"Hah! Apa-apaan sih, Mir!" sergah Meeta dengan mata membulat menyala. Rasa marah dan terkejut mengisi dua bola matanya.
Mirna bersikeras, "Ini perintah Mama, Meet! Kalau kamu keras kepala, kamu bakal diseret paksa sama Mama!"
Obrolan dua wanita yang berawal santai seketika berubah menjadi tegang. Suasana ruang tamu yang awalnya nyaman pun seketika berubah drastis.
Arham menyentuh lembut punggung Meeta. Dielusnya beberapa kali agar istrinya tidak terlalu terbawa emosi. Mengingat Meeta memiliki sifat yang temperamen dan keras kepala, Arham khawatir bahwa wanita cantik berambut hitam panjang itu akan membabi buta karena gelap mata.
"Udah, Meet. Tahan emosimu. Kita masuk ke kamar aja, yuk. Nanti tekanan darahmu bisa naik lagi," ucap Arham lembut.
Pria berwajah teduh itu berusaha meredam gejolak amarah Meeta yang meledak karena perkataan Mirna. Karena keduanya sama kerasnya, perdebatan dua saudara kembar itu tak akan mudah dihentikan jika salah satu tidak ada yang mengalah.
"Otakmu itu bermasalah, Meet! Halusinasimu itu udah parah! Wajar kalau Mama minta kamu periksa ke psikiater. Tujuan Mama itu baik!" bentak Mirna melanjutkan.
Mulut Meeta terkunci guna meredam temperamennya yang parah. Tapi, Mirna justru semakin membuat kekesalannya jauh melebihi batas.
"Kamu tu udah gila, Meet! Gila! Nggak waras! Sinting!" bentak Mirna lagi.
Jika tidak ada Arham di sampingnya, Meeta pasti sudah memukul kepala Mirna dengan vas bunga yang terletak di atas meja ruang tamu. Meeta sangat berharap mulut Mirna terkunci rapat hingga tak bisa mengatakan sepatah kata pun.
"Mas! Lihat kelakuan Mirna! Tega-teganya dia sama Mama maksa aku buat pergi ke psikiater. Padahal kan aku baik-baik aja," omel Meeta menatap pria tinggi yang duduk di sampingnya sedari tadi.
Melihat apa yang dilakukan Meeta, Mirna mengusap wajahnya sekali. Menundukkan kepala karena batinnya pun sudah mulai lelah menghadapi Meeta.
"Please, Meet. Sadar! Mas Arham itu udah meninggal satu bulan yang lalu. Tolong jangan berhalusinasi lagi. Perasaanku ikut sakit lihat kamu kayak gini," tukas Mirna lagi.
Lagi-lagi Meeta menatap suami tercintanya. Saling berpandangan sebelum menanggapi keluhan Mirna.
"Aku tahu ... Mas Arham emang udah meninggal. Dia meninggal tepat satu hari setelah pernikahan kami. Tapi, bukan berarti dia udah nggak ada, 'kan? Dia masih ada di sini. Sama aku. Dia masih jadi suamiku," jawab Meeta. Nada bicaranya melunak setelah Arham memberikan sebuah senyuman manis.
Mirna semakin putus asa melihat Meeta yang berbicara kepada angin. Berbicara dan tersenyum sambil menoleh ke sisi kiri Meeta yang kosong tak ada seorang pun.
Di mata Mirna, Meeta seringkali mengobrol, tertawa, bercerita, bahkan makan bersama kekosongan. Meeta selalu sendiri. Tapi, gelagat perempuan itu seolah-olah ada yang menemani setiap aktifitasnya. Seolah-olah Arham masih hidup.
"Kamu tu aneh, Meet. Kamu bahkan sama sekali nggak menitikkan air matamu di pemakaman Mas Arham. Apa kamu seterpukul itu sampai nggak sadar kalau suamimu udah meninggal?" ucap Mirna prihatin.
Jemari Meeta yang sedari tadi terletak di atas pangkuannya, perlahan disentuh oleh Arham. Telapak tangan Arham yang dingin, justru memberikan kehangatan di hati Meeta.
"Buat apa aku sedih? Yang dikubur kan cuma tubuh Mas Arham. Itu cuma seonggok daging dan kulit yang pada akhirnya akan terurai oleh tanah. Nggak penting! Sosok Mas Arham yang asli ada di sini, Mir. Dia bahkan nggak pernah ninggalin aku sedetik pun. Jadi, jangan heran kalau aku semakin bahagia akhir-akhir ini," papar Meeta bersikeras.
Ucapan Meeta membuat Arham tersipu. Rasa cintanya bagai didongkrak lebih tinggi lagi kepada istri cantiknya.
"Mas ... Jangan khawatir. Di sini, Mirna sama Mama yang udah gila. Aku tahu aku baik-baik aja. Aku yakin kamu itu nyata. Kamu itu suamiku yang sejati. Apa pun wujud kamu, kamu tetap suamiku satu-satunya," ucap Meeta kepada Arham.
Pada akhirnya, Mirna selalu muak dan kesal melihat saudarinya yang lagi-lagi berbicara dengan kekosongan. Berbicara kepada udara. Karena merasa upayanya hari ini gagal, Mirna memutuskan untuk segera meninggalkan rumah kontrakan kecil itu.
"Oke! Terserah! Aku bener-bener udah capek nasehatin kamu. Aku sama sekali nggak ada niat buruk sama kamu, Meet. Justru aku khawatir sama kondisi kamu. Kamu itu saudariku satu-satunya. Aku nggak mau kamu terluka terlalu lama," pungkas Mirna lunak.
Mirna mulai merapikan pakaian yang ia kenakan dan mengecek agar tidak ada yang tertinggal sebelum dia benar-benar pergi dari rumah kontrakan Meeta.
Lagi-lagi, Mirna gagal meyakinkan Meeta. Dengan mengandalkan jam istirahat kantornya, Mirna berusaha mampir dua hingga tiga kali dalam seminggu ke rumah kontrakan Meeta. Semata-mata hanya untuk mengetahui kondisi saudari kembarnya dan membujuknya agar sudi memeriksakan diri ke psikiater.
"Aku nggak suka kalau kamu sama Mama ikut campur sama rumah tanggaku. Aku udah bahagia sama Mas Arham. Jadi, tolong hargai pilihan aku," ucap Meeta menekankan.
Ucapan Meeta tak lagi mendapatkan jawaban dari Mirna. Wanita kantoran itu meninggalkan rumah kontrakan Meeta tanpa pamit. Tanpa senyuman dan tanpa keramahan sedikit pun.
"Sayang, kamu nggak apa-apa, kan? Ucapan Mirna jangan diambil hati, ya. Jangan stres. Mirna ngomong kayak gitu karena dia nggak bisa lihat aku," ucap Arham lembut. Suaranya halus seperti lantunan musik yang merdu.
Meeta menanggapi, "Aku tahu kok, Mas. Padahal aku udah berulang kali jelasin ke dia kalau kamu itu nyata. Tapi, Mirna tetep aja nggak percaya. Apalagi Mama. Bahkan sekarang Mama udah nganggap aku seratus persen sinting setelah kematian kamu."
Arham berusaha mengerti apa yang tengah terjadi. Tentu mustahil orang lain akan mempercayai keberadaannya yang sudah tak sama dengan wujudnya yang lalu. Arham yang dahulunya adalah seorang pekerja keras di sebuah kantor pemasaran, kini dirinya hanyalah laki-laki tanpa raga yang setiap saat mendampingi istrinya.
Saat Meeta bekerja, berbelanja, atau pun melakukan hal yang lain, Arham akan dengan mudah ikut andil meski kehadirannya hanya akan disadari oleh Meeta.
Sialnya, kini Meeta dianggap sebagai wanita tidak waras karena interaksinya dengan Arham yang tidak terlihat. Hampir seluruh keluarga, teman, bahkan rekan kerja Meeta, menganggap bahwa kejiwaan Meeta terguncang semenjak dirinya menemukan tubuh suaminya mendadak tak bernyawa setelah malam pertama pernikahan mereka.
Tapi, tak disangka hubungan Arham dan Meeta akan berlanjut dengan cara yang lain. Cara yang berbeda dan tidak dipahami oleh banyak orang. Meski begitu, Meeta merasa sangat bahagia dengan keadaan ini.
"Kita makan mie ayam yuk, Mas. Kita beli di luar. Aku laper banget, nih," ucap Meeta sambil menggandeng tangan suaminya.
Setelah Mirna benar-benar pergi dari rumah kontrakan, Meeta pun sudah mulai melupakan amarahnya. Wajah sumringah dan riangnya pun kembali.
"Mie ayam? Emangnya ada yang jualan jam segini? Ini masih siang, lho. Warung mie ayam di daerah sini kan bukanya malam semua," sahut Arham.
"Pokoknya kita cari dulu. Aku pengen banget nih, Mas. Kalau nggak ada, kita makan mie goreng spesial di dalam mall, ya? Mau kan, Mas? Pleaseeeee. Lagi pengen banget nih," ucap Meeta memohon-mohon agar suaminya memenuhi keinginannya.
Arham mengangguk sambil mengacak poni rambut Meeta yang sudah disisir rapi.
"Iya ... Mentang-mentang lagi libur kerja, keinginanmu jadi aneh-aneh. Biasanya juga makan nasi sama telur dadar," canda Arham.
Gigi-gigi putih Meeta terlihat indah berjajar rapi karena senyuman lebarnya. Matanya menyipit dengan lesung pipi yang nampak jelas ketika wanita itu menyunggingkan senyuman bahagia.