Syuting Konten

1064 Words
Kelima orang lainnya tersenyum mendengar perdebatan mereka, Kim Seok Jin lantas melirik jam yang ada di pergelangan tangan kirinya. "Sudah jam 11." Dia juga melirik ke belakang di mana jalan raya berada. "Keadaan jalan juga sudah sepi, kita sudah bisa mulai penelusran. Apa kalian sudah siap?" Mereka semua mengangguk, Kim Seok Jin berdiri disusul yang lainnya. Mereka akan start syuting dari tempat itu dan berjalan menuju lokasi yang dituju. Semua orang bersiap, dan Kim Nam Joon menyalakan kamera. Saat terlihat lampu kamera berwarna merah wajah tampan Kim Seok Jin yang pertama kali menyambut di layar kaca kamera. "Hallo, SEVEN HUNTING Lover's. Apa kabar? Malam ini kita memenuhi tantangan dari SEVEN HUNTING Lover's yang sudah mengajukan lokasi ini untuk kami telusuri. Seprti biasa aku Jin, dan mereka semua akan memenuhi jiwa penasaran kamu atas dunia lain." Berbeda dengan Kim Nam Joon, Min Yon Gi, Jung Ho Seok, Kim Tae Hyung dan Jeon Jung-Kook yang memiliki nama panggung. Kim Seok Jin dan Park Jimin memilih menggunakan nama panggilan yang juga dijadikan nama panggung mereka. Kini semua anggota tampak berbaris di dekat host, keenam orang itu tampak serius memperhatikan lokasi penelusuran yang mulai mencekam karena waktu sudah mendekati tengah malam. "Gimana kalau kita mulai jalan saja ke lokasi?" tanya Kim Seok Jin pada semua anggota. Terlihat waktu yang ada di kamera menunjukan jam 11:25 menit saat ini. Semua anggota mengangguk setuju, dan mereka mulai berjalan menuju lokasi penelusuran yakni sebuah terowongan yang terkenal dengan keangkerannya. Baru saja beberapa meter berjalan, tampak Jeon Jung-Kook menoleh ke arah kiri, tepatnya ke arah pohon besar yang ada di sebelah sebuah toko pinggir jalan. Tentu saja yang paling memeperhatikan adalah kameramen di belakang. "Kau lihat apa, JK?" tanyanya memanggil Jeon Jung-Kook dengan nama panggungnya, jadi orang-orang sudah akrab dengan mereka dengan nama panggung mereka. Jeon Jung-Kook menggaruk belakang lehernya dan tersenyum ke kamera. "Tidak apa-apa, tadi itu aku hanya melihat sekilas ada yang bersembunyi di sana!" tunjuknya pada pohon itu. Kamera lantas langsung mengarah ke sana. "Apakah kita perlu ke sana untuk melihat lebih jauh?" tanya Kim Nam Joon. "Mmh, mungkin saja di sana ada sesuatu," sambung Jung Ho Seok. "Tidak usah, dia sepertinya tidak mau kenalan sama kita. Lebih baik kita lanjut saja perjalanan, di sana sudah ada yang menunggu kita," jawab Jeon Jung-Kook. Semua orang mengangguk, lalu tak lama Jeon Jung-Kook melepas tas ransel di punggungnya secara tiba-tiba membuat semua orang bertanya-tanya. "Ada apa? Bukankah masih ada beberapa meter lagi kita sampai ke lokasi?" tanya Kim Tae Hyung. Napas Jeon Jung-Kook tampak terengah, padahal jelas dia hanya mempersiapkan stand kayu dan meletakan canvas di sana, dan Jeon Jung-Kook dengan tergesa-gesa mengeluarkan alat-alat lukisnya dari ransel. "Sepertinya makhluk astral di tempat ini sudah menunjukkan eksistensinya, Gais. Sepertinya JK akan melukis satu sosok dari tempat ini," terka Kim Seok Jin. Kala Jeon Jung-Kook menatap pada satu arah yang kosong, dan tangannya yang sedikit gemetar hendak akan menorehkan kuas pada permukaan canvas yang putih, tapi tiba-tiba ia berteriak. "Hey, tunggu!" Teriakan Jeon Jung-Kook membuat semua orang kaget. "Ada apa, JK?" tanya Jung Ho Seok, panik. Sementara Min Yon Gi tetap stay cool di dekat Park Jimin yang terlihat jadi pendiam juga sekarang. Jeon Jung-Kook menunjuk satu arah yang gelap dengan napas yang tersengal, menjadi orang yang bisa melihat hal seperti itu memang cukup menguras energi. "Tadi ada sosok anak kecil, perempuan, rambutnya panjang dan wajahnya sedikit terlihat. Sangat pucat, dan bawa boneka. Aku merasakan kesedihan yang dia rasakan, dia sepertinya mau aku lukis tadi, tapi tiba-tiba malah pergi," jelas Jeon Jung-Kook, berkali-kali ia menelan saliva dengan susah payah hingga membuat buah jakunnya itu terlihat naik turun. Keringat yang keluar dari dahinya menunjukkan kalau Jeon Jung-Kook sudah merasakan banyaknya hawa negatif meski belum sampai di tempat lokasi. Melihat temannya yang tampak lelah, membuat Park Jimin berinisiatif mengambil air minum dari tas ranselnya . "Ini minumlah," pintanya seraya mengulurkan tangan memberikan air mineral pada temannya. Jeon Jung-Kook dengan segera menyambar botol air minum untuk ia tenggak sedikit, lalu memberikannya kembali pada Park Jimin, tapi disambar kembali oleh Kim Tae Hyung saat Park Jimin hendak meraihnya lagi. "Aku minta sedikit air minummu, aku juga haus," katanya sambil membuka tutup botol. Karena Park Jimin masih dendam dan kesal pada Kim Tae Hyung, lagian kapan sih mereka bisa akurnya? Kayaknya jarang. "Tidak bisa! Kau salah sendiri tak mau bawa air minummu sendiri," kata Park Jimin setelah merebut kembali botol minumnya. Kim Tae Jung mencebik sebal. "Dasar kau pelit!" ejeknya. Park Jimin lalu mengulurkan telapak tangannya ke depan wajah Kim Tae Hyung. "Bicaralah sama tangan!" katanya lantas berjalan ke depan mendahului yang lain. Namun, baru saja pria itu berjalan beberapa langkah, tak lama berhenti mendadak dengan tubuh yang terlihat kaku. Kim Nam Joon mengarahkan kamera pada sosok Park Jimin yang berdiri diam membeleakangi semua orang, tiba-tiba membuatnya curiga. "Jimin, apa kau baik-baik saja?" tanya Kim Nam Joon. Pertanyaan kameramen membuat semua orang menoleh ikut memperhatikan Park Jimin yang tampak kaku, ekspresi wajahnya memang aneh, tapi tidak ada yang tahu dengan perubahan ekspresi wajah pria itu. Karena merasakan keanehan, Jeon Jung-Kook segera membereskan alat lukisnya, karena firasatnya bilang dia harus bersiap berlari. "Jim, Jimin!" panggil Kim Seok Jin seraya berjalan perlahan mendekati Park Jimin di depan, tangan kanannya terulur akan menyentuh pundak temannya. "Hihihi!" Tanpa diduga Park Jimin tertawa aneh, matanya seakan kosong dengan seringai bibir yang menyeramkan. Kim Seok Jin mundur. "Jim!" ucapnya kaget. Tampak ketegangan terasa saat Park Jimin terus mengeluarkan tawa khas perempuan berbaju putih yang biasa duduk di dahan pohon, membuat hawa dingin begitu terasa menusuk tulang. Tampak Jung Ho Seok mengusap tengkuknya yang terdapat headphone yang terkalung di lehernya merasa sedetik lagi akan terjadi hal yang mengejutkan, dan tak lama memang Park Jimin berbalik badan secara tiba-tiba dengan menunjukkan ekspresi wajah seramnya dan suara cekikikannya semakin keras. Semua orang kaget dengan perubahan Park Jimin, kecuali Kim Tae Hyung yang tampak menaikkan satu alisnya curiga. "Biar aku tangani dia," katanya dengan percaya diri, seakan ia tidak kenal takut. Kim Tae Hyung berjalan mendekat pada Park Jimin yang masih tertawa aneh, dengan cepat ia menyambar botol mineral di tangan Park Jimin, semua orang tertegun menunggu tindakan apa yang akan dilakukan Kim Tae Hyung. Terlihat pria itu tersenyum miring, membuka tutup botol dan mengarahkan bibir botol ke mulutnya, saat itu Park Jimin merasakan petaka yang akan datang segera, tapi sebelum iya bisa menghindar, pria itu hanya bisa melebarkan kelopak mata saat Kim Tae Hyung memanyunkan bibirnya. BUUUUHHH!!!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD