DUA PULUH Kiyo menoleh ke arahku. Aku bergegas masuk ke kamar Kiyo. Membantu Kiyo yang tadi menjangkau teh di ujung nakas samping tempat tidurnya. Kiyo yang sepertinya terkejut melihat kedatanganku, buru-buru bangun untuk duduk. Sebelum aku memberikan teh itu, aku membantu Kiyo untuk duduk. Karena lelakiku itu, sungguh kelihatan susah pAyah bangun. “Kamu mau minum?” tanyaku. Lalu tanganku mengulurkan teh hangat itu pada Kiyo. Aku dapat melihat dengan jelas, bahwa tangan Kiyo gemetaran. Jadi aku dengan lancang menepis yangan Kiyo yang hendak menerima gelas. Dan subhanallah, panas banget tangan Kiyo. Aku mengulurkan teh itu langsung pada bibir Kiyo. Kiyo nampak ragu, namun akhirnya dia minum. “Udah, La,” lirihnya. Aku meletakkan kembali teh itu ke atas nakas. “Kok kamu--” Itu suara ka

