Arham Putra Anugrah.
Kematian mendadak yang dialami laki-laki berusia dua puluh tujuh tahun itu menimbulkan respon yang membingungkan bagi banyak orang. Terutama pada keluarga Meeta.
Satu bulan yang lalu. Tepat saat pernikahan Arham dengan wanita pilihan yang sudah ia pacari selama lima tahun dilaksanakan dengan begitu meriah dan penuh suka cita. Sumpah pernikahan dan segala perjamuan tamu berjalan semestinya. Sesuai dengan apa yang sudah Arham dan Meeta rencanakan selama satu tahun lamanya. Gaun pengantin yang didesain khusus untuk Meeta, gedung besar yang Arham sewa dengan uang hasil kerja kerasnya, undangan-undangan yang sudah mereka sebar luaskan hingga ke ujung kota, semuanya berjalan dengan lancar. Sesuai dengan apa yang sudah mereka berdua atur dari jauh-jauh hari.
Sempurna!
Meeta dan Arham pun tidak kesulitan mendapat restu dari dua belah pihak keluarga. Keduanya memang adalah sosok yang baik budi dan rupawan. Tidak akan ada penolakan.
Hingga pada suatu titik di mana hasil kerja keras mereka dalam memperjuangkan hari bahagia, berputar seratus delapan puluh derajat karena tragedi misterius yang melanda rumah tangga Meeta dan Arham yang baru berjalan beberapa jam.
Hari itu, setelah pesta pernikahan usai, kedua sejoli melakukan suatu keharusan yang sudah menjadi hal lumrah bagi pengantin baru. Pergulatan cinta yang menandai bahwa keduanya saling memiliki. Saling mencintai. Saling mempercayai.
Meeta dan Arham menunaikan sebuah hubungan antara tubuh dengan tubuh. Ikatan yang diperkuat dengan nafsu cinta yang membara. Pelampiasan hasrat cinta yang tidak lagi mengandung dosa. Mereka berdua menyelesaikan hubungan badan mereka dengan sebuah kecupan yang lembut. Hingga akhirnya, keduanya tertidur lelap dalam mimpi yang indah.
Hingga pada pagi harinya, mimpi yang sempat memasuki alam bawah sadar Meeta lenyap saat dirinya tersadar dan terbangun dari tidur lelapnya. Mengucek kedua mata dan memeluk tubuh suaminya yang masih terlelap di samping tubuhnya.
Saat itulah hal tak terduga terjadi.
Tanpa Meeta sadari, laki-laki yang sangat ia cintai itu tidak menghentikan mimpi indahnya. Mimpinya terus berjalan tanpa batas waktu. Meski tubuh kekarnya sudah Meeta guncang berkali-kali, mimpi Arham tidak kunjung hilang. Arham terbuai dalam mimpi indahnya dan tidak lagi menggapai dunia nyata.
Arham ... tidak terbangun lagi.
Pagi indah yang seharusnya menjadi momen pertama kalinya Meeta menyiapkan sarapan untuk suaminya, harus berganti dengan pengurusan jenazah dan acara pemakaman.
Tapi ... ada sesuatu yang ganjil.
"Mas! Mas! Bangun, Mas!" pekik Meeta kala itu. Dirinya panik dan wajahnya pucat pasi karena tubuh suaminya sudah sedingin es.
Setelah pernikahan, Arham dan Meeta masih satu rumah dengan orang tua Meeta. Tempat di mana Meeta tinggal sedari kecil. Tempat di mana perempuan cantik itu tumbuh tahun demi tahun.
"Kok kamu nggak bangun sih, Mas! Buka matamu, Mas!" pekik Meeta lagi. Air matanya jatuh mengalir membasahi kedua pipi tirusnya.
Saat Meeta merasa ada yang tidak beres dengan Arham, kedua kakinya berlari menuju pintu kamar agar dapat segera keluar dan meminta pertolongan kepada anggota keluarga yang lain.
Tap
Tap
Tap
"Aku harus cari bantuan," ucap Meeta lirih. Tubuhnya gemetaran dengan keringat dingin yang sudah membasahi hampir seluruh anggota tubuhnya.
Tapi ... saat jemari Meeta sudah mengenggam erat pegangan pintu, wanita itu dikejutkan dengan sebuah sentuhan lembut yang dingin pada bahunya. Sebuah jemari yang seperti hendak memeluknya.
Pergerakan Meeta seketika terhenti. Tubuhnya serasa membeku dan kedua matanya melotot seperti hendak keluar dari tempatnya. Merasa ada yang menyentuhnya dari belakang, Meeta segera membalikkan tubuhnya untuk memeriksa sosok yang sudah mengejutkannya.
"Mas Arham!" kata Meeta terkejut.
Saat tubuh Meeta sudah membalik sempurna, di hadapannya sudah berdiri sesosok laki-laki yang ia nikahi kemarin.
Tanpa basa-basi, Meeta lansung memeluk erat tubuh tegap pria itu.
"Mas ... aku pikir kamu kenapa-kenapa. Aku takut, Mas. Aku pikir kamu meninggal. Tolong jangan tinggalin aku, Mas," isak Meeta. Kedua tangannya melingkari tubuh suaminya.
Arham pun membalas pelukan Meeta dengan melingkarkan balik kedua tangannya pada punggung Meeta. Dibelainya rambut Meeta dengan penuh kasih.
"Aku nggak akan ninggalin kamu, Meet. Aku udah janji kalau aku akan selalu ada buat istriku yang paling cantik," jawab Arham lembut.
Beban di d**a Meeta hilang sekejap. Masih dalam pelukan Arham, Meeta pun menuntaskan air mata kekhawatiran agar perasaannya semakin lega. Menangis tersedu-sedu kena dirinya sempat ketakutan.
"Aku takut, Mas. Aku nggak mau kamu meninggal. Kita baru aja menikah. Banyak impian yang belum kita wujudin bareng-bareng," rengek Meeta dengan manjanya.
Masih dalam pelukan Arham, Meeta mendongakkan kepala yang sedari tadi ia benamkan dalam d**a Arham. Meeta sedikit mengangkat kepalanya dan menopangkannya pada pundak Arham. Hingga pandangan Meeta akan menatap bagian belakang Arham yang tak lain adalah tempat tidur mereka. Tempat tidur yang masih dihiasi dengan bunga-bunga kamar pengantin.
Tapi, d**a Meet kembali sesak. Saat dirinya dalam pelukan Arham dan menatap tempat tidur mereka, kedua bola mata Meeta menangkap sosok yang sama dengan pria dalam pelukannya. Pria yang super mirip dari perawakan hingga pakaian yang sedang dikenakan.
"Hah!"
Meeta terkejut sejadinya. Kedua tangannya mendorong dan melepas paksa laki-laki yang sedang ia peluk.
"Kamu siapa?!" tanya Meeta bergidik ngeri.
Tatapan Meeta bergantian menatap sosok pria di hadapannya dengan sosok yang terbaring tenang di atas tempat tidur. Keduanya benar-benar tidak memiliki perbedaan. Hanya saja, pria yang baru saja Meeta peluk memanglah berkulit dingin. Sedingin es.
"Sayang ... aku Arham. Suamimu," ucap laki-laki di hadapan Meeta. Jemari dinginnya menyentuh tangan Meeta yang penuh dengan keringat.
"Maksudnya apa? Kenapa Mas Arham ada dua?" tanya Meeta gemetaran.
"Aku memang Arham. Laki-laki yang ada di atas ranjang itu juga Arham," jawab laki-laki itu lagi.
Meeta berusaha mencerna apa yang ia alami. Menggunakan akal sehatnya dan meyakinkan bahwa semuanya bukan khayalan semata.
"Meeta ... maaf karena aku harus meninggalkan kamu terlebih dahulu. Tubuhku harus meninggalkan kamu sendirian. Aku nggak bisa lagi menemani kamu ke acara keluarga atau sekadar mengajakmu keliling kota. Aku ... sudah meninggal, Meet," jawab sosok di hadapan Meeta.
Meeta masih tidak mengerti.
"Kamu ... arwahnya Mas Arham? Kamu Mas Arham suamiku?" tanya Meeta lagi.
Laki-laki itu mengangguk. Tanpa mengatakan hal lebih, Arham meyakinkan bahwa dia adalah seorang suami Meeta dengan wujud yang lain. Wujud tanpa raga seorang manusia.
"Aku memang nggak bisa menemani kamu secara fisik. Tapi, aku masih bisa menemani kamu dengan wujud seperti ini. Setidaknya, kamu nggak sepenuhnya sendiri," jawab Arham.
Wajah Meeta tegang beberapa menit. Apa yang diucapkan sosok di hadapannya benar-benar mengejutkan. Tapi, ada pula rasa bahagia dan lega yang terselip di hati Meeta karena dirinya masih dapat berinteraksi dengan suaminya.
"Jangan takut. Aku tetap Arham. Suami yang selalu sayang sama kamu. Bedanya, mungkin aku nggak sesempurna sebelumnya. Tapi, perasaanku tetap sama," lanjut Arham meyakinkan.
Usai arwah Arham menuntaskan kalimatnya, Meeta menggerakkan kedua tangannya. Diangkatnya telapak tangan Meeta untuk menggapai wajah suaminya. Meeta menyentuh lembut pipi dan rambut Arham.
Semuanya sama. Tidak ada bedanya dengan Arham yang masih berwujud manusia biasa.
"Syukurlah," ucap Meeta. Dipeluknya lagi suaminya dengan penuh rasa lega. Air mata mengalir dari kedua mata Meeta.
"Maafin aku, Meet," balas Arham sembari membalas pelukan erat Meeta.