Aku masih menanti saat bibir Zayyan hendak menyentuh bibirku dan … owek-owek. “CK!” Aku berdesis kesal. Bisa-bisanya Yasmin bersuara di saat seperti ini. “Yasmin, kamu merusak suasana,” pekikku geram karena Yasmin sudah menangis. “Pelankan suaramu, Sayang! Kasihan Yasmin kalau dibentak,” ujar Zayyan menasehatiku. Dia beralih pada Yasmin lalu menggendongnya. “Nak, kamu eek ya?” celoteh Zayyan berbicara dengan Yasmin yang langsung diam dalam gendongan ayahnya. “Kasih aja ke ummi! Kita lanjut lagi,” titahku santai. “Kamu ke bawa, ambilkan popok! Biar aku yang ganti.” Aku terkesiap menoleh ke arah tubuhku. Baju yang tengah kupakai, tanpa disibak pun sudah dapat melihat apa yang ada di dalam. “Kenapa gak sekalian dikasih ke mereka aja sih?” protesku menatap Zayyan cukup serius. “Ummi

