan penting untuknya. Ketiga wanita paruh baya ini tidaklah menikah. Mereka mengabdikan dirinya seumur hidup kepada Tuhan, termasuk juga dengan mendirikan rumah singgah ini. "Kita berbincang di dalam saja, Nak. Anak-anak pasti senang kakaknya datang. Beberapa kali mereka bertanya mengenai Nak Hailey." Hailey mengulas senyum teduhnya. Kepalanya pening, dia baru sembuh dan akan kembali sakit, sepertinya. Tekanan dan batinnya tidak kuat akhir-akhir ini. "Mereka tidur, mungkin sebentar lagi sudah pada bangun, Nak. Ibu di rumah sendiri karena Atlanna dan Calessia sedang ke luar membeli perlengkapan mereka dan bahan makan. Untung saja kamu datang jadi Ibu tidak sendiri." "Aku pengin menginap, deh, tapi kayaknya nggak mungkin, Bu." "Ada cerita seru, ya? Mau membaginya, Nak?" Hailey menggeleng. Dia sudah memutuskan masalah ini biar ada di tangannya saja. Sampai semua transaksi ini selesai. "Cerita seperti biasa, Bu. Aku rasa Ibu bakalan bosan dengerin cerita yang sama." Bella tersenyum mengangguk mengambil sebelah tangan Hailey lalu menepuk-nepuk pelan. Bentuk menguatkan membuat Hailey ingin sekali menangis dan berusaha menahannya. Dia mengusahakan walau pada dasarnya sudah tidak kuat. "Mau bantuin Ibu masak nggak? Masak simpel, sih. Goreng telur sama tempe. Mereka belum pulang juga, sepertinya terjebak hujan." Hujan memang turun sesaat Hailey masuk ke dalam rumah. "Kok Ibu bisa tahu kalau aku lapar, sih," ujarnya menunduk malu. Karena Hailey gagal makan siang. Dia tengah kelaparan saat ini, tapi rasa laparnya tidak begitu dipedulikan. Mereka berkutat di dapur dengan peralatan seadanya. Hailey tidak pernah turun ke dapur. Di apartemen pun dia memilih jasa delivery karena memang tidak terlalu pandai, tapi kalau untuk menggoreng telur dia bisa melakukannya. Sayangnya Bella tidak membiarkan hal itu terjadi. Wanita itu meminta Hailey mengocok telur dan mengiris tempe kecil-kecil untuk tujuh orang anak. Benar-benar sederhana dan miskin yang berpadu menjadi satu. Hailey bukan meledek, dia justru salut karena kerukunan ini membuat rumah terasa hidup dan utuh. "Bu, hari ini aku nggak bawa makanan seperti biasanya karena kabur," ujar Hailey yang didengarkan oleh Bella dengan senyum keibuan. "Datang saja sudah membuat kami senang, Nak." Hailey mengambil amplop cokelat di sakunya. Dia sempatkan mengambil sisa uang tabungan di ATM. "Uang jajanku, Bu. Buat jajan adek-adek." "Nak, ini tidak perlu. Kamu seorang pelajar." "Tapi aku mampu. Tolong diterima, ya, Bu. Kedepannya aku jarang ke sini karena kesibukan kuliah. Aku usahakan main pas senggang." Hailey tidak bisa janji karena dia memiliki firasat setelah aksi kaburnya ini akan menjadi bumerang untuknya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD