Happy Reading . . .
***
Dengan tatapan kosongnya, sejak tadi Jojo tidak terlihat bersemangat dan lebih cenderung kepada banyak melamun. Bahkan makan siangnya saja sejak tadi hanya dimainkan tanpa dimakan olehnya.
"Dari tadi gue perhatiin makanan lo diaduk-aduk aja. Kenapa sih?"
"Stres gue."
"Kenapa lagi sih emangnya? Perasaan dari tadi bos lo lagi adem ayem aja."
"Bukan itu."
"Terus apaan?"
"Nyokap gue mau ngejodohin gue sama anak temennya. Terus nanti malem itu cowok mau dateng ke rumah gue."
Ucapan yang Jojo katakan itu langsung membuat situasi di antara keduanya menjadi hening. Namun hal itu tidak berlangsung lama, karena tiba-tiba saja Kelly langsung tertawa dengan kencang dan lepas hingga menarik beberapa perhatian para pengunjung lain di food court tersebut. Jojo yang mendapatkan reaksi dari temannya itu tentu langsung membuatnya menjadi merasa malu, kesal dan juga marah.
"Gue males ah... kalo lo kayak gini," ucap Jojo yang hendak berdiri dari kursi duduknya, namun tangannya sudah terlebih dahulu ditahan oleh Kelly yang masih juga belum menghentikan tawanya.
"Ngambek deh..."
"Bodo!"
"Jo... duduk ih..." Perintah Kelly yang sudah menghentikan tawa.
"Gue males kalo lo ngetawain gue."
"Iya, iya. Sorry. Gue nggak bermaksud tau, tiba-tiba aja tadi refleks terus langsung ketawa. Duduk lagi ya."
Setelah melihat wajah memohon temannya itu, Jojo pun kembali mendudukkan dirinya di tempat semula.
"Jo, lo tuh nggak pernah cerita kalo mau dijodohin sama nyokap lo. Makanya tadi gue kaget terus entah kenapa tiba-tiba aja gue jadi langsung ketawa. Nah... sekarang, ceritain dari awal. Gimana lo bisa jadi mau dijodohin gitu sama nyokap gaul lo itu?"
"Gue males kalo lo ketawa lagi, malu tau. Mana kenceng banget lagi."
"Iya, sorry ya. Janji gue nggak bakal ketawa lagi," balas Kelly sambil mengangkat dua jari yang melambangkan janji atas ucapannya itu.
"Jadi nyokap gue tuh iri mulu kerjaannya. Sama temen-temennya yang udah pada punya menantu sama cucu gitu. Dan berhubung gue anak satu-satunya, jadi gue deh yang dikejar-kejar sama dia buat bisa cepet-cepet nikah. Udah kepengen banget dia tuh punya mantu sama cucu. Karena gue juga lagi nggak punya pacar dan emang dasarnya gue juga yang lagi males cari cowok, jadilah dia yang sibuk sendiri buat nyariin gue calon suami. Kalo gue sama dia lagi ngebahas masalah perjodohan ya, Kell. Pasti deh ujung-ujungnya selalu berantem. Kayak tadi pagi, dia tiba-tiba aja ngomong kalo anak temennya mau datang ke rumah nanti malem. Gimana sampe sekarang gue nggak kesel sendiri? Selain mau menangnya sendiri, nyokap gue tuh kepala batu, Kell. Dia nggak pernah mau denger keputusan gue. Capek tekanan batin gue."
"Tapi dia 'kan nyokap lo sendiri, Jo. Orangtua satu-satunya lagi. Dia yang udah nge-besarin lo sendirian sampe kayak sekarang ini. Emangnya lo nggak mau nge-bales setiap perjuangan nyokap lo yang udah nge-besarin lo? Setidaknya bahagiain dia dengan kemauannya itu. Saran dari gue aja nih ya, Jo. Mending lo ikutin dulu aja apa yang nyokap lo mau. Ya, walaupun sebenernya lo juga nggak suka dengan kemauan nyokap lo itu, tapi setidaknya lo bisa bahagiain dia."
"Kok lo mikirnya jadi kayak nge-bela nyokap gue gitu, Kell?"
"Nggak nge-bela, tapi lo nggak mau 'kan kehilangan nyokap lo disaat lo sendiri belom bisa bahagiain dia? Mumpung lo masih dikasih waktu, apa salahnya buat ngelakuin?"
"Tapi gue belom siap buat nikah," rengek Jojo.
"Yang nyuruh lo buru-buru nikah siapa? Gue bilang 'kan ikutin aja dulu kemauan nyokap lo buat nemuin anak temen pilihannya itu. Penjajakan aja dulu. Lo nggak harus terima setiap cowok yang mau dijodohin sama lo. Kali aja lo nggak sengaja nemu yang cocok. Siapa yang tau? Ya nggak?"
"Udah ah... gue curhat sama lo beban gue berasa jadi semakin bertambah. Balik aja yuk... gue mau kejar target biar ntar nggak pulang telat," balas Jojo sambil beranjak dari duduknya.
"Ciee... nggak sabar mau ketemu calon ya?" Ledek Kelly sambil tertawa kecil.
"Rese lo! Orang gue diancem, kalo sampe pulang telat gue yang nggak bakal dibukain pintu pager."
"Iya deh, iya. Percaya gue."
"Gue bakal marah lagi kalo lo ngeledek gue terus."
"Gitu aja marah, baper ah..." Balas Kelly sambil merangkul lengan Jojo, lalu mengajaknya melangkah keluar food court untuk kembali ke kantor.
***
Tepat pukul tujuh malam, Jojo membuka pintu pagar rumahnya dan sosok Andy pun sudah menyambutnya dengan duduk di kursi teras rumah itu. Suara tawa khas Marina dan suara tawa lainnya yang sangat asing di telinga Jojo juga menyambut wanita itu yang kini sudah berada di teras.
"Mereka udah dateng," ucap Andy kepada Jojo yang sedang melepas sepatu.
"Iya, suaranya udah sampe ke sini."
"Kamu jangan kaget ya ngeliat yang mau dijodohin sama kamu."
"Emangnya kenapa? Jelek ya?" Balas Jojo dengan sedikit penasaran sambil mendudukkan dirinya di samping Andy.
"Hm... dibilang jelek nggak juga. Tapi..."
"Tapi apa?"
"Nggak bermaksud jahat, tapi... badannya gede banget. Udah kayak Hulk."
"Serius? Udah gila kali tuh si Marina!" Ucap Jojo dengan refleks karena saking emosinya.
"Jo... omongannya dijaga dong..." Peringat Andy.
"Udah nggak abis pikir gue tuh. Urghh... kesel tingkat dewa tau nggak?"
"Dewa 19 nggak?"
"Nggak lucu!"
Andy pun langsung terkekeh melihat Jojo yang sedang begitu kesal itu. Entah kenapa ia selalu merasa senang setiap melihat sikap Jojo yang jika sedang kesal ataupun marah.
"Jo... nggak perlu dibawa stres. Saya akan membantu, seperti rencana kita."
"Caranya gimana?"
"Kasih tau aja kalo kamu bisa ngeliat makhluk kayak saya. Semua orang akan merasa takut jika sudah berhubungan dengan makhluk tidak kasat mata."
"Lo nggak tersinggung?"
"Kenapa harus merasa tersinggung? Ini demi kamu, Jo."
"Terus, yakin bakal berhasil?"
"Nanti saya juga akan sedikit menunjukkan tanda dengan adanya keberadaan saya di sana."
"Emangnya lo bisa nyentuh benda-benda? Katanya lo nggak bisa nyentuh apa-apa selain gue?"
"Selama ada kamu, saya bisa menyentuh barang-barang disekitar saya, Jo. Contohnya seperti sepatu ini. Jika saya menggenggam tangan kamu, maka saya juga bisa mengambil sepatu kamu ini. Lihatlah," ucap Andy sambil melakukan hal yang dijelaskan tadi kepada wanita itu.
"Please, gue mau ini berhasil."
"Tentu. Saya akan membuat Hulk itu langsung mengundurkan dirinya saat ini juga."
Secercah senyuman pun terbit di bibir Jojo. Andy selalu mengucapkan hal yang selalu menambahkan semangat pantang menyerah Jojo, dan wanita itu menyukainya. Disaat suasana mulai menghangat di antara kedua insan itu, tiba-tiba saja suara pintu yang dibuka dengan kencang langsung mengejutkan Jojo. Munculnya Marina yang keluar dari rumah itu, disusulnya suara khas wanita itu yang selalu terdengar memekakan telinga.
"Bukannya masuk, malah duduk di sini. Masuk!" Perintah Marina itu pun langsung dilaksanakan Jojo tanpa sedikit pun bantahan yang dilakukan.
Setelah meletakkan sepatunya di rak sepatu dekat pintu, Jojo pun melangkah menuju ruang tamu yang tentu langsung disusul oleh sang Ibu di belakangnya.
"Anak gue udah pulang. Nih... Jo, yang namanya tante Ellen, terus itu anaknya. Lu kenalan sendiri aja sana," perintah Marina sambil sedikit mendorong tubuh Jojo untuk menghampiri para tamunya itu.
"Hai, tante Ellen, kenalin saya Jojo." Ucap Jojo sambil mengulurkan tangannya untuk bersalaman.
"Hallo, Jojo. Abis pulang kerja ya? Keliatan capeknya," balas Ellen yang menyambut Jojo dengan ramah.
"Iya, tante."
"Tapi walaupun capek, cantiknya tetep nggak ilang kok. Ya nggak, Dim?" Ucap Ellen yang kini sudah menyenggol sang anak dengan sikunya. "Jo, kenalin. Ini anak tante, namanya Dimas. Dim, jangan malu-malu gitu dong..."
Jojo pun hanya bisa menampilkan senyuman canggungnya terhadap pria bernama Dimas di hadapannya. Senyuman yang timbul karena Jojo sedang membenarkan ucapan yang Andy katakan tadi mengenai sosok pria yang akan dijodohkan dengannya ini. Jojo sungguh tidak siap jika sang Ibu benar-benar nekad ingin menjodohkan dengan pria bertubuh besar seperti Dimas.
Memang tubuh besarnya itu tidak sepenuhnya berlemak, ada sedikit otot yang terlihat dan membuat postur tubuhnya menjadi tegap. Namun Jojo yakin akan lemak yang lebih mendominasi dari pada massa otot di tubuh pria itu. Tidak bermaksud kurang sopan menilai tubuh seseorang seperti itu, tetapi Jojo hanya tidak habis pikir jika ia benar-benar jadi menikah dengan pria itu. Selain ia yang nanti pasti kalah postur dan akan selalu terhimpit di atas ranjang, Jojo hanya tidak ingin di setiap tidurnya ditemani oleh Hulk.
"Kok malah diem-dieman? Ajak kenalan dong, Jo." Ucap Marina yang memecah keheningan.
"Hallo, Jojo." Sambil menampilkan senyum, Jojo mengulurkan tangannya untuk bersalaman. Namun, mungkin karena pria itu yang sedang merasa sedikit bersemangat. Tangan Jojo yang kini sudah berada di dalam genggaman tangan besarnya itu tidak hanya dijabat, namun juga diremas hingga membuat Jojo sedikit memekik kesakitan.
"Dimas! Jangan diremas gitu tangan Jojo, 'kan kasian." Ujar Ellen sambil melepas paksa jabatan tangan yang masih berlangsung itu.
"Ma-maaf." Ucap Dimas dengan tergugup dan rasa menyesalnya.
"Iya, nggak apa-apa," balas Jojo dengan senyuman canggung sambil sesekali meremas tangannya yang terasa cukup sakit.
"Biar nggak canggung, kalian ngobrol dulu aja ya. Ibu sama tante Ellen mau nyiapin makan malem dulu sebentar. Okay?"
Jojo pun membalas ucapan Marina dengan anggukan. Ia mencibir sang Ibu di dalam hati karena tidak akan mungkin Marina akan berbicara sopan seperti itu jika tidak ada keberadaan tamu yang bagi Marina penting itu. Setelah dirinya sudah ditinggal berdua saja dengan pria bernama Dimas itu, Jojo pun mendudukkan diri di kursi yang berhadapan dengannya, dan disusul juga dengan pria itu yang mendudukkan diri di posisi sofa semula.
"Hai. Hm... siapa nama kamu tadi?" Tanya Dimas dengan gugup.
"Josephine. Tapi panggil aja Jojo."
"Jojo?"
"Iya."
"Siapanya artis Joshua?"
"Hah?"
Jojo pun langsung menampilkan wajah ilfeel dan bingungnya.
"Hm... lupain aja."
Sungguh, dengan perbincangan tidak berbobot yang baru dimulai saja, Jojo langsung mengetahui jika pria itu bukanlah pasangan hidupnya. Dan rasa ingin mengambil jurus langkah seribu pun sedang dinanti-nanti oleh Jojo diwaktu yang tepat nanti. Namun disaat situasi sedang terasa hening karena tidak ada satu diantaranya yang ingin membuka topik pembicaraan, Jojo pun melihat Andy yang datang dari arah luar rumah menghampirinya. Dengan Andy yang juga sudah duduk di samping Jojo, pria itu pun memberikan anggukkan kepala sebagai tanda agar rencana yang sudah dibicarakan tadi bisa langsung dilakukan.
"Dimas..." Panggil Jojo.
"Y-ya."
"Percaya sama adanya hantu, nggak?"
"Hantu?"
"Iya, makhluk 'tak kasat mata."
"Hm... biasa saja. Memangnya kenapa?"
"Percaya dengan kehadiran mereka?"
"Biasa saja."
"Kebetulan aku itu bisa melihat yang seperti itu. Ibu aku ngasih tau tentang itu, 'kan?"
"Ka-kamu apa?"
Jojo semakin tersenyum senang di dalam hati saat melihat wajah pria di hadapannya yang mulai terlihat pucat.
"Iya, aku bisa melihat yang seperti itu. Bahkan aku memliki teman. Apa kamu ingin mengenalnya?"
"Ke-kebetulan aku tidak percaya dengan yang seperti itu."
"Tapi kalau kamu mau kenal lebih dekat lagi sama aku, aku juga mau kamu bisa kenalan sama teman aku. Kebetulan dia lagi ada di sini."
"Aku sama sekali tidak tertarik."
"Andy, sayang sekali kamu tidak bisa berkenalan dengannya." Ucap Jojo dengan berpura-pura kecewa.
"Andy? Siapa itu Andy?"
"Teman aku. Dan saat ini dia sudah berada di samping kamu."
Jojo pun langsung menutup mulut dengan tangannya karena ia sudah tidak bisa lagi menahan tawa di saat melihat pria itu yang semakin terlihat pucat pasi sambil melirik ke samping kanan dan kirinya.
"Ak-aku nggak percaya."
Mendengar Dimas yang sepertinya masih tidak menyerah juga, membuat Andy langsung mendorong sedikit meja di depannya hingga tergeser dengan perlahan. Tentu barang yang bergerak dengan sendirinya itu membuat tatapan mata Dimas langsung tertuju pada meja tersebut.
"Andy sangat ingin berkenalan dengan kamu, Dimas."
"Hm... Jo, sepertinya aku harus pergi. Aku baru ingat kalau belum ngasih makan ikan di rumah."
"Ikan? Ikan apa? Kebetulan sekali, Andy itu pecinta hewan. Apakah dia boleh ikut denganmu?"
"Sampai jumpa."
Ingin sekali Jojo tertawa sekeras-kerasnya jika ia tidak mengingat akan keberadaan Marina di dapur. Kepergian Dimas itulah yang Jojo inginkan, bahkan dengan teganya pria itu meninggalkan sang Ibu yang masih berada di dapur tanpa berpamitan atau apapun.
"Berhasil 'kan?" Tanya Andy.
"Tapi kurang ekstrim gangguannya."
"Sampe yang mati listrik gitu ya harusnya?"
"Itu lebih ke berlebihan sih, bukan ekstrim."
"Loh... Dimas-nya kemana?" Tanya Ellen yang tiba-tiba saja sudah kembali ke ruang tamu.
"Hm... katanya mau ngasih makan ikan, tante."
"Ngasih makan ikan?"
"Iya, katanya dia belum ngasih makan ikan di rumahnya."
"Jadi tante ditinggal dong?"
"Ada apa sih?" Tanya Marina yang baru datang.
"Dimas ninggalin gue pulang."
"Kok bisa? Abis lu apain, Jo?" Interogasi Marina to the point kepada Jojo.
"Nggak Jojo apa-apain, Bu. Baru Jojo ajak ngobrol, terus dia langsung pamit pulang mau ngasih makan ikan di rumah katanya."
"Jojo nggak salah, Mar. Itu anak kadang-kadang emang suka di luar akal sehat," ucap Ellen yang memang tahu sifat sang anak.
"Terus sekarang gimana?"
"Ya lu anterin gua pulang sekarang."
"Huhh... gagal deh. Yaudah tunggu di depan, gue siap-siap dulu."
Merasakan aroma kemenangan yang Jojo dapatkan, membuat wanita itu tersenyum senang sekaligus tertawa lepas di dalam hati. Walaupun Jojo tahu kegagalan Marina tidak hanya akan berhenti sampai di sini saja. Tetapi setidaknya ia sudah mengetahui bagaimana cara menggagalkan rencana perjodohan Marina, sekaligus menghadapi setiap pria yang akan dikenalkan dengannya ke depan nanti.
***
To be continued . . .