Bab 6 : Perjanjian

1673 Words
Waktu berjalan begitu cepat, seminggu sudah berlalu. Namun, keadaan tetap sama. Masih diam di tempat dan tak ada perubahan. El Bara baru saja pulang dari kantor dengan wajah lesuh yang begitu kentara. Bagaimana tidak? Hari ini, El Bara disibukan dengan beberapa meeting dan survei ke beberapa tempat untuk melihat kondisi bangunan, sejauh mana hasil pembangunan yang Ia rancang sendiri. "El Bara." Panggil Nayara dari balik pintu kamar sambil mengetuknya. Kemudian, pintu itu terbuka dengan seiringnya kedatang sang Bunda. El Bara yang baru saja membuka jas dan meletakan tasnya menoleh, "Iya, Bunda. Ada apa?" Nayara mengambil alih jas dan tas El Bara. Lalu, menyimpannya di tempat semula. Setelahnya, Nayara menatap penuh sang putra dengan sorot mata yang sulit diartikan. "Hmmm... Katanya, Ayah mau bicara sesuatu yang penting sama kamu." Ucap Nayara. "Kebetulan, El Bara juga mau bicara penting sama Ayah." Ucap El Bara juga. Malam ini, Ia akan berterus terang untuk menolak perjodohan ini. Selama ini, El Bara tidak sempat bicara karena disibukan oleh pekerjaan di kantor. Belum lagi, kondisi sang Ayah yang satu minggu ini mendadak tensinya naik. Jadi, sementara El Bara harus mengurungkan niatnya hingga benar-benar kesehatan sang Ayah membaik. "Kalau begitu, kamu mandi dulu. Setelah itu, kita akan makan malam bersama. Barulah Ayah dan putra sepuasnya mengobrol, apa saja." Ungkap Nayara dengan senyuman. Lalu, beranjak dari duduknya dan segera berlalu dari balik pintu. El Bara menatapnya hingga pintu kembali tertutup, dalam benaknya sudah tekad, Ia harus bicara malam ini. Di meja makan, El Nino dan Nayara sudah menunggu. El Bara turun dari tangga dengan wajah tak seletih tadi, dengan pakaian santai Ia terlihat lebih fresh. Semuanya sudah berkumpul, mereka mulai makan malam seperti yang biasa mereka lakukan rutin setiap harinya. Kemudian, El Bara tak henti-hentinya menatap sang Ayah. wajahnya tampak berbeda malam ini. Terlihat sumringah. Fikir El Bara, ini kesempatan bagus untuk membicarakannya. "Bagaimana kesehatan Ayah hari ini." Tanya El Bara di sela-sela makan malam. El Nino dengan tersenyum menjawab, "Baik, hari ini tensi Ayah normal." El Bara menangguk, Ia semakin yakin untuk mengatakannya malam ini. Makan malam sudah selesai. Kini, El Bara dan El Nino berada di ruang keluarga, menikmati suasana malam bersama. Mereka berdua membicarakan banyak hal, tentunya soal pekerjaan di kantor. "Kata Bunda, kau juga ingin bicara penting dengan Ayah. Mau bicara apa?" Tanya El Nino setelah pembahasan mengenai pekerjaan sudah cukup. "Ayah saja dulu yang bicara, Setelahnya, baru Bara." Bara mempersilahkan untuk Ayahnya lebih dulu berbicara. "Tidak, kau saja dulu." El Nino memberikan kesempatan untuk putranya bicara lebih dulu. "Baiklah." El Bara yang lebih dulu bicara, "Ini soal perjodohan." El Bara menjeda perkataannya sebentar, melihat ekspressi wajah sang Ayah yang masih terlihat baik-baik saja, barulah Ia melanjutkan kembali apa maksudnya, "Bara... Menolak perjodohan ini, Ayah." Ucapnya dengan takut, takut terjadi sesuatu dengan kesehatan Ayahnya setelah mendengar ini semua. El Nino diam sebentar, Ia terlihat baik-baik saja lagi. "Rupanya ini bicara pentingmu." Ucap El Nino dengan suara rendah namun tegas, terdengar ada nada kekecewaan di sana. El Bara mengangguk. Menatap penuh sang Ayah, menuntut pengertiannya, untuk kali ini saja. Wajah El Nino masih terlihat santai, "Sayangnya kau terlambat, El Bara." "Terlamabat?" El Bara mengerutkan keningnya penuh tanda tanya. "Tadi saing, Om Malik memberi kabar, bahwa putrinya menerima perjodohan ini." Deg... Detak jantung El Bara berpacu hebat, semangatnya seakan hilang saat itu juga, lemas beriringan rasa kesal dalam hatinya. Wanita itu tidak bisa dipegang janjinya. Sebelum El Bara menjawab, El Nino kembali berbicara, "Ayah tidak bisa menerima penolakanmu itu. Perjodohan ini sudah lama kami rencanakan, sebelum kau dan Ariana lahir." Tegasnya. "Dan Ayah juga tidak mungkin menarik kata-kata Ayah. Kau dan Ariana akan segera melangsungkan pernikahan secepatnya. Setelah itu, barulah pengangkatan resmi kau menjadi Pemimpin ELPA akan dilaksanakan." Lanjut El Nino. El Bara hanya diam, sebenarnya untuk apa mengulur waktu jika ujungnya perjodohan ini tetap berjalan. ... Sore ini, El Bara tengah menunggu seseorang di sudut cafe. Cuaca hujan dan dingin mewakilkan hati dan perasaannya saat ini. Tidak perlu menunggu waktu lama, orang yang ditunggu El Bara datang, segera menghampiri setelah tahu keberadaan El Bara di mana. Ariana. Wanita dengan hijab berwarna mint itu segera duduk. Jarak antara duduk mereka begitu jauh, meja persegi panjang yang menjadi pemisah diantara mereka. El Bara memang keterlaluan, Ia sengaja memesan meja untuk banyak orang. Padahal, Ia hanya janji temu dengan satu orang saja. Jangan sampai jarak yang jauh membuat keduanya salah mendengar apa yang akan nanti mereka katakan. Pelayan datang dengan membawa buku menu. Keduanya hanya pesan minum saja. Kopi latte untuk Ariana, dan kopi espresso untuk El Bara. Keduanya sama-sama diam hingga kopi yang mereka pesan datang. El Bara segera menyeruput kopi pesanannya yang masih mengepul asap, cuaca sore yang dingin memang sangat cocok. Belum lagi, rasa pahit dari kopi. Sebelumnya Ia tidak suka. Tapi, semenjak itu. Ia mulai terbiasa meminumnya. Baginya, pahit kopi saja Ia bisa menikmatinya. Apalagi, pahitnya kisah percintaannya. Ia harus terbiasa. El Bara mengeluarkan satu bungkus rokok, Ia mengambil satu dan segera menyalakannya, kemudian menghisapnya dengan santai, tak perduli dengan orang yang ada dihadapannya. Suka, nyaman atau tidak. Fikirnya, Wanita ini juga tak perduli padanya. Sederhana sekali pemikirannya. Sebenarnya, El Bara bukan perokok. Hanya sesekali ia lakukan di saat hati dan fikirannya kacau. Dan kini, Ia tengah merasakannya. Hingga setengah rokok sudah habis terbakar, keduanya belum juga ada yang mengucapkan sepatah katapun. Baik Ariana pun. Ia diam, Ia tahu sekali apa maksud El Bara tadi siang tiba-tiba menghubunginya. Ya, Ariana mengingkari sebuah kesepakatan. Ia mengakuinya. Tapi, Ia benar-benar tidak suka dengan pria prokok. Sejak tadi, Ariana terbatuk atau sesekali mengibaskan tangannya ketika asap menerpa wajahnya. Ya meski, mereka berdua berada di luar ruangan. Akhirnya, Ariana yang pertama kali memecah keheningan diantara mereka berdua, tampak menarik nafas dalam sebelum Ia mengucapkan kata-katanya, "Aku tidak bisa menolak perjodohan ini." Itu yang El Bara mau, Ariana yang lebih dulu sadar diri mengatakan kesalahannya. El Bara menghentikan aksi merokoknya, dengan mengeluarkan asap rokok terakhir ketika satu sudut bibirnya tersenyum getir. Lalu, El Bara membuang rokok yang belum habis itu. "Apa alasannya?" Tanya El Bara rendah, "Jangan bilang kau berubah fikiran saat pertemuan kemarin, Kau mulai jatuh cinta pada saya." Lanjutnya dengan mengejek. Ariana membulatkan kedua matanya, tak percaya pria dihadapannya begitu percaya diri. Senyum Ariana tak kalah getir, "Jangan terlalu percaya diri, Tuan Egois???" Cibirnya masih tak habis fikir. Baru kali ini ada pria yang sangat menjengkelkan. "Bukannya percaya diri. Apa alasannya kalau bukan karena jatuh cinta?" El Bara menjeda kata-katanya sebentar, "Asal kau tahu, saya tidak akan pernah jatuh cinta atau mencintai siapa pun. Jika perjodohan ini berlanjut dan pernikahan itu terjadi. Kau harus mau menerima bahwa tidak akan ada rumah tangga romantis, berjalan mulus sesuai khayalanmu." Tegas El Bara. "Kau ini???" Rasanya Ariana ingin tertawa terbahak-bahak saking lucunya. Pria ini begitu sangat banyak percaya diri. Over Pede. Kalau bukan tengah berada di cafe, Ariana sudah melakukannya, "Kau ini, menghayalmu terlalu tinggu." Ariana menahan tawa dengan satu tangannya. "Kau dengar Tuan Egois. Alasan aku tidak bisa menolak perjodohan ini, karena Ayahku. Ayahku." Jelas Ariana penuh penekanan disetiap kata-katanya. "Kau tahu, itu artinya Aku terpaksa, bukan karena jatuh cinta. Lagipula, mana mungkin, Aku jatuh cinta dengan pria kaya kamu." El Bara, seketika diam, bukan diam karena kata yang di ucapkan Ariana. Melainkan tawanya, tawanya yang lepas. Dengan cepat tersadar, El Bara mengusulkan sesuatu. "Bagaiman kalau kita membuat kesepakatan baru." Ariana menghentikan tawanya, "kesepakatan apa?" "Sebuah perjanjian. Perjanjian pernikahan di atas kertas." Ucap El Bara. Ariana menajamkan tatapannya, "Apakah di benarkan dalam agama kita?" Tanyanya. Menurutnya ini salah. Pernikahan bukanlah untuk main-main. Setahunya. Ikatan sakral di depan Sang Pencipta, keluarag, dan juga Negara. "Tidak dibenarkan jika dari salah satu kita di rugikan. Menurutku begitu. Bukankah ini kesepakatan bersama dan perjanjian itu sah-sah saja jika ada persetujuan dari dua belah pihak." Tutur El Bara. Ariana tampak berfikir sejenak, apa salahnya Ia mencoba. "Baiklah. Tapi, bagaimana jika ada yang melanggar." El Bara tak langsung menjawab, "Kau berniat untuk melanggarnya lagi?" Ariana menggelengkan kepalanya dengan cepat, "Tidak. Aku hanya bertanya agar tidak ada pelanggaran." "Bagi siapapun yang melanggar. Jangan pernah menuntut hak sebagai mana mestinya." Ucap El Bara. ... Dua hari yang lalu... Ariana sudah yakin dan penuh tekad untuk mengatakan pada sang Ayah mengenai penolakan perjodohan ini. Ariana kini sudah berada di depan dan siap mengetuk pintu kamar itu. Namun, pintu kamar Ayahnya terbuka sedikit, hingga Ia bisa melihat bahwa Ayahnya tak sendirian, Ia bersama Abangnya, Ibra. Ariana mengurungkan niatnya untuk masuk dan mendengarkan diam-diam percakapan antara mereka. "Kau tahu Ibra. Keadaan hati adikmu tak baik-baik saja. Ia sengaja menutupinya dari kita. Ia berpura baik-baik saja seolah tak terjadi apa-apa. Ayah tahu, perjodohan ini tidak akan diterima begitu saja oleh hatinya. Tapi, entah mengapa, Ayah begitu yakin. Kalau El Bara akan menjadi pasangan yang baik untuk Ariana. Membahagiakannya. Harapan Ayah hanya satu termasuk harapan Ibumu juga, Pernikahan Ariana dengan El Bara. Jika perjodohan ini sampai terjadi, Ayah akan sangat bahagia, Ibra. Sangat bahagia." Tutur Mali banyak menaruh harapan di setiap perkataannya. Ariana mundur dua langkah. Ia kembali menaiki tangga dan mengurungkan niatnya. Di dalam kamar, Ia merenungi setiap yang Ayah dan Abangnya katakan. Begitu Ayahnya menaruh harapan besar pada Ariana. Dan selama ini, Ayah tahu tentang lukanya. Bahkan, sejauh ini sang Abang tak pernah memberikan respon baik atas pria mana saja yang dekat dengan adiknya itu. "Baiklah, Ibra akan menikah ketika Ariana sudah menikah, itupun jika Ariana hanya menikah dengan El Bara." Ariana semakin mellow. Hatinya goyah seketika. Abangnya pun malah melakukan hal demikian demi harapan sang Ayah dan mendiang Ibunya. Semalaman Arina tidak bisa tidur, malamnya dihabiskan untuk meyakinkan perasaan mana yang harus Ia pilih. Hingga sarapan tiba, dan benar saja Ayanya bertanya. Dengan mengangguk, Ariana menjawab "Iya, Ariana menerima perjodohan ini, yang penting Ayah bahagia. Dan juga Kak Ibra agar secepatnya menikah dengan Kak Shanaya." ... Dua keluaraga itu bertemu kembali dan membahas kapan tanggal pernikahan itu dilaksanakan. Kedua calon mempelai menurut saja menyerahkan semuanya pada kedua orangtua masing-masing. Termasuk gedung tempat acara, cincin pernikahan, gaun pengantin, dan lain sebagainya semua di urus oleh Bunda dari El Bara. "El Bara, kurangi kesibukanmu di kantor. Dua minggu lagi pernikahanmu akan dilaksankan." Ucap Nayara.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD