Bab 79

1347 Words

“Masih marah?” Zayyan kembali mendekatiku tapi aku memilih menghindar, memasang wajah datar karena masih kesal. Bayang-bayang akan hamil lagi masih menghantui diriku gara-gara melakukan tanpa pengaman. Apalagi konon katanya usai melahirkan merupakan masa subur-suburnya. “Ini sudah 3 hari loh kamu mendiami suami. Apa gak takut dosa?” Zayyan kembali mendekat, menarik tanganku. “Gak. Kamu kan pemaaf,” balasku memutar bola mata. Malas untuk menatapnya, takut kekesalan yang sedang kubangun malah runtuh. “Belum tentu. Hayo, kalau tiba-tiba aku mati sebelum memaafkanmu. Kamu bisa masuk neraka.” Zayyan mulai menakut-nakutiku. “Bodo.” Aku melepaskan tangannya dan segera beralih mengambil hp lalu duduk di sofa—menghadap ke jendela. Zayyan terus berusaha mendekatiku, kemudian berjongkok seraya

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD