Berantem (1)

1105 Words
Aura duduk termenung di meja makan. Tidak tahu harus apa di pagi hari begini. Biasanya kalau di rumah. Dia bakal nunggu Maminya siap masak dan menghidangkan sarapan pagi yang enak. Namun, pagi ini sangat berbeda sekali. Meja makan kosomg melompong. Dengan perut Aura yang juga belum terisi. Sementara suaminya masih beberes di dalam kamar. Hendak kuliah karena ada jam pagi. Sudah tiga hari mereka libur kuliah di karenakan acara nikah keduanya. "Melamun mulu," celutuk Alif yang baru datang. Menaruh tasnya di kursi kemudian mengernyit melihat tidak ada makanan di sana. "Kamu nggak masak?" tanyanya. Aura mencebikkan bibirnya. "Seumur hidup gue nggak mau mijakin kaki gue di dapur. Trauma gue," akunya dengan wajah bete. Kemudian menatap Alif memelas dengan memegang perutnya. "Lif, gue laper." katanya setengah merengek. "Perempuan kok nggak bisa masak," cibir Alif. Tidak menyangka dia dapat modelan istri kayak gini. Tapi nggak apa-apa sih, asal jago dalam urusan yang lain. Alif menggulung lengan sweaternya. Mulai membuka kulkas melihat bahan masakan yang sudah betulan di isi oleha Mamanya. "Makan telur ceplok ajanya. Aku udah telat, nih." kata Alif mulai mengambil dua butir telur. Aura manyun. Tapi tak urung menganguk karena sudah lapar sekali. "Nasinya ada nggak?" tanya Alif saat hendak mulai memasak. "Nggak tahu." cicit Aura karena sebelumnya tidak pernah melihat magic com. Atau bisa juga dia tidak tahu di mana letak benda itu. Alif menggeleng pelan. Berjalan untuk melihat nasi. Kemudian mendesah pelan. Melihat sisa nasi kemarin malam. Mungkin nasinya sudah basi dan tidak enak di makan lagi. "Makan di luar aja, lah. Ini nasinya kayaknya udah basi." putus Alif. Sebenarnya dia juga lapar. "Ck! Aturannya lo, periksa dulu lah, tadi. Kalau gini kan, tau gue cari makan di luar." gerutu Aura dengan wajah kesal. Alif memasang wajah lempeng. Seharusnya dia yang marah di sini, kok sekarang istrinya yang marah? "Aku yang harusnya marah, Ra. Kamu sebagai istri harus sigap dan siaga menyiapkan kebutuhan suaminya." ujar Alif, menjeda ucapannya sebentar. "Bukan sebaliknya, malah aku yang siapin sarapan dan kebutuhan aku sendiri." lanjutnya. Menyampirkan tas ke bahunya. Aura mendelik sinis. "Lo punya tangan, kan?" tanyanya. Alif tidak menjawab hanya melangkahkan kakinya bersamaan dengan Aura. "Kalau masih punya tangan seharusnya bisa mandiri. Jangan gunain gue sebagai pembantu lo." Nada wanita itu bahkan ketus. Alif menghentikan langkahnya. Langsung memojokkan Aura ke daun pintu yang tadi hendak ia buka. Matanya menatap manik mata Aura. "Kamu bukan pembantu dan aku tau itu. Tapi seharusnya kamu sebagai istri. Tau tugas dan tanggung jawab kamu itu apa." jelasnya Dengan tanpa ekspresi apa-apa. Kemudian memilih membuka pintu setelah mengatakan itu. Aura terbengong di tempatnya. Melayangkan bogeman ke udara. Rasanya ingin sekali menonjok wajah suaminya itu. Dan Aura semakin merutuki dirinya sendiri karena dengan mudahnya terbuai dengan sentuhan Alif. Sehingga dia rela melepaskan mahkotanya di usia dua puluh tahun ini. Sementara Alif membanting pintu mobil sedikit gondok. Di pagi hari yang cerah ini seharusnya dia memulai hari dengan mood baik. Bukan malah badmood karena mendengar perkataan Aura. Tangan Alif mulai menghidupkan mesin mobilnya. Melajukan mobil itu meninggalkan perkarangan rumah. Lain halnya dengan Aura, dia menganga lebar. Melihat Alif dengan tega hati meninggalkan dirinya di sini sendirian. Dengan perasaan kesal. Aura mengambil ponselnya dan memilih menelepon sepupunya agar bisa menjemputnya. "Friska jemput gue!" *** Tubuh Alif terdorong membuat lelaki itu mundur beberapa langkah. Lelaki itu memperbaiki letak kacamatanya. Memandang datar ke arah laki-laki yang seenak hatinya berperilaku di kampus ini. "Minggir!" Suruh Alif dengan wajah lempeng. Dia harus mengumpulkan tugasnya sekarang. Karena mungkin saja dosennya sudah masuk. Andy tersenyum miring. "Tidak semudah itu miskah." katanya tersenyum sombong. Tangan Alif terkepal kuat. Tidak ada waktunya meladeni laki-laki berandal ini. "Minggir Andy, saya udah telat masuk kelas." ucap Alif semakin mencoba menahan dirinya. Tapi apa daya. Kedua temannya Andy malah memegang tangannya dan langsung menyert Alif menuju belakang kampus. Alif menghela napas, sekali mencoba sabar. Tidak ada kemampuan untuk melawan laki-laki ini. "Periksa dompetnya!" titah Andy kepada temannya. Senyum miring Andy semakin tercetak jelas melihat uang berwarna merah di dalam dompet Alif. "Makin banyak aja duit, lo!" katanya menyeringai. "Andy! Please jangan ambil uang saya!" ucap Alif memelas. Ayolah itu uang untuk dia berikan ke Aura agar istrinya itu bisa mengatur keuangan mereka. Jangan sampai Andy mengambil uangnya itu. "Emang gue peduli?" tanya Andy. Memasukkan uang tadi ke kantong celananya. "Udah, lepasin dia!" suruh Andy lagi. Karena tujuan utamanya sudah tercapai. Namun, baru beberapa langkah Andy mengaduh pelan karena seseorang melempar kepalanya. "Sialan, lo?!" teriak Andy menderu karena tau kalau Alif yang melempar batu ke kepalanya tadi. "Balikin uang saya!" Alif berujar demikian. Mengingat kalau sekarang dia sudah jadi suami. Tanggung jawabnya sudah bertambah, yaitu harus bisa menafkahi Aura. "Anjir, ah! Sejak kapan lo, jadi pelit gini, hah?!" tanya Andy melototi Alif dengan garang. "Saya cuman mau minta uang saya. Dan itu hak saya!" Tekan Alif. Andy langsung berdecih. "Nggak peduli gue?!" katanya kemudian meninggalkan Alif seorang diri di sana. Tapi Alif tetap pada pendiriannya harus mengambil uang itu lagi. Maka itu, lelaki tadi langsung menghadap Andy. "Saya minta uang saya, Andy!" tekannya sekali lagi. "Bangke!" umpat Andy merasa stok kesabarannya sudah habis. Melayangkan pukulan ke wajah Alif. Membuat lelaki itu terhuyung ke belakang. Alif langsung di tahan kedua teman Andy. "Pegangin si culun itu." Andy meregangkan ototnya. Siap hendak memukul Alif kembali. Seperti yang di bilang Alif. Dia tidak punya keahlian untuk membalas yang berakhir ia pasrah saja. Kalau wajah tampannya di pukuli serta di sebagian tubuhnya. Andy dan kedua temannya tergelak puas. Langsung meninggalkan Alif yang sudah tepar di lantai. Ketiga laki-laki itu berjalan santai seolah tidak merasa bersalah sama sekali. Sedangkan Alif berusaha mengambil kacamatanya yang terjatuh sedikit jauh dari tempatnya. Perlahan lelaki itu duduk menyandarkan punggungnya ke tembok. Menengadah ke langit. Dalam hati bertanya kenapa dia selalu di jadikan seperti ini. Alif ingin sekali membalas orang itu. Tapi sekali lagi dia di sadarkah oleh realita. Kekuatan Alif tidak seperti laki-laki pada umumnya. Alif lemah tidak kuat seperti yang lain. Itu yang membuat Alif benci dengan dirinya sendiri. Lelaki itu menghela napas pelan. Kemudian berdiri pelan-pelan. Menyampirkan tasnya kembali. Berjalan tertatih menuju kelasnya. "Maaf bu, saya terlambat." ucap Alif saat sudah sampai di depan kelas dan memberanikan diri membuka pintu. Dosen di depan sana melipat tangannya di depan d**a. "Sudah tahukan, kalau terlambat di jam saya?" tanyanya sarkas. Alif mengangguk pelan. "Buat makalah dan kirim sebelum jam dua belas malam." balasnya dengan helaan napas panjang. Dosen itu tersenyum puas. "Oke, saya tunggu itu. Kami boleh masuk!" suruhnya tajam. Alif mendengkus pelan. Berjalan masuk ke dalam kelas. Baiklah, malam ini Alif harus menyelesaikan makalah itu. Kalau tidak nilainya akan merah nantinya. Dan semua ini karena kebodohan Alif yang tidak bisa melawan kala Andy membully-nya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD