Malam budiman

1236 Words
Malam sudah larut dan Aura baru bisa menapakkan kakinya di kamar hotel. Gadis dengan gaun biru muda yang panjangnya jangan ditanya melangkah masuk ke dalam kamar. Aura membuka jilbabnya yang ia kenakan, harus sabar karena harus mencabut satu persatu anak peniti. Setelah itu Aura menghempaskan tubuhnya di atas kasur bersama helaan napas lelah terdengar. "Ah, capek banget." ucapnya sendiri. Mulai memejamkan mata. Beberapa saat kemudian mata Aura terbuka saat mendengar suara kenop pintu di putar dari luar. Langsung saja Aura duduk tegap di pinggiran kasur. Matanya menatap Alif yang baru saja masuk. Gadis itu menelan salivanya dengan pandangannya ia alihkan ke arah lain. Tidak memungkiri Aura semakin terpukau kalau semakin lama memandang Alif. Aura memegang kepalanya dan baru sadar kalau sekarang ia sudah memperlihatkan mahkotanya yang dari kecil sudah ia tutup. "Gue mau mandi." ucap Aura tiba-tiba dan berdiri memasuki kamar mandi. Yang sialnya saat membuka resleting gaunnya tangannya malah tidak sampai. Mau tidak mau Aura menekankan egonya. Ia membuka pintu kamar mandi kembali. Mencari keberadaan Alif yang ternyata kini sedang membuka koper. "Alif!" Panggil Aura dengan suara pelannya. Untung saja Alif itu punya pendengaran yang tajam. "Apa?" tanya lelaki itu perlahan berdiri. "Anu—" Aura menggigit pipinya bagian dalam. Dengan wajah memanas ia pun berkata, "Tangan gue nggak sampai buat buka resleting gaun ini." Aura menjeda sedetik. "Boleh bantuin gue bukanya?" tanya Aura. Siapa duga Alif langsung mengangguk polos. Mengikuti Aura masuk ke dalam kamar mandi. Keduanya kini berdiri di depan wastafel dengan mata Aura yang menatap wajah serius Alif dari cermin. Jakun Alif naik turun bersamaan dia menurunkan resleting itu sehingga menampakkan punggung putih nan bersih itu. Oh, satu lagi jangan di lewati. Ada t**i lalat satu menempel di punggung istrinya itu. Alif bukan laki-laki polos sekarang. Dia tentu saja sudah mengerti sesuatu hal yang sudah lama ia pelajari. "Sudah." kata Alif memalingkan wajahnya. Aura mengangguk pelan mencoba membuka gaunnya lagi, tapi tidak bisa karena terlalu ketat. Ah, perlu Aura marahin nih kayaknya desainer yang buat gaun satu ini. "Bisa minta tolong lagi nggak?" tanya Aura pada Alif yang baru saja hendak membuka pintu. "Gaunnya susah di buka karena terlalu sempit." Aura meringis mengatakan itu. Alif hanya bisa menahan napas. Yang mana ia cuman laki-laki yang juga punya nafsu. Tapi dia tidak tega meninggalkan Aura dalam kesulitan begini. Bisa di bilang suami apa dirinya ini. Maka itu dengan mata memandang objek lain. Sementara tangan Alif membantu Aura yang kini mencoba membuka gaunnya. Gaun tadi hampir melorot setelah lengan Aura terlepas dari sana. Tapi dengan siga Aura menahan gaun itu agar tidak tertonggok di lantai. "Makasih," cicit Aura melirik ke arah Alif sebentar. Alif hanya bergumam mencoba menghilangkan pikiran kotornya karena tidak sengaja melihat warna kutang yang Aura pakai tadi. Setelah itu Alif cepat-cepat keluar dari sana sebelum dirinya semakin hilang kendali. Walaupun sebenarnya ia tahu malam ini adalah malam pertama mereka. Berbeda dengan Alif. Aura sekarang menutup wajahnya dan berteriak tertahan. Terlalu malu, tidak pernah terpikirkan oleh Aura kalau ia bisa berada di dalam situasi seperti tadi. "Aaaaa Alif nggak ngintip tadi, kan?" tanyanya sendiri. Merasa semakin malu, harusnya Aura bisa mempertahankan sifat tomboy nya tadi. Tapi kok langsung meleleh di dekat Alif, sih? Pusing memikirkan hal tadi. Aura memilih merendamkan tubuhnya di bathtub setelah memasukkan beberapa wewangian sabun ke dalam sana. Mata Aura kembali terpejam. Awalnya ia ingin mencoba merilekskan tubuh dan pikirannya saja. Tapi siapa sangka Aura malah tertidur. Dan mengharuskan Aluf masuk ke dalam kamar mandi hanya untuk mengecek keadaan istrinya yang sudah lama di dalam sana. Alif berdecak pelan melihat keadaan Aura sekarang. Dengan pelan ia mengguncang lengan Aura yang ada di sisian bathtub. "Ra!" Panggil. Namun, sampai panggilan ketiga Aura tak kunjung membuka mata. Membuat Alif menggeram tertahan, tidak tahu harus melakukan apa. Masa dia gendong tubuh Aura yang lagi dalam keadaan telanjang. Bisa-bisa ia hilang kendali juga. Dan berakhir memperkosa Aura dalam keadaan tidur. Nggak etis banget beneran. "Ra!" Kali ini Alif memanggil cukup keras. Cukup membuat Aura terkesiap. Mata gadis itu langsung terbuka lebar. "Lo ngapain di sini? Pergi sana?!" bentak Aura dengan wajah memerah serta pikiran kotornya yang sudah melanglang buana sekarang. "Kamu sudah tiga puluh menit di dalam dan seperti dugaan ku, kamu tertidur." ucap Alif sedikit sinis. Udah punya niat baik, malah di bentak pula. "Cepet mandi, aku pun mau mandi juga." kata Alif kemudian tersenyum miring. "Oh, atau kamu mau kita mandi bareng?" tanyanya jahil. Wajah Aura semakin memerah. "Mesuum lo?! Keluar sana?!" hardik Aura. Ia tidak menduga kalau Alif bisa berpikiran seperti itu. Yang setahunya Alif itu adalah lelaki culun dan kutu buku. "Gimana aku nggak mesuum, kalau sekarang di hadapan ku ada gadis yang lagi telanjang dengan tubuhnya di tutupi oleh busa-busa sabun." ujar Alif nelangsa. "Sialan lo!" maki Aura. Mencipratkan busa serta air ke wajahnya Alif. "Keluar nggak?!" usirnya lagi. Alif malah menyeringai. "Kalau di pikir-pikir kan, malam ini malam pertama kita. Gimana kalau di sini kita lakukan sekarang?" tanya Alif dengan mata ia kedip kan sekali. "Heh, kurang ajar lo?!" sentak Aura sudah sedikit capek menghadapi Alif sekarang. Lelaki itu bukan seperti lelaki yang ia kenal selama ini. Sementara itu tawa Alif pun menguar di ruangan itu. "Santai, Ra. Aku juga nggak mau ambil hal aku sebelum adanya persetujuan dari kamu." Ali tersenyum hangat. Setelah itu berdiri dan meninggalkan Aura yang temenung. Aura berdecak setelah itu berdiri dengan tubuhnya yang masih dalam keadaan polos. Gadis itu berjalan membuka penutup bathtub sehingga air bekasnya tadi terkuras. Kemudian Aura hendak berjalan menuju shower dan membilas tubuhnya itu. Tangan Aura menarik jubah mandi kemudian menggunakannya karena baru ingat dia tidak membawa baju ganti tadi. Baru saja beberapa langkah hendak menuju pintu. Kaki Aura malah terpeleset karena ada sisa busa yang jatuh di lantai tadi. "Aaaaa Mami." pekik Aura setelah tubuhnya mencium lantai dingin itu. Alif yang masih berdiri di balik pintu pun langsung berlari masuk dan terbelalak melihat istrinya yang sekarang jatuh mengenaskan di lantai. "Astaga." Dengan sigap Alif menggendong Aura dan membawa gadis itu ke tempat tidur. "Kaki gue," lirih Aura dengan tangis yang hendak tertahan. "Mana yang sakit?" tanya Alif sedikit khawatir melihat wajah kesakitan Aura. "Itu," tunjuk Aura. Kembali memekik karena Alif malah menarik pergelangan tangannya yang agaknya terkilir itu. "Aaaa jangan di tarik b**o!" umpat Aura. Tapi Alif malah menghiraukannya. Dan semakin memutar pergelangan kaki Aura sampai menimbulkan suara 'kretak'. "Gimana udah enak? Coba gerakan," suruh Alif. Perlahan Aura menggerakkan kakinya. Dan benar tidak sakit lagi. "Nggak sakit lagi, kan?" tanya Alif dan Aura hanya mengangguk saja. "Thanks," ucap Aura sungguh-sungguh. Alif tersenyum. "Makanya kalau jalan di kamar mandi itu hati-hati," peringat lelaki itu. Aura mendelik jadinya. Ia kemudian turun dari tempat tidur hendak mengambil bajunya yang ada di dalam koper. Tidak mungkin dia tidur semalaman dengan jubah mandi ini. "Kok, di bawa jalan masih sakit, sih?" tanya Aura sedikit meringis. "Ya, makanya jangan banyak gerak dulu sampai besok." jawab Alif santai. Lelaki itu beralih mengambil handuknya dan berjalan menuju kamar mandi. Sekarang giliran dia yang mandi. Hingga keesokan paginya. Aura di pandang aneh oleh semua anggota keluarga. Dengan cara jalannya yang sedikit pincang. Gani, Papinya Aura langsung berseru. "Itu kok jalan anak kita aneh gitu?" tanyanya ke sang istri. Asna memukul bahu suaminya pelan. "Kayak nggak tahu aja pengantin baru setelah malam pertama." balasnya. Gani menaikkan alisnya satu. "Bentar lagi kita punya cucu, nih." celutuknya. Tidak tahu saja mereka kalau Aura berjalan sedikit pincang karena terkilir jatuh dari kamar mandi. Bukan habis di unboxing oleh Alif.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD