Sebulan yang lalu.
Aura adalah anak sulung, punya dua adik yang nakalnya gak ketulungan. Begitu masuk semester empat perkuliahan, Aura di kejutkan dengan pernyataan kedua orangtuanya. Dia dijodohkan dengan cowok kutu buku, kebetulan mereka satu kampus tapi beda fakultas.
Ananda Alif Rahman. Itu nama calon suaminya. Aura ingin sekali menolak perjodohan itu, tapi ada alasan lain untuk tidak bisa menolaknya. Malam ini kedua keluarga itu akan berkumpul, hendak membicarakan kelanjutan tentang pernikahan mereka. Aura sudah duduk di samping Mami. Malam ini Aura terlihat cantik karena untuk pertama kalinya ia di paksa memakai jilbab pashmina, Mami yang maksa sebenarnya.
Para tetua sibuk membahas tanggal pernikahan, sedangkan yang nau menikah hanya dia saja. Alif terus menunduk fokus dengan makanan di depan matanya. Lain halnya dengan Aura, gadis itu sibuk bermain game mobile legend di handphonenya. Bahkan kedua calon pengantin itu sangat enggan ikut nimbrung dengan para orang tua. Lagian mereka masih muda dan kenaoa secepat ini harus di nikahkan?
"Jadi, sudah di tentukan kalian akan menikah tepat tanggal lima Juli nanti." ujar Papi Aura — namanya, Gani. Pria itu sudah hampir berkepala empat.
Alif maupun Aura, sama-sama menghentikan aktivitas mereka. Kemudian mengangkat wajah bersamaan, tepat itu pula mata mereka bertubrukan. Karena mereka duduk berhadapan. Aura menghela kasar, meletakkan handphone nya, sudah tak ada gairah main game lagi. Begitu pula dengan Alif, cowok itu langsung mendorong piringnya yang masih ada sisa makanan di sana, rasanya tidak ada kagi nafsu makan mendengar tanggak pernikahan mereka.
Tepat dua minggu lagi, mereka akan jadi suami istri.
What? Lelucon macam apa ini Tuhan?
"Kenapa? Kalian gak seneng sama pernikahan ini?" tanya Papa Alif, pria itu tau pasti isi pikiran anak muda di depannya ini. Apalagi raut wajah mereka menjadi masam seketika.
"Nggak!" Lihatlah! Bahkan mereka menjawab pertanyaan itu dengan serentak.
Tanda-tanda jodoh gak akan kemana, ya gini.
"Kalau pun kalian gak setuju sama keputusan kami. Pernikahan ini—"
"Akan tetap berjalan sesuai rencana kalian." Serentak mereka kembali. Para tertua langsung terbahak melihat itu. Merasa lucu dengan tingkah calon penganten ini.
Aura langsung melayangkan tatapan kesalnya kearah Alif, tapi cowok itu malah tidak menanggapinya. Malah Alif sibuk memperbaiki letak kaca matanya. Yang menjadikan kesal Aira semakin bertambah.
Aura beralih menatap Mami. "Ma ... batalin aja nya pernikahan ini. Kita masih kecil loh, masa di nikahin. Pipis aja masih belum lurus, segala di nikah-nikah kan." Aura memeluk lengan Mami manja, mencoba untuk membujuk sang Mami agar berubah pikiran. Ayolah dia masih kuliah dan kenapa di nikahkan secepat ini?
"Gak ada! Udah Mami bilangkan? Sekuat apapun kamu bujuk Mami, Mami gak akan luluh. Pernikahan ini bakal terjadi juga." bantah Mami tegas. "Kalian udah sama-sama gede, Mami takut kalian terjerumus ke pergaulan bebas anak zaman sekarang." lanjut Mami lagi, melepas paksa tangan Aura yang bergelayut manja di lengannya. Anak ini, mana pernah manja ke dia, suka ada yang mau diinginkan seperti sekarang, barulah bertingkah manja.
"Lagiannya, kalian itu udah dewasa. Bikin anak aja udah bisa," celetuk Gani tiba-tiba. Membuat Aura langsung mendelik tidak suka. Gadis itu pun mengerucutkan bibirnya.
"Tau ah, Aura kesel sama kalian!" katanya seraya berdiri, berjalan meninggalkan semua orang yang ada di sana.
Beni — papanya Alif, langsung menyenggol tangan anaknya. Membuat cowok yang sedari tadi melamun itu pun tersentak. "Sana, kejar Aura!" titahnya sengaja berbisik. Tapi anaknya tetaplah anaknya, Alif ini sangat tidak peka dan jalan pikirannya akan lambat di kala waktu tertentu. Membuat Beni kesal, hingga menginjak kaki Alif di bawah meja sana.
"Cepat kejar dia! Sekalian biar deket juga," titahnya ulang. Alif baru ngeh sekarang, nampak cowok itu langsung berdiri. Mengikuti bekas jejak Aura tadi, dimana agaknya calon istrinya itu berada.
Begitu sampai di halaman samping rumah Aura — karena mereka berkumpul di rumah Aura. Alif langsung saja bergegas di sana. Ikut duduk di atas ayunan, tepat di sebelah kanan Aura. Gadis berjilbab phasmina itu melamun. Hingga tak menyadari kehadiran Alif yang kini juga ikut melamun. Sungguh pasangan apa kalian berdua ini?!
Mungkin sudah ada lima menit mereka ada di posisi begitu, sampai Aura yang sudah tersadar dari lamunannya kini tersentak kaget karena melihat kehadiran Alif di sampingnya.
"Ngapain lo di sini?!" sentaknya langsung.
Menjadikan Alif ikut kaget. Cowok itu mengerjap beberapa kali, yang sialnya sangat lucu di mata Aura. Gadis itu langsung menggeleng pelan, menjauhkan pandangan nya dari Alif. Kenapa mata polos Alif begitu menggoda sih?
"T-tadi di suruh sama papa kesini," jawab cowok itu. Aura memutar bola mata malas, ini cowok kenapa harus gugup sih di depannya.
"Biasa aja kali di depan gue, jangan gugup gitu. Santuy, kita kan calon suami istri." Ceplos Aura. Terkadang mulutnya sulit di kontrol kalau ingin mengatakan sesuatu. Sedetik kemudian Aura menutup mulutnya rapat, mengumpat dalam hati kenapa mulutnya terlalu polos sih, terlalu jujur juga.
"Jadi, kamu gak keberatan sama pernikahan ini?" tanya Alif pelan. Cowok itu bahkan menunduk seperti takut memandang wajah Aura yang begitu cantik kata orang-orang sih.
"Ya, mau gimana lagi. Kalau mau nolak juga gue gak bisa," balasnya tiba-tiba salah tingkah sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal di tutupi jilbab pashmina kini.
"Iya," lirih Alif, dia masih setia menunduk dalam. "Kita sebagai anak gak bisa menentang keputusan orangtua kita, harus di tuntut untuk menerima perintah mereka semua. Tanpa mau mendengar suara kita yang hendak menyela mereka." lanjutnya lagi.
Aura jadi tertegun, cowok di depannya ini ada benernya juga. Selama ini Aura di tuntut untuk menuruti semua perkataan Mami dan Papi. Meski keinginan Uara berbeda dengan keinginan kedua orangtuanya, mau tak mau Aura tetap menerimanya. Ingin menolak Aura tak bisa, takut jadi anak pembangkang nantinya.
"Lo bener, kita gak bisa nentang keputusan mereka. Kita di tuntut untuk tunduk di bawah kaki mereka semua," balas Aura lirih.
Alif kini perlahan mengangkat wajahnya. Memperhatikan wajah Aura dari samping sini. Bibirnya kelu ingin mengatakan sesuatu, tapi tak urung berkata juga.
"Maka itu, aku terima perjodohan ini. Berharap kelak setelah pernikahan ini, aku lepas dari bawah kukungan Mama dan Papa." Alif masih setia memandang wajah calonnya ini. Detik itu juga Aura pun menoleh kearahnya, alhasil mereka saling menatap satu sama lain. Pancaran mata mereka tidak ada menunjukkan kebahagiaan di dalam sana, hanya ada kesedihan yang terpendam. Tanpa bisa di keluarkan keluh kesahnya.
Kontak mata itu terputus saat Aura berpaling kearah lain. Tidak kuat bersitatapan dengan Alif. Bola mata Alif sangat indah di pandang sehingga Aura ingin terus melihatnya tapi sadar hal itu tidak baik untuknya. Keadaan menjadi hening kembali. Sebelum Aura angkat bicara.
"Iya, gue setuju sama pemikiran lo." katanya seraya mengangguk. Menghela napas panjang saat tu juga. "Gue harap pernikahan kita ini, kita bisa lepas dari kukungan kedua orang tua kita. Dan kita harus berusaha mempertahankan pernikahan ini." Aura perlahan tersenyum tipis masih menatap ke depan, masih enggan menatap Alif kembali.
"Dan kalau diantara kita merasa gak bisa mempertahankan pernikahan kita nanti, salah satu diantara kita boleh meminta cerai." lanjut gadis itu kembali. Alif tertegun sebentar, namun tak urung menganguk juga.
"Aku setuju." Alif pun ikut tersenyum. Entah refleks atau gimana, Aura kembali menoleh kearah Alif. Saat itu juga matanya tak lepas dari senyuman Alif. Mata cowok itu pun ikut menyipit karena tarikan senyum dari bibirnya, dan Aura akui itu sangat indah di matanya. Dan Aura tidak ingin melepaskan pandangannya dari Alif, membuat cowok itu memandang aneh.
Senyuman tadi perlahan memudar di bibir Alif, tidak tau gadis di depannya itu menelan kecewa karena tak melihat senyuman nya lagi.
"Kenapa?" tanya Alif polos. Kentara sekali wajah kecewa Aura.
Aura hanya menggeleng, dalam hati terus merutuk dirinya sendiri. "Gak, gak ada!" sangkalnya.
Begitulah gadis ketika jatuh cinta, pasti akan menyangkal perasaannya sendiri. Padahal jauh di lubuk hatinya, ia sudah jatuh ke dalam pesona seorang Alif.
***
"Ma!"
Asna yang merasa di panggil pun menoleh, tersenyum sumringah saat melihat putri sulungnya terlihat cantik saat memaki gaun pengantin yang kini ia coba.
"Ya ampun, Nak! Kamu cantik banget sih," decaknya kagum. Berulangkali memutar tubuh sang putri untuk melihat apakah baju yang dikenakannya itu cocok sekali atau tidak.
"Ini, ajanya kita ambil. Udah cocok buat kamu," kata Asna lagi. Matanya berpencar mencari keberadaan calon besannya.
"Jeng, Ratna! Sini!" teriaknya. Ratna — Mama Alif pun menoleh. Mata wanita itu terbelalak tak percaya betapa cantiknya calon menantunya ini.
"Cantik banget, anak kamu, Na." pujinya. Mengusap kepala Aura yang tertutupi jilbab segiempat. "Mantu Mama cantik banget," gemas Ratna sambil mencubit pipi Aura.
"Anak siapa dulu dong, Rat. Anaknya Asna," kata Asna bangga. Kedua wanita paruh itu tertawa kalem. Tak tau saja, Aura sekarang sudah kegerahan karena memakai gaun sialan ini.
Mata Aura terpaku saat melihat langkah kaki seseorang yang kini berjalan mendekati mereka. Saat wajahnya terangkat, saat itu pula ia melihat wajah tampan Alif. Ada yang beda dari cowok itu, kali ini Alif tidak mengenakan kacamata yang biasa ia pakai. Di tambah jas hitam yang di kenakan cowok itu, mata Aura semakin terpaku melihat itu.
INI LOH, KENAPA ALIF TAMBAH GANTENG BANGET?
Aura berdehem sebentar, mengalihkan atensinya begitu sadar kini Alif juga menatapnya dalam. Gadis itu memalingkan wajah cuek. Menatap Mami dan Mama Alif berbincang ria. Butik ini terasa sangat canggung bagi Aura, setelah datangnya Alif.
"Eh, ya, ampun. Ini calon mantu Mami, ganteng banget sih," tau-tau Asna sudah berdiri di depan Alif. Cowok itu hanya tersenyum kikuk sambil mengusap tengkuknya. Ini kenapa Alif jadi canggung ginu sih?
"Coba dulu kalian berdiri deket." titah Ratna. Tubuh Aura dan Alif di paksa mendekat. Hingga mencapai beberapa meter lagi, keduanya berdiri bersisian. Canggung sekali rasanya.
"Perfect," puji Asna dan Ratna berbarengan. "Gak salah kita jodohin mereka, Rat. Aura cantik dan Alif tampan, dan sungguh mereka pasangan yang serasi." lanjut Asna dan Ratna hanya mengangguk menyetujui nya.
Aura menatap Maminya dengan sorot mata memelas. "Ma ...." panggil nya dengan suara rengekan.
"Apa?"
"Aura lepas bajunya, yah. Gerah benget nih," keluh gadis itu sambil mengipasi area wajahnya.
Asan langsung melotot kecil mendengar itu, lantas menggeleng tak setuju. "Tunggu bentar! Mami mau foto kalian berdua dulu, biar di kirim ke Papi." kata Asna, mulai mengeluarkan handphone nya, dan mengarahkan langsung kamare tersebut ke arah Aura dan Alif.
"Cepat senyum ...." Asna dan Ratna cekikikan melihat Aura dan Alif sama-sama memasang senyum paksa, dalam hati mereka bergumam kalau anak muda itu hanya malu malu kucing.
"Satu ... dua ... ti—" tepat di hitungan ketiga. Satu foto sudah tertangkap oleh kamera. Aura langsung bergegas dari sana, biar aja Mami marah kalo dia ganti baju cepet. Salah sendiri, kenapa ini baju gerah sekali kalau di pakai.
Usai fitting baju bersama. Kini Aura sudah berada di dalam mobil bersama Mami. Sedangkan Alif dan Ratna sudah pulang terlebih dahulu. Aura menatap kosong kearah jendela, kurang lebih beberapa hari lagi. Statusnya akan berubah begitu juga kehidupannya, di usianya yang masih muda. Aura sudah menjadi istri dari seorang Ananda Alif Rahman.
Satu yang di pertanyakan Aura, kenapa secepat ini dia menikah?
Sedangkan impiannya masih jauh di depan sana.
"Mi,"
"Iya, sayang."
"Kenapa Aura harus nikah?" Sungguh pertanyaan konyol. Asna hanya mampu menghela napas berat.
"Karena Mami dan Papi takut kamu salah pergaulan," balas Asna kemudian.
Aura jadi berdecak kemudian. "Aura udah gede loh, Mi. Bisa lihat pergaulan mana yang bener dan mana yang gak bener."
Asna jadi melayangkan tatapan tak sukanya akan perkataan sang anak. "Pernikahan ini akan terjadi! Titik gak pakai koma!" tegas wanita paruh itu.
Bola mata Aura berkaca-kaca, padahal dia itu adalah sosok gadis yang jaramg sekali menangis. "Egois," lirihnya pelan. Buktinha Mami tidak mendengar perkataannya yang barusan.
Aura memilih bungkam lagi. Di sini dia tidak bisa membuka suara, semua keputusan ada di tangan Mami dan Papi.
Di lain tempat.
"Gimana sayang, kamu suka kan sama Aura?" Ratna bertanya penasaran. Sungguh, dia ingin sekali putranya merasakan yang namanya jatuh cinta.
Alif hanya diam enggan menjawab, dia sendiri tidak tau perasaannya gimana. Hanya saja dia nyaman di dekat Aura, bahkan gadis itu sering menolongnya ketika di bully di kampus. Baginya, Aura itu punya sisi penyayang nya meski diluar terlihat tomboy dan mudah marah. Juga, Aura itu pandai sekali berkelahi, dia saja yang sebagai cowok kalah dengan Aura.
"Alif gak tau, Ma."
Ratna jadi berdecak kesal. "Kok, gak tau sih? Anaknya cantik gitu masa kamu gak suka." cerocos Ratna.
Alif masih setia memandang arah jalanan melalui jendela.
"Tapi ... Alif nyaman deket Aura, Ma." balasnya setelah bungkam lama.
Ratna pun tersenyum mendengar itu. "Itu namanya kamu udah mulai buka hati untuk, Aura." Tangan Ratna bergerak mengusap kepala anak semata wayangnya. "Nanti kalau udah nikah, kamu harus jadi suami yang baik untuk Aura. Jangan sesekali kamu berpikiran untuk menceraikan Aura, nantinya."
Hingga Alif tertegun mendengar penuturan Mamanya. Apa mereka tidak tau? Kalau dia dan Aura sudah merencanakan hal itu, apabila salah satu diantara mereka merasa tidak ada kebahagiaan di dalam pernikahan mereka nantinya.
Entahlah, Alif pun tak tau. Siapa yang akan memulai perceraian itu. Dia atau Aura?