Ganti Rugi Delapan Ratus Juta

1448 Words
Bab 6 “Kalau kamu gak bisa kerja, gak usah kerja!” maki Jovan, menolak bantuan diberikan oleh Kiara. “Udah salah naruh wadah air di tengah jalan, malah ngedorong orang lagi!” “Sa—saya minta maaf. Ta—tapi, bapak yang nabrak saya tadi, jadi saya reflek dorong.” “Enak banget kamu minta maaf! Kamu harus tanggung jawab sama semua ini! Ganti rugi semuanya atau saya bakal laporin kamu dengan kasus percobaan pembunuhan!” Kiara membuntang, walau kedua alis diturunkan berkerut olehnya. “Pe—percobaan pembunuhan?” “Iya! Kamu sakit hati sama saya gara-gara kemarin, terus sekarang kamu sengaja naruh troli sialan ini di tengah jalan biar saya kesandung terus kepeleset, gegar otak dan meninggal, kan?!” Kiara menggerakkan bibir tanpa suara, matanya berkedip tanpa bisa percaya. “Ba … Bapak yang nabrak troli saya, dan sekarang saya harus kerja dua kali. Gimana bisa bapak nuduh saya mau ngelakuin percobaan pembunuhan?! Lagian, saya harus sakit hati di bagian mana?” Jovan memajukan wajah ke arah Kiara, ekspresi dipasang tegas menyeramkan. “Saya gak mau tau alasan kamu, dan saya cuma mau kamu tanggung jawab atau urusan sama pengacara saya sekarang!” ucapnya, menekan setiap kata layaknya orang mengeja. Perempuan selalu mengikat tinggi rambutnya itu terpejam, menarik dalam napas. “Saya akan tanggung jawab. Bapak bisa lepas pakaian, biar saya cuci. Kalau sudah selesai, saya akan langsung antarkan ke kamar rawat pak Tama.” “Hahaha!” tawa Jovan, memundurkan kepala dan menoleh sejenak ke sisi kanan. Lelaki itu menatap tajam lagi ke lawan bicaranya. “Ganti semua dengan yang baru! Sabun, sampo, parfum, arloji, jas, kemeja, celana, sepatu, semua!” “Y—ya?!” kaget Kiara. “Delapan ratus juta. Itu belum uang berobat dan uang kaget, semua harus kamu bayar detik ini juga!” Kiara terbelalak, hampir terlepas biji mata dari tempatnya ketika mendengar nominal disebutkan oleh lelaki masih duduk meluruskan kedua kaki di lantai. “Ini gak masuk akal!” seru Kiara berdiri. “Saya emang gak tau barang bermerek, tapi saya juga gak bodoh buat ganti rugi sebanyak itu cuma buat pakaian!” Jovan ingin berdiri, tapi urung melakukan. Sekadar mata kemerahan ditunjukkan pada lawan bicaranya. “Kamu bisa lihat sendiri merek pakaian juga barang-barang yang saya pakai, terus cari tau harganya. Kalau ginjal kamu gak sampai leleh, itu udah bagus!” Kiara menelisik setelan jas milik Jovan, begitu pula dengan barang-barang lain yang menempel pada pria tampan itu. Teringat dia tentang siapa sosok Tama yang ada di balik nama Jovan, sepertinya memang bukan kebohongan kalau harga barangnya sangat fantastis. Meski, tetap saja itu tidak mampu diterima oleh logika Kiara. “Gimana?! Kamu bisa bayar itu sekarang, atau saya hubungi pengacara?!” Kiara bingung sampai meredupkan pandangan, mengepalkan tangan dan melebarkan berulang di samping tubuh. “Saya pasti tanggung jawab. Saya akan mencuci pakaian bapak, saya belikan bapak sampo dan sabun baru di swalayan, saya juga akan membersihkan sepatu bapak sampai mengilat. Masalah arloji, saya yakin kalau itu anti air. Jadi gak mungkin rusak, kan? Kalau memang rusak, saya bawa itu ke tukang servis,” tutur Kiara. “Hanya itu yang bisa saya lakukan, selain meminta dokter untuk mengobati bapak sekarang.” Jovan menelisik wajah Kiara, lalu menggeleng. “Ganti semua atau urusan sama pengacara!” “Pak! Saya gak punya uang sebanyak itu, dan saya juga punya dua anak yang gak mungkin saya tinggal buat urusan hukum. Tolong ngerti dikit aja, Pak.” Kiara sedikit frustrasi. “Oke, kalau gitu.” Jovan mengembuskan napas di tengah ucapan. “Rawat saya sampai sembuh!” “Ya?” “Kalau kamu gak mau, silakan siapin uangnya. Gak peduli kamu bayar lunas ke saya atau urusan sama pengacara, semua tetep butuh uang.” Kiara terdiam kebingungan, ujung kemeja seragamnya dikucek-kucek seperti dia tengah mencuci. “Gak mau ya udah.” Jovan merogoh saku dan mengambil ponsel, Kiara bergerak cepat menahan gerakan jemari lelaki itu. “Mau!” seru Kiara kembali bersimpuh. “Saya mau rawat bapak sampai sembuh. Asal, bapak bebaskan saya dari kata-kata uang.” Mata Kiara melukiskan permohonan, Jovan malah menatap dalam binar mata yang cukup dekat dengannya. Sejenak mereka saling mengunci pandangan, sampai seorang pegawai kebersihan lain datang menegur Kiara setelah mengetahui lantai banjir air keruh. “Ki, kenapa bisa berantakan banget?” tegurnya mengejutkan Kiara, lalu menatap tangan masih saling menumpuk di atas perut Jovan. Kiara tersadar, dia mengangkat tangannya dan berdiri segera. “Mm, i—itu … tadi saya,” terbata Kiara. “Mas Santoso, aku boleh minta tolong anterin pak Jovan ke kamar pak Tama, gak? Aku rapiin ini dulu.” “Kamu yang salah, terus kamu minta orang lain tanggung jawab?!” sela Jovan meninggikan suara. “Anter saya atau ganti rugi sekarang!” “Saya akan tanggung jawab, tapi biarkan saya bersihkan lantai ini dulu!” jengkel Kiara, dipanggil lirih oleh rekan kerjanya untuk mengingatkan. Kiara menoleh pada Santoso, mata terpejam beriringan napas kasar diembuskan. “Udah, biar aku yang rapiin. Mending, kamu anter aja ke kamar pak Tama sekarang, sebelum keamanan dateng. Kalau ada keluarga pasien yang lapor soal keributan ini, kita bakal dapet masalah dari pihak rumah sakit.” Kiara sungguh kesal dengan semua kelakuan Jovan. Namun, perempuan itu hanya mampu menahan, membiarkan hatinya sesak. Napas berat dikeluarkan oleh Kiara lewat mulut, lagi-lagi dia harus terpejam demi menekan kekesalan tang sangat ingin meluap. “Makasih banyak, Mas.” Kiara tersenyum, Santoso mengangguk dengan balasan senyum tak jauh berbeda. Perempuan yang memang tidak pernah ingin berdekatan dengan lelaki itu, terpaksa membantu Jovan berdiri dan mengantarkan ke ruangan Tama yang masih berada di lorong sama. Santoso mengamati dari kejauhan, petugas kebersihan berusia tiga puluh tujuh tahun itu menggeleng, tersirat rasa kasihan pada janda dua anak tersebut. Sesampainya Jovan dan Kiara di kamar Tama, mereka berhasil membuat pria tengah asyik menonton berita di televisi itu terkejut. Bagaimana tidak, putra yang semalam tidak kembali menemani dirinya, kini terlihat compang-camping tak karuan. “Di luar hujan? Kamu jatuh apa sengaja guling-guling di jalanan?” tegur Tama, wajah malas terpasang dari putranya. “Dikira aku kurang kerjaan, apa?! Aku tadi keluar dari lift, terus kesandung troli dia sampai air kotor tumpah ke badanku. Gini kan aku jadi mandi lagi.” “Ada ikannya kecil-kecil pada mabok gak tadi?” ujar Tama, putranya semakin menunjukkan ekspresi malas. “Dikira lagu anak-anak?!” kelakar Jovan, papanya tertawa. “Udah ah, mau mandi!” sambungnya, berlalu pergi begitu saja. Kiara menatap punggung Jovan, berpaling ke arah Tama setelah lelaki bertubuh tinggi itu menerobos kamar mandi. Senyum dipahat paksa oleh perempuan pemilik bibir merah alami itu. Tama mengayunkan tangan memanggil, bertanya akan apa yang sebenarnya terjadi. Bukan iba, pria yang sama sekali tidak terlihat seperti orang sakit tersebut, justru tertawa ketika mendengar bahwa putranya meminta ganti rugi. Namun, Tama menjelaskan bahwa benar putranya tidak pernah menggunakan barang murah. Dia rela memesan langsung pada pengrajin untuk apa yang diinginkan, meski harus membayar berkali lipat dari harga normal. Jangankan apa yang menempel di tubuh, sekadar pena saja Jovan memesan khusus sesuai model juga jenis tinta diinginkan. Hal tersebut jelas membuat Kiara tercengang, dia tidak pernah menemukan manusia seperti Jovan dalam hidupnya. *** Beberapa jam berlalu, dokter sudah memeriksa Jovan. Memang ada beberapa luka di tubuh mulus lelaki itu, selain kulit memerah gatal akibat air pel. Kiara tidak menyangka bahwa akibatnya bisa sampai fatal, paling parah adalah memar pada bagian pinggang belakang yang membuat Jovan meringis kesakitan saat bergerak. Brankar lain sengaja disediakan untuk Jovan di kamar sama dengan papanya, agar lelaki itu bisa berbaring nyaman. Lagi pula, kaki kanan Jovan juga terkilir akibat dorongan kuat dari Kiara tadi, dan membuatnya tidak bisa berbaring nyaman di sofa bed. Kiara merasa bersalah, dia meminta maaf atas kesalahan diperbuat. “Mulai sekarang, kamu harus rawat saya sampai sembuh total. Pagi, siang, sore, malam, kamu harus tetap di ruangan ini ngebantu saya nyelesaiin kerjaan kantor sama aktivitas lain. Kamu harus nyuapin saya, bantu saya minum, semua!” ujar Jovan. “Kamu bisa pergi pas jam kerja aja, abis itu balik lagi rawat saya!” “Saya enggak bisa kalau harus kayak gitu, Pak. Saya gak mungkin ninggalin anak-anak saya di rumah, mereka juga butuh saya.” Kiara menyahut. “Saya bakal rawat bapak sampai sore, setelah kerjaan saya selesai dan saya jemput anak-anak dari sekolah.” “Enak banget kamu bikin jadwal!” sembur Jovan. “Gak ada! Itu bukan tanggung jawab penuh namanya!” “Mau gimana lagi, saya juga punya tanggung jawab lebih besar ke anak-anak saya.” “Y—ya udah, bawa mereka kesini kalau udah pulang sekolah. Bawain mereka pakaian, kamu bisa bolak-balik ambil pelajaran.” Jovan memberi solusi tanpa berpikir, mengejutkan Tama yang langsung menoleh padanya dengan pupil membesar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD