Tidak Siap Berjumpa

1535 Words
Happy Reading . . . *** Dengan nikmat Jojo mengunyah makan siangnya di tempat makan yang biasa ia datangi. Tempat makan dengan harga miring namun rasa makanan yang disajikan tidak kalah enak dari makanan di cafe atau restauran berbintang. Sepiring ayam geprek beserta sambal yang sampai membuat keringat bercucuran menambah sensasi kenikmatan Jojo dalam makan siang, dan belum lagi segelas es kopi yang menemani siang hari wanita itu sehingga menjadi semakin terasa menyegarkan. "Lo beneran nggak mau maafin gue?" Pertanyaan yang ditujukan kepada Jojo itu tidak membuatnya mengurangi nafsu makannya yang masih asyik menjilati dan menghisap tulang-tulang ayam yang bahkan sudah tidak ada dagingnya itu. "Jo! Ihh... nyebelin deh!" Ucap Kelly dengan kesal karena sudah semenjak masuk kantor pagi tadi, ia selalu diacuhkan oleh temannya itu. Bahkan disaat ini pun dengan dirinya yang sudah duduk tepat di hadapan Jojo, tidak membuat kehadiran wanita itu dianggap. "Makan siang lo udah dibayar belom? Gue aja yang bayarin ya. Atau lo mau nambah? Ayam penyet atau ayam bakar? Dua-duanya juga boleh. Gue pesenin ya?" Masih tidak ada tanggapan atau balasan dari Jojo kepada Kelly. Bahkan setiap bujukan dan tawaran yang Kelly katakan pun masih tetap tidak membuat Jojo menganggap kehadiran temannya itu. "Kesabaran gue nggak bisa dibeli sama sepiring-dua piring, satu-dua Minggu, sepuluh-dua puluh jenis menu makanan buat traktiran makan siang." "Okay, lo bener-bener marah sama gue. Tapi gue nggak bermaksud, Jo." "Udah dua kali lo gituin gue," ucap Jojo dengan singkat. "Akhirnya... lo mau ngomong juga sama gue," balas Kelly yang merasa lega karena temannya itu ingin mengeluarkan suara kembali. "Buat yang kemaren sorry banget ya. Gue bener-bener nggak bermaksud buat ninggalin lo sendirian, Jo." "Nggak bermaksud tapi dilakuin." "Niat gue tuh mau ngenalin lo sama temen gue, tapi temen gue yang satu lagi keburu ngajak ngobrol duluan. Jadi gue sama dia asyik sendiri sampe lupa sama lo. Maafin gue ya?" "Nggak tau!" Balas Jojo acuh. "Handphone lo juga kemana 'sih? Gue hubungin dari selesai kondangan sampe tadi pagi nggak bisa-bisa juga. Dua hari lo menghilang, gue 'kan jadi khawatir." "Rusak. Lagi pula kalaupun gue menghilang, gue pasti nggak bakalan ninggalin kamar tercinta gue. Terus ngapain pake segala khawatir? Tinggal dateng ke rumah gue, terus minta maaf dari kemaren selesai 'kan masalahnya?" "Iya, sorry. Kemaren seharian cowok gue ngajakin ke acara ulang tahun temennya." "Iya gue tau. Gue ini 'kan temen yang cuma kalo lagi dibutuhin doang baru di datengin. Udah biasa itu, gue ngerti kok." "Kok lo gitu 'sih, Jo?" "Kenapa? Kekanak-kanakan ya? Emang. Udah ya, gue duluan. Lagi banyak laporan lemburan," pamit Jojo yang langsung meninggalkan meja tempat makan siangnya di food court dengan langkah cepat. Ia tidak memiliki waktu untuk mengurusi temannya yang sudah biasa selalu sedikit melupakannya, dan sibuk dengan kesenangan dirinya tanpa memikirkan perasaan orang lain. Permasalahannya saja akan tuntutan dari Marina yang selalu menyinggung mengenai pernikahan, saat ini datang bersamaan dengan permasalahan dari atasan di kantor yang sama memberikan penekanan dan tuntutan terhadap wanita itu sehingga membuat Jojo ingin rehat sejenak dari kehidupannya yang lama-lama terasa menyebalkan. Dan benar saja, baru saja Jojo mendudukkan diri di kursi kantornya. Sang atasan pun datang menghampiri meja kerjanya dan langsung memberikan pertanyaan dengan nada yang terdengar sangat tidak enak. Wanita yang hampir menyentuh usia setengah abad itu, namun masih terlihat pancaran ketegasan serta struktur wajah yang selalu serius dan tidak pernah main-main, cukup disegani oleh pegawai-pegawai yang bahkan bukan atasannya dan sama sekali tidak berhubungan dengan antar divisi satu sama lain. "Handphone kamu kemana?" "Rusak, Bu. Saya belom bisa gantinya." "Kamu tahu 'kan handphone itu sudah seperti nyawa? Kamu kerja tapi nggak ada handphone, kalau ada apa-apa gimana? Saya nggak bisa ngabarin kamu, dan juga sebaliknya. Kita hidup bukan di jaman batu lagi. Nggak bisa kamu ngasih alasan nggak bisa dihubungin dengan alasan handphone rusak. Seberat apa ngeluarin uang yang nggak perlu sampai puluhan juta, tapi kamu udah bisa dapetin handphone yang baru?" "Iya, Bu. Maaf. Nanti setelah selesai kerja, saya langsung cari handphone yang baru." "Terus revisi laporan saya tadi pagi dimana?" "Maaf, Bu. Saya belum sempat ngerjainnya. Saya lagi kejar laporan lemburan sebelum cut-off." "Lemburan nanti saja, revisi dulu. Nanti sore harus langsung e-mail ke saya." "Baik, Bu." Perginya Verren, sang atasan membuat Jojo langsung mesandarkan punggungnya pada sandaran kursi sambil mengusap wajahnya kasar. Tidak terasa setitik air mata baru saja menetes dari mata Jojo setelah menerima tekanan yang lagi-lagi harus ia rasakan disaat dirinya yang sama sekali tidak menyukai hal tersebut. Mentalnya yang sedang tidak stabil membuat emosional yang harus wanita itu pendam langsung beralih kepada tangisan yang tidak diinginkan, namun justru harus terjadi pada diri wanita itu. Untung saja keadaan sekitarnya yang cukup sepi karena para karyawan lainnya masih beristirahat makan siang, sehingga Jojo tidak merasa malu disaat dirinya yang saat ini sedang menjadi sasaran kemarahan sang atasan yang selalu berujung pada penekanan dan penuntutan akan kinerja Jojo yang hanya di mata wanita paruh baya itu tidak pernah terlihat memuaskan, dan bagi Jojo hal tersebut sudah tidak terasa asing lagi setelah tiga tahun lamanya ia dipimpin oleh pemimpin kelas diktator seperti Verren. Dan sungguh, Jojo merasa jika Jika saja dirinya yang masih merintis menuju jaminan kebahagiaan yang ingin ia rasakan di masa depan akan hasil kerja keras dari setiap tetesan keringatnya sendiri, mungkin sudah sejak tahun pertama Jojo bekerja di perusahaan perdagangan elektronik itu, ia memutuskan untuk lebih baik berhenti dari pekerjaannya yang sungguh sangat menyiksa. Dan mungkin saja, saat ini wanita itu masih belum berada di tahap sudah cukup dan tidak tahan lagi dalam pekerjaannya, sehingga hanya dengan menahan saja, Jojo dirasa masih sanggup untuk menjalaninya. Setelah beberapa saat Jojo menenangkan diri dari tangisan yang sebenarnya tidak berguna dan sama sekali tidak diperlukan, wanita itu pun langsung berfokus kepada pekerjaannya kembali setelah sebelumnya terpotong oleh jam istirahat. Jika Jojo sudah berfokus kepada pekerjaan, ia benar-benar begitu tenggelam dalam dunianya tanpa memikirkan keadaan yang sedang terjadi di sekitarnya. Bahkan dengan waktu pun wanita itu benar-benar juga tidak mempedulikan. Sifat perfeksionis yang dimiliki Jojo membuat wanita itu juga tidak bisa mengakhiri jam kerjanya sebelum seluruh list pekerjaan yang dimiliki hari itu juga belum selesai. Seperti saat ini, Jojo baru saja mematikan komputernya setelah lebih dari tujuh jam menatap layar segi empat itu, setelah seluruh pekerjaan hari ini telah selesai ia kerjakan. Wanita itu pun meregangkan sekaligus mengistirahatkan tubuhnya pada sandaran kursi yang ditempati, sambil melihat jam tangan yang sudah menunjukkan pukul sembilan tiga puluh pada tangan kanannya. Tidak mengejutkan lagi bagi Jojo jika lagi-lagi ia menjadi yang terbelakang pada saat jam kantor yang seharusnya sudah usai pada pukul lima sore tadi. Namun Jojo berusaha kuat dengan tidak mengeluh dan ia harus terus meyakinkan dirinya bahwa semua yang dilakukannya saat ini, demi kebahagiaan dirinya sendiri di masa depannya nanti. Menjadi seorang karyawan biasa terus-menerus dengan jumlah penghasilan yang hanya cukup untuk menghidupi dirinya selama satu bulan penuh, memang tidak mungkin menjanjikan setiap orang akan menjadi bintang diatas yang bisa memandang hal kecil di bawahnya. Tetapi menjadi hal kecil tidak akan selamanya terjadi jika pandai menggunakan batu loncatan sebagai peluang untuk berusaha. Dan Jojo, ingin seperti itu. Pekerjaan yang ia miliki saat ini akan ia jadikan batu loncatan menuju kesuksesan setelah ia berhasil mengepakkan sayapnya. Namun mengingat sang Ibu yang lebih ingin melihat dirinya menikah dibandingkan sukses terlebih dulu, membuat Jojo menjadi harus berpikir ulang dengan niatnya tersebut. Niat Jojo yang ingin mengistirahatkan tubuhnya sejenak sebelum pulang, wanita itu justru secara tidak sengaja tertidur di kursi kantor selama kurang lebih tiga puluh menit lamanya. Dirinya yang sudah begitu lelah sampai tidak tersadar sudah tertidur di sembarang tempat. Dengan terkejut Jojo pun langsung membuka mata dan bergegas merapikan barang-barangnya yang masih berantakan di atas meja. Namun, disaat wanita itu sedang memasukkan barang ke dalam tasnya, pandangan Jojo pun tertuju kepada suara fotocopy yang berjarak tidak jauh di depan sana yang ternyata hidup sendiri. Gangguan yang tidak ia rasakan dua hari lalu, namun kini justru kembali ia hadapi. Ingin rasanya Jojo mengabaikan hal yang sedang terjadi itu, tetapi bagaimana bisa wanita itu mengabaikannya jika sosok yang menyalakan mesin fotocopy tersebut sudah menampakkan wujudnya. Sosok yang dengan santainya menatap Jojo dengan senyuman yang justru membuat seseorang yang ditatap berubah menjadi mematung dan seakan tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Sebenarnya tidak ada yang perlu ditakutkan karena sosok yang sedang memperlihatkan wujudnya itu sama sekali tidak menyeramkan. Bahkan sosok tersebut benar-benar berwujud manusia, dari ujung kepala sampai ujung kaki pun terlihat sempurna layaknya seorang pria dewasa. Namun yang membuat Jojo tiba-tiba saja berubah menjadi patung karena ia yang tidak menyangka bisa melihat makhluk tidak kasat mata dengan kedua mata kepalanya sendiri. Bagaimana Jojo bisa tahu dan sangat yakin bahwa sosok tersebut tidak kasat mata? Karena sudah kesekian kalinya Jojo melihat sosok tersebut selalu menggunakan pakaian yang sama, setelan kemeja bewarna putih dan celana hitam panjangnya. Dan ditambah lagi dengan senyuman tetapi terus menatap Jojo dengan tubuh putih pucat dan sedikit tembus pandang pada bagian tubuhnya. "Jojo, apakah kamu bisa membantu saya?" Pertanyaan yang dilemparkan kepada wanita itu justru membuat sang pemilik nama langsung menjatuhkan tubuhnya ke lantai dan ketidaksadaran pun menyambut Jojo ke dalam kepasrahan akan bagaimana dengan nasib dirinya bersama makhluk tidak kasat mata itu, karena kini ia justru sudah pingsan di tempat dan pada saat waktu yang tidak tepat. *** To be continued . . .
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD