Dua wanita itu, Nayara dan Ariana sibuk tengah memilih cincin pernikahan. Sedangkan, El Bara duduk santai sembari sibuk dengan ponselnya. Ia tengah memantau pekerjaannya dari jarak jauh. Tak terasa waktu berjalan begitu cepat.
"El Bara, sini?" Panggil Nayara, meminta putranya untuk mendekat ke arah di mana Ia berada bersama Ariana.
El Bara menoleh, menghentikan aktifitasnya. Segera menuruti apa yang Bundanya pinta. Ia mengantongi ponselnya ke dalam saku jas, dan segera mendekat ke arah sang Bunda
"Menurut kamu mana yang bagus?" Tanya Nayara kemudian menunjukan beberapa aneka ragam cincin pernikahan dalam box satu-satu.
El Bara menelisik satu persatu cincin itu. tidak butuh waktu lama, El Bara sudah memutuskannya. Pilihannya jatuh pada cincin dengan model logam mulia berwarna putih dengan bertahtakan satu berlian bulat ukuran sedang, yang dipadukan dengan berlian kecil di sisi samping masing-masing sebabanyak lima permata. Sedangkan, untuk cincin yang akan dikenakan El Bara nanti, terbuat dari logam perak dengan berlian kecil satu di tengahnya. Karena dalam islam, laki-laki tidak boleh memakai logam emas.
Nayara tersenyum setelah El Bara memutuskan dan menunjuk pilihannya, "Kalian ini memang ditakdirkan bersama. Pilihan cincin kalian sama."
El Bara sama sekali tak mendengarkan perkataan sang Bunda. Menurutnya itu terlalu berlebihan, soal pilihan yang sama, itupun hanya kebetulan.
"Sekalian juga. Belikan satu set perhiasan paling mahal buat calon mantu Bunda." Ucap El Bara setengah berteriak agar Ariana bisa mendengarnya dengan jelas.
Lalu, El Bara mundur beberapa langkah kebelakang dan mendekat pada Ariana. Kemudian berbisik, "Agar tidak dipandang rendah dan masih punya harga diri." El Bara menekan setiap katanya tanpa beban sedikitpun. Kemudian, diakhiri dengan menarik satu sudut bibirnya sembari melirik tajam.
Setelah mendengar bisikan barusan, Ariana mendelikan matanya ke arah El Bara. Sombong sekali!!! gerutunya dalam hati.
Nayara hanya tersenyum mendengar perkataan sang putra, "Mau kamu pilihkan sendiri, atau sama Bunda, atau sama calon istrimu langsung?" Tanya Nayara memberi pilihan.
"Terserah saja, sama Bunda atau sama Ariana langsung. Sama saja kan!" Jawab El Bara.
Nayara kemudian meminta kepada karyawan toko untuk memperlihatkan satu set perhiasan paling mahal. Nayara sendiri yang memilihkannya untuk sang menantu.
Ariana diam saja, Ia menyerahlan segalanya pada sang calon mertua. Mungkin, Ariana hanya sesekali menanggapi dengan anggukan atau senyuman bila diperlukan.
"Untuk cincin pernikahannya pake nama panggilan saja atau pake nama lengkap?" Tanya salah satu karyawan toko tersebut.
"Nama panggilan saja!"
"Nama lengkap saja!"
Ucap Ariana dan El Bara menjawab secara bersamaan.
Karyawan toko di buat bingung, yang benar mana? "Jadi, mau putuskan yang mana?" Sekali lagi bertanya untuk memastikan.
El Bara dan Ariana tetap pada jawaban awal.
Nayara segera menengahi mereka berdua, "Bisa nggak Mbak, kalau nama keduanya dalam satu cincin?" Tanya Nayara.
"Bisa, Nyonya. Atas nama siapa?" Tanya kembali karyawan tersebut.
"Bara dan Ariana, saja." Jawab Nayara.l singkat.
"Baiklah, Nyonya. Nanti dalam tiga hari, cincin pernikahan ini akan kami kirim ke alamat rumah Nyonya, karena harus di ubah dulu size keduanya, karena yang satu tampak kebesaran di jari Ariana. Sedangkan yang satu lagi, kekecilan di jari El Bara." jelas Karyawan
Nayara mengangguk. Setelah urusan mereka selesai. Mereka bertiga makan siang terlebih dahulu di tempat restaurant yang kebetulan dekat dengan toko perhiasan.
Setelahnya, Nayara pulang lebih dulu bersama supir dengan membawa satu set perhiasan untuk seserahan nanti. Sedangkan El Bara, harus mengantarkan kembali Ariana pulang atas sebuah tanggung jawab.
"Aku mau ke kamar kecil dulu, kamu bisa tunggu saja di mobil." Ucap Ariana pada El Bara. Ia segera berlalu menuju toilet.
"Ya sudah jangan lama-lama." sedetik kemudian, El Bara langsung melangkah menuju arah pintu keluar toko.
Tiba-tiba, langkah El Bara terhenti, kedua matanya menatap ke arah sepasang wanita dan pria yang tengah sibuk memilih cincin dengan tatapan penuh luka.
"Kamelia??? Dan pria itu, selingkuhannya." Tanpa sadar, kedua rahang El Bara menggeretak, kedua tangannya mengepal begitu kuat seolah tengah menahan sesuatu. Amarah.
Keduanya terlihat bahagia.
Seketika, kenangan masa lalu yang sudah setengah hilang di memori El Bara kembali utuh. Seperti tengah memutar video dalam ponsel. Terus mengulang otomatis di kepala El Bara begitu saja.
Dadanya tiba-tiba merasakan sesak luar biasa, seolah dalam ruangan yang luas ini tanpa udara sedikitpun.
Masih dengan rasa kecewa. El Bara segera melangkah cepat untuk keluar dari toko ini. Setengah berlari, Ia menuju area pakir dan segera masuk ke dalam mobil.
Dengan cepat, El Bara menekan pedal gas dan melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh. Tanpa sadar, El Bara meninggalkan seseorang di sana.
Fikirannya di penuhi kenangan masa lalu, saat masa-masa indah yang pernah dulu Ia lewati bersama wanita itu, wanita yang sangat El Bara cintai. Rasanya, kenapa begitu menyakitkan?
Kenangan itu hingga menyayat hatinya.
Nyatanya, selama dua tahun, tak membuat El Bara benar-benar melupakanny. Minimal, melupakan tragedi yang membuatnya terjatuh hingga ke dasar dalam lautan luka.
Tiba-tiba, suara dering ponsel menyadarkan El Bara dari kegilaannya. Ia memperlambat laju mobil hingga kemudian menepi di pinggir jalan untuk mengangkat sebuah panggilan.
Meski begitu, keselamatan jauh lebih penting.
"Hallo." Sapa El Bara lebih dulu. Ia tak melihat siapa yang menelepon dirinya saat ini.
"Hallo juga, El Bara. Bunda cuma mau mastiin aja. Kamu anterin Ariana pulang kan? Awas kalau sampe kamu suruh pulang sendirian." Ancam Nayara tak main-main.
Seketika, mulut El Bara menganga karena terkejut.
Ariana. Kenapa Aku sampai melupakan wanita itu??? Teriaknya prustasi dalam hati.
El Bara baru sadar, tanpa sengaja Ia meninggalkan wanita itu di toko. El Bara tampak memegang keningnya yang pusing tiba-tiba, menyisir dengan kelima jari tangannga hingga ke belakang rambut.
"Iya, Bun. Bara anterin lagi Ariana pulang sampai rumahnya, kalau bisa sampai depan pintu kamarnya." Jawab El Bara sekenanya.
Nayara malah tertawa, "Eits, bahaya. Kamu nakal ya. Ya sudah, Bunda cuma mau ngingetin itu aja, soalnya tiba-tiba perasaan Bunda jadi khawatir."
"Bunda nggak usah khawatir, orangnya ada di samping Bara kok. Kalau nggak percaya, nih ngomong sama orangnya." Ucap El Bara berbohong. kursi di sampingya kosong.
"Bunda percaya kok. Ya sudah, Assalamau'alaikum. Hati-hati ya."
"Wa'alaikum salam. Hemmpt... "
Kemudian, panggilan pun berakhir.
El Bara dengan cepat balik putar arah mobilnya menuju jalan ke toko tadi. Ternyata, jalan yang ditempuh lumayan jauh.
Di tengah perjalanan, El Bara menyetir sembari menghubungi nomor Ariana, namun sudah beberapa panggilan tak kunjung ada jawaban.
Sekalian juga, El Bara memeriksa sepanjang jalan, siapa tahu, Ariana memutuskan untuk jalan kaki. Ternyata tidak ada.
El Bara sudah tiba di tempat parkir toko tadi. Ia bisa bernafas lega, ketika melihat Ariana ternyata masih ada di sana, tengah duduk di bangku coran dekat pohon beringin besar.
El Bara segera menghampiri Ariana dengan mobilnya. Lalu, melakson beberapa kali untuk memeberi tahu bahwa dirinya kembali untuk menjemput.
Ariana menyadari mobil yang ada di depannya adalah milik El Bara, Ia langsung masuk ke dalam mobil tanpa sepatah katapun. Memakai seat bealt kemudian mengalihkan tatapannya ke arah jendela luar.
El Bara segera melajukan mobilnya kembali.
Dalam perjalanan, keduanya sama-sama bungkam. Anehnya, Ariana sama sekali tidak marah pada El Bara yang sudah meninggalkannya tadi di toko, bahkan dalam waktu cukup lama.
"Saya sudah menghubungi kamu beberapa kali, kenapa tidak diangkat?" Tanya El Bara akhirnya bicara, dengan nada bicara sedikit lembut. Namun, tatapan matanya fokus pada arah jalan. Ia mengakui kali ini sudah melakukan kesalahan.
Ariana tak menjawab sama sekali.
Kemudian, El Bara menoleh sebentar untuk melihat Ariana, apa dia baik-baik saja. Sekali lagi, El Bara menanyakan hal yang sama.
Sama juga, Ariana diam tak menjawab, bahkan wajahnya sama sekali tak menoleh sejak tadi, sepertinya pemandangan luar kaca jendela lebih menarik.
"Kamu tidak mendadak tuli kan, setelah aku tinggalkan sebentar?" Ucap El Bara mulai hilang kesabaran.
Ariana tampak mengusap wajahnya, lalu menoleh ke arah El Bara. Wajahnya terlihat merah dan sembab seperti habis menangis.
Seketika El Bara merasa bersalah, apakah sesedih itu Ariana saat di tinggalkan oleh dirinya.
"Apa kamu pikun? Kamu melarangku membawa tasku, dan ponselku ada di tas. Kau mengerti sekarang kenapa tak menjawab teleponmu???" Ketus Ariana kembali memalingkan wajahnya ke tempat semula. Rasa sesak di dadanya masih terasa, kejadian tadi membuatnya tak baik-baik saja. Bukan sepenuhnya karena El Bara.
El Bara tampak diam. Ariana pun diam. Tak seperti biasanya suka adu mulut. Hingga mereka berdua sampai Butik Ariana untuk mengambil tas lebih dulu.
El Bara menunggu dan berniat untuk mengantarkan Ariana sampai rumah sesuai perkataannya pada Bunda. Namun, Ariana menolak, Ia akan pulang dengan mobilnya sendiri.
El Bara tak suka di bantah, rasa bersalahnya membuatnya berdosa. Untuk meminta maaf, El Bara rasa tidak perlu, Ia melakukannya dengan tanpa sengaja. El Bara tetap memaksa, urusan mobil Ariana akan di antarkan oleh salah satu orang kepercayaan El Bara. Ariana pun tak ingin berdebat, kali ini Ia menurut saja.
Dalam perjalanan pulang, kembali sunyi, keduanya diam dengan fikiran masing-masing. Hingga mobil yang mereka tumpangi sudah sampai di rumah Ariana. Ini kali pertama bagi El Bara datang ke twmpat ini.
Malik menyambutnya di depan teras rumah, Ariana segera turun. Air wajahnya seketika berubah menjadi ceria seolah tak terjadi apa-apa hari ini.
"Assalamu'alaikum..."
"Wa'alaikum salam... " Jawab Malik.
Ariana menyalami Ayahnya. Kemudian, El Bara ikut turun dan melakukan hal yang sama seperti Ariana.
Malik tampak tersenyum penuh misteri, "Kemana dulu, baru pulang sampe sore begini?" Tanya Malik dengan selidik.
"Ayah kaya nggak tahu aja, Jalanan Jakarta kan emang suka macet. Jarak tempuh dari sana ke sini kan lumayan jauh." Jawab Ariana berbohong. Entahlah, menurut El Bara apakah Ariana tengah membela dirinya di depan Ayahnya sendiri.
"Betul, Om." Timpal El Bara cepat agar calon mertuanya percaya.
Malik menelisik wajah keduanya bergantian. "Ya sudah, masuk dulu. Sebentar lagi mau magrib, sholat berjamaah di sini saja." Ajak Malik.
El Bara mengangguk. Kemudian masuk ke dalam rumah bersamaan dengan Malik.
El Bara di ajak sholat di mesjid terdekat sekitar komplek perumahan Ariana. Sedangkan Ariana sholat di rumah saja.
Setelah pulang dari mesjid, El Bara dan Malik berbincang-bincang sebentar di ruang tamu. Entah apa yang mereka bicarakan, Ariana tidak perduli, Ia sibuk mempersiapkan makan malam bersama Mbok Surti, wanita yang sudah merawatnya dari kecil, Ariana sudah menganggapnya seperti Ibunya sendiri.
Ariana menuju ruang tamu, memanggil yang di sana untuk makan malam. Ternyata tak hanya berdua, Ada Ibra, sepertinya baru pulang dan langsung ikut bergabung, karena masih lengkap dengan jas kerjanya. Mereka bertiga tengah asyik berbincang-bincang, membahas soal bisnis. Ariana tanpa sengaja mendengarnya.
Ariana mengajak mereka semua untuk makan malam karena sudah waktunya. Namun, El Bara menolak dan mau pulang saja dengan alasan yang begitu mengagetkan.
"Makan malamnya nanti saja kalau sudah resmi jadi suami Ariana." El Bara mengucapkannya seolah benar saja.
Bahkan, Ariana yang mendengarnya saja ingin muntah. Memang pria ini sangat pandai berakting.
"Nanti nyesel loh nggak nyobain masakan putri, Ayah." Ucap Malik menggodanya.
"Tidak apa-apa. Nanti juga setelah menikah, Bara akan dimasakin terus sama putri Ayah." Jawabnya semakin ngawur.
Ariana ingin muntah lebih banyak kali ini. Ayah. Sejak kapan El Bara mengganti kata Om dengan Ayah. Cepat sekali akrab mereke berdua ini.
"Baiklah." Malik hanya mengulum senyum, berani sekali calon menatunya ini menggoda putrinya langsung di depan matanya.
"Kalau begitu, El Bara pamit dulu. Assalamu'alaikum." El Bara mencium tangan calon mertuanya.
"Wa'alaikum salam." Jawab serempak.