Berantem (2)

1211 Words
Mungkin kejadian Alif meninggalkan Aura pagi tadi membuat wanita itu sangat marah. Lihat saja, istrinya itu belum pulang meski azan magrib sudah berkumandang. Alif menunaikan ibadahnya terlebih dahulu. Kemudian ke dapur melihat nasi yang di masaknya tadi sudah matang atau belum. Keadaan rumah sunyi di karenakan Alif seorang diri. Alif persis seperti lajang sekarang. Padahal sudah punya istri, tapi istrinya sendiri entah di mana. Apakah Aura tidak memikirkan dia di rumah? Alif menyentong nasi kemudian memasukkannya ke dalam piring. Memasukkan lauk pauk yang sudah dia masak sehabis pulang kuliah. Lelaki itu berjalan menuju ruang tengah. Duduk lesehan di depan tv yang menyala. Sementara dia fokus ke laptop yang ada di depannya. Makalahnya baru selesai separuh dan harus di kumpulkan sebelum jam dua belas malam. Sambil menyuapkan nasi ke dalam mulut. Alif sesekali mengerjakan makalahnya. Hingga bunyi pintu terbuka, Alif tetap acuh dan sibuk dengan laptopnya sendiri. Sedangkan Aura mendesah panjang dan menghempaskan tubuhnya di atas sofa. Melirik Alif yang kini fokus dengan kacamata melengkapi ke tampanan lelaki itu. "Ingat pulang ternyata," celutuk Alif tiba-tiba. Menjadikan Aura mendelik pelan. "Aku pikir kamu lupa kalau sudah punya suami yang mau di urus." sindir lelaki itu terus. "Please deh, Lif. Jangan mancing emosi gue. Gue capek tau!" Kesal Aura. Entah kenapa Alif sangat menyebalkan sekarang. Dia pikir Alif ini orangnya pendiam eh tau-taunya malah nyinyir kayak tetangga. "Siapa yang mancing emosi kamu, coba? Aku cuman bilang yang sebenarnya kan?" tanya Alif menoleh ke Aura. "Nggak seharusnya istri pulang setelah magrib tanpa minta izin ke suaminya dulu. Kalau dia mau pergi ke mana." sambung Alif, merasa perkataannya itu benar. "Ah, sinting mulu bawaannya kalau adu bacot sama, lo!" Aura melengos. Memandang sinis ke Alif yang kembali fokus ke laptop. Jari Alif bergerak lincah di atas keyboard laptop. Meski dia marah dan kesal sama Aura karena menyepelekan dirinya yang sebagai suami di sini. "Mending kamu bersihin diri daripada emosi karena adu bacot sama ku. Kalau belum makan, kebetulan tadi aku udah masak. Kamu tinggal makan doang." Imbuh Alif kembali. Aura memutar bola matanya jengah sendiri. Berdiri dari sana dan hendak berjalan menaiki tangga. Tapi langsung terhenti karena penuturan Alif kembali. "Dunia sudah terbalik sekarang. Seharusnya aku yang di masakin, eh, ini malah aku yang masakin istri sendiri. Miris banget hidup mu, Lif." gumam Alif sendiri. Karena makin kesal dengan Alif. Tanpa aba-aba Aura berjalan kencang menghampiri lelaki itu setelah melempar tasnya asal. Aura menyentak Alif dan memaksa lelaki itu berdiri. Detik saat itu, Aura melayangkan pukulan ke wajah Alif. "Aws!" Ringis Alif bersamaan tubuhnya di dorong ke lantai. Menyebabkan punggungnya terbentur pinggiran sofa. "Aduh ...." keluhnya kembali. "Itu akibat lo, nyinyirin istri lagi." Aura maju dengan tangan di depan d**a. Kembali melayangkan dua bogeman ke wajah Alif tanpa merasa peduli sendiri. Merasa setelah puas. Aura pun melenggang pergi dari sana. Meninggalkan Alif yang sudh nelangsa di tempatnya. "Heran, kenapa Mama sama Papa jodohin aku sama cewek modelan kayak dia." lirih Alif dengan nada kesal. Menghembuskan napasnya berat. Dan menyentuh bagian wajahnya yang terasa sakit. Sudah habislah wajah Alif hari ini. Lebam pagi tadi yang di berikan Andy belum hilang dan sekarang sudha di tambah dari Aura. Alif berdiri perlahan. Membuka laci meja mengambil kotak PK3. Dia harus mengobati lebam ini. Sebelum semakin menjadi. "Bonyok di bikin istri sendiri." dengus Alif. Kayaknya dia harus bersiap mental, mungkin ini bukan pertama kalinya akan di pukul Aura. Pasti wanita itu akan memukulnya kalau kesal karenanya. Setelah mengobati wajahnya. Alif kembali duduk di depan layar laptopnya. Mencoba menyelesaikan makalahnya kembali. Tapi ada menarik perhatiannya. Matanya beralih menatap lengannya yang tidak seberapa. Kemudian menekukkannya agar bisa melihat seberapa besar ototnya. Alif langsung menurunkan tangannya setelah melihat ototnya tak seberapa. Ah, seandainya Alif jago bela diri. Dia pasti bisa mengalahkan Andy begitu juga dengan Aura. *** Ada yang beda dari pengantin baru ini. Keduanya tidak bertegur sapa sudah dua hari. Baik Aura dan Alif sama-sama meninggikan ego masing-masing. Bukan Alif suka berada di dalam situasi ini. Dia hanya marah karena Aura yang memukulnya. Seakan wanita iti tidak menghargai dirinya sebagai suami. Sedangkan Aura. Masih terlalu jengkel dengan sikap Alif yang selalu nyinyir. Alhasil keduanya seperti orang asing seperti sekarang. Masing-masing mengurus diri sendiri. Tapi selama dua hari ini. Alif tetap masak untuk makan mereka. Tidak peduli kalau Aura memaknnya atau tidak. Yang terpenting Alif sudah masak agar istrinya itu tidak mati kelaparan. Aura sekarang duduk di pinggiran kasur sambil bermain game di ponselnya. Sedikit melirik ke arah pintu kamar mandi. Karena mengetahui Alif baru saja selesai mandi. Wanita itu seakan tidak peduli dengan keberadaan Alif yang ada di dekatnya. Kepala Aura mendongak saat melihat seseorang berdiri di hadapannya. Kemudian mendengus kala matanya bertubrukan dengan Alif. "Mau sampai kapan kita diam-diaman begini?" tanya Alif memecah keheningan malam itu. Sudah tidak tahan seperti orang asing di rumah sendiri. Aura masih diam dan enggan menjawab. "Aura, aku lagi ngomong sama kamu. Dan sebaik-baiknya istri adalah ketika suami berbicara dia mendengarkan bukan malah sibuk dengan dunia sendiri." tegas Alif memperingati istrinya. Namun, Aura tetaplah Aura. Dia mana pernah mendengarkan omongan siapapun kecuali, Mami dan Papinya. "Aura!" Sentak Alif dan menyambar ponsel Aura ke tempat tidur. "Apa, sih?" kesal Aura menatap nyalang Alif. "Kamu sebagai istri harus menghargai saya." ujar Alif mendorong kening Aura pelan. "Bukan acuh tak acuh ke saya." ucapnya formal. "Ini nih, orang kalau mau di hargai harus bisa menghargai orang juga dong." hardik Aura. "Lo sendiri mau di hargai sebagai suami. Sementara gue, setiap saat lo sindir-sindir. Lo, pikir gue nggak punya hati apa?" tanya Aura. "Gue aja malu berdiri di hadapan lo, karena nggak bisa masak. Jadi, jangan lagi lah, memperjelas lagi kalau gue itu nggak bisa apa-apa selain urusan ranjang!" Emosi Aura tidak terkendali sekarang. "Iya, gue sadar. Gue sebagai istri nggak pernah menghormati lo sebagai suami sendiri. Tapi gue juga mau lo, bisa membimbing gue sebagai istri yang baik. Bukan menuntut gue buat jadi istri yang lo, mau?!" Mata Aura memerah serta cairan bening yang menggenang di sana. Alif terpaku baru kali ini melihat Aura sekacau kayak sekarang. Kini posisi keduanya masih sama. Aura duduk di pinggiran kasur dan Alif berdiri di depan wanita itu. Mata Alif mengerjap beberapa kali. Saat melihat Aura menghapus air matanya kasar. Alif diam, Wala menyadari Aura sudah turun dari tempat tidur dan berlari menuju pintu. Namun, Alif langsung sigap menahan Aura. "Jangan pergi sebelum masalah kita selesai." ujar Alif mencoba melunakkan Aura yang sekeras batu. Alif manggut-manggut. "Oke, aku salah di sini dan kamu juga salah di sini. Cuman kita saja yang terlalu emosional saat lagi berantem." katanya masih menahan tangan Aura yang kini menangis dalam diam. "Untuk itu aku minta maaf. Maaf karena nggak pernah ngertiin posisi kamu. Aku salah," ucap Alif pelan. Aura semakin terisak akan itu. Wanita itu pasrah saja kala Alif merengkuh tubuhnya. Mendekapnya demgan hangat sembari menggumamkan kata maaf, agar mereka berbaikan. Perlahan Aura melunak. Membalas pelukan Alif dan menumpahkan tangisannya yang beberapa hari ini sudah dia pendam. Merasa nelangsa karena jadi istri tidak becus. Memasak saja tidak pandai. Merasa sakit hati saat melihat Alif memasak dan dia hanya bisa berdiam diri menunggu lelaki itu selesai dan setelah memastikan Alif masuk ke dalam kamar. Dia baru makan sendiri. Tidak pernah menyela kalau masakan Alif itu memang enak rasanya. "Gue juga salah. Gue minta maaf." lirih Aura di sela tangisannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD