Mulut Beracun Jojo

1325 Words
Happy Reading . . . *** "Udah gila kali ya 'tuh orang? Ibu sama anak, sama-sama stress-nya. Belom lagi suara dua-duanya yang nggak kalah saing sama knalpot racing," gerutu seorang pria yang masih tidak percaya dengan dirinya yang baru saja mendapatkan hal tidak terduga. Gerry Morison, pria itu tidak pernah menyangka dengan dirinya yang baru saja memenuhi undangan pernikahan dari sang mantan kekasihnya, namun justru membawanya ke dalam sebuah kesialan. Karena baru saja ia keluar dari gedung hotel dimana acara tersebut dilaksanakan, ia langsung dihadapkan dengan seorang ibu dan anak yang memiliki kelakuan sama bar-barnya. "Cakep ya dia." Suara yang tiba-tiba terdengar dari kursi penumpang di bagian sampingnya itu sangat mengejutkan Gerry yang sedang menyetir, hingga membuat pria itu langsung refleks sedikit menggoyangkan kemudi yang sedang dikendalikannya itu. "Sialan lo! Ngagetin aja!" Maki Gerry yang membuat sosok yang mengejutkannya tadi langsung tertawa. "Perasaan gue udah sering muncul tiba-tiba, tapi lo masih kagetan aja?" "Lo muncul disaat yang nggak tepat. Gue yang lagi nyetir kalo nggak bisa pegang kendali, bisa-bisa nanti gue bakal nyusul lo." "Nyusul aja deh. Biar gue ada temennya." "Pengen ngatain lo setan, tapi lo bukan setan." "Terus apa dong?" "Tau ahh... lo pikir aja sendiri! Gue masih emosi nih gara-gara ngadepin tingkah ibu-ibu jaman sekarang yang bar-barnya udah nggak ketolong lagi." "Biarin ibu-nya bar-bar, yang penting anaknya cakep." "Bodo amat!" "Namanya Josephine Natasha, tapi dipanggil Jojo. Lucu ya panggilannya, kayak orangnya aja. Apalagi kalo lagi ketakutan, lucunya bisa nambah seribu kali lipet. Rasanya pengen gue bungkus terus langsung gue unboxing di kamar." "Otak lu. Nggak jadi manusia, nggak jadi tak kasat mata parahnya sama aja." "Otak gue parahnya kalo sama cewek cakep doang." "Tapi ngomong-ngomong kenapa lo bisa tau siapa cewek tadi?" "Dunia ternyata emang kecil. Jangankan dunia, Jakarta aja yang bahkan ada lima titik bisa-bisanya gue ketemu sama dia di sini padahal nggak pernah janjian sebelumnya." "Gue yakin pasti lo ada maksud lain." "Emangnya kenapa?" "Dia nggak tau apa-apa." "Justru karena dia yang nggak tau apa-apa, kali aja dia bisa bantu gue. Dia bawahan di tempat nyokap gue kerja, dia yang paling intens komunikasi sama nyokap gue. Gue yakin dia bisa bantu." "Lo mau manfaatin dia?" "Bukan manfaatin, tapi minta tolong." "Minta tolong supaya mau dimanfaatin." "Lo yang nggak mau bantu gue mendingan diem aja. Bukannya bantuin, ini malah ngasih ceramah mulu tiap gue dateng." "Lo itu ambisius, Ndy. Gue yakin arti minta tolong sama manfaatin orang lain yang lo maksud itu punya arti yang sama." "Mending lu berkabung aja, karena mantan pacar lu lebih milih yang kaya dari pada yang ganteng." "Sialan lo! Ehh... tapi berarti gua lebih ganteng dong?" "Iya, untuk yang satu itu gue mau akuin. Tapi gimana nggak gue akuin, orang mantan pacar lu aja tadi udah kayak lagi gandeng sapi limosin." "Heh! Kalo ngomong... suka bener," tegur Gerry yang justru membuat keduanya langsung tertawa keras. "Abis gede banget." "Apanya?" Tanya Gerry setelah keduanya menghentikan tawa. "Badannya lah. Kalo 'itu'-nya sih... gue sangat nggak yakin." "Kurang ajar b**o lo, Ndy!" "Udah ahh... mending gue cabut aja. Gue mau ngeliatin muka bidadari cakep yang sebelum tidur tapi banyak perawatannya dulu." "Lo ngikutin dia ya?" "Bye, Gerry." Berakhirnya kalimat perpisahan itu, membuat Gerry langsung menghela nafas dengan berat bersamaan dengan menghilangnya sosok yang sebelumnya berada di kursi penumpang mobil tersebut. Sosok yang senang sekali mendatangi pria itu dengan tiba-tiba disaat sosok tersebut sedang membutuhkan bantuan, teman bicara, atau hanya sekedar bermain-main saja. Namun sosok itu bukanlah hantu atau teman khayalan Gerry saja, tetapi ia adalah sahabat pria itu. Yang roh atau jiwanya sedang berkeliaran di luar sana, namun tidak tahu bagaimana caranya untuk bisa kembali. Dan sudah cukup lama sosok tersebut mencari jalan keluar agar ia bisa kembali kepada tubuhnya. Raga yang sedang terbaring dengan tidak berdaya di rumah sakit itulah adalah tujuan dari sosok sahabat Gerry bernama Andy. Sosok yang sama, yang selama ini mulai mengganggu ketenangan hidup seorang Josephine Natasha. *** "Jojo kesel, Ibu!" "Lagian, gara-gara lu sendiri yang nggak punya pasangan dari di antara yang lain, jadi lu yang malah sensi sendiri." "Kelly 'kan udah janji nggak bakal ninggalin Jojo sendirian, Bu. Ehh... ini, baru juga masuk Hall tempat itu resepsi, dia udah langsung disibukkin sama temen-temennya. Jojo 'kan jadi krik tau?" "Kalo lu pinter ya, mending lu cari laki yang kaya, cakep, terus single. Dari pada lu kesel-kesel sendiri, terus ujung-ujungnya handphone lu yang malah jadi korbannya." "Handphone Jojo nggak bakal jadi korban kalo nggak ada cowok rese yang nggak punya akhlak." "Nggak punya akhlak-nggak punya akhlak tapi tunggangannya bukan sembarangan. Pengen tuh gua punya mobil yang pintunya cuma dua gitu. Apalagi yang warna merah cabe, mentereng bener dah." "Mulai deh nyebelin-nya. Ibu pikirannya materi mulu." "Heh, gua kasih tau lu. Jaman sekarang tuh kalo nggak mikirin materi, emangnya setiap hari lu mau makan apaan? Makan sabar? 'Kan nggak?" "Tapi nggak gitu dong Bu, cara berpikirnya." "Terus gimana? Coba, gua pengen denger dari anak gua yang katanya pinter ini." "Ibu ihh... jangan gitu, Jojo 'kan jadi malu dibilang pinter." Balas Jojo yang tertawa dengan geli mendengar ucapannya sendiri. "Udah gila lu ya? Ketawa-tawa sendiri." "Udah ah.. pokoknya Ibu nggak usah bahas-bahas tentang cowok, materi, jodoh untuk Jojo, dan lain-lain yang berhubungan sama urusan pribadi Jojo. Titik!" "Bagi gua nggak ada titik sampe minimal lu bisa punya pacar." "Ngomong sama Ibu nggak ada selesainya." "Emangnya kenapa 'sih, Jo? Gua heran banget kayaknya lu anti banget sama cowok." "Bukannya anti, Ibu. Tapi Jojo nggak suka Ibu mau coba- coba cariin jodoh buat Jojo." "Kalo nggak suka, yaudah cari cowok sendiri yang mau jadi pacar lu. Cari yang tipe lu, cocok nggak sama lu, terus abis itu kenalin ke gua." "Tapi Jojo juga masih males punya hubungan sama cowok." "Perasaan terakhir lu pacaran pas kuliah lu selesai deh, dan itu udah tiga tahun yang lalu 'kan?" "Iya. Terus?" "Terus dimana kata males yang lu maksud?" "Jojo males kenalan sama cowok dari nol, dari awal lagi." "Jadi lu belom move on ceritanya?" "Idihh... ngapain masih mikirin cowok nggak tau diri sama sok kegantengan." "Terus kalo lu males kenalan sama cowok dari nol lagi, lu mau yang langsung kawin aja?" "Nikah ibu Marina, urghh... darah tinggi Jojo lama-lama ngomong sama Ibu." "Sama aja." "Nggak tau ahh... pokoknya Jojo masih pengen sendiri, masih pengen seneng-seneng pake duit dari hasil keringet sendiri, pengen foya-foya dulu tanpa harus pusing mikirin suami yang suka lupa kalo abis taro barang, terus sama anak yang suka rewel kalo nggak dikasih barang yang lagi dipengenin. Lagipula bucket list Jojo sama Ibu yang pengen liburan keliling dunia aja belom ke-checklist. Emangnya Ibu udah siap mau kehilangan Jojo? Terus tinggal di rumah sendirian yang bahkan mbok Min aja belum tentu bisa selama-lamanya kerja di rumah, sama buat nemenin Ibu kalo lagi kesepian. Belom lagi kalo nggak ada orang yang jadi korban omelan Ibu, waktu itu Ibu 'kan pernah ngomong sendiri kalo sehari aja nggak ngomelin orang, tenggorokannya bisa langsung radang. Ibu yakin bisa jalanin sama ngelakuin semua itu tanpa ngeliat Jojo setiap hari?" "Kok lu ngomongnya jadi gitu sih? Seakan-akan lu mau pergi selama-lamanya dari gua." "Lohh... semua orang yang udah nikah pasti bakal tinggal jauh dari orangtuanya 'kan, Bu? Begitu pun juga sama Jojo. Kalo Jojo udah nikah, nanti Jojo juga akan pergi dari rumah terus ikut tinggal sama suami." "Tapi lu 'kan bisa tinggal di rumah gua sama laki lu nanti. Kasur lu muat 'kan buat dua orang?" "Tinggal di rumah pondok mertua indah mana enak, Bu? Nggak leluasa kata orang-orang tuh." "Ahh... bodo amat! Nggak usah bahas-bahas itu dulu." "Bahas yang mana? Perjodohan Jojo atau Jojo yang mau ninggalin Ibu?" "Gua bilang jangan dibahas dulu." "Ciee... nggak bisa kehilangan Jojo nih yee..." "Diem lu! Cepet buka pager sana," balas Marina yang mengalihkan pembicaraan dan bertepatan juga dengan ia yang menghentikan mobil tepat di depan pintu pagar rumahnya. "Makanya, jangan jodoh-jodohin Jojo. Jadi kepikiran 'kan sekarang?" Ledek Jojo dengan tertawa kecil sambil keluar dari dalam mobil untuk membukakan pintu pagar. *** To be continued . . .
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD