Satu setengah tahun berlalu setelah peristiwa yang sanggup mengguncang jiwa serta mental, Kiara sudah mampu bangkit dari kehancuran yang terus menariknya lebih dalam. Senyum dari kedua belahan jiwanya mampu memberi kekuatan tersendiri bagi Kiara, dan bertekad kuat untuk membangun ulang kehidupan tanpa Arya dalam hidup mereka.
Ketiganya saling menguatkan, mengisi hari dengan canda tawa. Kiara berusaha sebaik mungkin memainkan peran ganda, tanpa membiarkan anak-anaknya merasa kekurangan kasih sayang. Setiap hari, Kiara memberikan waktu lebih banyak bagi Dita dan Rasya, meski sendirinya juga harus mengabaikan rasa lelah akibat bekerja sebagai cleaning service salah satu rumah sakit.
Hari-hari dilalui Kiara dengan semangat baru, mengantar jemput anak-anaknya dan mengurus rumah juga bekerja. Sama seperti sekarang, di mana perempuan tampak lebih kurus itu sudah berkecimpung dengan troli berisi alat-alat kebersihan. Kiara memasuki tiap-tiap ruang pasien, menyapu dan mengepel lantai bersama salah satu temannya yang bertugas membersihkan kamar mandi.
Kiara mengetuk salah satu kamar VVIP, masuk dan meminta izin untuk membersihkan ruangan. Akan tetapi, Kiara justru dipanggil oleh pria berusia enam puluh tahun yang sudah dirawat selama satu Minggu. Kiara lebih dulu meminta temannya untuk membersihkan kamar mandi, sebelum akhirnya dia mendekat pada pria bernama Tama Wicaksono.
“Bapak kok masih betah disini, sih? Emang belum capek sakitnya?” canda Kiara seperti biasa dilakukan pada semua pasien yang lumayan akrab dengannya.
“Kamu sendiri gak capek bau obat pel terus?” balas pria yang lebih suka dipanggil Tama.
Kiara tertawa renyah, wajah ceria terpasang seolah dia tidak memiliki beban kehidupan.
“Sebenernya sih capek, tapi dunia masih ijinin saya buat bau obat pel, belum bau uang.” Kiara mengerutkan hidung mancungnya. “Bapak mau dibantuin apa? Minum, atau disuapin kayak biasanya? Tapi, saya bersihin ruangan dulu, ya?”
“Enggak usah. Kamu diem disini dulu aja, saya mau ngenalin sama seseorang. Tapi, orangnya masih keluar sebentar.”
“Lah, kalau saya diem buat kenalan, entar dipecat dong. Saya tinggal bersih-bersih sambil nungguin, gimana? Kan lumayan pak, nanti pas kenalan ruangannya udah wangi.” Kiara mengukir senyum cantik.
“Ya kalau kamu dipecat, nanti saya yang pecat orangnya dari sini. Sekalian nanti saya tutup lapangan pekerjaan buat dia,” ucap Tama mengundang tawa renyah Kiara.
Keduanya saling berbincang dan bercanda, Kiara memang sudah akrab dengan Tama dari semenjak pria itu sering bolak-balik ke rumah sakit untuk cek kesehatan. Terkadang, Tama secara khusus meminta perawat memanggilkan Kiara, sekadar menemaninya berbincang di kamar dan mengusir kebosanan.
Saking asyiknya Tama dan Kiara saling lempar candaan, mereka tidak sadar bahwa ada orang lain yang mengamati dengan senyum terpasang. Itu adalah Jovandra Wicaksono, putra tunggal Tama yang tadi pergi membeli kopi.
“Kalau mau bercanda, liat tempat juga. Ini tempatnya orang sakit, bukan taman hiburan.” Lelaki lebih akrab disapa Jovan itu, melangkah ke samping brankar dan meletakkan cup kopi miliknya.
“Kamu beli minum di Jogja? Lama banget,” protes Tama menatap putranya.
“Tadi sekalian ambil baju ganti, engap pakai kemeja terus.”
Jovan mendekati sang papa, memeriksa saluran infus yang selalu saja terdapat darah naik. “Sekali-kali diem gitu loh. Orang sakit kok gak pernah bisa diem. Bukannya sembuh, ini darah habis kesedot naik terus.”
“Gak usah ngomel, mending kenalin ini orang yang sering papa ceritain.” Tama mengisyaratkan agar putranya melihat ke arah Karin.
Jovan memang banyak mendengar tentang seorang pekerja bersih-bersih yang kerap menemani papanya selama dirawat. Jovan mengulurkan tangan untuk berkenalan, tapi Karin diam tanpa memberi sambutan.
“Kamu gak tau kalau udah gini, namanya kenalan?” tegur Jovan menggoyangkan tangan masih terulur panjang.
Kiara memaksakan senyuman, dia menatap segan pada Tama. Ragu-ragu perempuan berseragam hijau muda muda itu mengulurkan tangan, menjabat kilat tangan kokoh Jovan.
“Kia!” serunya, lalu menyembunyikan tangan di balik tubuh.
Bukan karena malu Kiara melakukan hal itu, tapi dia membersihkan telapak tangan yang baru saja bersentuhan dengan Jovan.
“Sekalian aja siram pakai alkohol, biar steril!” kelakar Jovan, mengetahui bahwa Kiara membersihkan tangannya. “Dikira aku punya penyakit kulit menular, apa?”
Kiara tidak peduli dengan omelan lelaki berkulit putih itu, dan malah berpamitan pada Tama.
“Saya kerja lagi ya, Pak.” Kiara langsung berbalik.
Kiara menyapu dan mengepel dengan sangat cepat, diiringi tatapan kesal Jovan dan senyum kecil Tama. Perempuan gemar menggunakan sepatu kets itu, cepat-cepat meninggalkan ruangan tanpa bersedia merasa tidak nyaman lebih lama.
“Aduh, ada perempuan ngeselin kayak gitu.” Jovan mengomel.
“Itu bukan ngeselin, tapi perempuan bernilai tinggi.” Tama melirik putranya. “Jangankan jabat tangan, kesenggol pakaian sama cowok aja langsung dibersihin sama dia. Beda sama perempuan-perempuan yang sering kamu kencanin.”
“Itu bukan nilai tinggi, tapi kelainan.” Lelaki berusia tiga puluh lima tahun itu, pindah ke sofabed dan meneguk kopi hitam.
Tama berubah ekspresi sendu, dia menatap lurus ke depan dan mengembuskan napas panjang.
“Kia itu janda anak dua, dia ditinggal selingkuh sama suaminya.” Tama berucap, Jovan malah tersedak dan menumpahkan kopi panas ke celana.
Lelaki pemilik tinggi 178 sentimeter itu langsung berdiri, meletakkan cup kopi ke meja dan membersihkan celana dengan tisu. Tama menatap putranya, dia menggeleng menyaksikan kecerobohan berulang terus dilakukan.
“Kalau mau mandi air anget di kamar mandi sana, kenapa pakai kopi?”
“Mau mandi gimana? Orang kesiram gini, loh.” Jovan mengusap-usap paha kepanasan. “Habisnya papa, sih. Kalau mau ngomong tuh diliat dulu anaknya lagi ngapain.”
“Baru juga diomongin kayak gitu, belum dijodohin!” seru Tama, putranya langsung berhenti membersihkan celana dan memasang wajah masam.
“Kambuh. Dibilang aku gak suka bahas beginian. Aku punya kriteria sendiri, jadi gak usah ngedesak buat nikah. Lagian, aku juga masih mau hidup bebas dulu sebelum dikurung sama cincin nikah!” protes Jovan.
“Mau atau enggak, kamu harus deketin Kiara sama anak-anaknya. Itu permintaan papa, dan gak bisa kamu tolak!” tegas Tama, mengejutkan putranya.
“Ma—maksudnya?”
“Gak ada maksud. Kamu harus deketin dia mulai hari ini. Kalau perlu, jadi sahabat terbaik buat dia sama anak-anaknya.”
“Pa ….”
Tama memasang binar serius. “Papa gak mau ada nego, ini harus kamu lakuin demi papa sama om Bima. Ngerti?!”
Jovan mengerutkan kedua alis ke arah pria tengah duduk berbaring di brankar.
“Kiara adalah orang yang kami cari selama ini. Cuma kamu yang bisa bantu kita, Jovan. Kamu pasti inget kan, apa yang pernah papa sama om Bima ceritain dulu?” tutur Tama serius, Jovan diam mengingat-ingat. “Gimanapun caranya, kamu harus bisa deketin dia. Papa gak mau kehilangan dia lagi, cukup dua puluh tahun papa nyari dia kayak orang gila.”