Happy Reading . . .
***
Jojo melangkah menuruni anak tangga menuju lantai bawah, setelah ia selesai bersiap-siap untuk berangkat bekerja. Dan tujuan pertamanya pun setelah keluar dari kamar adalah ruang makan. Seperti biasanya juga pasti Jojo sudah menemukan keberadaan sang ibu di meja makan yang selalu sudah memulai sarapannya terlebih dahulu, tanpa menunggu keberadaan dirinya.
"Bu, nanti anterin Jojo ya?" Ucap Jojo sambil mendudukkan diri di kursi yang berhadapan dengan Marina.
"Tumben lu? Biasanya paling anti kalo gua mau anterin."
"Lagi males naik ojek."
"Si Dimas..."
Kalimat yang baru dikeluarkan oleh Marina itu langsung membuat Jojo menghentikan gerakannya yang baru saja menaruh nasi goreng ke atas piring.
"Jojo nggak mau dijodohin sama dia ah..., Bu."
"Dengerin dulu kenapa sih?"
"Kenapa emangnya?"
"Kemaren ngasih tau, Ellen sih yang lebih tepatnya ngasih tau ke gua. Katanya Dimas udah punya pacar, terus mau langsung dinikahin."
"Yes!" Teriak Jojo sekencang-kencangnya.
"Seneng lu ya? Seneng di atas penderitaan gua?"
"Bukannya gitu, Bu. Emangnya Ibu nggak kasian sama Jojo kalo bener jadi sama Dimas?" Balas Jojo sambil mulai menyuapkan sesendok demi sesendok nasi goreng ke dalam mulutnya sangat lahap.
Mendengar berita yang baru disampaikan Marina tadi tentu langsung membuat perasaan wanita itu menjadi sangat senang, dan nafsu makannya pun juga menjadi langsung lahap.
"Ya emangnya kenapa? Dimas baik ah... Terus kerjaannya jelas, punya jabatan tinggi di kantornya lagi."
"Iya, untuk yang satu itu bagi Ibu memang oke. Tapi Jojo kalah body sama dia, Bu. Apa nggak kasian sama Jojo kalo tiap malem harus dipepet mulu sama body macam Hulk gitu? Bisa abis badan Jojo lama-lama."
"Iya juga ya. Misalnya nanti lu lagi hamil terus ketindih sama dia, bukan badan sama anak lu aja yang jadi tipis. Nyawa lu juga bisa-bisa ikutan tipis terus melayang, lagi."
"Nah... itu Ibu tau. Nyawa Jojo bisa ke ancem tau."
"Yaudah, syukurlah lu nggak jadi sama Dimas. Tapi... gagalnya perjodohan lu sama Dimas, nggak buat gue jadi nyerah gitu aja ya."
"Ibu, Ibu, Ibu. Bisa kali nggak jadi nyebelin lagi."
"Ba-Bu-Ba-Bu, emangnya gue ibu guru? Sekali-kali panggil gue Mommy gitu. Teman-teman gue tuh ya, anak-anaknya pada punya panggilan yang bagus sama enak di denger di kuping. Gue udah bosen selama dua puluh lima tahun dipanggilnya Ibu terus."
"Terus Ibu maunya dipanggil apa? Masih mending anaknya inget kata durhaka terus nggak manggil Marina."
"Itu lu manggil nama gue."
"Iya, makanya Jojo tanya ke Ibu. Ibu maunya dipanggil apa?"
"Mommy."
"Kebagusan. Kita ini nggak ada keturunan bule-bulenya, Bu. Jadi yang
Indonesia-Indonesia aja."
"Ya udah terserah lo mau manggil apa. Yang penting nanti malem lo ikut gua."
"Tuh... kan. Pasti ujung-ujungnya ke situ terus. Udah tau Jojo tuh..."
"Ada cowok cakep yang mau booking. Di Hyatt lagi, kurang kece apa lagi coba?"
"IBU! ASTAGA! Tega ya jadi mucikari anaknya sendiri."
"Bodo amat! Abisnya lu susah amat disuruh kawin."
"Bu, besok ke ancol yuk!"
"Anak kurang ajar lo ya! Gue kutuk jadi lumba-lumba baru tau rasa."
"Lebih kurang ajar mana sama Ibu yang mau jual anaknya sendiri?"
"Gue bukannya mau jual lu. Tapi lu itu udah cukup umur, Jojo. Dari pada kerjaan lu ngurusin duit orang mulu, mendingan lu itungin duit laki lu yang kagak bakal ada abisnya. Tujuh kali tujuh turunan anak, cucu, cicit, sampe lu mati pun nggak bakalan melarat. Termasuk gua juga yang nggak bakalan melarat, anak gua yang cakep."
"Tapi Jojo males ah kalo dijodohinnya sama yang bau tanah."
"Lu maunya yang bau daun muda? Gampang, nanti gua cariin."
"Daun telinga ada nggak?"
"Daun pintu sekalian gua cariin buat lu! Diajak ngomong sama orang tua, bawaannya bercanda terus." Ucap Marina dengan kesal, namun justru membuat Jojo terkikik geli.
"Boleh, Bu. Di vernis sekalian ya biar kinclong."
"Sekali lagi lu bercanda, gua buang stok mie lu yang diumpetin di kolong kasur ya?"
"Ihh... Ibu kok tau? Ibu masuk-masuk kamar Jojo ya?"
"Itu stok terakhir rasa mie kesukaan lu dan di warung Udin udah abis. Jangan sampe gua buang kalo nanti malem lu nggak mau ikut. TITIK!"
"Ibu kejam ih... kayak Ibu tiri. Jojo nggak suka."
"Kayak pernah ngerasain punya Ibu tiri aja lu. Ayah lu aja udah keburu nggak ada."
"Ibu bawa-bawa Ayah. Jojo takut ah..."
"Pokoknya nanti malem lu harus ikut gua."
"Selera makan Jojo jadi langsung ilang 'kan, gara-gara Ibu."
"Nasi di piring lu emang udah abis, b**o! Nggak nafsu makan pake dibawa-bawa segala."
"Pokoknya Jojo nggak mau, titik! Jojo berangkat dulu," balasnya yang langsung beranjak dari duduknya, lalu melangkah meninggalkan meja makan.
"Nggak jadi minta gua anter?" Tanya Marina dengan berteriak.
"Nggak!" Balas Jojo yang juga berteriak tidak kalah kencangnya.
***
Setelah turun dari ojek online yang dinaikinnya itu, Jojo melangkah dengan cepat menghampiri sang temen yang terlihat seperti menunggu dirinya di depan pintu lobby gedung kantor.
"Lo nungguin gue?" Tanya Jojo setelah berada di hadapan Kelly.
"Gue sengaja, soalnya ada yang mau gue omongin."
"Apaan?"
"Sambil jalan."
Kelly pun merangkul lengan Jojo dan sedikit menariknya untuk mengajak berjalan beriringan memasuki gedung kantor.
"Masalah yang waktu itu pernah lo omongin ken gue."
"Yang mana?" Tanya Jojo sedikit bingung.
Kelly pun terlihat menengokan kepala ke kanan kirinya sejenak untuk memperhatikan keadaan sekitar.
"Yang lo minta dicariin dukun sama gue," bisik Kelly tepat di samping telinga Jojo.
"Paranormal, Kelly."
"Iya, pokoknya yang itu. Gue udah nemu. Tempatnya ada di Bogor kesanaan dikit."
"Nggak usah, gue udah nggak butuh."
"Kok gitu? Padahal gue udah susah payah tanya sana-sini juga. Malu juga tau nanya-nanya siapa aja yang punya kenalan dukun."
"Sorry ya, Kelly. Gue beneran udah nggak butuh. Kemaren tuh... kayaknya gue lagi kesambet karena tiba-tiba aja minta dicariin paranormal. Tapi makasih banget ya. Lo udah mau gue repotin, terus lo-nya juga perhatian lagi sama gue. Thank you, bestie."
"Jadi usaha gue kemaren percuma dan sama aja bo'ong dong?"
Jojo pun langsung menampilkan senyuman canggung dan tidak enaknya kepada Kelly.
"Sorry. Maafin gue ya?"
"Huh... ya gue bisa apa lagi?"
"Kalo seandainya ngelawan orangtua nggak dosa, mungkin gue jadi make jasa itu paranormal buat nyantet nyokap gue." Ucap Jojo sambil menekan tombol lift setelah keduanya sudah berada di depannya.
"Tapi dengan lo yang udah punya pikiran kayak gitu, itu udah termasuk dosa loh... Jo"
"Emang iya? Berarti mendingan gue lakuin sekalian aja dong?"
"Nggak gitu juga dong..."
"Abisnya gue kesel banget, Kell."
"Kenapa lagi emangnya?" Tanya Kelly yang bersamaan dengan pintu lift yang terbuka dan untungnya sedang kosong. Jadi Jojo bisa merasa sedikit leluasa untuk mencurahkan isi hati akibat kekesalannya terhadap sang Ibu, kepada temannya itu.
Setelah keduanya melangkah memasuki lift, Jojo pun menekan tombol letak lantai kantornya berada, dan pintu lift langsung tertutup.
"Kemaren yang gue cerita kalo gue mau dijodohin itu, lo inget?"
"Iya. Kenapa? Lo mau langsung sebar undangan emangnya?"
"Orang perjodohanannya gagal."
"Bagus dong? Lo jadi nggak perlu pusing-pusing lagi mikirin nikah paksa yang nyokap lo pengenin itu."
"Justru itu, Kell. Nyokap gue nggak mau nyerah. Mungkin sampe gue bener-bener dapet pasangan dan nikah, baru deh dia berhenti. Gue nggak mau kayak gitu, Kell. Gue masih mau ngejar karir gue dulu, gue masih belom ada kepikiran buat nikah muda."
"Tapi percuma, Jo. Sekeras apapun lo nolak, pasti nyokap lo nggak bakal berhenti. Persis kayak yang lo bilang tadi. Nyokap lo nggak akan berhenti ngejodohin lo, kalo lo belom dapet pasangan dan sampai nikah."
"Gue kesel banget sama kepala batunya dia. Nanti malem aja ya, gue dipaksa suruh ikut ke Hyatt. Katanya gue mau di booking sama orang. Udah gila nggak tuh si Marina, jadi mucikari buat anaknya sendiri?"
"Lo open BO, Jo?" Tanya Kelly dengan polosnya.
"Gue gampar lo ya, Kell!" Sahut Jojo yang langsung emosi, namun justru membuat Kelly tertawa.
"Gue bercanda kali, sensi deh..."
"Gue emang lagi sensi, Kell. Jadi please, jangan bercanda disaat yang nggak tepat."
"Okay. Gue bercanda, dan gue yakin nyokap lo juga pasti bercanda, Jo. Masa ya kali orangtua nge-obral anak satu-satunya ke om-o*******g? Nggak lah, percaya sama gue nyokap lo nggak bakal setega itu."
"Siapa yang tau, Kell? Lo nggak tau aja sikap plin-plannya dia. Orang tuh kalo udah ambisi, susah banget buat dihalangin. Mau pake seribu cara sekali pun, rasanya bakal percuma aja deh... Gue nggak tau apa yang ada di isi kepalanya dia. Jadi kemungkinan yang tadi lo sebutin gue bakal diobral, bakal mungkin aja kejadian. Siapa yang tau?"
"Hidup lo susah ya, Jo? Gue jadi nggak tega. Pasti rasanya nggak enak setiap hari dicecar terus masalah nikah, nikah dan nikah."
Mendengar rasa kasihan yang diungkapkan Kelly tadi, membuat Jojo langsung melihat mata Kelly dan memberikan senyuman kepada teman satu-satunya itu.
"Thank you udah perhatian ya. Kayaknya di dunia ini yang pengertian sama peduli ke gue, cuman lo doang, Kell."
"Udah ya, gue tau masalah pribadi lo ini lagi menyita seluruh isi pikiran lo banget. Tapi kalo udah di kantor gini, mendingan lo tinggal aja ya permasalahannya di rumah. Lo nggak mau nanti semuanya bisa berpengaruh sama hasil kerja lo, 'kan? Lebih sakit kena semprot amukan bos lo, dari pada sama nyokap lo yang masih bisa diargumen 'kan?"
"Iya. Thank you juga ya udah diingetin."
"Itu 'kan tugas gue sebagai temen lo, saling mengingatkan."
"Okay."
Berakhirnya pembicaraan yang terjadi pada keduanya, bertepatan juga dengan pintu lift yang terbuka dan sampailah mereka di lantai kantornya berada. Kelly pun menarik tangan Jojo untuk keluar dari lift, lalu melangkah memasuki ruangan kantornya.
"Kerja, kerja, kerja. Semangat demi masa depan," ucap Kelly yang menyemangati Jojo yang masih terlihat sedikit tidak bersemangat.
"Seandainya lo cowok, udah gue jadiin suami lo, Kell."
"So sweet sih... tapi kenapa lebih ke serem ya?" Balas Kelly yang membuatnya langsung tertawa.
***
To be continued . . .