MENEMUI NINI AMAS

1136 Words
Ting ting ting! Sontak dia menghentikan guyurannya. Dia terdiam dengan mengusap wajah.  "Apa ... Paman sama Acil udah datang?" Kembali Sofia melanjutkan mandinya. Ting ting ting! Suara sendok yang beradu dengan gelas kembali terdengar. "Pamaaan ... Aciiil!" teriak Sofia. Buru-buru dia menyelesaikan mandinya. Tak sabar Sofia mengintip dari balik pintu kamar mandi. Dia tak melihat ada siapa pun juga. Dari arah kamar mandi. Pandangan mata  Sofia langsung lurus tertuju pada ruang makan.  Tak terlihat siapa pun di sana. Sejenak Sofia memperhatikan kembali ruang makan dan dapur berulang-ulang. Membuat Sofia mengembuskan napas panjang. Lalu, buru-buru menutup kembali pintu kamar mandi. Bergegas gadis itu memakai pakaiannya. Saat hendak keluar kamar. Sofia mendengar derap langkah berjalan mendekat. "Si-siapa lagi itu?" Sofia mencoba untuk tetap tenang. Menguatkan hati untuk membuka  pintu kamar mandi. Sofia nekad untuk keluar, menginjakkan kaki pada lantai yang dingin. Hingga sebuah tepukan cukup keras mengarah di punggungnya. Bughhh! "Aaaarghhh!" Sontak Sofia berlari menuju kamar tanpa menoleh.  "Kenapa kamu lari?" Tiba-tiba Sofia menghentikan langkah, tepat di depan pintu kamar. Dia seperti mengingat, kalau suara itu sangat dikenalnya. "Seperti suara--" Sofia masih terus berpikir. "Nini Amas?" Seketika itu juga, Sofia berpaling. Dia telah mendapati wanita tua itu berdiri di belakangnya. "A-ada apa Nini kok masuk rumah saya?" tanya Sofia keheranan. "Ikutlah sama aku!" Sofia tak menanggapi. Dia malah masih terdiam dengan tatap tajam mengarah pada Nini Amas. "Ikam handak mangikuti aku kadak?" (Kamu mau mengikuti aku, tidak?) "I-iya, Nini." Bergegas Sofia mengejar langkah Nini Amas yang sangat lincah bergerak. Dia pun sungguh tak menyangka kalau Nini Amas yang hendak dia datangi, tiba-tiba saja muncul. Masih belum sempat menyisir rambut. Sofia melempar begitu saja handuk yang dia selempangkan di bahu. Lalu berlari kecil membuntuti wanita itu. Yang menyimpan misteri menurut pemikiran Sofia. Seperti yang dibilang Mamak Eno. Rumah Nini Amas tak begitu jauh. Hanya saja rumah itu sedikit menjorok. Di pinggiran sungai. Jarak dengan rumah tetangga pun cukup jauh. Saat melintasi jalan. Sofia melihat hanya ada dua rumah warga selain milik Nini Amas. "Sepertinya jalan arah sini, buntu. Makanya sepi, apalagi tak ada banyak rumah," bisik Sofia. Setelah sampai rumah wanita tua itu. Dirinya disambut oleh embusan angin kencang. Gemerisik dedaunan kering seakan menyapa Sofia, yang masih terpaku saat melihat rumah itu. Sangat sederhana sekali. Bisa dikata jauh dari kata layak. "Nini tinggal seorangan?" Dia hanya manggut-manggut. "Terus, ajak Sofia ke sini, kenapa?" Wanita itu seperti tak menghiraukan Sofia. Malah masuk rumah. Hampir speuluh menit dia meninggalkan Sofia sendirian di teras depan. "Hemmm ... kalau kata Mamak Eno, dia agak kurang waras. Cuman kalau aku melihat mimik wajah sama gesture badan dia, seperti orang normal. Kayak baik-baik aja." Derap langkah kaki Nini Amas yang diseret, menuju arah depan. Terdengar jelas di telinga Sofia. Tanpa banyak kata-kata, dia mengulurkan sebuah kotak dari kardus bekas sepatu dewasa. "A-apa ini, Nini?" "Buka!" Wanita tua itu, menyuruh Sofia tanpa ada ekspresi sama sekali. Walau ada keraguan, tetap saja Sofia mengikuti apa kata Nini Amas. Perlahan dia membuka penutup kotak itu. Terdapat beberapa foto yang tersimpan rapi. Dengan gerak cepat Sofia mengeluarkan semuanya. "Ini Irul!" "Ohhh ... ini anak Nini?" Sangat cepat Nini Amas mengangguk. Sepertinya dia sangat berantusias. Mungkin memang dia ingin agar Sofia tahu hal ini.  Sesaat Sofia melirik padanya. Wajah tua yang kusut dan layu itu, speerti menyimpan banyak masalah.  Banyak tekanan kehidupan yang dia hadapi. "Sekarang di mana anak Nini yang ini?" "Irul, sudah mati!" Tanpa diduga oleh Sofia sama sekali. Nini Amas mencengkeram sangat kuat lengannya.  "Aaaaarghhh! Sakit Nini!" Berusaha Sofia menepis tangannya yang keriput. Namun, kekuatan wanita tua itu, tak disangka oleh Sofia.  "Nini! Kenapa sakiti saya?" Sang wanita menatap dengan sorot mata nyalang. "Kamu tahu siapa yang membuat Irul terbunuh?" Spontan Sofia menggeleng. "Kamu ... saudara kamu, yang ada di rumah itu!" "Saudara saya? Nini, saya tak pernah punya saudara." "Pastinya kamu bohong!" sentak Nini Amas. Membuat raut wajah Sofia berubah. Kulit wajahnya memerah. "Buat apa saya berbohong sama Nini? Coba Nini tanyakan sama sekitar rumah. Kapan lah saya datang sini?" Perlahan, wanita tua itu melepaskan cengkeramannya. Dengan muka sedih. Dia duduk di sebelah Sofia. "Hampir setiap malam, dia ketakutan. Irul juga sering kali teriak-teriak. Selalu bilang tentang rumah kamu. Sama saudara kamu itu!" "Ni, itu bukan saudara saya. Anak Pak Hasbiansyah, cuman saya saja. Sofia Hasbi. Kadak ada pang yang lain. (Kadak = tidak) Wanita itu tetap melihat tajam ke arah Sofia. "Kamu tak pernah tahu. Dia sebenarnya saudara kamu. Dia saudara kamu!" teriak Nini Amas nyaring. "Nini Amas!" Tiba-tiba Paman Botek sudah berdiri di halaman. "Jangan bicara yang tidak waras lagi! Sudah dibilang kalau Pak Hasbi hanya punya anak satu. Ini, Sofia Hasbi anaknya. Jangan ngawur kamu, Ni!" Sangat terlihat kalau Paman Botek marah besar.  "Sofia, sebaiknya kamu pulang! Nini Amas tidak bisa ditanggapi dengan cara normal."   Gadis itu tak hanya terdiam. Lalu beranjak dari tempat dia duduk. Saat hendak melangkah pergi. Nini Amas meraih pergelangan tangan Sofia. "Bawa pulang!" Tanpa menolak, Sofia membawa kotak sepatu yang diberikan oleh Nini Amas. "Ayo Sofia!" "Iya, Paman." "Lain kali kalau kamu mau pergi bilang. Paman sama Acil kada kecarian kayak tadi. Pintu rumah bukaan. Tapi Sofia kada ada di rumah. Siapa yang kada bingung?" "Ma-maafin Sofia Paman. Cuman, pagi tadi pas keluar pagar. Ada Nini Amas yang ajak bicara. Dia bilang ada orang lain di dalam rumah, yang mirip saya Paman. Ini 'kan aneh, Paman?" Sembari berjalan beriringan.  Paman Botek merasa mulai was-was. Pikirannya menjadi tidak tenang. Dia melirik pada kotak sepatu yang dibawa Sofia. "Kenapa kamu mau aja waktu disuruh bawa?" "Ehhh, enggak tau juga sih, Paman. Aku juga heran juga sih. Kok, mau aja aku ini tadi bawanya." "Sini! Biar Paman balikin lagi." "Enggak usah Paman. Biar Sofia lihat dulu, apa saja dalamnya." Sampai langkah kaki mereka menginjak halaman rumah. Dari arah belakang, tampak Acil Mina berlari ke arah mereka. "Sofia, kamu ini dari mana aja? Acil sama Paman sudah ketakutan. Kalau-kalau kamu hilang diculik." Terdengar suara Sofia yang terkikik. "Kok pemikirannya sampai kayak gitu, Cil?" "Iya, Sofia. Sewaktu Bu Syarif masih hidup, dia sering berpesan. Agar menjaga kamu, kalau pas datang ke sini," sahut Paman Botek. "Iya, maafkan Sofia. Hanya saja tadi Nini Amas, bikin Sofia penasaran." "Kamu penasaran sama ceritanya dia?" Sofia hanya mengangguk. "Apa kamu sudah makan?" "Belum Cil." "Yuk! Kita makan dulu," ajak Acil Mina. Mereka bertiga segera masuk rumah. Sofia pun meletakkan kotak sepatu itu, di kamarnya. "Kamu dikasih Nini Amas?" tanya Acil Mina penuh selidik. "Iya, Cil." "Jangan terlalu kamu dengarkan omongan dia, Sofia. Dia jadi kurang waras, sejak anak sama suaminya meninggal." "Cuman waktu ngomong sama Sofia tadikelihatan normal saja itu." "Iya, nanti akhirnya kalau kamu tanggapin terus. Nini Amas smeakin brutal. Bisa mukul terus cakar-cakar." Sesaat Sofia menarik napas dalam-dalam. Namun yang ada dalam pikirannya sekarang. Bahwa apa yang dilihat oleh Irul atau mungkin Nini Amas, tentang sosok wanita yang mirip dia. Itu memang benar adanya. _oOo_  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD