Prolog

1087 Words
Gadis bergamis merah maroon itu berlari memasuki perkarangan kampus. Berjalan santai menuju kelasnya. Wajah cantik tapi terlihat judas. Menatap sinis kearah para buaya yang terus memperhatikan nya. Mulutnya tidak berhenti asik mengunyahi permen karet. Dia adalah Aura Putri Narendra. Bukan si Aura Kasih artis itu loh yaaa. Ini adalah Aura. Si tempramen. Si Tomboy. Lengkap semuanya. "Auraaaa sayang kuhhh. Tungguin dong." langkah nya pun terhenti. Menoleh ke belakang. Di sana sepupunya berlari kearahnya. Si centil Friska. "Huh ...." helaan napas yang terdengar lega. "Kemarin kita ada tugas gak?" Friska mulai bersuara setelah mereka sampai di kelas. Dan duduk di kursi mereka masing-masing. "Nggak." "Oke." Simpelkan percakapan mereka? Ya karna Aura tidak suka basa-basi. Dan Friska memaklumi hal itu. Di kantin kampus waktu istirahat. "Aura lo mau nggak jadi pacar gue?" ungkapan perasaan yang seriiiiing Aura dengar. Hampir semua buaya di sekolah ini menembak nya untuk di jadikan pacar. Aura yang tadi hendak memakan baksonya. Terhenti sebentar, kemudian mengunyah bakso itu. Dia terus menatap remeh kearah buaya yang barusan menembak nya tadi. "Lo mau jadi pacar gue?" yang di balas anggukan dari buaya itu. "Gampang." jawab Aura santai. "Tapi lo harus baca surah Ar-Rahman dari ayat pertama sampai terakhir tanpa liat Al-Qur'an atau handphone lo." Kalian pikir segampang itu mau jadi pacar Aura? Laki-laki buaya tadi langsung berdiri meninggalkan Aura begitu saja. Tenang Aura udah biasa akan hal itu. Udah banyak yang dia tolak. Ya, emang buat apa pacaran? Hal itu jelas udah di larang dalam agama. Bahkan Papi nya pun sudah mewanti-wanti nya agar dia tidak pacaran. Diapun emang gak mau pacaran. Bukan kayak Friska sepupunya itu. Yang sekarang duduk di pojok kantin bersama pacarnya. Mereka berdua jelas-jelas berbeda. Aura berjalan keluar dari kantin. Wajah datar, jalan yang begitu santai. Membuat para buaya di sekitarnya, menatap kagum ke dia. Dia udah biasa. Di depan sana, Aura dapat lihat jelas. Seseorang sedang di bully habis-habisan. Membuat dia geram seketika. Langsung saja Aura menarik kerah baju, salah satu dari tukang bully itu. Kemudian menendang tukang kering pemuda sok jagi tadi. "Cih, kalian laki atau b*****g sih? Masih main bully orang-orang yang lemah." ujarnya. "Udah seringkan gue bilang! Jangan pernah ganggu Alif lagi?!" decaknya tak suka. Memperhatikan wajah pemuda yang di bully tadi. Rupanya sudah tidak bisa di katakan baik-baik saja. Muka nya babak belur. Beberapa tukang bully tadi terdiam kaku. Siapa sih yang gak kenal sama cewek tomboy kayak si Aura ini. Bahkan nama cewek ini sudah terkenal. Karena, wajah datar juga jago berkelahi nya. "Ra, mending lo gak usah ikut campur deh!" pemuda yang di tendang nya tadi, perlahan berdiri. Dia, Andy si badboy kampus. Seluruh mahasiswa tau, si badboy ini amat tergila-gila dengan Aura. "Gue bakalan gak ikut campur, kalo kalian gak bully orang-orang lagi." jawabnya. Memperhatikan wajah cowok berandal itu satu-satu. Matanya menajam, terutama ke Andy. Cowok sok kuat, kalo adu otot sama dia masih kalah. "Berdiri, Lif!" titahnya. Pemuda sudah babak belur itu perlahan berdiri, tepat di samping Aura. "Sekali lagi, gue liat kalian bully Alif. Gue pastiin kalian habis di tangan gue," Aura mengepal tangan kirinya. Menunjukkan kearah tukang bully itu, agar mereka takut dengan ancamannya yang tidak main-main. "Paham kan!" sentaknya. Teman-teman Andy, menunduk takut. Kemudian mengangguk seraya menjawab, "I-iya." Aura tersenyum senang. Mengambil tangan kanan Alif dan menggandeng nya dengan santai. Alif tentu saja terkejut. Begitu juga dengan Andy beserta teman-temannya. Mata mereka semua melotot lebar. Bahkan beberapa mahasiswa yang lewat, mendadak berhenti. Menyaksikan pemandangan itu. Jelas saja mereka kaget, untuk pertama kalinya Aura memegang tangan cowok. Padahal setau mereka, Aura anti akan hal itu. Apalagi cowok bukan muhrimnya. "Kenapa?" tanyanya kearah Andy. Pemuda itu menatap tangan Aura dan Alif. "Oh," Aura bergumam. Memperhatikan tangannya dengan Alif. "Kenapa? Ada yang salah? Gue gandeng tangan suami gue sendiri?" tanyanya polos. Jedarrrr Seperti petir yang menggelegar. Seluruh mahasiswa dan mahasiswi terdiam bungkam. Mendengar pengakuan yang mendadak itu. Begitu juga dengan Alif, bahkan dia tidak bisa berkata apa-apa lagi. Kenapa Aura membuka identitas mereka sebenarnya. Ya, benar saja mereka sudah hampir sebulan menikah. Atas perjodohan keluarga mereka. Kata mama nya Aura, mereka sudah di jodohkan sejak dalam perut. Karena takut anak-anak mereka ikut pergaulan bebas, akhirnya mereka di nikahkan. Aura si tomboy yang jago berkelahi. Dan dia, si kutu buku tidak jago berkelahi. Makanya dia sering di bully si Andy berserta geng-nya. Beda sama Aura, dia merasa bodo amat. Biar aja semua orang tau kalo dia udah menikah. Toh, nanti para buaya di luaran sana gak bakal menembaknya lagi. Dia juga gak takut kalau fans-nya Alif nyerang dia. Secarakan kampus ini milik suaminya. Alif culun begini, banyak yang suka karena kapasitas otaknya yang pintar. "Udah, yok kita ke UKS." Aura kembali menarik tangan Alif. Membawa suaminya itu ke UKS. Dia berniat mengobati luka-luka yang di wajah tampan suaminya ini. Alif sebenarnya tampan sih, kalo laki-laki ini membuka kaca mata nya. Satu lagi seluruh mahasiswa di sini gak tau, kalo Alif anak adalah anak pemilik kampus. Kata mama Alif sih, Alif sendiri yang minta menyembunyikan identitas aslinya. Aura membuka kota P3K. Mulai mengobati wajah Alif. Sedangkan Alif tertegun, melihat wajah istrinya yang telaten mengobati nya. Sebulan ini, Aura lebih membuka diri ke dia. Bahkan gadis ini mengurusi dia dari hal sekecil apapun. Aura bilang, dia mau jadi istri yang patuh ke suami. Seperti mami nya yang patuh ke papi nya. "Ra?" "Hm" "Kenapa kamu bilang ke semua orang kalo kita ini suami istri?" tanyanya. Aura menghela napas, dia sudah menduga kalo Alif akan menyakan hal ini. Karena sebelumnya mereka belum membahas akan menyembunyikan atau menyebarkan fakta ini. Kalo mereka sudah menikah. "Supaya para buaya di luar sana, gak ganggu aku lagi, Lif." Alif mengusung senyum nya. Jantungnya bahakn berdebar kencang mendengar pengakuan itu. Padahal Aura gak ngungkapin cinta. Alif menahan pergerakan tangan Aura, yang masih mengolesi obat merah ke wajahnya. Kemudian dia menatap dalam manik mata Aura. "Makasih Ra, udah mau jadi istri aku," ujarnya tulus. Aura bahkan ikut tersenyum manis. Sebagai balasan ucapan dari Alif tadi. Tak sadar, jantung ikut berdegup kencang. Mereka tidak tau, di luar sana para mahasiswa heboh. Terutama para lelaki, mereka bahkan menjerit keras. Tidak menyangka, cewek pentolan di kampus ini sudah menikah. Dengan si cowok kutu buku, betapa beruntungnya si Alif itu. "WHAT? MEREKA UDAH NIKAH?" Andy berteriak histeris setelah melamun beberapa menit. Detik itu juga tubuhnya limbung, jatuh ke lantai. Semua orang yambah heboh. Apalagi para anak buah si Andy. "Aduh bos, kenapa pake pingsan segala, sih?" ujar salah satu anak buahnya. Sebegitu patah hatinya Andy? Mengetahui sang pujaan hati telah menikah dan jatuh pingsan karena syok. Poor Andy.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD