Jovan cukup betah merekam setiap momen bercanda Kiara bersama kedua anaknya, sampai tidak menyadari bahwa waktu bergerak lebih cepat dari hari biasa. Jam menunjukkan pukul setengah enam, ponsel Jovan berdering panggilan masuk dari sekretarisnya.
Nyatanya, lelaki itu lupa jika ada janji dengan klien pukul lima sore tadi. Jovan langsung tancap gas pergi, setelah meminta sekretarisnya menahan klien lebih dulu. Ya, walau masih sangat ingin berlama-lama mengetahui aktivitas dari perempuan dinilainya memiliki kepribadian ganda, namun bisnis juga tidak bisa untuk diabaikan olehnya.
***
Langit sudah menggelap, jarum jam pun telah nyaman bertengger di angka delapan. Seperti biasa, Kiara membantu kedua anaknya belajar dari jam tujuh tadi, dan kini membantu mereka untuk mengemas pelajaran untuk esok hari. Kiara mempersiapkan seragam anak-anaknya, sampai telinga terusik akan ketukan dari luar.
“Bunda lihat dulu, ya? Kalian lanjutin nyiapin pelajaran, sekalian alat tulisnya juga. Nanti bunda periksa lagi,” ucap Kiara sembari menggantung rok panjang hijau tua putrinya.
“Siap, Bunda.” Keduanya kompak menjawab.
Kiara mengusap lebih dulu ujung kepala anak-anaknya, kemudian keluar melihat siapa yang datang. Ayunan kaki perempuan bercelana pendek sampai bawah lutut itu terhenti, ketika melihat seorang perempuan berdiri di ambang pintu menenteng tas tangan cokelat tua.
“Maaf, mau nyari siapa?” santun Kiara begitu menghampiri.
Perempuan berbalut celana jeans panjang serta kaus ketat itu menelisik sekujur tubuh Kiara, senyum remeh dipahat olehnya.
“Mutia, istri mas Arya.” Perempuan berambut hitam sampai punggung itu menjawab angkuh.
Kiara tersenyum tenang, mengantongi kedua tangan dalam saku depan celana hitamnya. “Mau ngapain?” tanyanya santai.
“Gak sopan. Harusnya, kamu persilakan tamu masuk. Gak punya etika, ya?” kelakar Mutia, senyum dipahat lagi oleh perempuan berikat rambut ekor kuda di hadapannya.
“Sampah itu disapu keluar, bukan dibawa masuk.” Kiara menyinggung Mutia, sampai tas tangan diturunkan paksa. “Langsung aja, gak usah banyak basa-basi.”
“Manusia gak ada etika! Pantes kamu ditinggalin. Mass Arya juga pasti muak sama kelakuanmu!” cibir Mutia, ibu dua anak di depannya menaikkan pundak dan melengkungkan bibir ke bawah. “Aku cuma mau ambil paspor mas Arya, kita mau liburan dan butuh paspor itu! Sekalian akte, kartu keluarga sama semua surat suamiku yang ada di kandang ini!”
Kiara membasahi bibir, tertunduk mengulas senyum dan berakhir menggigit bibir bawah singkat.
“Minta suami kamu buat lunasin hutangnya dulu, baru dia bisa ambil semua dokumen yang jadi jaminan utang. Masalah kartu keluarga, itu milik alamat ini. Lagian, dia udah lama aku buang dari daftar itu, jadi kalian bikin aja sendiri.”
“Utang? Kamu udah gak waras? Mas Arya itu punya banyak uang, jadi gak mungkin dia utang! Balikin semuanya, atau aku yang bakal geledah ke dalem!”
“Coba aja, kamu bakalan tau seberapa gila aku.”
Mutia menatap sinis mata Kiara. “Kamu sengaja kan nyimpen semua itu, biar mas Arya bisa balik ke sini? Ngipi aja sampai mati, itu gak bakalan terjadi! Mas Arya juga gak buta buat balik sama perempuan jelek, miskin, gak kerawat modelan kamu gini!”
Kiara menarik ujung-ujung bibirnya, ekspresi tetap dalam ketenangan sama. “Kamu cantik, kulitmu terawat. Tapi, buat apa kalau akhirnya semua itu cuma jadi bahan obralan? Barang terbaik itu dipajang paling depan buat dipegang-pegang, paham maksudnya?”
“Jaga omonganmu!” geram Mutia, melayangkan tangan kanan ke wajah kiri Kiara.
Tidak. Kiara tidak membiarkan untuk tamparan itu mengenai wajahnya. Kiara menahan pergelangan tangan Mutia, membuang kasar sampai suami baru mantan suaminya itu hampir terjatuh. Kiara membersihkan telapak tangannya, mengusap berulang pada sisi celana tengah dikenakan.
Mutia tidak terima dengan semua perlakuan Kiara terhadapnya, dia merasa sangat terhina. Terlebih, ketika menyaksikan jelas seperti apa Kiara membersihkan telapak tangan dengan gurat wajah jijik terpasang.
“Orang miskin gak tau diri!” serang Mutia, kedua tangan mengangkat tas untuk memukul kepala Kiara. Namun, guyuran air langsung menyerang sekujur tubuh Mutia, dia pun berteriak.
“Ups, maaf. Kirain tadi kucing liar,” ujar Dita membawa ember kosong. Kiara terkejut, dia menoleh dan menemukan Rasya juga Dita cekikikan.
Mutia merah padam, api amarah menjalar-jalar pada setiap nadi. Perempuan itu mengulurkan panjang tangan kirinya, menarik rambut Dita yang ada di balik tubuh ibunya.
“Anak kurang ajar, gak berpendidikan!” maki Mutia menarik rambut Dita.
Kiara yang semula mengisyaratkan anak-anaknya agar masuk ke dalam, refleks menjambak rambut tergerai Mutia dan menariknya kuat. Sontak saja, perempuan berkaus putih itu melepaskan jemari dari rambut Dita dan memegangi rambutnya sembari mengerang kesakitan.
Telapak kanan Kiara menampar hebat wajah Mutia, tanpa melepaskan cengkeraman tangan kiri dari rambut perempuan yang dihadiahi tamparan dua kali olehnya.
“Jangan pernah berani sentuh anak-anakku, kalau kamu gak mau berhadapan sama kegilaanku!” tegas Kiara, mendorong Mutia dan melepaskan rambutnya.
“Aaaakh!” Mutia berteriak kesakitan, tubuhnya terempas ke lantai. Dia memegangi kepala dan pinggang dalam waktu bersamaan, semuanya terasa sakit. “Ra—rambutku …,” keluh Mutia mengetahui helaian-helaian rambut terlepas dari kulit kepala.
“Kamu, suamimu atau siapa pun, jangan pernah berani dateng ke sini dan buat masalah! Main aja drama di tempat lain, karena di sini gak ada panggung buat semua drama kalian!” tekan Kiara. “Satu hal yang harus kamu inget … aku bukan orang yang bakalan diem pas diinjek-injek sama orang kayak kalian!”
Kiara berbalik, menutup rapat pintu dari dalam dan meninggalkan Mutia dengan segala sumpah serapahnya. Kiara membawa anak-anaknya ke kamar, agar tidak lagi mendengar suara dari perempuan yang juga menendang-nendang pintu melampiaskan kemarahan. Dita dan Rasya memeluk ibu mereka, bukan karena ketakutan, tapi karena ingin memberikan kekuatan pada perempuan yang tidak pernah lelah membela mereka.
“Bunda baik-baik aja. Gak usah dipikirin, ya? Anggap aja, kita lagi nonton sinetron barusan.” Kiara mengulas senyum, menatap anak-anaknya bergantian.
“Aku sayang, Bunda.” Rasya dan Dita bersuara, dikecup ujung kepalanya oleh sang ibu.
Itu bukan hal baru. Semenjak kepergian Arya, ketiganya memang selalu berusaha saling menguatkan satu sama lain. Hanya Dita dan Rasya alasan utama Kiara bertahan, di mana dia tidak akan berpikir panjang untuk membela anak-anaknya, tanpa membiarkan mereka tertindas kesekian kalinya.
***
Keesokan hari, Kiara sudah beraktivitas seperti biasa. Perempuan yang sudah mengempaskan masalah semalam itu, kini mengepel lorong rumah sakit. Ramah dia meminta izin pada orang yang duduk di bangku depan kamar inap sembari mengulas senyum tulus. Kiara membungkuk untuk mengepel daerah bawah bangku, sampai sesuatu terjadi dan membuatnya terdorong sampai menabrak kuat kursi stainles di depannya.
“Aduh!” pekik Kiara, diiringi oleh suara lain di samping telinga kiri.
Kiara membuka lebar mata, begitu dia sadar bahwa ada yang menimpa punggungnya. Gerakan refleks dilakukan sekuat tenaga. Kiara mendorong lelaki yang jatuh di atas tubuhnya, sampai lelaki itu terjatuh dalam posisi duduk setelah menabrak troli berisi air pel yang langsung mengguyur tubuhnya.
“P—Pak Jovan?!” Kiara kaget, lekas berdiri dan menghampiri. Lebih dulu dia mengambil wadah air pel yang ada di pangkuan Jovan, sebelum menolong lelaki tengah bersungut-sungut kepadanya.