Happy Reading . . .
***
Wanita itu membuka mata dengan perlahan dan langsung disambut dengan keheningan di sekitarnya. Rasa tidak enak dan hawa panas pada sekujur tubuh pun juga dirasakan olehnya. Belum lagi kepala dan tubuh yang sama terasa beratnya, semakin membuat Jojo tidak bisa bergerak dalam posisi tidur telentangnya. Namun satu hal yang membuat Jojo bisa merasakan sedikit rasa nyaman dan cukup lega adalah ia yang sudah berada di atas ranjang di dalam kamarnya sendiri.
"Ibu..." panggil Jojo dengan suara yang hampir tidak terdengar. Dirinya yang sedang lemah dan tidak memiliki kekuatan pun sudah menjawab semuanya.
Tidak lama setelah Jojo terdiam karena ia merasa hal yang sedang dilakukannya itu terasa percuma, pintu kamar pun terbuka dengan perlahan dan tentu hal tersebut menarik perhatian Jojo yang langsung melemparkan pandangan menuju arah pintu. Tidak adanya hal lain yang didapatkan setelah pintu kamar terbuka, tentu membuat detak jantung Jojo langsung berdetak dengan begitu cepat.
"Ibu... Ibu dimana?" Panggil wanita itu sambil berusaha bangkit dari posisinya menjadi duduk, walaupun ia masih begitu kesulitan menggerakkan tubuhnya yang lemah namun terasa cukup berat.
Rasa ketakutan yang Jojo rasakan pun semakin bertambah disaat ia melihat sosok yang tidak ingin ia lihat kini sudah mulai memasuki kamarnya dengan perlahan. Sosok yang belakang ini selalu membuat Jojo merasa begitu ketakutan akan kehadirannya itu.
"IBU!!! Ibu dimana? Jojo takut!" Teriak wanita itu yang tiba-tiba saja sudah tidak bisa menggerakkan tubuhnya.
"Jangan takut, Jo."
"IBU!!!“ Teriak Jojo yang semakin histeris saat mendengar suara sosok yang kini sudah berada tidak jauh darinya.
Bersamaan dengan perasaan yang semakin histeris, air mata Jojo pun kini juga sudah menetes dengan derasnya disaat tangan wanita itu sudah disentuh oleh sebuah tangan yang terasa seperti sedingin es batu.
"Jika kamu terus ketakutan seperti ini, bagaimana saya bisa memperkenalkan diri saya sendiri?" Ucapnya sambil menghapus jarak keduanya, hingga Jojo sudah benar-benar tidak bisa berkutik. Selain tubuhnya yang kini sudah mulai dihimpit oleh tubuh sosok tersebut di atas ranjang sehingga sama sekali tidak bisa bergerak, rasa takut wanita itu pun juga semakin menjadi-jadi disaat merasakan betapa dekatnya jarak di antara keduanya.
"Gue nggak mau kenalan sama lo! Tolong pergi dari sini sekarang juga!" Balas Jojo di sela-sela tangisannya dengan sesenggukan.
"Tapi saya tidak mau pergi."
"Lo harus pergi! Pergi dari kehidupan gue. Please, jangan ganggu gue lagi!"
"Kamu harus membantu saya, Jojo."
"Nggak mau! IBU, TOLONGIN JOJO!"
"Kamu harus bantu saya! Kalau tidak... saya tidak akan berhenti untuk terus bisa mengganggu kehidupan kamu, Jojo. Sampai selama-lamanya."
"Nggak mau!"
"Tetap tidak mau? Hal terburuknya adalah... kamu akan saya ajak untuk pergi bersama saya. Berkelana, tanpa tujuan, tidak memiliki akhir perjalanan, bahkan sampai pada hal terburuknya... kamu tidak akan bisa kembali lagi."
"Gue nggak peduli!"
"Sudah yakin tidak akan bisa kembali lagi? Ucapan saya tidak main-main Josephine Natasha."
"Lo tau nama gue! Ibu... tolongin Jojo, Bu." Balas wanita itu yang justru semakin menangis dengan kencang.
"Pikirkan baik-baik setiap ucapan saya tadi. Waktu kamu tidak banyak. Disaat saya datang kembali, kamu sudah harus siap untuk membantu saya. Sampai bertemu nanti, Jo."
Berakhirnya kalimat tersebut, menghilang jugalah dengan cepat sosok yang sudah membuat Jojo menjadi begitu ketakutan tadi. Dengan nafas tersengal dan sisa-sisa tangisannya, Jojo pun menenangkan diri dengan membaringkan kembali tubuh yang sudah mengeluarkan keringat dingin hingga membasahi piyama sekaligus seprai ranjangnya.
"Jo..."
Suara panggilan yang tiba-tiba muncul itu pun membuat sang pemilik nama langsung sigap dengan menengokan kepala menuju pintu kamar, yang ternyata sang ibu-lah yang muncul di sana.
"Ibu kemana aja 'sih? Jojo teriak panggil-panggil Ibu, tapi Ibu nggak dateng-dateng juga." Protesnya.
"Manggil apaan? Orang gua nggak denger apa-apa dari tadi. Gua 'kan lagi nonton TV di bawah, kalo lu teriak pasti gua denger lah."
"Masa nggak denger 'sih, Bu? Tenggorokan Jojo sampe sakit sama suara hampir habis gini, Ibu beneran nggak denger?"
"Emangnya kenapa 'sih? Lu 'tuh ya? Dari kemaren kerjaannya bikin orang olahraga jantung mulu."
"Olahraga apaan 'sih, Bu?"
"Lu kemaren ngapain pake acara pingsan segala di kantor?"
"Emang iya?"
"Emang iya, emang iya. Ditungguin di rumah sampe jam sembilan belom juga pulang, 'kan gua panik. Mana lagi nggak punya handphone, mana bisa gua telepon lu."
"Terus sekarang kok Jojo bisa pulang?"
"Ya gua samperin lu lah, pake nanya. Satpam yang jaga lobi di bawah sampe gua tarik ke atas gara-gara gua nemuin lu udah nggak sadar. Mana sampe di rumah badan lu langsung demam. Gimana gua nggak olahraga jantung mulu dari semalem?"
Mendengar cerita dari Marina, membuat ingatan Jojo langsung terlempar menuju kejadian dimana ia yang semalam sehabis lembur bekerja, dan berakhir pada dirinya yang jatuh pingsan setelah tidak siap menghadapi kenyataan akan wanita itu yang ternyata memiliki indra ke-enam.
"Jojo abis ngalamin hal nggak enak, Bu."
"Udah, nggak usah mikirin yang nggak-nggak. Badan lu aja masih demam gini," ucap Marina sambil memegang kening dan wajah sang anak untuk memeriksa suhu tubuh. "Keringet dingin juga lagi. Ganti baju, abis itu kita ke rumah sakit."
"Jojo mau istirahat aja, Bu. Jojo sakit 'tuh bukan karena apa-apa, tapi emang abis ngalamin hal yang nggak enak aja."
"Hal apaan 'sih?"
"Waktu itu Jojo 'kan udah pernah bilang kalo lagi diganggu hal-hal aneh. Udah kesekian kalinya Jojo bisa ngeliat hantu, Bu. Terus sekarang semakin parah, selain bisa ngeliat Jojo juga bisa komunikasi sama sosok itu."
"Halu 'kan lu?"
"Tuhh... kan. Ibu kalo dikasih tau nggak pernah percaya."
"Ya jelas ajalah kalo gua nggak percaya. Seumur hidup, gua aja nggak pernah punya kemampuan kayak gitu."
"Ibu aja nggak percaya, apalagi Jojo yang lagi ngalamin. Nih... buktinya aja pas tadi Jojo lagi teriak-teriak manggil Ibu, Ibu aja nggak denger apa-apa 'kan?"
"Itu lu lagi mimpi kali?"
"Nggak, Ibu. Kalo mimpi masa iya, Jojo ketemunya sama yang itu lagi, itu lagi?"
"De javu. Bisa aja 'kan?"
"Tetep beda, Bu. Emangnya dari silsilah keluarga kita, nggak ada yang punya indra ke-enam apa? Kali aja Jojo keturunan dari situ."
"Nggak ada. Dari dulu nggak ada yang bisa ngeliat gitu-gituan,". "Udah, nggak usah bahas-bahas hal itu lagi. Mending lu istirahat, katanya milih istirahat aja dari pada pergi ke rumah sakit."
"Bu, pinjem handphone. Jojo harus kabarin bos Jojo kalo hari ini nggak masuk."
"Udah sakit, masih aja mikirin kerjaan. Istirahat aja lu," perintah Marina sambil melangkah keluar dari kamar anaknya itu.
"Nanti Jojo diomelin bos Jojo, Ibu. Kalo sampe dipecat gimana?"
"Biarin. 'Kan bagus, abis itu biar lu jadi mau nggak mau langsung kawin." Balas Marina dengan sedikit berteriak, lalu langsung menutup pintu kamar.
"Astaga Ibu!!!" Teriak Jojo yang tidak kalah keras karena merasa kesal terhadap sifat sang ibu yang selalu tidak pernah mengerti akan dirinya.
***
Di dalam tidurnya, Jojo dapat merasakan usapan lembut pada bagian kepalanya yang lama kelamaan mulai mengganggu kegiatan istirahatnya itu. Dengan kedua mata yang masih terasa berat untuk dibuka, wanita itu pun pada akhirnya membuka matanya juga dan langsung mendapati sosok yang kembali mendatangi dirinya, tepat di hadapan wanita itu. Jojo yang hendak berteriak dengan kencang langsung dibungkam dengan tangan sosok tersebut yang terasa begitu dingin.
"Please, jangan teriak lagi." Ucap sosok tersebut dengan nada yang seakan berusaha menenangkan Jojo.
Namun sayangnya hal tersebut tidak berlaku untuk Jojo, karena kini wanita itu justru berusaha melepaskan sebuah tangan yang sedang membungkam mulutnya.
"Saya beritahu. Sekeras atau sekencang apapun kamu berteriak, semua itu akan terasa percuma. Yang ada telinga saya akan terasa sakit karena tidak biasa mendengar teriakanmu. Percayalah, tidak akan ada yang bisa mendengar suara teriakanmu itu. Tidak percaya? Kamu sudah pernah mebuktikkannya, bukan?"
Mendengar ucapan tersebut membuat Jojo sedikit berpikir sejenak, dan tentu membenarkan juga pada akhirnya. Dengan berusaha menenangkan diri sekaligus meyakinkan diri untuk menurunkan sedikit rasa takutnya, beberapa saat Jojo pun mulai terlihat tenang.
"Janji tidak akan berteriak?"
Anggukan kepala kecil pun Jojo berikan sebagai jawaban yang diberikan kepadanya tadi. Bersamaan dengan kondisi yang sudah terasa tenang, sosok itu pun melepaskan tangannya pada mulut Jojo yang sudah dibungkam tadi itu, dan membuat Jojo langsung menjauhkan sekaligus mengubah posisinya menjadi duduk di atas ranjangnya.
"Tanpa teriakan dan keributan terasa lebih baik, bukan? Dan... sedikit ancaman," ucapnya dengan terkekeh di akhir kalimat. "Maafkan saya yang belakangan ini sudah begitu membuatmu menjadi begitu ketakutan. Tetapi saya sungguh tidak bermaksud seperti itu."
"Sebenernya lo itu siapa 'sih?"
"Andy, kamu bisa memanggil nama saya."
"Gue tanya lo siapa? Bukan nama lo yang siapa?"
"Saya Andy."
"Urghh... iya gue tau," balas Jojo sedikit kesal. "Gue nggak b***k dan b**o karena sebelumnya lo udah nyebutin nama lo. Maksud dari pertanyaan gue tadi adalah... lo itu siapa? Dengan tiba-tiba aja lo dateng ke kehidupan gue. Apa yang lo mau dari gue? Dan kenapa harus gue yang lo ganggu?"
"Kalau saya jawab semua pertanyaan dari kamu tadi, mungkin sampai besok baru akan selesai."
"Okay. Singkat cerita aja nggak apa-apa. Itu lebih baik dari pada gue bertanya-tanya sendiri tentang siapa lo yang sebenarnya."
"Kalau kau mau tau jawaban dari saya, kamu harus menyetujui terlebih dahulu keinginan saya."
"Keinginan apa?"
"Membantu saya, seperti yang sudah saya katakan tadi pagi."
"Bantu apaan 'sih? Lagipula lo aja baru ngancem gue tadi pagi. Masa iya belom dua puluh empat jam tapi jawabannya udah ditagih aja?"
"Saya tidak suka membuang-buang waktu."
"Gue juga nggak suka buang-buang waktu buat sosok nggak jelas kayak lo," balas Jojo dengan cukup sinis, namun justru membuat sosok yang mendengar justru tertawa kecil.
"Kamu memang belum tahu sosok apa yang sedang mengganggu kamu ini. Tapi satu hal yang perlu kamu tahu, kamu tidak akan menyesal membantu saya. Dengan membantu saya, saya pun juga bisa membantu kamu. Kamu tahu apa itu simbiosis mutualisme? Masalah kamu yang saat ini sedang gencarnya ingin dijodohkan oleh orangtua kamu, adalah jawabannya. Tertarik?"
"Kok lo bisa sampe tau?"
"Saya mengetahui semua hal yang saat ini sedang kamu hadapi."
"Terus maksudnya, lo mau bantu gue buat gagalin setiap rencana yang mau nyokap gue lakuin buat perjodohan nggak jelas itu?"
"Tergantung kamu ingin membantu saya atau tidak?"
"Gimana gue mau bantuin lo, kalo gue aja nggak tau asal usul siapa lo yang sebenernya."
"Saling mengenal satu sama lain itu adalah perkara yang mudah. Asal kamu setuju dengan kita yang melakukan simbiosis mutualisme, semuanya akan terasa lebih baik dan mudah. Jadi bagaimana? Apakah kita sudah mencapai kesepakatan?"
"Kasih tau dulu hal apa yang harus gue tolong, baru kita capai kesepakatan."
"Saya..."
Ucapan itu pun terpotong oleh suara pintu kamar Jojo yang tiba-tiba saja terbuka, dan munculah Marina di sana.
"Lu udah bangun?"
Pertanyaan Marina yang sempat mengalihkan perhatian Jojo kepada sang ibu tadi pun, membuat wanita itu cukup terkejut saat melihat kembali pada posisi dimana sosok bernama Andy tadi berada, namun kini keberadaannya sudah kosong.
"Heh... ditanyain malah melengos," tegur Marina.
"Iya, Bu. Jojo udah bangun, dan Jojo juga udah mendingan."
"Bagus deh. Kalo gitu lu turun, di bawah ada Kelly. Dia mau jenguk lu katanya."
"Nggak deh, Bu. Jojo mau mandi abis itu tidur lagi. Jojo mau banyak istirahat supaya besok bisa sembuh dan berangkat kerja."
Jojo yang sebenarnya masih merasa sedikit marah kepada temannya itu, memilih untuk tidak menemuinya terlebih dulu hingga sampai suasana hatinya terhadap Kelly bisa terasa menjadi lebih baik lagi.
"Temen lu capek-capek dateng buat jenguk, tapi malah ditolak. Gimana 'sih lu?"
"Bilang aja Jojo masih tidur, Bu. Gampang 'kan?"
"Heh... gua nggak pernah ngajarin lu jadi orang yang nggak sopan gitu ya?"
"Sekali-sekali, Bu. Sama dia ini, bukan yang lain. Lagipula kalo besok Jojo berangkat kerja, pasti bakal ketemu juga sama dia di kantor."
"Emangnya lu sama Kelly lagi kenapa 'sih?"
"Jojo lagi males ketemu sama dia, Bu."
"Udah kayak bocah aja lu, segala pake acara berantem."
"Bukan berantem, tapi berselisih."
"Sama aja."
"Ya udah, bilangin sama dia Jojo masih tidur ya, Bu. Please... Jojo janji ini buat yang pertama dan terakhir kalinya. Okay?"
"Kalo bukan anak, dah gua beri lu." Balas Marina dengan menggeram sambil meninggalkan kamar sang anak dan lebih memilih untuk mengalah.
"Jojo sayang Ibu."
Kepergian Marina keluar dari kamar tidak membuat Jojo beranjak dari ranjang dan pergi seperti yang dikatakannya tadi, namun justru menidurkan diri kembali sambil memikirkan kesepakatan yang sedang dibahas oleh sesosok pria tidak kasat mata bernama Andy tadi. Memang percaya dengan seseorang itu adalah hal yang sulit untuk dilakukan, namun Jojo merasa akan hal yang sedang dibicarakan bersama Andy tadi terdengar dan terasa cukup meyakinkan.
Walaupun pada awalnya Jojo merasa sangat takut dengan sosok tersebut, namun sekarang entah kenapa dengan mudahnya ia justru ingin mempertimbangkan kesepakatan yang akan keduanya lakukan nanti. Bahkan lebih buruknya lagi, wanita itu pun langsung menjadi terngiang-ngiang dan kepikiran mengenai simbiosis mutualisme yang terdengar cukup menarik tadi. Apalagi menyinggung mengenai perjodohan yang akan Marina lakukan kepadanya, dan juga menyangkut nasib masa depannya nanti. Jojo rasa, kini ia menjadi membutuhkan Andy untuk membicarakan lebih dalam lagi mengenai kesepakatan yang baru saja menjadi pembahasan.
***
To be continued . . .