"Hah?" Sama halnya yang terjadi pada Ariana. Ia terkejut dengan apa yang dikatakan oleh sahabat Ayahnya itu.
Kemudian, netranya tertuju pada sosok pria yang dimaksud.
Pria itu!!! Gumamnya dalam hati. Pria yang berada dalam satu lift bersama.
Detik selanjutnya, manik mata Ariana dan El Bara bertemu untuk pertama kalinya.
Deg...
Deg...
Deg...
Tersadar, keduanya sama-sama memutus tatapan itu kesembarang Arah.
Hati Ariana sudah dilanda gelisah mendengar kata 'perjodohan yang sudah lama direncanakan.'
Apa-apaan, Ayah ini? Kembali, Ariana menggerutu dalam hati.
Pantas saja, Ariana merasa ada yang aneh ketika sang Ayah memaksa memintanya untuk menjemput ke rumah sakit siang ini. Ternyata, ada udang dibalik batu.
Saat itu, dalam mode panggilan via telepon.
"Ariana sungguh nggak bisa jemput, Ayah. Memangnya supir Ayah kemana?" Tanya wanita dengan balutan hijab berwarna lilac menghentikan kesibukannya sejenak. Hari ini, berkas di depannya menumpuk seperti gunung.
"Mobilnya mogok di tengah jalan. Tadi aja, ke rumah sakit di lanjut pake ojol!!!" Jawab Malik dengan seribu alasan.
Ariana tampak mendesah pelan, "Maaf ya, Ayah. Ariana beneran sibuk hari ini. Minta jemput Bang Ibra aja ya?" Usul Ariana.
"Nggak bisa, Ariana." Jawab Malik cepat. "Kamu lupa, kalau Abangmu sedang ke luar kota. Lagian jarak dari Butik ke Rumah Sakit juga deket." Lanjutnya seolah tak habis alasan.
Ariana lupa bahwa Abangnya dari kemarin tidak ada, "Ya sudah, Ariana jemput."
Akhirnya wanita itu mengiyakan juga permintaan sang Ayah. Orangtua yang tersisa satu-satunya. Kadang permintaannya seperti anak kecil yang harus di turuti. Ariana mengerti, itu mungkin bentuk ingin diperhatikan oleh kedua anaknya. Sedangkan, Ibu Ariana sudah lama meninggal, sejak masih di bangku SMP.
Ariana kemudian mengakhiri panggilannya.
"Ada apa?" Tanya sahabat kentalnya, Alia namanya. Baru saja datang dan mendapatkan wajah sahabatnya yang tengah ditekuk dalam. Kemudian, memberikan satu berkas ke depan meja Ariana.
Ariana tampak menoleh, lalu melihat ke arah berkas yang baru saja di bawa Alia dengan wajah meringis, dan menghembuskan nafas kasar, entah sudah yang keberapa kalinya, "Hari ini, kenapa banyak sekali berkas, Alia? Kau juga menambah pekerjaanku saja." Bukannya menjawab, Ariana malah mengggerutu dan mengeluh.
Alia tampak terkekeh, "Adduh kacian ci ayang." Alia malah mengoloknya dan menjawil pipi Ariana seperti bayi kecil, "Yang sabar ya Bu Boss. Ya, gimana lagi. Fashion show pertama kita harus sukses dan sempurna." Lanjutnya kemudian duduk di sova dengan santai.
Ariana semakin mengerucutkan bibirnya. "Dasar Designer gila!" Ariana tak ingin kalah untuk mengatai sahabatnya itu, sedikit gila tapi baik.
Tapi, jika tidak bertemu dengan Alia. Mungkin, dirinya tidak akan seperti ini. Bisa bangkit dan menjadi pribadi yang berbeda. Takdir Allah sungguh Indah.
Bertahun-tahun tak ada kabar dari Alia, Ia menghilang begitu saja. Dan saat malam itu, malam terpuruk bagi Ariana, tepatnya dua tahun yang lalu, mereka dipertemukan kembali, dan berlanjut hingga sekarang. Sampai menjalin bisnis bersama. Membuka butik muslimah bersama.
Alia yang di balut hijab berwarna mint itu malah tertawa, menampilkan lesung pipinya yang ada sebelah kanan setelah dikatai oleh sahabat mellow-nya.
"Lama-lama Aku bisa ketularan gila kaya kamu." Ariana segera bangkit dari duduknya, kemudian membawa tas baranded miliknya.
"Mau kemana?" Tanya Alia.
"Jemput Ayah." Jawabnya sembari berlalu.
Alia manggut-manggut. "Hati-hati ya!!!"
Ya, Sejak tadi Ariana sudah berada di ruang inap sahabat Ayahnya. Hatinya sudah tak karuan. Ingin segera pulang. Fikirannya sudah dipenuhi oleh berkas-berkas di butiknya. Kini, ditambah dengan membahas perjodohan, rasanya kepala Ariana mau meledak.
Terdengar suara tawa bahagia dari Malik, Ayah Ariana. "Boleh juga kita bahas sekarang. Mumpung kedua calon ada di sini. Untuk Ariana, putri saya tidak masalah karena tidak sedang terikat dengan siapa-siapa." jawabnya dengan mudah.
Semua tertuju pada Ariana. Ariana tersenyum saja, padahal dalam hatinya ingin protes pada sang Ayah. Terlihat sekali, tangan kanannya memegang kuat blezer yang Ariana pakai.
El Nino yang tengah berbaring lemah kembali menyahut, "Bagus itu, putra saya pun sama sedang tidak terikat dengan siapa-siapa."
El Bara pun dalam hatinya menggerutu.
Namun, tidak dengan sosok yang sudah melahirkan El Bara. Nayara ikut tersenyum, hatinya bahagia mendengar pembahasan perjodohan ini yang sebelumnya tidak diketahui olehnya.
Apalagi, yang akan menjadi calon mantunya adalah wanita seperti Ariana. Seolah sudah mendapatkan firasat yang kuat. Sebut saja, Nayara sudah jatuh cinta pada pertemuan pertamanya saat mengunjungi butik milik Ariana atas saran dari teman arisannya dulu.
"Apa sebaiknya mereka mengenal lebih dulu?" Timpal Nayara kemudian, meski sudah jatuh cinta dengan Ariana. Tetap saja, Ibu El Bara ingin tahu perasaan putranya itu. Apalagi terkait masa lalunya yang pernah gagal akad menikah.
Malik dan El Nino setuju dengan usulan Nayara. El Bara dan Ariana tampak bernafas lega. Dalam benak mereka, kini sama, satu fikiran. Artinya perjodohan ini bisa saja di gagalkan.
...
Malamnya, Ariana kembali disibukan dengan berkas yang tadi siang belum ia jamah. Terpaksa, Ia bawa bekal ke rumah. Sebab, jika ditunda, berkasnya semakin hari semakin menumpuk.
Tapi, dalam hati Ariana mengucap syukur. Yang artinya butik yang ia kelola mulai berkembang dan banyak sekali di minati oleh para pelanggan. Ya, sebenarnya tidak bisa di pungkiri, Abangnya Ibra ikut andil, tunangannya yang seorang model ikut mempromosikan juga lewat i********: pribadinya.
Di tengah kesibukan Ariana, Malik sang Ayah datang dengan membawa nampan berisi makan malam. Ariana sampai lupa untuk makan malam saking sibuknya.
Ariana tersenyum menyambut kedatangan Ayahnya yang selalu perhatian. Terkadang, Ariana malu sendiri. Jika teringat dulu, Ia pernah terpuruk hanya karena masalah cinta. Padahal cinta itu ia dapatkan melimpah dari orang di sekelilingnya, Ayahnya, Abangnya, juga sahabatnya.
"Makan dulu, Ariana." Titah Ayah sembari menyimpan nampan di atas meja sova yang tersedia untuk nonton televisi.
Jika Ayahnya sudah memintanya untuk segera makan, maka Ariana harus menurut. Ia menghentikan sejenak pekerjaannya lalu menghampiri sang Ayah dan duduk di sampingnya.
"Jangan karena sibuk kerja, kamu sampai lupa makan. Lihat badanmu kurus sekali." Ejek Malik.
Ariana menanggapi dengan senyuman saja. Memang benar, badannya kurus. Tapi masih idel untuk seorang wanita yang belum menikah dan melahirkan.
Ayahnya ini memang paling bisa membuat mellow hati putrinya, tadi siang saja membuat Ariana mendidih gara-gara perjodohan dadakan itu. Tapi, seketika hilang dengan perlakuannya yang manis saat ini.
Ariana mulai makan dengan lahap. Malik menatapnya dengan tatapan yang sulit di artikan. Seketika sudut matanya basah.
Arianapun yang melihatnya di buat terheran-heran. Ia menghabiskan sisa makanan dahulu yang ada di mulutnya, barulah melayangkan sebuah pertanyaan, "Ayah, ada apa?" Ariana menatapnya dalam.
Malik menghapus jejak basah di sudut matanya, kemudian membalas tatapan sang putri penuh cinta, "Ayah nggak nyangka, putri Ayah sudah dewasa, sudah berumur dua puluh lima tahun. Sebentar lagi kamu akan meninggalkan Ayah dan ikut dengan suamimu." Ucap Malik dengan wajah sedih bercampur bahagia.
Seketika, Ariana terenyah, "Kalau begitu, Ariana tidak usah menikah saja, Yah. Biar bisa nemenin Ayah terus." Ucap Ariana polos.
Malik menggeleng, "Tidak, nak. Ayah akan bahagia jika kamu sampai menikah dan bahagia bersama suamimu. Itu berarti Ayah sudah sampai pada tanggung jawab sebagai orang tua. Ayah ini sudah renta, tidak mungkin selalu bersamamu. Kau harus punya kehidupan sendiri, ada yang melindungimu selain Ayah dan Abangmu." Ucap Malik lagi.
Ariana tampak diam, tengah berfikir dalam.
"Kau mau kan menerima perjodohan ini? Ariana mau kan menikah dengan El Bara? Pria pilihan Ayah. Ayah juga sudah bertanya pada Abangmu, Dia setuju. El Bara adalah pria yang baik dan bertanggung jawab." Sejurus kemudian, kata-kata tujuan itu akhirnya keluar juga dari sarangnya.
Ariana menyipitkan kedua matanya, menatap dengan penuh sangsi, kemudian melipat kedua tangannya, oh ternyata... "Apa Ayah sedang membujuku atau memaksaku dengan cara halus?"
Malik menggeleng dengan cepat, "Tidak, Ariana. Kamu jangan salah paham. Ayah ikhlas, Ayah tulus. Ayah cuma ingin yang terbaik buat putri Ayah sendiri. Lagipula apa keuntungannya pernikahan ini, Ayah tidak sedang menjodohkanmu karena soal bisnis. Ini semua murni dari hati." Malik berusaha meyakinkan putrinya. Lagipula kenyataannya seperti itu.
Ariana terdiam, mengendurkan wajahnya yang sempat kesal tadi.
"Ayah tidak akan memaksamu, Ariana. Ini permintaan terakhir Ayah untukmu. Kamu bisa fikirkan baik-baik. Tidak usah terburu-buru." Lanjut Malik dengan wajah sedih. Namun beda dengan sorot matanya, seakan banyak harapan di sana.
Ah, Ariana dilanda kebingungan. Apa yang harus Ia lakukan. Selama ini, Ia berusaha menutupi lukanya serapat mungkin dari kedua pria yang sangat ia sayangi, Ayah dan Abangnya. Bersikap seakan semua baik-baik saja. Namun, tidak bisa dipungkiri, semakin di pendam, luka itu semakin dalam dan menyisakan trauma.
...
El Bara mengantar sang Ayah menuju kamarnya. Tadi sore, El Nino sudah di ijinkan pulang dengan syarat harus rutin check-up sesuai jadwal. Kesehatannya berangsur membaik setelah ketiga putranya pulang tiga hari yang lalu.
Mungkin, ini namanya penyakit orangtua. Rindu pada putra-putranya. Meski sepenuhnya memberi kebebasan dan kepercayaan, tetap saja fikiran dan rindu itu tak bisa di tahan.
"Ingat, Ayah. Kata Dokter apa tadi. Kurangi setres, fikiran berlebihan, istirahat yang cukup dan jaga pola makan." Ucap El Bara memperingati seolah bergantian Ia menjadi Ayah dan Ayahnya menjadi anaknya. Kemudian, El Bara memberikan obat yang sudah di resepkan oleh Dokter beserta satu gelas air hangat.
El Nino segera meminumnya, sesudah itu memberikan kembali gelas yang menyisakan sedikit air. El Bara menaruhnya ke atas meja.
"El Bara." Panggil El Nino.
El Bara menatap penuh sang Ayah.
"Kamu tidak usah kembali lagi ke Batam, ya?" Ini kedua kali El Nino melarang sesuatu setelah melarang hubungannya dulu dengan Kamelia.
El Bara diam sejenak. Fikirnya, dulu Ia tidak menurut dan setelah itu apa yang terjadi?
Untuk kali ini, Iya mau menurut, sebelum penyesalan itu terulang kembali. Kemudian, El Bara tersenyum lalu mengangguk.
El Nino tampak puas dengan jawaban putranya. "Ayah sudah tua, Bara. Kau harus menjadi penerus ELPA." Ucapnya.
"Kita bahas besok saja, Ayah. Lebih baik Ayah istirahat." El Bara menaikan selimbut hingga sampai ke d**a. El Bara sedang tidak ingin membahas masalah ini. Masalahnya bukan sekedar menjadi penerus ELPA, ada syarat di balik itu. Dan El Bara tidak menyanggupinya.
Mungkin, dulu iya. Mengapa Ia memutuskan untuk menikahi Kamelia. Namun, untuk kali ini tidak bisa. Ia mau saja menjadi Pimpinan perusahan ELPA, itu adalah mimpinya sejak dulu. Tapi, syarat harus menikah, El Bara tidak mau.
El Bara berlalu meninggalkan sang Ayah. Namun, saat akan berdiri, cekalan tangan sang Ayah menghentikan dirinya.
El Nino kira, dua tahun cukup menyembuhkan luka sang putra dari penghianatan. Namun, kenyataannya tidak. El Nino tahu, putranya masih terjebak masa lalu. "El Bara. Semuanya tidak bisa di selesaikan dengan berlari. Itu jawaban tepat kalau kamu di kejar orang gila. Tapi, untuk masalah ini. Kamu harus mau, dan melawannya dengan maju." Ungkap El Nino dengan sedikit tawa.
Perumpamaan yang menggelikan, El Bara jadi tersenyum.
"Untuk soal perjodohan ini, kamu bisa mengenalnya lebih dulu siapa Ariana. Ayah tidak akan memaksa. Keputusan semuanya ada di kamu, kenyamanan kamu lebih utama, El Bara." Lanjut El Nino.
Memang, sang Ayah ini, bagi El Bara sangat pengertian. Satu yang membuatnya selalu kagum, Selalu mendukung. Tak pernah memaksa. Ataupun melarang, semuanya dibicarakan dengan baik-baik.
"Tapi..." El Nino menjeda kata-katanya sebentar, lalu menatap El Bara penuh dengan harapan, harapan yang sangat dalam, "Ayah akan sangat bahagia, Kamu menerima Ariana menjadi istrimu. Membuka hatimu dengan berjalan seiringnya waktu. Setelah kau menikah, acara resmi akan di gelar untuk pengangkatan CEO baru." Ucap El Nino, ini rencananya.
"El Bara akan berusaha, Yah." Ujar El Bara tak benar-benar niat. Ini hanya peralihan saja.
El Nino tersenyum simpul, mungkin malam ini Ia bisa tidur nyenyak. El Nino meminta El Bara untuk mengambil ponsel miliknya yang ada di meja. Tidak butuh lama, Ia menaruhnya kembali.
Terdengar notifikasi chat dari ponsel El Bara, I segera membukanya.
Ayah :
(Mengirim anda kontak)
El Bara membuka, dan membacanya, nomor siapa yang Ayahnya kirim. Setelah tahu, Ia menatap sang Ayah dengan mengerutkan keningnya.
"Tak kenal maka tak sayang! Kan nggak lucu kalau udah nikah nanti kamu nggak kenal siapa istri kamu. Minimal tahu makanan kesukaannya." Ucap El Nino menjadi jawaban sang putra.