Bab 10 : First Night

2106 Words
Ariana menatap dirinya di cermin. Wajahnya baru saja dipoles oleh MUA ternama. Yang tadinya terlihat cantik natural kini wajah Ariana semakin cantik, sampai dirinya sendiri tak mengenali wajahnya. "Mbak cantik banget. Sejarah saya dalam make-up pengantin. Baru kali ini merias sampe cantiknya pake banget." Puji terus sang perias, kini sedang mengabadikan Ariana dalam ponsel mahalnya. Untuk Ia unggah nanti di sosmed sebagai bukti. Ariana menanggapinya dengan tersenyum, sebisa mungkin hari ini Ia harus menguatkan hatinya, tersenyum sepanjang acara, melihat betapa bahagianya sang Ayah sejak kemarin yang begitu antusias. Jangan sampai ada air mata yang keluar dari sudut matanya. Tiga jam sebelumnya... Ariana masih dengan wajah polosnya baru saja menunaikan sholat dhuha, Ia masih lengkap memakai mukena tiba-tiba dikagetkan oleh kedatangan sang Ayah dengan membawa sarapan dalam nampan seperti biasa. "Sarapan dulu, putri Ayah." Ucap Malik dengan senyum panjang menghiasi wajahnya sejak tadi. "Ayah nggak perlu repot-repot bawain sarapan segala. Ariana bisa turun dan sarapan di meja makan." Sanggah Ariana tak enak hati. Masih dengan memakai mukena, Ariana mendekati sang Ayah yang sudah duduk di sova ruang kamar hotel. "Tidak apa-apa. Ayah suka melakukannya. Sini, Ayah suapin." Malik dengan tangan kanannya sudah siap menyuapi putrinya untuk terakhir kalinya. Karena selanjutnya Ariana akan pergi di gondol sang suami. Seketika, sudut matanya sudah basah. Ini adalah air mata kebahagiaan. "Ayah... " lirih Ariana. Ia menerima suapan dari sang Ayah dan mengunyahnya. Melihat basah dari pelupuk mata sang Ayah, Ariana segera mengusapnya dengan lembut. "Ariana..." panggil Malik dengan nada panjang dan terlihat sedih. Ia menatap lekat Putri tersayang. "Ayah ingin memberikan pesan kecil padamu. Jagalah nama baik suamimu, Ariana. Patuh dan selalu meminta ridho padanya. Karena, ridho istri ada pada suaminya, Nak." Ucap Malik memberi nasihat. Ariana menatap penuh sang Ayah, lalu mengangguk apa yang dikatakannya. "Terimakasih, Ariana. Ayah tahu, Kau belum mencintainya. Ayah yakin, dengan seiringnya waktu dan kebersamaan, rasa cinta dan nyaman akan datang juga. Dan, jika cinta itu sudah datang, perjuangkanlah hak mu sebagai istri. El Bara akan menjadi suami yang bertanggung jawab, Ayah sangat yakin hal itu." Ariana tampak menunduk, untuk ini entahlah, Ariana tak tahu dan tak bisa berjanji dengan perasaannya. Hati dan lukanya masih menyatu. Kemudian, Malik menarik wajah putrinya, mengecup kening Ariana begitu dalam beriringan air mata yang semakin mengalir, "Berjanjilah pada Ayah Ariana. Kau akan bahagia, dan selalu tersenyum." Ucap Malik menatap penuh pengharapan. Ariana tersenyum panjang dan mengiyakan saja, yang sebenarnya dalam hati berteriak, "Aku tidak bisa berjanji padamu, Ayah. Maafkan, Aku." Ariana dalam lamunannya dikagetkan dengan kedatanagan Alia, sang sahabat. "Pengantin malah melamun aja." Ariana terlonjak kaget, Namun segera menetralisir keadaan, "Alia... " pekiknya memanggil nama sahabat begitu manja. Alia terkekeh. Namun, detik selanjutnya Alia menatap sang sahabat begitu dalam, "Kamu cantik sekali, Ariana. Aku yakin, calon suamimu pasti akan jatuh cinta mulai sekarang." Ucapnya dengan sengaja menggoda. "Apa-apaan sih, Cantik itu tak menjamin rasa, Alia. Kalau iya, kenapa nasibku dulu di khianati oleh Erlangga." "Subhanalloh, Ariana... Kamu masih mengingat Erlangga???" Tanyanya seolah tak tahu, Ia hanya berpura-pura sebenarnya. "Ishy... Bukan begitu" Ariana kemudian melempar tatapannya ke sembarang arah. "Tak ada yang tak mungkin untuk Sang Khalik, Ariana. jika sudah berkehendak dengan perasaan kalian berdua. Tapi, itupun tak mudah begitu saja, Kamu pun harus berusaha melupakan masa lalu dan menerima hubungan sekarang." "Iya, iya, Ustadzah cantik." Alia semakin gemas saja dengan kelakuan sahabatnya, jika tidak sayang dengan make-up di wajah sahabatnya, Alia sudah mencubit pipi Ariana begitu gemas. Namun, Ia menahannya dengan kedua tangannya melayang geregetan. "Awas ya kalau kamu cubit pipi aku." Ancam Ariana sudah tahu apa yang akan sahabatnya lakukan. "Nggak, Ariana. Aku tahan. Aku kasihan saja sama tukang make-upnya dua jam molesin wajah kamu." "Dasar... " "Sebentar lagi, Akad akan di mulai. Kita nggak mungkin berantem kan?" "Gila ya kamu." Alia tertawa, kemudian di susul Ariana. Sebenarnya, Alia hanya berusaha menghilangkan kegugupan sahabatnya menjelang ijab kabul, yang katanya akan sangat mendebarkan. Tapi, entahlah untuk Ariana. Ia meras berdebar atau malah merasakan hal yang lain. Setelah ijab kabul terucap, Alia memeluk sang sahabat, "Selamat, Ariana. Sekarang kamu sudah sah menjadi istri seseorang." Di akhiri dengan senyum bahagia. "Sudah siap bertemu suamimu." Ledek Alia lagi. Ariana seketika menyubit lengan Alia, Alia mengaduh kesakitan. "Jangan meledekku, Alia." Sekali lagi, Ariana menatap dirinya utuh di pantulan cermin sebelum benar-benar keluar untuk bertemu semua orang. Gaun pengantin warna putih terlihat mewah dan anggun sangat pas di kenakan di tubuh Ariana. Ibu mertuanya yang memilihkannya. Soal penampilan bahkan make-up pun satu selera dengan Ariana. Semuanya, Ariana suka. ... Keduanya sama-sama memberi jarak saat dalam hatinya mengingat luka. Keduanya kembali menatap dalam diam, baik Ariana maupun El Bara. "Sudah selesai?" Tanya El Bara kemudian pada sang fotografer mengalihkan kecanggungannya. Degub jantungnya yang masih berdetak tak karuan. Fotografer yang fokus memeriksa hasil jepretan pada lensa kameranya mengacungkan satu jempol tangan sebagai jawaban dari pertanyaan El Bara. "Sip, mantap. Pokoknya di jamin sae pisan." Kini menoleh ke arah El Bara dengan memberikan senyum ramahnya. Masih dalam keadaan canggung, El Bara dan Ariana duduk di pelaminan, menyalami tamu setiap kali yang datang. Ribuan tamu dari pihak dua keluarga membuat mereka merasa lelah hingga acara sudah sampai pada puncaknya dan selesai. Sengaja, rangkain acara tak memakan waktu lama hingga malam. Menjelang sore, acara sudah selesai. Mereka lakukan agar bisa istirahat. Sesuai tradisi keluarga ELPA, menantu perempuan akan langsung dibawa pulang kerumah pihak suami. Ariana sudah berada di dalam mobil, tentunya dengan El Bara. Sebelumnya sudah berpamitan pada keluarga. Dan untuk berpamitan tak semudah itu, tak ada perpisahan yang menitikan air mata. Tapi, Malik merelakannya karena sudah menjadi takdir alam. Tak bosan-bosannya, Malik terus berkata pada sang mantu, "Jaga putriku. Jika melakukan kesalahan tolong bimbing Dia dengan kasih sayang. Jangan pernah sesekali, melayangkan kekerasan dalam hubungan, atau membentaknya. Sejatinya pria selalu berlaku lembut pada wanita, layaknya pada Ibumu." Begitupun dengan sang Abang, Ibrahim Malik, dengan menepuk pundak El Bara, "Tolong jaga adikku. Dia memang agak berbeda dari wanita pada biasanya. Agak judes tapi juga manja. Semoga kau bisa mengimbanginya." Kini, Ariana sudah berada di kediaman Keluarga El Pradipta. Ini pertama kalinya menginjakan kaki di rumah ini. Satu kata, Rumah yang unik, karena berbeda dari yang lain. Konsepnya perpaduan rumah jaman dulu dan jaman modern. Kata mertuanya, Ini yang design Ayah El Bara sendiri. Sebagai hadiah pernikahan. Mereka pun dulu menikah karena di jodohkan. Dan lihat sekarang, tiga putra tampan sebagai buktinya. Jika cinta akan datang karena terbiasa bersama. Nayara pun berharap demikian untuk hubungan El Bara dan Ariana. Nayara mengantar Ariana ke kemar El Bara. Kamar yang luas dengan khas design pria pada umunya. Sangat rapi untuk ukuran seorang pria. "Kamar El Bara, berarti kamarmu juga. Semoga kau betah tinggal di sini, Ariana. Jika butuh apa-apa, beritahu Bunda ya." Ucap Nayara sembari mengelus pundak Ariana dengan lembut. Setelah mendapat anggukan dari menantu, Nayara segera keluar kamar. Ariana duduk di bibir ranjang, sebenarnya Ia bingung apa yang akan Ia lukukan sekarang. Melihat jam di dinding, Ia memutuskan untuk bersiap-siap sholat magrib, karena sebentar lagi, waktu magrib akan datang. Ariana mengambil sesuatu dalam kopernya, yang di bawah oleh salah satu art di rumah ini tadi. Entahlah, Ariana tak menghitung ada berapa art, yang pasti lebih dari lima orang. Ariana segera beranjak menuju toilet, namun dikagetkan oleh suara pintu terbuka, menoleh sekejap, rupanya El Bara yang datang. Merasa tak perduli, Ariana meloloskan langkahnya untuk masuk tanpa saling menyapa. Di dalam sana, Ariana segera membuka gaun dan juga kerudung yang membalut tubuh dan kepalanya. Untung saja mudah, tidak banyak aksesoris yang menempel, dan gaun pun mudah di buka. Ia segera menghapus make-up dan membersihkan dirinya di guyuran shower air hangat. Lelahnya seakan berangsur mgenghilang dibawa oleh aliran air mengalir. Setelah lima belas menit, Ariana sudah selesai, Ia memakai baju di dalam toilet yang Ia bawa tadi lengkap dengam hijab instannya, dan segera mengambil wudhu. Setelahnya segera keluar. Tak menemukan El Bara, sepertinya Ia pergi lagi saat Ariana tengah berada di toilet. Tak perduli, Ia segera mengambil mukena dan menunaikan sholat magrib, adzan sudah berkumandang sejak tadi. Ariana hendak menghamparkan sejadah. Namun, Ia di buat bingung karena tak tahu arah kiblat. Munis-nya tidak ada El Bara begini. Sekedar untuk bertanya saja tidak bisa. Kan tidak lucu, jika harus bertanya kepada orang lain, lantas keberadaan El Bara akan dipertanyakan. Dan itu akan merembet ke pertanyaan yang lainnya. Dengan yakin, Ariana menghamparkan sejadahnya kali ini, semoga saja tidak salah arah kiblat. Ia segera menunaikan sholat magrib. Tak lama, El Bara kembali datang, sudah dengan pakaian lengkap koko dan sarung, Ia juga membawa pakaian bekas pakai tadi menuju arah toilet. Sunyi, tanpa ada yang mau menyapa lebih dulu, seolah keduanya sama-sama tidak merasa ada kehadiran orang lain di ruangan itu. Kemudian, El Bara seperti mengambil sesuatu di dalam nakas tempat tidurnya, wujudnya dalam amolop coklat besar. Ia kemudian duduk di sova yang memang ada lengkap dengan mejanya. Amplop coklat itu Ia taro di atas meja sova. Mengambil remot lalu menyalakan televisi. mencoba mengalihkan sesuatu. "Kau ke sini!" Perintah El Bara dengan nada dingin. Ariana tampak bingung, lalu menunjuk dirinya sendiri seolah memastikan apakah El Bara bicara padanya. "Memangnya, di sini ada orang lain selain Kau dan Aku?" Ucap El Bara kembali dengan nada geram. Ariana dengan kesalnya segera mendekat dan ikut duduk di sova yang memang terpisah. Ia menggerutu, apa susahnya bicara baik-baik. "Buka itu?" Tunjuk El Bara pada amplop coklat besar. Ariana menurut, Ia membukanya, satu kertas berisi tulisan dan satunya lagi berisi tanda tangan di atas materai, dengan judul, "Perjanjian pernikahan" "Kau boleh membacanya dulu. Jika ada yang tidak setuju, katakan?" Ucap El Bara. Ariana mulai membaca poin satu persatu. "Satu. Tidak perlu menjalankan peran suami istri sebagai mestinya." "Kamu tidak perlu melayani saya, menyiapkan segala keperluan saya, seperti memasak untuk saya, dan juga... " El Bara menjeda sebentar, "...No s*x. Tapi, Saya akan tetap memberi kamu uang perbulan. " Ucap El Bara. "Plus, pisah kamar!!!" Timpal Ariana. El Bara mengangguk. "Plus, tidak mungkin kita bisa melakukan semua itu tanpa keluar dari rumah ini, kan?" El Bara tampak berfikir, "Pisah rumah? Itu urusan mudah, yang susah adalah meminta ijin pada Bunda dan Ayah." "Itu akan menjadi urusanmu, cari alasan sendiri." Ariana melanjutkan membaca, "Dua. Tidak mencampuri urusan pribadi." "Bukan berarti bisa dekat dengan pria mana saja, apalagi sampai menjalin hubungan. Kau bisa pergi kemana saja asal masih dalam batas wajar." Jelas El Bara. Ariana setuju, "Tiga. Harus menjaga nama baik pasangan." "Kembali ke poin dua, salah satunya. Dan, kita harus berpura-pura menjadi pasangan suami istri sebagaimana mestinya di depan keluarga masing-masing." Jelas El Bara lagi. "Jika ada keperluan mendesak, Masing-masing harus siap dan bersedia." Lanjutnya lagi. Ariana mengangguk. "Empat. Tidak boleh dilanggar. Jika dilanggar, konsekuensinya harus membayar sesuai yang di inginkan oleh pihak yang dirugikan." El Bara mengangguk, "Apa saja dan harus mau melaksankannya!!!" "Ada pertanyaan tambahan! Apakah Aku masih di ijinkan bekerja." Tanya Ariana. "Balik ke poin dua, Tidak mencampuri urusan masing-masing termasuk kau mau bekerja atau tidak. Karena tidak bekerja pun kau masih bisa bergaya, uang bulanan dariku akan lebih dari cukup." Ungkap El Bara tanpa perasaan. "Kau... " Harga diri Ariana serasa direndahkan. Ariana rasa, El Bara ini suka sekali berdebat setiap kali berbicara, dan kali ini Ia memilih tak melanjutkan ucapannya, sebenarnya bisa saja balik berdebat. Namun, apa bedanya El Bara dengan dirinya, kalau begitu "Ya sudahlah... " Keduanya memutuskan untuk tanda tangan setelah menyepakati isi perjanjian tersebut. Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu. Keduanya sama-sama menatap dan El Bara segera menyembunyikan amplop coklat tersebut di balik bantal sova. Setelah aman, Ariana membuka pintu, salah satu art memberitahukan bahwa El Bara dan Ariana di tunggu makan malam keluarga di bawah. Ariana mengatakan akan seger menyusul ke bawah bersama sang suami. Sebelum turun ke bawah, Ariana dan El Bara harus mau melaksanakan poin ke tiga. Mereka mulai bersandiwara sejak turun dari tangga, bersikap sewajarnya agar keluarga tak curiga. "Ini pengantin baru yang ditunggu-tunggu muncul juga." Goda sang adik, El Rumi. "Jangan ngatain, nanti ketularan di ledek, malu." Ucap Nayara membela. Ariana menanggapinya tersenyum, ternyata di meja makan begitu banyak orang berkumpul. Ia segera duduk mengikuti El Bara. Ada satu orang yang membuatnya fokus dan terkejut, Ia adalah pria paruh baya yang duduk di kursi inti. "Kakek?" Sapa Ariana lebih dulu. "Ariana???" El Barka memastikannya, sudah lama tak bertemu, banyak perubahan di diri wanita yang menyapanya. "Kakek kira istri El Bara bukan Ariana yang ini? Karena Ariana yang Kakek kenal saat di Batam, tak secantik sekarang, dan sudah berhijab pula." ungkap El Barka terkagum. Semua orang terkejut, termasuk El Bara. Lebih mengejutkannya lagi saat paman playboy nya menyapa istrinya secara tidak sopan. Ehem, Maksudnya, Araian hanya istri dalam buku nikah saja, kan? "Hei, nona cantik." Sapa seorang pria, yang tak lain adalah El Raka, kebetulan duduk mereka saling berhadapan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD