TUJUH BELAS “Manyun aja, Din.” Aku menepuk bahu Nadin, mengulurkan pesenan cokelat panasnya. “Dih, melengos. Ini cokelatmu.” “Taruh meja, kan bisa?” suruh Nadin. Giliran aku yang manyun. Meletakkan cokelat panas Nadin tepat di depan muka kucel Nadin. Nadin langsung terduduk tegak, mengipasi wajahnya. “Ya jangan di depan mukaku, La!” omelnya. “Harusnya tadi, siramin sekalian aja, La,” sahut Najwa. “Kenapa sih manyun gitu?” Nadin menghela napas. Menatapku dan Najwa bergantian. “Mas Ibram, udah bosen sama aku kayaknya,” lirih Nadin. “Bosen gimana?” “Ya bosen, La.” “Iya, bosennya gimana?” Najwa tidak sabar. “Akhir-akhir ini, dia jadi susah diajak jalan. Pas ketemu di kampus, udah jarang banget mau diajak ke kantin. Kaya tadi tuh. Padahal dia mau ke kantin, aku tau banget. Tapi dia m

