BAYANGAN DI SEBUAH FOTO USANG

1065 Words
"Jangan terlalu kamu dengarkan omongan dia, Sofia. Dia jadi kurang waras, sejak anak sama suaminya meninggal." "Cuman waktu ngomong sama Sofia tadi kelihatan normal saja itu." "Iya, nanti akhirnya kalau kamu tanggapin terus. Nini Amas semakin brutal. Bisa mukul terus cakar-cakar." Sesaat Sofia menarik napas dalam-dalam. Namun yang ada dalam pikirannya sekarang. Bahwa apa yang dilihat oleh Irul atau mungkin Nini Amas, tentang sosok wanita yang mirip dia. Itu memang benar adanya. "Kok jadinya kamu melamun, Sofia. Ayok, dimakan dulu!" "Iya, Acil." Mereka pun menikmat hidangan yang pagi tadi dimasak oleh Acil MIna. "Acil, nanti bersih-bersih kamar Papa ya." "Hayuk!" Selesai makan mereka berdua menuju kamar Hasbiansayah dulu. Acil MIna membuka kunci pintu kamar. Bau lembab seakan menerpa hidung mereka.  "Tadi kelupaan tak buka jendela kamar ini. Soalnya Acil buru-buru pulang. Buat masak di rumah." "Tak apa-apa, Cil." Sofia langsung menuju lemari tiga pintu. Yang masih sangat awet. "Itu Papa kamu bawa langsung dari Jawa, Sofia." Lelaki itu sudah berdiri di depan pintu. "Ini, Paman?" "Iya. Semua kayunya masih awet. Dari kayu jati tua." Gadis itu mulai membuka satu persatu pintu lemari. Masih tersimpan rapi bungkusan pakaian milik Mama dan Papa Sofia. Tak kuasa gadis itu menahan tangisnya. Air mata tumpah. Membasahi pipi. Sengaja Acil Mina dan Paman Botek membiarkan Sofia yang sesenggukkan. Saat sang gadis membuka semua bungkusan yang berisi pakaian milik orang tuanya. Lalu, pandangan matanya tertuju pada sebuah pakaian anak-anak. Saat dia masih SD. Sofia pun lupa umur dia saat itu. Antara 8-10 tahun. Dia mengambil baju berwarna putih dengan motif bunga-bunga kecil. Lalu di bagian depan ada gambar burung cendrawasih. Spontan Sofia melempar baju itu di atas kasur. Membuat Paman Botek dan sang istri terhenyak. "A-ada apa, Sofia?" "Ba-baju ini ...." Sofia mundur beberapa langkah.  "Ada apa dengan baju itu?" tanya Acil Mina seraya mendekati Sofia yang masih terlihat tegang. "Baju ini ... sama persis yang dipakai sosok cewek yang semalam Sofia lihat di kamar ini, Acil." Seketika Mina dan Paman Botek saling beradu pandang. "Si-siapa Sofia?" "A-aku juga tak tahu lah Acil. Paman yang lihat Sofia tiba-tiba udah berada di dalam kamar ini." Kembali Mina melirik pada sang suami. "Dia pakai baju ini juga, Paman. Siapa sosok yang selalu aku lihat itu?" "Paman juga kada tau jua, Sofia." Kemudian, Sofia duduk di tepian ranjang. "Aku yakin di rumah ini ada sesuatu hal. Cuman saja aku masih belum menemukannya. Kurasa Paman pun pasti tahu!" Dengan kedua mata yang melirik ke arah lelaki tua itu. Yang terlihat tegang, kaku, dan gelisah. "Kenapa Paman kelihatan kayak tak tenang? Ada apa ini sebenarnya Paman?" Paman Botek kembali menggeleng. "Aku kada tahu juga Sofia. Mungkin karena rumah ini lama kosong. Biarpun sudah dibersihkan Paman. Ada aja makhluk seperti itu, tujuannya mungkin ingin ganggu." Jawaban itu tampak tak memuaskan Sofia. Dia hanya bisa memandang bergantian pada Mina dan suaminya. "Yang jelas Paman. Di rumah ada hal aneh. Ada makhluk lain yang menyerupai diri saya. Dia sangat mirip Sofia, tapi itu bukan Sofia!" tegas gadis itu. "Dan pagi tadi. Sewaktu Sofia mandi. Paman tahu ada suara kayak orang bikin minuman. Sampai aku ngiranya itu Acil. Ternyata setelah Sofia lihat ... ehhh, bukan." "Bujurkah?" tanya Mina tak percaya. (Bujur = benar) "Serius, Acil. Sofia benar-benar mendengarnya." "Memang rumah ini terlalu lama kosong Sofia. Mungkin ada kejadian yang seperti itu.; Cuman janganlah sampai bikin Sofia takut." "Takut si ya ... iya Paman. Tapi, tak terlalu takut juga.  Cuman di natara semua itu, kisah Nini Amas ini yang menarik perhatian Sofia. Siapa sosok cewek yang dilihat sama Nini dan juga anaknya itu?" Mereka terdiam saat mendengar Sofia bicara. Di saat yang bersamaan. Terdengar suara notifikasi pesan yang masuk ponsel Alam. {Sayang aku mau ke sana, bareng Aulia} "Ihhh, ngapain Mas Alam ke sini?" gumam Sofia lirih. Segera dia keluar kamar dan menelepon kekasihnya. "Assalamualaikum, Mas." "Waalaikumsalam. Langsung telpon?" Suara Alam terkikik. "Habis pesannya Mas Alam bikin kaget. Ada apa mau nyusul ke sini?" "Lah, kangen dong. Lagian semalam yang kirim pesan bilang kangen siapa? Hayooo!" Deg! Seketika Sofia terdiam. Membuat dahinya sampai berkerut.  'Bagaimana bisa semalam aku kirim pesan ke Mas Alam? Perasaan aku tak ada japri dia,' gumam Sofia dalam hati. Hal aneh yang kembali dia alami. Pertama, soal pesan yang sering terkirim dari ponsel neneknya. Yang kedua, saat ini Sofia merasakan keanehan yang sama. "Hei! Kok diam sih Sofia?" Ucapan Alam cukup membuat Sofia tersadar.  "Ehhhh ... emangnya kapan sih aku bilang kangen?" Suara Sofia terdengar geragapan. "Tadi malam. Nanti deh aku ss. Dah, aku mau siap-siap dulu. Mungkin dalam waktu satu minggu ini kita sampai di sana. Oke?" "O-oke." "Ehmmm, kamu kok kelihatan kayak kurang senang, Sof?" "Si-siapa bilang gitu? A-aku senang kok." "Ya, udah deh kalau gitu. Bye, kesayangan." "Bye." Berita kedatangan Alam dan Aulia, tak membuat hati Sofiasenang. Malah semakin menambah rasa penasaran dalam dirinya saat ini. "Bagaimana bisa? Padahal semalam aku hampir tak pegang HP sama sekali." Buru-buru Sofia melihat pesan antara dirinya dan Alam. Matanya semakin terbelalak, saat membaca kalimat yang tertulis. "Ini ... bukan aku! Tak pernah aku menulis seperti ini!" desis Sofia semakin merasa aneh. Dia pun kembali membaca pesan yang tertuju pada Alam. {Malam, Sayang. Aku kangen} {Pengen disayang!} {Kapan nyusul aku ke sini?} "Haaahhh?! I-ini ... bukan aku yang nulis. Aku sangat yakin bukan aku yang nulis!" Berulang-ulang Sofia menolak. Dalam pikirannya, dia tak pernah menulis pesan seperti itu tadi malam."Ini makin aneh. Siapa yang berani menulis pesan lewat Hp aku ke Mas Alam?" Ting! Notifikasi pesan masuk dari Alam. Sebuah gambar dari screenshoot pesan yang terkirim ke dia. "Sof ... Sofia!" Suara Acil Mina yang nyaring cukup membuat Sofia terkesiap. Bergegas dia masuk kamar. "Ada apa Acil?" Suaranya terdengar lemah tak bersemangat. Mereka berdua bisa melihat perubahan pada wajah Sofia yang tiba-tiba jadi aneh. "Sofia kenapa?" "Tak apa kok Paman.  Mungkin capek aja." "Ini dalam lemari Acil dapat beberapa foto jaman kecil kau dulu. Banyak ini album fotonya, Sofia." "Wahhhh, bener Acil." Segera Sofia mengambil dari dalam lemari. Dia melihat satu persatu foto-foto masa kecilnya. Siluet masa lalu seperti terpampang di depan mata.  Si gadis mengusap pelan foto-foto yang kertasnya mulai menguning sebagian. "Papa, ini lagi di proyek ya Paman?" Dia mengacungkan sbeuah foto pada lelaki tua itu. "Benar, Sofia." Tampak si gadis manggut-manggut. "Ini waktu kita di pantai. Sofia, Mama sama Papa," ucapnya lirih. Namun, dia menyadari ada hal aneh dalam foto itu. Sofia mendekatkan hingga di depan mata. "I-ini, kenapa bayangan Sofia ada dua Paman?" _oOo_
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD