Bab 74

1316 Words

“Iyan.” Aku menatap wajah suamiku dengan penuh cinta. Mengulas senyum menggoda hingga dia datang mendekatiku. Tok, tok, tok “Sialan,” umpatku kesal saat bibir kami tak jadi bersentuhan. “Kita lanjut habis semua orang tidur saja.” Aku membuang napas pelan lalu menganggukkan kepala. “Emang susah kalau tinggal serumah rame-rame. Sama sekali gak ada privasi. Ada aja yang ganggu,” omelku membuat Zayyan tersenyum mengecup pucuk kepalaku. “Aku buka pintu dulu.” “Celananya jangan lupa di ritsleting!” Zayyan menunduk lalu menarik ujung ritsleting celananya hingga tertutup dengan sempurna. Lantas aku merapikan rambutku menanti siapa yang berani menggetok pintu. “Ummi, ada apa?” tanya Zayyan saat melihat ibunya di depan pintu. Oh, ternyata Ummi. Lalu Papa ke mana? Tidakkah bekerjasama jadi

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD