Penampakan

1061 Words
Seketika wajah Park Jimin basah air yang disemburkan Kim Tae Hyung dari mulutnya, pria itu menegang saat melihat wajah Park Jimin dengan mata dan bibir yang tertutup rapat menghindari air masuk ke kedua celah yang ada di wajahnya itu. Park Jimin mengangkat satu tangan untuk menyeka air dari wajahnya, lantas menatap Kim Tae Hyung di depannya dengan tajam. Tiba-tiba Kim Tae Hyung menegang begitu pun dengan yang lain, dengan tubuh bergetar Kim Tae Hyung memberanikan diri untuk bertanya dengan suara sedikit gemetar. "A-apakah kau sudah sadar?" Napas Park Jimin bergemuruh, dadanya tampak naik turun menahan jengkel, melihat wajah merah pria itu seolah akan ada asap yang keluar dari dua lubang hidungnya yang kembang kempis, seketika bibirnya menyeringai. "Ya, aku sudah sadar, dan aku ingin mencekikmu, V!" Park Jimin mengulurkan kedua tangan ke depan leher Kim Tae Hyung, seketika Kim Tae Hyung berteriak ketakutan dan berlari lalu dikejar oleh Park Jimin. "HAHAHA!" Gelak tawa kelima orang teman mereka terdengar renyah, Kim Nam Joon masih merekam adegan lucu mereka berdua meski rekamannya tampak bergoyang karena dia juga tertawa terbahak-bahak. Nanti rekaman ini akan di save untuk video pribadi, dan akan diedit sebelum dipublish di akun konten mereka. Tangan Park Jimin terulur meraih kerah jaket jeans yang dikenakan Kim Tae Hyung sehingga tubuh pria itu mundur terjengkang dan berhenti berlari-lari. "Sini kau, dasar anak sialan!" geram Park Jimin. "Ampun, ampun, aku hanya berusaha menyadarkanmu, Jim." "Memangnya aku kenapa?" Kim Tae Hyung mengerutkan kening. "Bukankah tadi kau kesurupan hantu kuntilanak?" Park Jimin mendorong punggung Kim Tae Hyung dan melepaskannya. "Apa kau tidak mendengarkan saat tadi kita briefing? Memang seperti ini jalan ceritanya, aku pura-pura kesurupan dan nanti kalian tanya-tanya," jelasnya kesal, itu semua bertujuan agar mereka tidak harus melakukan penelusuran ke dalam terowongan, karena mereka tahu di dalam sana pasti sangat mengerikan. Seketika Kim Tae Hyung tersenyum kikuk seraya mengusap tengkuknya. "Maaf, tadi aku tidak mendengar briefing-nya, jadi kukira kau sungguhan kesurupan." Kim Tae Hyung kemudian memperhatikan suasana di jalan itu, lokasi terowongan yang dituju itu ada di depan. Pria itu berusaha mengalihkan topik pembicaraan. "Lagian ini tempat terasa angker sekali, Jim." Makanya mereka buat trik demikiab, agar tidak harus melanjutkan penelusuran dengan alasan kondisi Jimin tidak memungkinkan untuk melanjutkan misi. Park Jimin menghela napas lelah, dia sangat tahu kalau Kim Tae Hyung hanya mau mengalihkan perdebatan. "Dasar kau ini, manusia resek! Kau menyemburkan air ke wajahku dan mau lari dari rasa bersalah!" "Hei, tadi kan aku sudah minta maaf!" sela Kim Tae Hyung tak mau kalah. Melihat perdebatan mereka Kim Seok Jin memberi isyarat pada kameramen untuk melanjutkan perjalanan saja karena tiba-tiba ia merasakan hawa lain yang menarik perhatiannya, mereka lantas meninggalkan Kim Tae Hyung juga Park Jimin yang hampir saling jotos. Biar saja, yang sakit juga mereka. Kim Seok Jin mulai menjelaskan ke arah kamera sambil terus berjalan menuju lokasi bersama teman yang tersisa. "Jadi, SEVEN HUNTING Lover's. Menurut info yang beredar dari warga setempat. Jadi terowongan Casablanca ini tuh dulunya adalah sebuah lahan kuburan massal. Pemerintah memutuskan membangun kontruksi demi kepentingan pembuatan jalan raya. Nah, yang di atas itu adalah jalan kuningan, Gais." Kim Seok Jin menunjuk jalan yang berada di atas terowongan angker tersebut. Mereka kini sudah sampai di depan terowongan, memperhatikan lokasi yang sepi dan tampak dingin di dalam sana. Kim Seok Jin masih melanjutkan penjelasannya di depan kamera. "Namun, sumber lain menjelaskan bahwa sebenarnya Terowongan Casablanca membelah area pemakaman, tepatnya TPU Menteng Pulo. Terowongan tersebut dibangun pada Desember 1991 dan diresmikan pada Maret 1993." Lagi Kim Seok Jin membelakangi kamera dan menatap ke arah dalam terowongan, dia sepertinya ragu untuk masuk. Lantas ia menoleh pada teman yang lainnya. "Kita masuk sekarang?" tanyanya pada Min Yon Gi, Jung Ho Seok dan Jeon Jung-Kook. Ketiganya terdiam, tentu saja hawa berbeda sudah terasa saat masih di luar juga, apalagi masuk ke dalam. Namun, tantangan ya tantangan, kalau tidak diteruskan mereka takut akan mengecewakan penggemar mereka, lagipula ini bukan yang pertama kalinya. Setidaknya harus dicoba dulu, meski pun rencana awal mereka enggan melakukannya. "Kita coba saja dulu, ayo!" ajak Jeon Jung-Kook, pria muda itu berjalan lebih dulu dengan stand kayu juga canvas di tangannya. Kim Seok Jin dan yang lain segera mengikuti langkah Jeon Jung-Kook di depan, pria itu mensejajari langkahnya. "Sepertinya kau merasakan sesuatu, JK? Apa benar?" tanya Kim Seok Jin penasaran. Jeon Jung-Kook mengangguk. "Um, sepertinya di depan sana ada yang mau memeperkenalkan diri," jawabnya seketika membuat Kim Seok Jin menoleh ke arah kamera dan seolah mengajak penonton untuk jangan ke mana-mana dan ikuti terus penelusuran mereka. Suasana di dalam cukup terasa pengap, dinding terowongan juga agak lembab, kelima orang itu lantas berhenti tak jauh dari mulut terowongan, seperti tak berani masuk lebih dalam lagi. Kim Seok Jin sebagai host kembali menjelaskan. "Konon katanya dulu, pada saat pemerintah melakukan pemindahan jenazah, ada satu jenazah yang ternyata masih utuh. Tentu saja itu menimbulkan misteri dan penduduk di sini percaya, meski jenazah-jenazah itu sudah dipindahkan, tapi penunggu-penunggunya masih berada di sini, Gias." Terlihat Kim Seok Jin menyeka keringat dari keningnya, padahal jelas tidak mungkin di dalam terowongan yang tak terlalu panjang itu begitu terasa panas, tapi suasana memang sangat berbeda, sangat pengap dan lembab. "Bagaimana apakah sudah cukup kita di sini saja atau lanjut," tanya Host lagi pada yang lainnya. "Aku seperti melihat seseorang di ujung terowongan!" pekik Jung Ho Seok seraya menunjuk ke mana ia melihat sosok laki-laki yang berdiri di sisi ujung terowongan. Namun, Kim Seok Jin, Kim Nam Joon dan Min Yon Gi tak dapat melihatnya kecuali Jeon Jung-Kook. "Apa yang kau lihat? Aku tak bisa melihatnya," kata Min Yon Gi. "Aku juga tak melihat apa-apa," sambung Kim Seok Jin dan diangguki oleh Kim Nam Joon. "Tapi kau melihatnya kan, JK?" tanya Jung Ho Seok, dan Jeon Jung-Kook mengangguk. Jung Ho Seok merasa heran, padahal ia biasanya tak bisa melihat jika orang lain tak melihatnya. Untungnya ada Jeon Jung-Kook yang memang punya kemampuan bisa melihat makhluk astral, kalau tidak dia pasti sudah dianggap halusinasi. Saat semua orang tampak keheranan, Jung Ho Seok masih melihat ke arah laki-laki berkaus putih, dengan celana jeans yang ia kenakan. Tiba-tiba saja sosok itu bergerak, membuat Jung Ho Seok berteriak. "Hei, apa yang mau kau lakukan?!" Tangannya terulur dan tiba-tiba saja pria itu berlari seperti mau mengejar sesuatu. Jeon Jung-Kook yang mengerti apa yang terjadi pun ikut berteriak, mencegah Jung Ho Seok untuk pergi. "J-Hope, jangan mendekat!" peringatnya, tapi rupanya Jung Ho Seok tak mendengarnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD