Jovan melihat keseriusan yang dibumbui kesedihan dalam gurat wajah papanya. Lelaki dengan kemeja panjang putih terlipat lengannya sampai siku itu, menarik kursi dan duduk di samping ranjang. Jemari kokoh saling mengisi, Jovan menundukkan pandangan setelah mengingat kisah pernah dibagikan pada dirinya kala sang papa berdiam diri di ruang kerja tiap malam.
“Kalau aja papa bisa muter waktu, Kia pasti masih bisa hidup sama bapaknya. Dia gak bakalan ketemu sama pria b******k kayak suaminya,” pilu Tama. “Sampai sekarang, beban itu masih aja ada. Papa gak tau, apa ibu Kia udah lupain semua dan maafin papa atau enggak.”
Jovan hening mendengarkan, selalu saja lelaki itu tidak tega kala papanya bercerita masa lalu. Tentang kemarahan ibunda Kiara pun, Jovan mengetahui pasti. Tama sendiri yang membagikan kisah itu, dia juga meyakini jika kepindahan keluarga Kiara juga disebabkan oleh kemarahan hebat hati itu.
“Papa benar-benar minta tolong buat kamu deketin dia. Seenggaknya, papa bisa sedikit terbebas dari rasa bersalah ini.”
Jovan menghela napas. “Aku gak yakin bisa deketin dia. Tau sendiri kan, gimana dia pas kenalan tadi? Belum juga kalau ibunya tau aku anaknya papa, entar bisa direbus hidup-hidup aku.”
Tama yang sedari tadi menatap pilu ke depan, langsung menoleh pada putranya. “Playboy masa iya nyerah duluan? Buktiin dong, kalau kamu bisa takhlukin semua perempuan. Lemah banget.”
“Itu bukan lemah, tapi emang gambarannya yang udah jelas. Lagian, aku ini bukan playboy. Aku gak pernah deketin cewek, mereka yang deketin dan aku cuma ngeladenin yang penting-penting aja.”
Jovan menegaskan sembari mengerucutkan bibir, Tama mesem melirik putra kesayangannya.
“Aku boleh nanya satu hal? Tapi jawab serius!” tegas Jovan tiba-tiba, lawan bicaranya mengangkat kedua alis berisyarat izin diberikan. “Dia bukan anak papa dari perempuan lain, kan?”
Wajah tenang Tama seketika berubah kesal, menarik bantal semula dijadikan sandaran punggung dan melempar tepat pada wajah Jovan.
“Aduh, sakit ini loh! Main lempar aja, mana bau keringet lagi bantalnya!” protes Jovan, menurunkan bantal dari wajah dan melemparkan ke sofa bed balik tubuhnya. “Ini muka dirawatnya mahal, aset berharga buat lancarin bisnis.”
“Enak aja bau keringet! Itu kemarin baru diganti sama Kia, soalnya papa gak bisa tidur kalau kainnya gak diganti tiap hari!” erang Tama. “Lagian, kalau ngomong tuh dipikir dikit. Mama denger, yang ada papa bakalan jadi gelandangan di bawah jembatan!”
“Hahaha, suami takut istri. Siapa suruh semua aset pakai nama mama.” Jovan terkekeh, Tama merapatkan gigi dan menyambar ponsel di samping pahanya.
“Anak kurang ajar!” jengkel Tama, melemparkan benda pipih miliknya.
Jovan sontak berdiri menghindar, namun sayangnya lelaki itu justru menabrak keras meja di samping brankar.
“Kuwalat!” seru Tama melihat putranya meringis kesakitan.
“Sakit ini loh, Pa!” balas Jovan, mengusap-usap pinggangnya. “HP dibuang-buang, entar rusak baru tau rasa. Mana mama pelit banget lagi.”
“Y—ya kamu lah yang beliin. Kamu punya bisnis, pasti punya duit dong.”
“Hahaha, enak aja. Daripada beliin HP buat dilempar-lempar, mending beliin tas buat mama.” Jovan meledek. “Udah, ah. Aku mau mandi, gerah!” sambungnya, menyambar pakaian di atas sofa dan melenggang ke kamar mandi dekat pintu kamar.
“Ambilin HP papa dulu! Entar mama telfon gak langsung diangkat bisa ngamuk!” teriak Tama.
“Hahaha, resiko ditanggung penumpang!” sahut Jovan, malah membuka pintu kamar mandi dan mengunci dari dalam.
“Aduh, anak kurang ajar. Gini nih, kalau kelamaan di rahim emaknya.” Tama mengomel, tapi juga mengulas senyuman.
Sudah lama Tama menjadi sahabat terbaik bagi putranya, membiarkan sang anak berulang selama masih dalam batas. Tama tidak segan bertindak tegas, terkadang juga memarahi kala Jovan terlalu bandel dan sulit diingatkan halus. Terutama, kala putra sematawangnya itu terkesan sering berganti perempuan, dan semua bertahan paling lama satu Minggu saja.
Senyum terpasang di wajah Tama ketika mengingat tingkah pola putranya, memudar tatkala wajah ibunda Kiara menyapa dalam ingatan. Telinga pun seperti mendengar jelas bagaimana teriakan Nurma hari itu, memaki dirinya histeris sampai berlinang air mata dan menuduh Tama sengaja membuatnya kehilangan suami.
“Aku harap, kamu udah meninggal. Seenggaknya, aku bisa balas semua ke Kiara tanpa penghalang.”
Bibir pria paruh baya itu berceloteh tanpa terkoneksi dengan pikiran. Tama memukul mulutnya sesaat dirinya tersadar atas apa sudah diurai barusan.
“Gara-gara sering ngobrol sama Jovan, ini mulut jadi suka banget ngomong seenaknya!” umpat Tama.
Sementara Tama ngomel sendiri, Jovan sudah mengguyur kulit putihnya dengan air dingin. Telapak tangan bersandar pada dinding keramik di depannya, Jovan menunduk membiarkan tengkuk juga kepala belakang tersiram air segar. Namun, itu tidak berlangsung lebih lama dari biasanya. Jovan mengangkat cepat kepala, mengusap air dari wajah.
“Perempuan kurang ajar, beraninya dia ngintipin orang mandi!” maki Jovan, setelah dia menangkap wajah Kiara dari kedua mata terpejam. “Dikira dia itu siapa?! Dasar perempuan gak normal!”
Jovan terus memaki tanpa ada lawan bicara nyata. Hati memanas akan rasa kesal, mengingat bagaimana Kiara enggan menatap wajahnya dan berjabat singkat, lalu membersihkan seperti dia baru saja menyentuh noda.
“Nih, aku juga bisa bersihin tangan habis pegangan sama kamu! Dasar, tangan kasar aja belagu gak karuan. Gak tau apa, yang mau jabat tangan sama aku tuh sedunia antri! Ngeselin!”
Jovan mengambil sebotol sabun, menuangkan lebih banyak pada telapak tangan. Lelaki pemilik otot tubuh menggoda itu membersihkan telapak tangan dengan memberikan sedikit tekanan. Dia tersinggung, tapi sedikit ada kesadaran menyusup dalam kepala yang membuatnya berhenti dari mengusap-usap telapak tangan.
Jovan hening, ingat betul bagaimana cara Kiara berusaha menyembunyikan telapak tangan saat ingin membersihkan. Bahkan, perempuan itu tidak menciptakan gerakan berarti, karena pundak pun tidak sampai bergerak. Hanya saja, mata jeli Jovan yang lebih cepat menangkap, hingga memunculkan perasaan tersinggung yang sulit dikendalikan.
***
Pukul dua siang, Jovan mengikuti Kiara yang sudah menuntaskan shift kerjanya. Dari mulai rumah sakit, ke dua sekolah berbeda, pasar, sampai rumah, Jovan terus membuntuti tanpa memalingkan perhatian. Bahkan, lelaki bercelana pendek di atas lutut itu sampai rela berdiam diri di dalam mobil, menatap rumah yang sudah dimasuki oleh Kiara bersama kedua anaknya dan belum kunjung keluar sampai jam hampir mendekati angka lima.
“Pulang aja lah. Penting udah tau alamatnya, jadi gampang nyari informasi.”
Jovan menyalakan mesin kendaraan, namun urung pergi kala melihat dua anak berlari keluar dari rumah sembari tertawa. Di sana ada Kiara mengejar dengan tawa tak jauh berbeda, Jovan mengulas senyum melihat perempuan berdaster kuning pendek itu merangkul kedua anaknya kuat, menenggelamkan dalam ketiak sengaja.
“Perempuan judes kalau udah senyum, kenapa bisa cantik banget?” ungkap lelaki berkaus putih itu, tanpa sadar senyumnya semakin melebar.