Happy Reading . . .
***
Di dalam sebuah senyuman yang sedang diperlihatkan dengan begitu sopan dan tulus itu, sesungguhnya Jojo sedang memaki dan bersumpah serapah kepada sang Ibu di dalam hatinya. Karena Marina sungguh begitu teganya benar-benar mempertemukan Jojo dengan seorang duda beranak tiga, yang usianya saja sudah hampir mencapai kepala lima. Tidak hanya statusnya yang sudah duda dan beranak tiga, tetapi terlihat dari penampilan dan wajahnya juga, Jojo sudah bisa melihat bahwa pria setengah baya di depannya itu adalah definisi om-o*******g yang sangat jauh dari kriteria pria idaman Jojo untuk masa depannya nanti.
Dan di sebuah restauran yang sangat ekslusif inilah, Marina menyuruh sang anak untuk datang bertemu dengan seorang pria pria paruh baya yang sudah diatur ke dalam misi perjodohanannya itu, untuk bisa memulai pendekatan dengan makan malam bersama. Dan sudah selama dua jam lamanya itu juga, Jojo pun berusaha untuk menahan diri dari tatapan tidak pantas yang diberikan seorang pria, yang seakan-akan sudah ingin menyerangnya saat ini juga.
"Jadi... Josephine sudah...“
"Panggil Jojo aja, Om." Sela Jojo dengan nada bicara sopannya.
"Loh... kok panggilnya, Om sih? Panggil Alex aja."
Untuk yang kesekian kalinya lagi, Jojo hanya bisa meminum minuman miliknya dan berharap agar sepiring steak yang sudah masuk semua ke dalam perutnya itu tidak keluar lagi setelah mendengar kalimat ucapan yang tidak sepantasnya ia dengar.
"Nggak sopan, Om."
"Yaudah, kalo gitu Mas aja gimana?"
"I-iya, Mas." Ucap Jojo dengan pasrah.
"Nah, gitu. 'Kan jadi lebih enak di dengernya."
Sungguh, rasa mual yang sejak tadi sudah Jojo rasakan semakin menjadi-jadi setelah ia memanggil seorang pria yang lebih pantas menjadi Ayahnya, dengan sebutan 'Mas'.
"Jadi, Jojo sudah punya pacar belum?"
"Belum."
"Wanita secantik kamu belum punya pacar? Pasti kamu tipe pemilih ya?"
"Kalo buat masa depan pasti setiap wanita milih-milih dulu, Om. Ehh... Mas."
"Tapi kalo saya, pasti nggak perlu dipilih-pilih lagi 'kan sama kamu?"
"Hm..."
"Jo... kalau hubungan kita bisa sampai pelaminan, saya yakin kamu tidak akan menyesal memilih saya. Seumur hidup kamu sudah terjamin sama saya. Jadi kamu nggak perlu lagi capek-capek kerja, apalagi mikirin gimana caranya ngatur uang bulanan supaya cukup. Apapun yang kamu mau, yang kamu butuhin, akan langsung saya penuhi. Kamu tinggal sebut aja, gampang 'kan?"
"Tapi saya nggak butuh Sugar Daddy, Om."
"Kok kamu mikirnya gitu?"
"Abisnya, semua hal yang Om ucapin tadi, seakan-akan minta Jojo buat jadi anak ketemu gedenya, Om."
"Anak saya sudah tiga, Jo. Jadi saya nggak perlu punya yang lain lagi. Tapi kalo kamu mau, saya bisa kok nggak nolaknya."
"Nah... itu dia permasalahannya, Om. Jojo belom siap punya anak, apalagi ngurus anak yang bukan punya Jojo sendiri."
"Kamu nggak perlu ngurus anak-anak saya. Mereka sudah besar-besar. Saya beritahu ya, Jo. Anak saya yang pertama, baru saja lulus kuliah. Yang kedua, sudah kelas 2 SMA. Dan yang paling kecil, satu-satunya anak perempuan saya sudah mau lulus SMP. Jadi mereka bisa ngurus diri masing-masing, Jo. Kamu nggak perlu repot-repot ngurusin mereka."
"Ketiga anak Om lebih cocok jadi adik-adik, Jojo. Daripada Jojo harus jadi Ibu buat mereka."
"Tapi saya lebih tertarik sama kamu, dari pada sama Ibu kamu."
"Kenapa, Om? Ibu Jojo nggak kalah cantik dari Jojo. Jojo lebih dukung Om kalo jadinya sama Ibu, daripada sama Jojo."
"Lohh... Marina 'kan maunya saya yang dijodohin sama kamu, bukan sama dia. Lagipula, saya sukanya sama daun muda kayak kamu, Jo. Karena daun muda yang baru dipetik, biasanya masih seger-segernya."
Seluruh tubuh Jojo rasanya merinding saat mendengar ucapan itu. Setiap rayuan dan ucapan yang pria itu katakan kepadanya, membuat Jojo sungguh merasa tidak bisa berada di hadapan pria berumur, namun sedang berusaha keras untuk bisa menjadi muda kembali. Dan Jojo pun seakan tahu bahwa pria paruh baya itu mungkin sedang mengalami masa pubertasi untuk yang kedua kalinya.
"Jadi... gimana, Jo?"
"A-apanya yang gimana, Om?"
Mendengar Jojo yang terus menerus memanggilnya dengan sebutan 'Om' lagi, membuat pria paruh baya bernama Alex itu beranjak dari duduknya lalu menghampiri Jojo untuk mendudukkan diri di samping wanita itu. Sedangkan Jojo yang langsung merasa terancam terhadap situasi tidak nyaman yang sedang ia rasakan itu, membuatnya segera menggeser posisi duduk hingga sedikit menjauhi Alex.
"Manggilnya kok Om terus sih dari tadi? 'Kan tadi saya udah bilang, panggilnya Mas aja."
"Jojo nggak biasa, Om."
"Dibiasain dong, 'kan nanti kalo kamu udah jadi istri saya, biar udah nggak kaget lagi."
Semakin jauh Jojo berusaha menghindar, Alex justru semakin berusaha mendekati Jojo hingga membuat tubuh wanita itu yang kini sudah tidak bisa bergeser lagi karena ia sudah sampai pada ujung sofa yang di tempatinya. Bahkan dengan beraninya Alex kini sudah menaruh dan meraba tangannya di atas paha Jojo yang tersingkap dari dress yang dikenakan, akibat terlalu sibuk untuk berusaha bisa menjauh dari pria itu
"Jojo mau ke toilet dulu ya, Om." Ucapnya yang langsung berdiri dari posisi duduk.
"Mau dianter nggak?"
"Nggak perlu, Jojo bisa sendiri."
"Yaudah. Tapi jangan lama-lama ya? Mas nggak suka nunggu loh..."
Tanpa menunggu lagi, wanita itu pun langsung bergegas melangkah menuju toilet restauran dengan langkah cepatnya. Jantung Jojo berdegup dua kali lebih kencang setelah hampir saja ia mengalami hal yang sama sekali tidak menyenangkan.
Setelah berada di dalam toilet yang sangat sepi dan memang hanya ada Jojo seorang diri saja di sana, wanita itu pun melangkah menuju kaca besar dengan wastafel di depannya. Kedua tangan yang ditadahkan di bawah keran otomatis itu langsung terisi air, dan Jojo pun membasuh wajahnya hingga ia merasa bisa sedikit lebih tenang.
Jojo pun menatap dirinya pada cermin dengan pandangan kosong sambil merenungkan perasaannya yang saat ini sedang bercampur aduk menjadi satu, sehingga membuat wanita itu menjadi cukup sedih. Jojo masih tidak menyangka dengan ambisi yang dimiliki sang Ibu justru membuatnya harus merasakan hal tidak nyaman yang sebelumnya tidak pernah ia rasakan di dalam hidupnya. Jojo merasa sangat kecewa dan marah terhadap Marina yang selalu bersikap seenaknya terhadap hidup Jojo.
"Jo..."
Suara panggilan yang masuk ke dalam indra pendengaran Jojo, membuat wanita itu menengokan kepala ke asal suara di sampingnya dan mendapati sosok Andy yang kini sedang tersenyum dan menyentuh pundak Jojo seakan ingin memberikan semangat untuk wanita itu.
"Lo kemana aja sih?" Tanya Jojo dengan nada lemah.
"Saya selalu ada di samping kamu?"
"Kok gue nggak bisa ngeliat lo?"
"Orangtua itu juga bisa melihat saya, Jo."
"Hah?" Ucap Jojo yang terkejut sekaligus bingung.
"Iya, dia punya indra ke-enam, Jo. Saat saya baru ingin duduk di samping kamu, dia langsung menatap saya dengan tajam. Tentu hal kayak gitu langsung buat saya ngerasa nggak nyaman. Jadi, saya memutuskan untuk nemenin kamu dari jauh."
"Itu orangtua emang udah nggak inget sama umur lagi, kali ya? Masa dia beneran anggep makan malam ini serius dong... Terus dia bener-bener mau ngajak gue nikah, Ndy."
"Iya, saya tau. Walaupun saya nemenin kamu dari jauh, tapi saya tetep bisa denger percakapan kalian."
"Nah... lo bisa denger sendiri 'kan betapa menjijikkannya itu orangtua? Masa dia terang-terangan ngaku sukanya sama daun muda, Ndy. 'Kan gue geli dengernya."
"Saya pengen ketawa. Boleh nggak ya?"
"Sampe lo ketawa, gue nggak bakal bantuin lo!" Ancam Jojo.
"Kok ancemannya gitu sih? Mulai nggak asik deh..."
"Gue nggak tau harus ngapain lagi. Tolongin gue, Andy." Pinta Jojo dengan memohon.
"Maafin saya ya, Jo. Tapi untuk yang satu ini saya tidak bisa berbuat banyak."
"Masa lo nggak bisa sih?"
"Dia bisa melihat saya, Jo."
"Gue pengen langsung pulang, tapi gue lupa. Tas gue masih di sana."
"Kalau saya bisa membawa kamu untuk ikut menghilang, mungkin itu akan menjadi satu-satunya cara saya untuk bantu kamu."
"Terus gimana dong?"
"Ya, mau nggak mau kamu harus ngobrol baik-baik sama dia. Bilang ke orangtua itu kalo kamu sama sekali nggak tertarik sama dia."
"Seandainya saran lo itu semudah buat dijalanin, dengan senang hati gue mau berterimakasih sama lo."
"Setidaknya kamu harus mencobanya."
"Andy, tadi aja gue tuh hampir dilecehin loh... sama dia. Badan gue dipepet mulu, terus belom lagi paha gue yang main diraba-raba aja sama dia. Gue bukan cewek murahan, Ndy." Ucap Jojo dengan cukup emosi hingga tidak terasa ia sudah meneteskan air matanya.
Sedangkan Andy yang melihat kondisi Jojo yang bisa terlihat sedang begitu sedih, tanpa berpikir panjang langsung membawa tubuh wanita itu ke dalam pelukannya. Dengan erat Andy memeluk Jojo sambil menenangkan sekaligus memberikan kekuatan untuk wanita yang sedang berada di pelukannya itu. Setelah cukup lama Andy membiarkan wanita itu untuk menumpahkan segala kesedihannya, Jojo pun melepaskan pelukan tersebut dan menghapus air matanya.
"Sudah terasa lebih baik?" Tanya Andy yang juga membantu menghapus air mata di kedua pipi Jojo.
"Gue akan merasa lebih baik kalo udah berhasil pergi dari tempat ini."
"Kalo gitu, kita ke depan sekarang. Katakan kepada orangtua itu, kalau kamu tidak mau jadi istrinya. Saya akan menemani kamu, Jo."
"Tapi... katanya dia bisa ngeliat lo?"
"Iya, memang bisa. Tapi biarin aja, yang penting kamu bisa terbebas dari orangtua m***m itu."
"Lo yakin?"
"Yakin, Jojo. Bilang aja kalo saya ini pacar kamu."
"Hah? Nanti kalo gue dibilang orang gila gimana?"
"Setidaknya kamu bisa terbebas darinya."
"Bener juga sih,". "Tapi lo jangan baper ya."
"Kenapa harus baper?"
"Ntar lo ngarep beneran lagi jadi pacar gue."
"Saya bukannya ngarep, Jo. Tapi emang udah masuk ke dalam rencana saya untuk ke depan nanti."
"Ye... dikasih hati minta jantung. Yaudah, ayo ke depan." Balas Jojo yang langsung menarik tangan Andy untuk mengajaknya kembali menuju meja tempatnya berada tadi.
Setelah kembali ke meja dimana Alex masih berada di posisi semula yang duduk di kursi sofa yang wanita itu tempati sebelumnya, Jojo justru memilih untuk duduk di sofa yang berhadapan dengan Alex dan menyuruh Andy dengan isyarat untuk duduk juga di sampingnya.
"Kamu kembali membawa temen, Jo?" Tanya Alex sambil memperhatikan sosok Andy dengan pandangan biasa namun terasa menusuk bagi yang menerima tatapan tersebut.
"Dia bukan temen Jojo, tapi pacar Jojo."
"Hah? Gimana?"
"Iya. Sosok yang saat ini sedang Om liat, itu adalah pacar Jojo, namanya Andy."
"Kamu lagi nggak bercanda 'kan?"
"Nggak."
"Tapi tadi kamu mengatakan tidak memiliki pacar?"
"Iya. Kalau di dunia nyata, Jojo emang nggak punya pacar. Tapi kalo di dunia lain, Andy adalah pacar Jojo. Jojo lebih suka sama cowok yang usianya nggak beda jauh sama Jojo. Terus selain itu, pasangan Jojo harus ngebuat Jojo selalu ngerasa nyaman. Dan yang terpenting, dia nggak suka kurang ajar sama cewek yang dengan lancang ngeraba-raba bagian tubuh seorang wanita. Jadi dengan semua itu, seharusnya Om langsung tau kalo Jojo nggak suka sama Om, dan sama sekali nggak tertarik sama perjodohan omong kosong yang udah diatur sama Ibu Marina ini."
"Kalau itu mau kamu, ya sudah. Saya tidak mempermasalahkannya. Saya hanya ingin membantu Marina yang begitu memohon-mohon pada saat datang kepada saya, hanya untuk mau dijodohkan dengan anaknya yang, ya... rupanya tidak tahu rasa hormat dan berterimakasih kepada orangtuanya sendiri."
"Saya tidak perlu nasihat dari anda. Dari pada anda menasihati saya, lebih baik hal itu dibuat refleksi untuk diri anda sendiri dengan memikirkan bagaimana perasaan anda jika anak perempuan satu-satunya anda dilecehkan oleh pria asing yang seakan begitu paham dan sangat tahu mengenai arti dari rasa hormat yang sesungguhnya,". "Maaf jika ada sikap saya yang tidak berkenan bagi anda. Kalau begitu saya pamit pulang duluan. Terima kasih atas makan malamnya, Bapak Alex yang terhormat. Saya permisi."
Setelah mengakhiri kalimat ucapannya yang berasal dari curahan hati, Jojo pun segera mengambil tas miliknya yang berada di samping Alex dan dengan perasaan yang sudah cukup lega, wanita itu melangkah keluar dari restauran dengan senyuman yang tidak ingin ia tampilkan namun dengan sendirinya justru terlihat. Jojo sendiri pun merasa begitu puas dan bangga dengan dirinya sendiri. Entah darimana tiba-tiba saja ia mendapatkan keberanian untuk mengungkapkan isi hatinya itu.
Namun yang hanya Jojo tahu dan rasakan, di sepanjang ia mencurahkan rasa amarah yang sebelumnya hanya bisa ia pendam di dalam dirinya kepada Alex tadi, tangan Andy tidak pernah lepas dari genggamanannya. Bahkan Andy justru semakin menggenggam dengan erat tangan Jojo, seakan memberikan kekuatan super untuk wanita itu agar bisa menghadapi salah satu sifat orangtua tersebut yang sangat terlihat sekali begitu merendahkan diri Jojo. Dan pada akhirnya, untuk yang kedua kalinya. Andy pun berhasil membantu Jojo untuk menggagalkan setiap pertemuan dalam perjodohan yang dengan gencar sedang Marina lakukan, untuk anak satu-satunya itu.
***
To be continued . . .