Happy Reading . . .
***
Dengan kesal wanita itu melangkah keluar dari gedung hotel yang ia datangi untuk memenuhi undangan teman dari temannya itu. Dan saat ini perasaan Jojo sedang begitu marah dengan temannya itu, Kelly. Jojo marah karena Kelly tidak menepati janjinya seperti yang sudah dibicarakan melalui telepon tadi pagi. Tentu saja mengenai dirinya yang ditinggal sendirian dan temannya itu yang sibuk sendiri dengan teman-teman, sehingga membiarkan Jojo menjadi sendirian. Maka dari itu Jojo pun memutuskan untuk pulang saja tanpa berpamitan dengan Kelly terlebih dahulu.
Setelah keluar dari lobby, Jojo harus berjalan sedikit dari wilayah hotel untuk mencari taksi di luar sana. Tetapi mengingat waktu yang sudah menunjukkan pukul 9 malam dan akan sedikit sulit rasanya mencari taksi yang berlalu lalang, Jojo pun memutuskan mengambil ponsel dari dalam clutch yang dipegangnya untuk memesan taksi online melalui aplikasi saja. Namun disaat wanita itu sedang berkonsentrasi mengetik alamat lengkap titik lokasi penjemputannya, tiba-tiba saja sebuah klason dari arah belakangnya berbunyi dengan sangat kencang dan cukup panjang menyapa indra pendengaran Jojo dan tentu membuatnya terkejut.
Jojo yang tidak tersadar dengan ia yang ternyata sudah berjalan di tengah jalanan sehingga menghalangi lalu lalang kendaraan yang hendak keluar dari gedung hotel tersebut, tentu akan melakukan hal yang sama juga. Namun jika klakson kendaraan yang berbunyi tepat dibelakang posisi dimana seseorang berada, tentu siapapun yang akan mendengarnya akan sangat terkejut. Bahkan saking terkejutnya, wanita itu pun sampai berteriak dengan sangat kencang disusul dengan dirinya yang secara tidak sengaja sudah menjatuhkan ponselnya dengan posisi layar yang menghadap tanah.
"Woi! Kalo jalan jangan ditengah jalan dong!" Maki sang pemilik mobil yang kini sudah turun dari mobilnya, lalu menghampiri keberadaan Jojo.
Sedangkan Jojo yang sedang diprotes itu justru tidak mengindahkannya, karena kini ia lebih mempedulikan ponsel miliknya yang sudah tergeletak tidak berdaya di aspal jalanan itu. Tangisan kecil pun mulai wanita itu keluarkan sambil mengambil ponsel yang layarnya sudah retak dan kondisinya pun juga sudah mati.
"Malah nangis lagi?" Ujar pemilik mobil yang ternyata seorang pria, dengan cukup bingung karena Jojo yang justru menangis.
"Handphone gue... -ucap Jojo dengan miris- ...handphone gue mati," sambungnya dengan tangisan yang semakin menjadi.
"Itu karena salah anda yang sudah jalan tidak pada tempatnya."
Mendengar ucapan tersebut, Jojo pun mengarahkan pandangan menuju wajah seorang pria di hadapannya. Dari ujung kepala sampai ujung kaki diam-diam Jojo menilainya. Pria dengan tinggi yang berkisaran disekitar seratus delapan puluh centi, tubuh yang terlihat gagah dibalik setelan pakaian rapinya itu, serta penampilan yang terlihat cukup menarik karena sama rapinya dengan pakaian yang pria itu pakai. Namun wajah yang bagi wanita itu bisa masuk ke dalam kategori tampan, justru sudah langsung digantikan dengan kekesalan karena pria itu yang tidak ingin bertanggung jawab setelah hal yang sudah dilakukannya tadi, tetapi justru ia menyalahkan wanita itu.
"Lo nyalahin gue? 'Kan lo yang salah," balas Jojo dengan sesenggukan. "Gara-gara klakson lo yang ngagetin itu, gue jadi nggak sengaja sampe jatohin handphone."
"Apakah saya salah membunyikan klakson disaat melihat seseorang yang sedang berjalan di tengah jalan, dan orang itu justru menghalangi orang lain yang juga ingin melintas jalanan ini? Tindakan saya itu sudah benar, 'kan?"
"Tapi nggak usah ngagetin. Coba lo lebih sabar sama tenang, handphone gue nggak bakalan jadi korbannya!" Seru Jojo sambil menunjukkan ponselnya yang sudah rusak.
"Okay, saya minta maaf. Karena sudah membuat anda terkejut dan juga handphone anda yang sampai menjadi rusak."
"Minta maaf doang?"
"Seharusnya anda yang meminta maaf kepada saya karena sudah berjalan tidak pada tempatnya. Sudah lebih baik saya mencoba menurunkan rasa amarah saya karena sedang menghadapi wanita seperti anda."
"Emangnya gue kayak apa?"
"Sudah, tidak perlu dibahas lagi. Yang terpenting permasalahan di antara kita sudah selesai karena saya sudah mengalah dengan meminta maaf terlebih dahulu."
"Handphone gue mati."
"Terus?"
"Jadinya ini gimana? Gue nggak bisa pulang tau! Orang tadi gue 'tuh lagi mau pesen taksi online. Gara-gara lo kagetin, handphone gue jadi sekarat gini. Tanggung jawab!"
"Handphone anda rusak karena keteledoran anda yang justru menjatuhkannyan sendiri, 'kan?"
Merasa pria di hadapannya benar-benar tidak ingin bertanggung jawab, Jojo pun langsung mendudukkan dirinya di atas aspal jalanan dan kembali mengeluarkan tangisan yang sudah berhenti tadi. Namun kali ini lebih terlihat seperti anak kecil yang sedang merajuk.
"Ibu... Jojo dijahatin sama orang," rajuk Jojo yang tentu langsung membuat pria itu merasa serba salah.
"Hei, tidak perlu seperti ini. Ayo, bangun."
Pria itu pun memegang kedua tangan Jojo untuk mencoba membangunkan wanita itu yang sedang merajuk di jalanan.
"Gue nggak bisa pulang."
"Iya, okay. Berhenti menangis dan bertingkah seperti ini, kita selesaikan semuanya sekarang juga. Saya akan mengantarkan anda pulang sampai di rumah."
"Gue mau telepon ibu aja."
"Ibu siapa?"
"Ya ibu gue lah. Masa ibu lo."
"Ya udah telepon aja."
"Handphone gue 'kan mati."
"Ck... bilang aja mau pinjem handphone."
"Yaudah mana?"
Pria itu pun mengambil ponsel miliknya di dalam kantung celana, lalu memberikannya kepada Jojo. Dengan menakan nomor ponsel Marina yang sudah di luar ingatannya, Jojo pun langsung menghubungi sang ibu untuk meminta menjemputnya. Namun selain itu, Jojo juga memiliki rencana untuk mengerjai pria di hadapannya itu. Jojo harus memberikan pelajaran setelah pria itu yang sudah ingin tidak bertanggung jawab kepadanya.
"Ibu! Tolongin, Jojo mau diperkosa!" Seru Jojo dengan sedikit berteriak.
"Heh! Ngomong apa situ?" Tanya pria itu yang langsung panik dan ingin merebut ponselnya.
"Cepet tolongin Jojo, Bu! Jojo ada di deket pintu keluar hotel..."
Bersamaan dengan berakhirnya kalimat yang diucapkan Jojo, pria itu pun langsung merebut ponsel miliknya dan mengakhiri sambungan telepon tersebut.
"Saya sudah ingin menyelesaikan masalah yang tidak besar ini secara baik-baik ya. Tetapi anda justru bersikap kurang ajar dengan berbicara sembarangan seperti tadi. Maksudnya apa?"
"Nggak ada. Cuma mau ngasih pelajaran aja ke orang yang udah nggak mau bertanggung jawab abis ngerusakin barang orang lain," balas Jojo sambil beranjak berdiri dan berpura-pura memperlihatkan keberaniannya di hadapan pria itu.
"Siapa yang nggak mau bertanggung jawab? Bahkan saya juga sudah ingin mengantarkan anda pulang ke rumah, 'kan? Terus apalagi yang anda mau?"
"Handphone gue rusak gara-gara lo."
"Sebutkan handphone yang anda inginkan? Saat ini juga akan langsung saya ganti, bahkan tiga kali lipatnya."
"Tidak semudah itu Fulgoso."
"Apa itu Fulgoso?"
"Lo nggak perlu tau!"
"Ya sudah. Terus masalah perhandphone-nan gimana?"
"Ya nggak gimana-gimana. Lo tunggu aja di sini sampe ibu gue dateng."
"Saya nggak punya waktu untuk itu."
"Yaudah, pergi aja sana. Paling dua kali dua puluh empat jam lu jadi buron abis kena pasal pemerkosaan."
"Punya bukti?"
"Bukan polisi yang ngejar lo, tapi ibu gue. Lo nggak tau aja, ibu gue punya skill yang udah ngelewatin standar mau masuk polwan."
"Saya nggak takut!"
"Yang bilang lo penakut siapa? Kalo mau pergi, ya pergi aja sana."
Ucapan Jojo itu langsung membuat pria tersebut menjadi terdiam sesaat. Ia sedang berpikir sejenak akan hal apa yang harus ia lakukan saat ini juga. Namun cukup lama pemikiran itu berlangsung hingga menimbulkan keheningan di antara keduanya, tidak lama kemudian sebuah mobil pun berhenti tidak jauh dari keberadaan kedua orang yang sedang saling terdiam itu.
"Mana orangnya? Belom pernah dijadiin perkedel kali ya?"
Suara menggelegar itu pun langsung terdengar bersamaan dengan Marina yang turun dari mobil lalu menghampiri keberadaan sang anak.
"Lu ya yang mau perkosa anak gua?!" Tunjuk Marina dengan emosi kepada pria yang kini hanya bisa menelan air liurnya dengan perasaan serba salah dan takut saat melihat tingkah bar-bar seorang wanita yang katanya seorang ibu.
"Ng-nggak gitu, Bu. Ceritanya panjang, saya bisa jelasin." Balas pria itu dengan tergugup dan mencoba membela dirinya.
"Alah, alesan aja! Bilang aja lu mau macem-macemin anak gua. Belom pernah ngerasain bogem gua. Mau yang sampe mual doang? Atau yang sekalian keluar sama isi-isi perutnya?"
"Anak ibu yang berlebihan, Bu."
"Lu bilang anak gua berlebihan? Beneran mau kena bogem nih."
"Bukan gitu, Bu. Aduh... gimana ya? Saya jadi bingung mau jelasinnya. Tapi yang penting saya udah minta maaf sama anak ibu. Biarin deh yang salah memang saya. Saya yang nyetirnya nggak bener, Bu. Dan saya juga mau sumpah, kalau saya nggak ada pikiran mau ngelakuin hal negatif ke anak Ibu."
"Gua nggak peduli masalah sebenarnya apaan. Tapi kalo lu sampe beneran mau perkosa anak gua, bukan UGD yang jadi tempat peristirahatan lu. Tapi liang lahat yang gua gali sendiri, terus langsung gua kubur lu idup-idup di sana. Mau lu kayak gitu?"
"Ng-nggak mau, Bu. Sa-saya minta maaf sekali lagi, sama ibu dan anak ibu."
"Tulus nggak lu?"
"Iya, Bu. Itu dari lubuk hati saya yang paling dalam," balas pria itu yang mulai ciut melihat Marina yang semakin memperlihatkan ke bar-barannya.
"Siapa nama lu?"
"Ge-gerry. Nama saya Gerry, Bu."
"Yang tadi nelpon gua tadi pake nomer lu?"
"Iya, Bu."
"Gua simpen nomer lu. Boleh nggak?" Tanya Marina yang masih menggunakan nada ketusnya.
"Iya. Boleh, Bu."
Jojo yang sejak tadi memperhatikan percakapan kedua orang di hadapannya, kini sudah lebih berfokus kepada sang ibu yang sepertinya memiliki niat terselubung di balik ucapannya yang ingin menyimpan nomor ponsel milik pria itu.
"Yaudah, kelar masalahnya 'kan?"
"Saya mau ganti handphone anak ibu yang rusak karena saya."
"Nggak usah! Udah, sana lu pulang aja."
"Tapi saya bener mau gan-"
"Pulang!" Sela Marina dengan menaikan nada bicaranya dan membuat pria itu langsung menunduk untuk berpamitan sebelum dengan cepat melangkah menuju mobilnya.
Tinggalah Jojo dan Marina yang berada di sana, yang baru saja memperhatikan kepergian Gerry bersama mobilnya keluar dari wilayah hotel tersebut.
"Ihh ibu... kenapa dia nggak dibolehin buat gantiin handphone Jojo? 'Kan emang dia yang ngerusakin,” protesnya.
"Nggak usah banyak bacot! Cepetan masuk ke mobil, gua capek mau cepet-cepet sampe rumah terus tidur." Balas Marina yang sambil melangkah menghampiri mobilnya.
"Terus handphone Jojo gimana?" Ucap Jojo yang masih juga tidak ingin berhenti memikirkan nasib ponselnya itu.
"Ntar gua beliin. Gitu aja susah. Cepetan masuk! Apa pengen gua tinggal lu?"
"Ah... tunggu. Tapi bener ya, Bu? Beliin Jojo handphone baru," balas Jojo sambil melangkah menuju mobil sang ibu.
"Bawel!"
"Asik handphone baru! Yang dua puluh lima juta ya, Bu."
"Emang ngelunjak lu ya!" Seru Marina yang membuat Jojo langsung tertawa senang.
***
To be Continued . . .