Sudah terjadi

1252 Words
"Alif!" panggil Aura yang kini menurunkan kopernya dan koper Alif dari bagasi. Jangan tanyakan kekuatan tenaga wanita itu. Yang tentunya nggak bisa di tandingin. "Rumah siapa?" tanya Aura setelah mendorong kopernya sementara Alif mendorong kopernya sendiri. Dengan santai lelaki itu menjawab. "Rumah kita." "Hah?" Aura menatap tidak percaya. "Tepatnya hadiah pernikahan dari Mama dan Papa." jawab Alif kemudian melewati Aura untuk membuka pintu rumah itu. "Gila! Rumahnya gede banget!" pekik Aura tertahan. Alif tersenyum tipis mendengarnya. "Gue pilih kamar gue sendirinya?" tanya Aura antusias. "Kita satu kamar," balas Alif sudah mengerti kemana arah pikiran Aura yang ingin pisah kamar dari nya. "Ck! Nggak asik lo," decak Aura menyenggol bahu Alif kasar. Alif tersenyum miring jadinya. Dengan santai merangkul bahu Aura yang sudah naik tangga menuju kamar utama yang sudah dia siapkan di sana. "Panggilannya harus di ubah," kata lelaki itu membuat Aura mendelik. "Nggak bisa!" sangkal wanita itu. "Lagian kok lo berubah sih?" tanya Aura karena selama dua hari tinggal sana laki-laki itu. Aura baru menyadari ada berbeda daru suaminya itu. Sifat Alif sangat beda di kampus sama di rumah. "Nggak ada berubah," balas Alif acuh dan membuka pintu kamar. "Nah, sekarang ini kamar kita." Aura masuk melangkah. Kemudian terpaku mendapatkan foto besar pernikahan mereka ada di dalam sana. Di letakkan di dinding dengan bingkai besar. Sementara Alif membuka kacamatanya dan mengucek matanya karena terasa gatal. Kebiasaan Alif. "Heh, culun!" panggil Aura setelah terdiam lama. Alif berdecak pelan. "Nggak sopan manggil suami kayak gitu," tegurnya. Membuat Aura mencibir. "Bodo!" jawabnya ketus. Menjadikan Alif menghela napas. Agaknya dia harus sabar menghadapi tingkah istrinya ini. "Ridho suami itu sama dengan Ridho Allah. Kalau aku nggak Ridho dipanggil culun sama kamu. Allah pasti melaknat kamu." ceramah Alif. "Malah ceramah." Aura menggeleng pelan. Memilih merebahkan tubuhnya di kasur empuk itu. "Gue mau tidur." ucapnya. Alif yang duduk di sofa memandang wajah Aura dari sana. Kemudian berdiri untuk turun ke bawah hendak mengambil koper mereka tadi. Laki-laki itu berinisiatif sendiri untuk menyusun baju Aura dan bajunya ke dalam lemari. Setelah naik ke atas lagi. Alif membuka lemari dan mulai menyusun bajunya terlebih dahulu. Saat bergantian untuk menyusun baju Aura, dia tidak sengaja menemukan aset terlarang istrinya itu. Telinga Alif memerah dan menjalar ke wajahnya. Tangannya terangkat menatap kacamata berbentuk besar itu. Untuk meneliti ukuran punya istrinya itu sebelum dia gerilya nantinya. "Lumayan besar," katanya dengan pikiran nya sudah terpenuhi dengan adegan kotor. Laki-laki kemudian menggeleng sambil memukul pipi nya sendiri. "Sadar, Lif! Kok jadi m***m gini sih?" tanyanya terheran. Usai menyusun baju mereka semua. Ia ikut merebahkan tubuhnya di samping Aura. Kelelahan cuman karena menyusun baju doang. Mata Akif terpejam di iringi Aura meringsut mendekat. Dalam sekejap memeluk tubuh Alif dalam keadaan masih tertidur. *** "Alif! Lo, yang nyusun semua baju gue, ya?!" Teriakan itu membuat telinga Alif berdengung. Memaksakan membuka matanya meski itu sangat berat. Alif mengerjap beberapa saat. Setelah penglihatannya jelas, barulah dia menganga memandang Aura yang kini berdiri dengan handuk terlilit di tubuhnya. Menampakkan paha putihnya yang sangat bersih. Belum lagi handuk yang ada di kepalanya, serta bahu mulus dam leher jenjang yang bersih. Alif menelan salivanya susah payah. Sesuatu ada yang bangun, tapi bukan orang. Alif kemudian berdehem sebentar. Duduk dengan memangku bantal. "Ada apa?" tanyanya dengan mata sesekali melirik ke arah sang istri. Aura dengan wajah garangnya menodong Alif dengan jarinya. "Lo, yang udah mindahin semua baju guenya? Sampai ke aset bagian dalam lo pindahin juga? Iya?" tanyanya. Alif menggaruk kepalanya. Kemudian mengangguk dan menjawab. "Iya." Aura mendesis di tempatnya. Menempatkan tangannya di kedua sisi pinggangnya. "Emangnya lo, gue belum kasih izin dengan seenak jidatnya megang aset berharga gue." Gadis itu menggeleng tidak habis pikir. Mondar-mandir di depan Alif. Tidak tahu sekarang lelaki itu sedang menahan sesuatu yang ingin memberontak. "Kan, kita udah suami istri apa salahnya sih?" tanya Alif dengan polosnya. Wajah Aura langsung cengo. Berjalan mendekati Alif. "Apa salahnya?" tanya Aura dengan melotot. "Lo salah karena megang benda gue!" Kini Aura berkacak pinggang di depan Alif. "Ra!" panggil Alif dengan jakunnya yang sudah naik turun. "Apa?!" Aura semakin melotot. "Kamu sadar?" tanya Alif. Aura berdecak. "Ya, sadarlah! Ini suami gue kok jadi, b**o sih?!" tanya gadis itu semakin kesal. "Kamu sadar nggak sih, kalau berdiri di depan aku dengan handuk yang melekat di tubuh kamu?" Alif berkata dengan satu tarikan napas. Sudah memburu seperti mendapatkan mangsanya yang siap di terkam sekarang juga. Aura terdiam beberapa saat. Dengan pandangan mengarah ke tubuhnya. Dalam hati Aura mengumpat kenapa dia bisa ke lupaan. Cuman karena mau memgomeli Alif dia jadi lupa begini. Pipi Aura memerah. Sudah terlanjur malu. Untuk pertama kali, harga diri Aura hilang di depan suaminya sendiri. "Ck!" decak gadis itu. Berbalik, niatnya hendak masuk ke kamar mandi dan memakai pakaiannya. Namun, tercegah oleh Alif. Suaminya itu langsung menarik tangannya. Sehingga tubuhnya jatuh menubruk d**a Alif. Napas lelaki itu terdengar memburu. "Kamu salah berpenampilan begitu di depan ku, Ra." Alif menggeram pelan. Suaranya terdengar serak. Dan Aura sangat benci situasi begini. "M-minggir! Gue mau makai baju." Aura berusah berdiri. Tapi Alif tidak mendengarkan. Malah membalikkan tubuh Aura jatuh ke tempat tidur. Mengukung Aura. Mata Aura bergerak gelisah. "L-lif!" panggilnya tergagap. "Awas!" "Nggak!" Alif tetap pada pendiriannya. "Salah sendiri mancing suaminya." katanya kemudian. Aura semakin gelisah. Dalam sekejap memejamkan mata karena merasa merinding saat tangan Alif menyusuri sisi wajahnya. "Kayaknya kamu perlu mandi untuk kedua kalinya." bisik Alif. *** Hujan mengguyur bumi. Padahal siang tadi cuacanya begitu panas. Alif dengan switer putihnya memfokuskan perhatian pada masakan di depannya. Dia dan Aura belum mengisi perut sejak siang tadi. Tepatnya mereka sibuk dalam suatu hal. "Alif! Udah masak apa belum sih?!" Dari lantai dua Aura berteriak. Sementara Alif mendengus pelan. Tidak menjawab malah memilih fokus saja. Biar nasi goreng yang dia masak ini cepat selesai. Lima menit kemudian. Alif membuka pintu kamar dengan membawa nampan berisi dua piring nasi goreng. "Lama banget sih!" Sinis Aura yang kini duduk bersandar di papan kasur. Alif menjawab seadanya. "Masak juga butuh waktu kali, Ra." Dengan sedikit gondok Aura mengambil satu piring berupa nasi goreng itu. Mata masih menatap Alif dengan sinis. "Awas aja nggak enak," katanya. Mulai menyuapkan satu sendok nasi goreng ke dalam mulut. Saat nasi itu sudah masuk ke dalam mulutnya. Aura terdiam dan malah memakan nasi goreng itu dalam diam. Sudut bibir Alif tertarik. Sangat percaya kalau masakannya tidak pernah mengecewakan. "Enakkan?" tanya Alif. Aura hanya diam dan tidak menjawab. "Ambilin pil di dalam koper gue dong, Lif." Suruh Aura setelah keduanya selesai makan. Alif dengan menurut mengambilnya pil seusai yang Aura perintahkan. Lelaki itu terdiam beberapa lama, melihat pil yang di maksud Aura itu. "Pil KB?" beonya. "Nggak masalahkan gue minum itu? Secarakan kita nikah karena perjodohan terus gue masih kuliah. Belum siap punya baby," jelas Aura sekenanya. "Lagian kan, kita udah buat perjanjian, Lif," lanjutnya bergumam. Alif menghela napas. Rahangnya terlihat mengeras. Namun, tak urung memberikan pil itu ke Aura. "Aku ikut kemauan kamu," katanya. "Tapi, Ra. Aku nggak pernah berniat bercerai dari kamu. Setelah kita melakukan hubungan suami-istri," sambung Alif lempeng. "Karena menurut ku. Hubungan itu di landasi dengan kepercayaan. Meski kita menikah atas perjodohan. Nggak ada salahnya kan, kita buka hati untuk satu sama lain?" tanya Alif telak. Menjadikan Aura terpaku di tempatnya. "Aku mencoba untuk suka sama kamu. Dan kamu juga mencoba untuk suka sama aku. Supaya rumah tangga kita nggak hancur." Alif menatap Aura dengan dalam. Tangan terulur mengusap pipi Aura. "Kamu mau, kan?" tanyanya. Aura berdeham sebentar. "Gue bakal usahain," balasnya kemudian. Alif tersenyum tipis, menepuk kepala Aura. "Nggak ada salahnya buka hati buat suami sendiri, Ra."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD