Happy Reading . . .
***
Sudah yang kesekian kalinya Jojo terlihat gelisah dengan mengganti-ganti posisi tidurnya untuk mencari posisi yang nyaman agar bisa tertidur. Tetapi, rasanya sudah cukup lama dan waktu pun sudah menunjukkan tengah malam, Jojo masih juga tidak bisa tertidur.
"Nggak bisa tidur ya?"
Mendengar suara Andy dari arah belakangnya, membuat Jojo langsung membalik tubuh sekaligus mendudukkan dirinya saat melihat keberadaan Andy yang sudah duduk di tepi ranjang.
"Mata gue nggak tau diri. Padahal besok gue ada laporan deadline pagi-pagi."
"Mau dinyanyiin atau didongengin?"
"Emangnya gue bocah."
"Terus biar kamu bisa cepet tidur, gimana caranya?"
"Cerita dong..."
"Cerita apa?"
"Gue belom begitu kenal sama lo. Jadi ceritain tentang lo aja. Kehidupan lo, kerjaan lo, sebelum lo lagi koma kayak sekarang ini. Sama yang lain-lainnya juga."
"Kamu mau tau tentang saya?"
"Gue 'kan juga mau kenal lebih dekat lagi sama lo."
"Tapi nggak ada yang menarik dari saya, Jo."
"Pasti ada. Setiap orang 'kan punya keunikan sama kemampuan masing-masing."
"Ya, saya tau itu. Tapi kehidupan saya sudah bisa mengalahkan lurus dan panjangnya jalan tol. Kenapa saya bisa bilang kayak gitu? Karena hidup saya tidak ada menarik-menariknya, Jo. Saya aja yang ngejalanin sendiri nggak pernah menikmatinya."
"Gue tau lo nggak mau ngebagi cerita kehidupan tentang lo 'kan?"
Kalimat yang Jojo lontarkan itu membuat Andy menjadi terdiam sejenak, hingga pada akhirnya ia pun ingin membagi tentang bagaimana kehidupan dirinya yang penuh dengan tekanan kepada wanita itu.
"Kamu bisa ngerasain sendiri 'kan, Jo. Gimana rasanya tertekan karena dipimpin sama seorang diktator? Saya juga merasakan hal itu sebagai seorang anak. Saya yakin kalau kamu tidak membutuhkan pekerjaan kamu saat ini, ingin rasanya kamu sudah mengundurkan diri sedari dulu 'kan? Itu hal yang juga saya rasakan, Jo. Sosok dia sebagai seorang pemilik jabatan tinggi di kantor, dan sikapnya saat ia berada di rumah menjadi sosok orangtua tidak ada bedanya. Jadi, kamu sudah tau kenapa saya mengatakan kehidupan saya sendiri tidak ada menarik-menariknya, 'kan?"
"Sama dong kayak gue yang punya orangtua nyebelin gitu."
"Tapi posisinya berbeda, Jo. Kamu merasa Ibu kamu menjadi semakin bertambah menyebalkan, karena dia yang mau kamu bisa cepet-cepet menikah. Kalau saya, tidak ada alasan apapun sikap Ibu saya akan tetap sama. Dia ingin anaknya ini selalu mengikuti setiap ucapan dan keinginannya."
"Lo anak satu-satunya?"
"Iya, sama kayak kamu."
"Terus kalo bokap lo? Gue nggak pernah denger lo yang nyinggung dia dari awal kita ketemu sampe sekarang."
"Hm... dia udah nggak ada."
"Sorry," balas Jojo yang sedikit merasa tidak enak karena pertanyaannya tadi justru membawa mereka ke dalam situasi menjadi canggung.
"Nggak apa-apa."
"Okay, kita ganti topik pembicaraan." Ucap Jojo dengan sedikit ceria, berusaha mengembalikan situasi seperti sebelumnya. "Lo punya pacar?" Sambung Jojo.
"Cewek jaman sekarang, sukanya main tembak aja kalo nanya sama cowok."
"Gue bukan tipe stereotype yang terpaku sama kebiasaan lama terus malah jadinya kebanyakan gengsi. Lo tau 'kan tipe cewek yang masih punya pemikiran harus cowok yang selalu bertindak duluan dan punya inisiatif sendiri? Nah... kalo gue nggak kayak gitu. Daripada gue kebanyakan gengsi terus nggak dapet apa-apa, lagi? Mendingan gue putusin aja urat malu sekalian biar gue nggak penasaran sama suatu hal yang lagi gue mau tau."
"Seandainya saya nemuin banyak cewek yang selalu punya pemikiran maju kayak kamu, mungkin saya udah punya istri, Jo."
"Jadi lo lagi sendiri?"
"Gitu deh..."
"Mantan?"
"Manja, dan yang kayak kamu bilang tadi. Cowok yang harus punya inisiatif sendiri sama banyak bertindak duluan. Capek nggak sih punya pacar kayak gitu?". " Kalo kamu sendiri gimana sama mantan?"
"Biasa, kebanyakan tipe cowok pada umumnya. Apa ayo? Bisa tebak nggak?"
"Egois?"
"Capek nggak sih punya pacar kayak gitu?"
"Kayaknya nasib hidup kita nggak jauh beda ya, Jo. Dari sama-sama punya orangtua yang suka ngatur dan juga yang udah nggak ada. Nasib percintaan yang juga sama-sama belom beruntung. Apa jangan-jangan kita yang emang ditakdirin buat bisa bareng-bareng?"
"Ternyata lo banyak tau tentang gue ya?"
"Sekedar informasi ya, Jo. Sebelum saya berani memunculkan keberadaan saya dan juga meminta bantuan sama kamu, saya diem-diem memahami kehidupan kamu. Saya hanya tidak ingin salah pilih orang dalam misi untuk bisa kembali ke tubuh saya lagi, dan ternyata saya tidak salah. Saya tepat memilih kamu sebagai penolong saya."
"Kenapa harus gue?"
"Karena saya percaya dengan kamu yang pasti bisa menolong saya."
"Terus kenapa gue cuma bisa ngeliat lo doang? Maksud gue, kalo emang gue punya indra ke-enam, kenapa gue nggak bisa ngeliat selain lo yang 'tak kasat mata?"
"Karena level kami berbeda, Jo. Saya masih berada di antara kehidupan dan dunia nyata. Saya tidak sampai pada dimensi lain yang diperuntukkan bagi orang yang udah tidak ada di dunia ini lagi."
"Tapi kenapa lo keliatan sama kayak yang udah nggak ada di dunia ini?"
"Kamu mau ketemu sama Ayah kamu?"
"Gue kangen sama dia. Kalo ada kesempatan sekali aja, gue mau ketemu saja dia. Walaupun sebentar juga nggak apa-apa," ucap Jojo dengan setitik air mata yang tidak terasa sudah menetes.
Melihat Jojo yang tiba-tiba saja berubah menjadi melankolis seperti itu, membuat Andy langsung menggenggam tangan wanita itu untuk memberikan ketenangan dan juga kekuatan.
"Mungkin dilain kesempatan, Jo. Tapi nggak sekarang."
"Sekarang gue lagi ditahap butuh orang lain buat ngedengerin permasalahan hidup gue. Dan kalo aja bokap gue masih ada, mungkin saat ini dia yang lagi gue bujuk-bujuk supaya nyokap gue bisa berhenti ngejodoh-jodohin gue."
"Jangan sedih, Jo. 'Kan ada saya di sini. Saya siap jadi temen curhat kamu. Kamu mau cerita atau curhat apapun, akan saya denger sekaligus kasih sedikit saran."
"Tapi lo 'kan orang lain, bukan siapa-siapa gue. Mana enak cerita permasalahan pribadi ke orang lain yang masih nggak terlalu dikenal juga lagi."
"Tapi saya 'kan udah tau kamu, luar-dalem lagi."
"Luar-dalem?"
"Iya. Luarnya 'kan udah keliatan, dalemnya juga saya udah pernah liat."
"Jangan rese lo yang jadi setan!" Amuk Jojo yang sudah mengerti maksud dari ucapan Andy itu. "Mau gue beri lo, hah?"
"Ampun, Jo. Bercanda kali, kali, biar nggak tegang."
"Candaan lo nggak lucu."
"Iya. Gue cuman bercanda doang kok tadi. Gue 'kan bukan cowok kurang ajar yang suka ngambil kesempatan dalam kesempitan."
"Rese!"
"Yaudah, dari pada ngomel mendingan tidur aja. Udah makin malem tau."
"Gue masih belom ngantuk."
"Udah cerita sama bercanda panjang lebar terus juga pake sedih-sedih segala, masih belom ngantuk?"
"Belom."
"Yaudah, kamu masih mau denger cerita yang lain lagi nggak?"
"Cerita apa?"
"Sebenarnya saya punya temen."
"Semua orang juga punya temen kali."
"Tapi temen yang ini beda karena dia juga sama kayak saya."
"Setengah manusia-setengah hantu?"
"Iya."
"Siapa? Dia juga ada di sini?" Tanya Jojo dengan penasaran.
"Kamu yakin mau ngeliat dia?"
"Hm... dia kayak lo nggak? Maksudnya, rupa sama penampilannya?"
"Namanya Sarah, umurnya masih enam tahun. Dia sakit leukimia yang udah cukup parah, terus sampai koma."
"Kasian," balas Jojo dengan prihatin.
'Terus waktu dulu saya masih tidak berani menampakkan wujud saya ke kamu, dia yang suka jail sama kamu. Kamu inget waktu malem-malem air keran di kamar mandi kamu nyala? Itu dia yang ngelakuin, Jo. Pokoknya semua gangguan yang pernah kamu alami, itu Sarah pelakunya. Kamu 'kan tau kalo saya nggak bisa nyentuh benda-benda kalau nggak berhubungan sama kamu."
"Dia nggak suka ya sama gue, makanya dia jadi jail gitu?"
"Justru kebalikannya, Jo. Sarah suka banget sama kamu dan pengen bisa kenalan sama kamu."
"Terus dia ada di sini juga nggak? Kok gue nggak bisa ngeliat dia?"
"Katanya kalo kamu mau ngeliat dia, kamu harus cium saya dulu."
"Ihh... ngaco. Pasti itu karangan lo doang. Iya 'kan?"
"Hehe... tau aja, cantik."
"Baru kali ini gue ngerasain digombalin sama setan kayak lo. Anti-mainstream juga ya pengalaman hidup gue."
"Saya bukan setan Jojo. Saya in-"
"Iya. Lo itu jiwa yang sedang cuti dari raganya 'kan?" Sela Jojo yang langsung membetulkan kalimat ucapannya tadi.
"Tepat sekali."
"Terus dimana Sarah-nya? Gue pengen ngeliat dia."
"Dari tadi dia ada di sini, tapi sekarang udah pergi. Kayaknya sih malu mau diajak kenalan sama kamu."
"Lucu ya, anaknya?" Tanya Jojo.
"Nanti kamu bisa liat sendiri. Besok saya ajak kenalan sama dia ya?"
"Bener ya?"
"Iya. Terus sekarang mendingan kamu tidur. Udah jam satu, Jo. Besok emangnya lo mau diomelin sama Bu Verren yang terhormat karena telat?"
"Ogah! Nyokap lo tuh mulutnya lebih tajem dari pada samurai."
"Serem dong?"
"Lebih dari serem."
"Yaudah, makanya kamu tidur. Perlu ciuman selamat malam dari saya, nggak?"
"Bergaul sama lo kebanyakan ngelunjaknya gue perhatiin ya."
"Ih... Jojo perhatian deh orangnya, jadi suka. Itu 'kan salah satu tipe cewek idaman saya, Jo. Kamu udah masuk kriterianya loh..."
"Udah ah... gue mau tidur. Jagain gue ya, biar nggak diganggu sama yang lain." Ucap Jojo sambil menidurkan tubuhnya kembali dan menarik selimut hingga mendapatkan posisi yang nyaman.
"Yang lain siapa?"
"Makhluk sesama kayak lo."
"Di sini cuman ada kita berdua aja, Jo."
"Yaudah, pokoknya lo jagain gue. Sekarang 'kan lo udah jadi security pribadi gue."
"Sa-“
" Sshh... gue udah mau tidur," sela Jojo dengan mata yang sudah tertutup.
"Okay, selamat malam, Jojo. Mimpi yang indah ya."
Kalimat terakhir yang terdengar manis di telinga Jojo, membuat wanita itu langsung tersenyum. Dan senyuman kecil tersebut sekaligus mengantarkannya ke dalam kelelapan.
***
To be continued . . .